Sigur Ros, Mystically Beautiful Sounds

post details top
May 14th, 2013
post details top

I remember when my best friend, Nunu,  introduce me to Sigur Ros, a post-rock band from Iceland. Their music didn’t impress me, to be honest. I love to hear guys singing in falsetto, which that is why I love Radiohead and Muse so much (who doesn’t?). But Jonsi and Sigur Ros didn’t impress me like those bands did, at first.

I keep hearing their songs because I already had them in my playlist, it takes time until i realized how beautiful are their songs. Festival, Hoppipola, Illgresi, Gobbledigook, in my opinion, not kinda song that can make you fall in love at first hear. Maybe because i don’t have any clue what they’re singing about in those songs. But as i keep playing their songs in my playlist, I understood gradually, how magical Sigur Ros are.

I can’t describe how happy I was when I got their concert ticket in my hand. I even went to the concert by myself, not knowing whether i will get to buy the ticket  or not. For your note, i;m Nekad aja, lah. Luckily the ticket seller wasn’t a liar (plus he was not ugly, gondrong, brewokan, with huge biceps and wide chest, also, a gamer). So we got into Istora Senayan together, both excited of seeing Sigur Ros.

Once i got in, i wait patiently. I didn’t care how tired I was because when i saw Jonsi’s silhouette behind the curtain on stage, I forgot of all the other things. The show started at  9.30 pm i think. Me and thousands people inside Istora Senayan, screamed spontaneously. They played Yfirboro behind a white curtain hence we can only saw their shadow, after that, the ambience changed as colorful lasers started to dancing on the curtain, with Jonsi, Goggi, and Orri’s shadows.

Sigur Ros on opening

Jonsi behind the curtain

(more…)

Drama

post details top
Apr 15th, 2013
post details top

Secangkir malam
Pada pembicaraan kita
Tentang masa lalu
Tentang masa depan
Atau mimpi-mimpi absurd yang datang pukul 3 pagi
Kemudian kita lupakan saat jam makan siang
Tentang isyarat-isyarat yang delusional
Pada percakapan kita yang penuh basa basi
Hubunganku lebih mesra pada botol bir
Dibanding lembutnya bibirmu yang posesif
Ini masih bibir yang ilusif
Karena kita memperbincangkan tanpa mencoba melakukan sesuatu
Mungkin secangkir malam yang kita sesap
Hanya waktu yang kita ulur-ulur
Atau mediator bagi para pengecut di dalam diri kita
Dan kita bertepuk tangan
Pada sandiwara yang kita sutradarai
Untuk sekedar menghabiskan waktu
Sambil berharap salah satu dari kita akan maju
Dan melakukan sesuatu
Kita pecahkan lonceng di tangan
Dan jam dinding berbentuk lingkaran
Agar pura-pura lupa waktu
Padahal kita tak bisa pura-pura tuli pada suara detik
Habis tak habis, jika waktu selesai
Cangkirmu harus kamu tinggalkan
Cangkir kita
Karena malam tak pernah menunda pergi
Lalu kita akan pulang ke rumah masing-masing
Entah menyesal tidak menyesal
Pada waktu yang kita buang
Pada isi cangkir yang tersiakan
Esok kita datang lagi
Menyeduh secangkir malam
Aku bermesraan dengan botol birku
Karena kamu sibuk dengan dirimu sendiri
Dan selanjutnya hanya repetisi dari malam sebelumnya
Selalu
Berbagi masa depan
Berbagi masa lalu
Dan bercerita tentang mimpi tadi malam
Aku melihat melewati pagi
Dan tahu aku tak ada di masa depanmu
Tapi bukankah kita sedang bersandiwara?
Yah.
Anggap saja aku dan kamu adalah partikel
Yang mampu mengalahkan waktu.
Dan aku pura-pura menyesap bibirmu yang ilusif
Dari bir pahit di atas mejaku
Dan secangkir malam sekali lagi
Terbuang sia ketika pagi tiba

My Very First Pre-Wed Photo Project

post details top
Mar 18th, 2013
post details top

Thanks to Mel and Haris for giving me the chance to do this. It was a pleasure for me.

From this project, i learned A LOT!

To be honest, i don’t feel satisfied when i looked at the result. I know that i should learn more, practice more. It really wasn’t easy; it’s exhausting, the heat, the field, people that always passing by and waste your time, the model (the models get tired to, you have to know how to handle it), the pose, keeping your hands still, the lighting (OHMAYGAWD THE FRIKKIN LIGHTING!!!).

When the photo session ends, doesn’t mean your job has ended too. You have to CHOOSE the best from hundreds even thousand pictures (seriously it was tiring), you have to retouch the light, rotate the picture if needed. Thank God I didn’t have to do something like digital imaging or retouching the face of the models. The models and make up artist was great.

 

property i prepared for them

“Remember the first time we met?”

Their expression was genuine :)

Oh, i’m so jealous…

“I can see me in your eyes.”

They’re meant for each other, yes?

They can be a romantic couple, also cute couple XD

Can you see that? The way she looks into her man…

How about this one? Too bad she’s taken, yes? :))

They will grow old together, in love. Definitely.

-

How sweet :3

 

I was sad when i found that some of my best shots (the composition, best composition) were blurry. I know I have to change my glasses as my cylinder increased.

But over all, IT WAS FUN. I really love the sensation of capturing images, finding pictures that shows emotion, watching smiles in my pictures. Photography is definitely not easy, it’s not about having expensive camera and stuffs (as i don’t have any), well it’s hard to do, but it’s somehow makes you feel more life. And… photography makes you value colors and nature, and things around you.

Kudos to Om Ragil Duta for lending me his light meter (which helpful, A LOT) and blitz, and to Mas Bengsin for lending me his fixed lense. Also, to both of them, for giving me suggestion and knowledges.

Anyway, these are some of my photos, feel free to give comments on my pictures. What do you think?

 

Recto Verso : Interpretasi vs Eksekusi

post details top
Feb 24th, 2013
post details top

Salah satu alasan saya menonton Recto Verso adalah karena saya memang menyukai kumpulan cerpen karya Dee Lestari tersebut, dan karena banyaknya komentar di twitter yang memuji film tersebut. Recto Verso adalah sebuah film yang diangkat dari kumpulan cerpen berjudul sama karya Dewi Lestari. Dalam filmnya, RectoVerso mengambil 5 cerpen Dee untuk diinterpretasikan dalam bentuk visual, yang saya yakin bukan pekerjaan yang mudah mengingat isi cerpen Dee yang sederhana dari segi cerita namun kompleks dari segi konflik emosional.

Film ini dihiasi oleh nama-nama yang sudah tak asing untuk kita, seperti Lukman Sardi, Sophia Latjuba, Asmirandah, Prisa Nasution, dll. Tentu saja saya berharap film ini disuguhkan dengan matang dan manis, mengingat para pemerannya bukan orang-orang sembarangan.

Secara interpretasi, boleh saya bilang cukup berhasil, sayangnya secara eksekusi saya menemukan banyak kekurangan.

Malaikat Juga Tahu, Marcela Zallianty

Malaikat Juga Tahu

Director: Marcella Zallianty

Writer: Ve Handojo

Abang (Lukman Sardi) memiliki keterbelakangan mental. Namun bukan berarti ia tidak bisa jatuh cinta. Adalah Leia (Prisia Nasution), seorang gadis yang ikut menghuni rumah kost Bunda (Dewi Irawan), Ibu dari Abang. Sayangnya, seperti manusia normal lainnya, ketulusan Leia pada Abang bukan didasari perasaan cinta seperti Leia pada Hans (Michael Dommit), sang adik dari Abang. Bunda bersedih karena Leia lebih memilih Hans daripada Abang, sementara Abang dengan caranya harus menerima pahit kehilangan Leia.

Orang bilang akting Lukman Sardi di sini keren? Menurut gue interpretasi Marcella (atau writernya ya?) lah yang keren. Karena Lukman Sardi belum bisa meresapi sosok bermental terbelakang. Coba bandingkan dengan akting Sean Penn di I am Sam, yang mana emang gue rasa referensinya interpretasi Abang mungkin dari situ atau dari film Sean Penn satu lagi yg barengan Tom Cruise (lupa judulnya). Tapi bukan berarti aktingnya jelek, cuma kurang aja, nggak sebagus yang orang-orang bilang.

Cerita ini ditutup dengan klimaks yang baik, bagaimana kita diajak ikut merasakan luka Abang. Secara cerita, Malaikat juga Tahu adalah favorit saya, tapi secara eksekusi masih nomor ke sekian.

 

Firasat, Rachel Maryam

Firasat

Director: Rachel Maryam

Writer: Indra Herlambang

Senja (Asmirandah) sering mengalami mimpi-mimpi yang membawa pertanda, karena itu lah ia bergabung dengan Klub Firasat yang dipimpin oleh Panca (Dwi Sasono). Belakangan ia mengalami mimpi-mimpi buruk yang ia interpretasikan sebagai pertanda bahaya untuk Panca. Senja begitu galau karena tak ingin Panca kenapa-kenapa, namun Panca menganggap bila sesuatu itu harus terjadi, maka tidak ada satupun hal yang dapat dilakukan manusia untuk mencegahnya. Senja mempertanyakan, jika begitu adanya, mengapa pula harus ada firasat?

Bagus secara sinematografi. Secara cerita, errr… Klub Firasat terlihat seperti sebuah klub orang-orang nganggur yang bingung gak tahu mau ngapain. “Tempat merenung”-nya Panca yang sangat klise. Senja yang alisnya senantiasa berkerut dan terlihat bengong.

Ada satu adegan ketika Senja mendapat firasat mimpi, adegan itu entah kenapa persis sekali dengan adegan Kristen Stewart di Twilight, atau Breaking Dawn, atau apa lah. Ada yang tahu gak? Yang pas Edward ngilang, trus Bella jadi mimpi mulu tiap malem, sampe kebangun sambil teriak. Nah, ada adegan yang persis kayak gini, dan sayang, eksekusinya gagal. Gagalnya itu karena gue udah punya referensi pembanding. Mungkin kalo penggambaran scene ini lain, gue gak akan merasa adegan ini mengganggu.

Cicak di Dinding, Cathy Sharon

Cicak di Dinding

Director: Cathy Sharon

Writer: Ve Handojo

Taja (Yama Carlos), seorang pelukis, dan Saras (Sophia Latjuba) bertemu di sebuah bar. Saras menghampiri Taja, berkenalan, kemudian berakhir dengan intercourse di tangga darurat. Taja terpesona sesaat oleh tato cicak di tubuh Saras.

“Kenapa cicak?”

“Suka aja.”

Kemudian Saras pun menghilang.

Akhirnya mereka bertemu lagi, dan bobok bareng lagi. Taja menjadi benar-benar jatuh cinta pada Saras. Namun Saras kembali menghilang dalam waktu yang lama. Ketika mereka akhirnya bertemu kembali, ternyata Saras sudah menjadi milik orang lain.

Gue suka dengan interpretasi Cicak di Dinding oleh Cathy Sharon ini, apalagi pada endingnya. Semuanya terasa pas. Sayang, lirik lagu pas bagian “Aku ingin menjadi cicak…” langsung bikin down dan ngakak padahal adegannya lagi seru *halah*. Tapi over all, gue suka dengan film ini. Mungkin ini lah film yang palin gue suka.

 

Curhat buat Sahabat, Olga Lidya

Curhat buat Sahabat

Director: Olga Lidya

Writer: Ilya Sigma & Priesnanda Dwi Satria

Jangan pernah nyuruh Acha akting adegan nangis. PLIS!!!

Seandainya akting Acha gak selebay itu, gue akan nganggep segmen yang ini bagus *no offense*.

 

Hanya Isyarat,  Key Mangunsong

Hanya Isyarat, Key Mangunsong

Hanya Isyarat

Director: Happy Salma

Writer: Key Mangunsong

Ini adalah tentang cinta yang tak terbalas, Al (Amanda Sukasah) yang diam-diam memuja Raga (bule, gak tau siapa). Entah kenapa juga namanya bisa jadi Raga padahal dia bule? Ya pokoknya gitu, lah.

Hanya Isyarat memiliki tema yang paling sederhana dibanding ke-empat segmen lainnya. Eksekusinya bagus, entah karena wajah teduh namun galau milik Amanda, atau karena dialognya. Atau juga karena ada Fauzi Baadilah? Entah.

Yang pasti, di film ini lah saya baru tahu kalo kita bisa beli punggung ayam. Karena setahu saya bagian yang paling hina kalo kita beli ayam adalah brutu, kepala, ceker, atau jeroan. Seumur-umur saya belanja ayam di pasar, tukang sayur, atau mall, belum ada yang jual punggung. Mungkin ada tapi saya gak tahu karena gak pernah nanya “Ada punggung gak, Bang?”. Saya mau coba nanya sekali-sekali ke tukang sayur. Mungkin besok akan saya tanya ke tukang daging langganan Ibu saya.

***

Over all, penilaian saya terhadap film ini adalah eksekusi gak selalu sebagus interpretasinya. Problemnya bisa berasal dari budget, setting, dan kualitas akting para pemerannya. Secara interpretasi/adaptasi ceritanya, gue suka. Sayangnya secara eksekusi, masih banyak yang harus diperbaiki. Padahal cerpen-cerpennya Dewi Lestari udah bagus dan kokoh sebagai ide cerita, tapi ternyata cerita/naskah bagus aja gak cukup ya. Bukan berarti saya nggak suka sama film ini, suka-suka aja, tapi masih belum puas.

Nilai saya untuk Recto Verso adalah 7/10. Oke lah buat ditonton di bioskop atau beli CD aslinya. Tapi jangan terlalu berharap banyak untuk mereka yang mengira film Recto Verso sebagus bukunya.

 

 

2013, yang sudah dan yang akan.

post details top
Dec 31st, 2012
post details top

Ini postingan pertama gue di tahun 2013. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, gue senang berbagi refleksi dan resolusi gue di tahun 2013. Gue emang selalu menulis resolusi, krn menulis resolusi itu kayak memasang doa. Gue pernah bilang, kalo lo pengen melakukan atau mendapatkan sesuatu, lo tulis aja, dan biasanya, kemungkinan terkabul.

2012 buat gue adalah tahun yang banyak perubahan dan cukup produktif . Di tahun ini gue berhasil keluar dr zona nyaman gue dengan berpindah perusahaan. Di tahun ini juga, gue berhasil keluar dari rumah, jadi anak kost. Kedua hal tersebut, buat gue adalah sebuah langkah yang besar.

Project-project freelance beberapa kali datang. Hampir semuanya adalah desain logo. Setidaknya ada 3 atau 4 permintaan desain logo. Sisanya ya desain2 materi promosi. Rasanya senang masih bisa produktif.

Selain itu, pada tahun 2012, setidaknya 75% resolusi 2012 gue tercapai.

1. Gue berhasil membeli kamera. Walau tipe yang murah-murah aja. Itu juga belinya patungan sama nyokap. Tapi berkat kamera ini, gue bisa mengabadikan banyak hal.

2. Ada draft novel yang sudah bertahun-tahun menggantung berdebu di laptop gue, dan tahun lalu gue sudah mulai merapikan dan melanjutkannya. Walau masih belum selesai juga, tapi ini adalah kemajuan besar; melawan rasa malas.

3. Bisa bikin cover novel lagi. Ehehehe… Judulnya Pantai Kupu-Kupu sebuah karya self-published oleh Elia Bintang. Kalian ikutan beli yaaa…

image

4. Target gue, 2012 itu gue harus jadi art director. Ternyata gak kesampaian. Sempat dapet panggilan utk jadi art director di sebuah perusahaan di Bandung. Tapi gue gak cocok. Akhirnya, bukannya jd art director, pada akhir tahun 2012 gue mendapat tawaran untuk menempati posisi Creative and Brand Executive di sebuah perusahaan multinasional. Kayaknya 2013 bakal jd tahun yg menantang buat gue :))

Tahun 2012 membuat gue banyak bertemu orang baru, dan sebagian di antaranya menjadi sosok yang spesial buat gue; menjadi sahabat, guru, dan inspirasi. Gue bersyukur bisa mengenal orang-orang seperti mereka. Terutama teman-teman gue di GlobalTV, orang orang gila yang baik hati. Hanya dalam 4 bulan, gue jadi sayang sama mereka *halah*. Sayangnya gue harus beranjak pergi dari GlobalTV :’)

Gue juga merasakan beberapa hal yang nggak enak, tapi pada akhirnya gue bisa melewati semua itu.

Untuk 2013 gue sudah menyiapkan beberapa resolusi dan target agar tahun depan menjadi tahun yang penuh buat gue.

1. Konon katanya di kantor baru gue ini, rata-rata orang hanya bisa bertahan maksimal 6 bulan di posisi yang gue pegang. Gue akan berusaha agar gue bisa bertahan dan bekerja dengan baik hingga hitungan tahun. Semoga gue bisa mengikuti pola kerja kantor baru, beradaptasi dan belajar dengan cepat.

2. Gue mau beli gitar. Iya, gue pengen banget beli gitar karena gitar gue yang sekarang udah berantakan. Mau ganti senar pun udah gak mempan. Gue ngincer gitar akustik yamaha berukuran agak kecil yang udah gue idam-idamkan sejak 2 tahun lalu. Mudah-mudahan tahun ini terbeli.

3. Selain project desain logo, illustrasi cover, gue pengen bisa mulai pegang project foto. Yang kecil kecil dan murah-murah aja gak apa-apa. Yang penting bisa jadi kesempatan belajar dan nambah portfolio.

4. Beli lensa. Kalau misalnya tahun depan gue bisa dapet lebih dari 3 project foto, gue mau beli lensa. Kalo nggak dapat 3 project foto, gue gak beli. Gue masih malu mau beli perlengkapan foto kalau nggak ada tujuan dan hasil. Apalagi kalo skill fotografi gue gak meningkat. Yang pasti, gue kudu belajar dan latihan terus.

5. Mau produktif melanjutkan blog komik gue, http://curlyandchubby.com yang sudah terbengkalai sekian lama. Intinya sih, sebenarnya melawan rasa malas untuk berkarya.

Itu adalah 5 resolusi terpenting gue. Masih banyak hal yang ingin gue lakukan; bikin passport, merambah beberapa lokasi di Indonesia, beli handphone baru dan sebagainya. Ahahaha… banyak maunya ya.

Ada yang bilang buat apa bikin resolusi kalau cuma hangat-hangat tahi ayam. Tapi terbukti kok, resolusi gue selalu gue usahakan untjk tercapai. Walau ya ada juga yang nggak sanggup gue kerjakan *sebenarnya intinya antara malas atau menemukan hal lain yang lebih menarik untuk dikejar* ((:

Nah, kalian gimana? Ada resolusi yang sudah dicapai?
Selamat tahun baru dan selamat membuat target baru. Buat target yang jauh, soalnya walau baru mencapai setengah jalan saja, kalau targetnya aja jauh, maju setengah aja udah ada hasilnya :D

#HomeTweetHome at Tryst Living

post details top
Dec 28th, 2012
post details top

Sabtu 22 Desember 2012 adalah hari bersejarah untuk sahabat saya, Zia Ulhaq atau biasa disapa Zulhaq atau Zia. Di Sabtu senja yang basah itu, Zia akhirnya bisa menunjukkan pada teman-temannya hasil karya pertamanya yang nongol di toko buku, sebuah buku berjudul Home Tweet Home. Acara yang molor 2 jam dari jadwal tersebut, akhirnya berjalan dengan lancar dan cukup meriah *menurut saya* walau hujan deras sempat membuat Zia ketar ketir (Elia juga ketar ketir karena merasa bersalah, kelamaan dandan).

@zulhaq_ yang punya hajatan

 

@eliabintang, yang dapet jatah manggung paling banyak

 

Launching Home Tweet Home bertempat di Tryst Living Kemang, sebuah restoran merangkap gallery. Interiornya cukup menarik dan cozy.

Satu sudut di Tryst yang dipenuhi pajangan lukisan (dijual)

 

Tiang pun dimanfaatkan untuk memajang karya

Setelah maghrib, acarapun dimulai. Dibuka dengan penampilan manis oleh @ajenglembayung yang menyanyikan Mama-nya Spice Girls diiringi permainan gitar @eliabintang. Setelah itu langsung dilanjutkan dengan nyanyian galau dari @ifanhere yang nekad membawakan Kasih Tak Sampai dari Padi, masih diiringi @eliabintang.

@zulhaq_, @ipankdewe, dan temannya zia *lupa namanya*

Kumpulan mas-mas kesepian

@ajenglembayung dan el yang mojok utk latihan kilat

 

Ajeng dan El beraksi

Sodara-sodari, inilah penampilan perdana Ajeng

Penyanyi galau yg cadas, @ifanhere

 

Setelah pembukaan dengan lagu-lagu merdu, Bung @ipankdewe menyelip sambil membacakan beberapa bait puisi, miliknya sendiri dan ada yang diambil dari buku Home Tweet Home-nya Zia.

Sesi pembacaan puisi oleh Bung Ipank

 

Nggak cukup 2 kali nongol sebagai gitaris, @eliabintang pun turut tampil memainkan 3 lagu sekaligus menyanyikannya. Nah, dia ini adalah perfomer terbanyak jatahnya di launching #hometweethome.

ciee… el… cieee

Di launching #hometweethome ini, gue perdana nonton langsung yg namanya Stand Up Comedy (emang, gue mah gak gaul, gak eksis, gue ngaku). Semua audiens yang berjumlah tidak kurang dari 6350 orang dan memadati Tryst Living tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan Mas @ariefdidu yang sedang menceritakan pengalamannya yang sedih dan bikin kesel, “Ini nggak lucu sebenernya! Kenapa lo pada ketawa?!”

Ini beneran lucu ini mas @ariefdidu ini

Dengan membawa formasi kurang lengkap *katanya minus drummer* More Band mengguncang Tryst dengan membawakan lagu-lagu Stone Roses, Kings of Leon, dan Radiohead. Sang vokalis, @MASPENDOS, konon katanya pulang dari situ sudah mendapat gebetan baru. ya… ya… ya… laki ye, urusan begitu emang cepet.

Penampilan maha dahsyat dari @more_band

Thomas, cowok yang cuma keren kalo lg nyanyi. Kalo lagi ngomong, pasti jayus.

dan tak lupa, penampilan spesial dari 2 cewek kece, @heykila dan @diladifa

@heykila dan @diladifa

pembunuh bayaran favorit saya :D

Selain itu, di launching #HomeTweetHome saya senang karena bisa bisa bertemu @pitoist @ceritaeka @defickry @ichanx @kesemutan dan masih banyak lagi yg gak bisa saya sebutkan satu-satu. Saya bahkan berhasil mengabadikan @pitoist. yang kenal pito pasti tahu, memfoto mbak ini taruhannya nyawa. Lebih susah daripada moto macan di hutan Afrika :))

Dari sekian banyak foto yang berhasil saya tangkap, ternyata saya hanya memiliki 1 foto yang ada sayanya. Itu juga difotoin sama Zia. Ini bonus buat kalian, deh.

yang paling cakep dikeluarin paling belakang

 

« Previous Entries

Banners

advertisement