Salah satu alasan saya menonton Recto Verso adalah karena saya memang menyukai kumpulan cerpen karya Dee Lestari tersebut, dan karena banyaknya komentar di twitter yang memuji film tersebut. Recto Verso adalah sebuah film yang diangkat dari kumpulan cerpen berjudul sama karya Dewi Lestari. Dalam filmnya, RectoVerso mengambil 5 cerpen Dee untuk diinterpretasikan dalam bentuk visual, yang saya yakin bukan pekerjaan yang mudah mengingat isi cerpen Dee yang sederhana dari segi cerita namun kompleks dari segi konflik emosional.
Film ini dihiasi oleh nama-nama yang sudah tak asing untuk kita, seperti Lukman Sardi, Sophia Latjuba, Asmirandah, Prisa Nasution, dll. Tentu saja saya berharap film ini disuguhkan dengan matang dan manis, mengingat para pemerannya bukan orang-orang sembarangan.
Secara interpretasi, boleh saya bilang cukup berhasil, sayangnya secara eksekusi saya menemukan banyak kekurangan.

Malaikat Juga Tahu, Marcela Zallianty
Malaikat Juga Tahu
Director: Marcella Zallianty
Writer: Ve Handojo
Abang (Lukman Sardi) memiliki keterbelakangan mental. Namun bukan berarti ia tidak bisa jatuh cinta. Adalah Leia (Prisia Nasution), seorang gadis yang ikut menghuni rumah kost Bunda (Dewi Irawan), Ibu dari Abang. Sayangnya, seperti manusia normal lainnya, ketulusan Leia pada Abang bukan didasari perasaan cinta seperti Leia pada Hans (Michael Dommit), sang adik dari Abang. Bunda bersedih karena Leia lebih memilih Hans daripada Abang, sementara Abang dengan caranya harus menerima pahit kehilangan Leia.
Orang bilang akting Lukman Sardi di sini keren? Menurut gue interpretasi Marcella (atau writernya ya?) lah yang keren. Karena Lukman Sardi belum bisa meresapi sosok bermental terbelakang. Coba bandingkan dengan akting Sean Penn di I am Sam, yang mana emang gue rasa referensinya interpretasi Abang mungkin dari situ atau dari film Sean Penn satu lagi yg barengan Tom Cruise (lupa judulnya). Tapi bukan berarti aktingnya jelek, cuma kurang aja, nggak sebagus yang orang-orang bilang.
Cerita ini ditutup dengan klimaks yang baik, bagaimana kita diajak ikut merasakan luka Abang. Secara cerita, Malaikat juga Tahu adalah favorit saya, tapi secara eksekusi masih nomor ke sekian.

Firasat, Rachel Maryam
Firasat
Director: Rachel Maryam
Writer: Indra Herlambang
Senja (Asmirandah) sering mengalami mimpi-mimpi yang membawa pertanda, karena itu lah ia bergabung dengan Klub Firasat yang dipimpin oleh Panca (Dwi Sasono). Belakangan ia mengalami mimpi-mimpi buruk yang ia interpretasikan sebagai pertanda bahaya untuk Panca. Senja begitu galau karena tak ingin Panca kenapa-kenapa, namun Panca menganggap bila sesuatu itu harus terjadi, maka tidak ada satupun hal yang dapat dilakukan manusia untuk mencegahnya. Senja mempertanyakan, jika begitu adanya, mengapa pula harus ada firasat?
Bagus secara sinematografi. Secara cerita, errr… Klub Firasat terlihat seperti sebuah klub orang-orang nganggur yang bingung gak tahu mau ngapain. “Tempat merenung”-nya Panca yang sangat klise. Senja yang alisnya senantiasa berkerut dan terlihat bengong.
Ada satu adegan ketika Senja mendapat firasat mimpi, adegan itu entah kenapa persis sekali dengan adegan Kristen Stewart di Twilight, atau Breaking Dawn, atau apa lah. Ada yang tahu gak? Yang pas Edward ngilang, trus Bella jadi mimpi mulu tiap malem, sampe kebangun sambil teriak. Nah, ada adegan yang persis kayak gini, dan sayang, eksekusinya gagal. Gagalnya itu karena gue udah punya referensi pembanding. Mungkin kalo penggambaran scene ini lain, gue gak akan merasa adegan ini mengganggu.

Cicak di Dinding, Cathy Sharon
Cicak di Dinding
Director: Cathy Sharon
Writer: Ve Handojo
Taja (Yama Carlos), seorang pelukis, dan Saras (Sophia Latjuba) bertemu di sebuah bar. Saras menghampiri Taja, berkenalan, kemudian berakhir dengan intercourse di tangga darurat. Taja terpesona sesaat oleh tato cicak di tubuh Saras.
“Kenapa cicak?”
“Suka aja.”
Kemudian Saras pun menghilang.
Akhirnya mereka bertemu lagi, dan bobok bareng lagi. Taja menjadi benar-benar jatuh cinta pada Saras. Namun Saras kembali menghilang dalam waktu yang lama. Ketika mereka akhirnya bertemu kembali, ternyata Saras sudah menjadi milik orang lain.
Gue suka dengan interpretasi Cicak di Dinding oleh Cathy Sharon ini, apalagi pada endingnya. Semuanya terasa pas. Sayang, lirik lagu pas bagian “Aku ingin menjadi cicak…” langsung bikin down dan ngakak padahal adegannya lagi seru *halah*. Tapi over all, gue suka dengan film ini. Mungkin ini lah film yang palin gue suka.

Curhat buat Sahabat, Olga Lidya
Curhat buat Sahabat
Director: Olga Lidya
Writer: Ilya Sigma & Priesnanda Dwi Satria
Jangan pernah nyuruh Acha akting adegan nangis. PLIS!!!
Seandainya akting Acha gak selebay itu, gue akan nganggep segmen yang ini bagus *no offense*.

Hanya Isyarat, Key Mangunsong
Hanya Isyarat
Director: Happy Salma
Writer: Key Mangunsong
Ini adalah tentang cinta yang tak terbalas, Al (Amanda Sukasah) yang diam-diam memuja Raga (bule, gak tau siapa). Entah kenapa juga namanya bisa jadi Raga padahal dia bule? Ya pokoknya gitu, lah.
Hanya Isyarat memiliki tema yang paling sederhana dibanding ke-empat segmen lainnya. Eksekusinya bagus, entah karena wajah teduh namun galau milik Amanda, atau karena dialognya. Atau juga karena ada Fauzi Baadilah? Entah.
Yang pasti, di film ini lah saya baru tahu kalo kita bisa beli punggung ayam. Karena setahu saya bagian yang paling hina kalo kita beli ayam adalah brutu, kepala, ceker, atau jeroan. Seumur-umur saya belanja ayam di pasar, tukang sayur, atau mall, belum ada yang jual punggung. Mungkin ada tapi saya gak tahu karena gak pernah nanya “Ada punggung gak, Bang?”. Saya mau coba nanya sekali-sekali ke tukang sayur. Mungkin besok akan saya tanya ke tukang daging langganan Ibu saya.
***
Over all, penilaian saya terhadap film ini adalah eksekusi gak selalu sebagus interpretasinya. Problemnya bisa berasal dari budget, setting, dan kualitas akting para pemerannya. Secara interpretasi/adaptasi ceritanya, gue suka. Sayangnya secara eksekusi, masih banyak yang harus diperbaiki. Padahal cerpen-cerpennya Dewi Lestari udah bagus dan kokoh sebagai ide cerita, tapi ternyata cerita/naskah bagus aja gak cukup ya. Bukan berarti saya nggak suka sama film ini, suka-suka aja, tapi masih belum puas.
Nilai saya untuk Recto Verso adalah 7/10. Oke lah buat ditonton di bioskop atau beli CD aslinya. Tapi jangan terlalu berharap banyak untuk mereka yang mengira film Recto Verso sebagus bukunya.