BARIKADE
dan ia membangun barikadenya sendiri
di antara tawa sengau yang menyakiti telinganya
ia membangun istananya sendiri
dengan nada, dengan kata
dengan rupa
tak lupa barikadenya
bagian yang paling penting
lalu ia sadar, ia telah sendiri
yang tersisa sepi dan gema tawa sengau itu
ia merasa sendiri, tapi tidak sedih
merasa sendiri, tapi tidak sedih
sendiri, tidak sedih
diantara sepinya, ia menghitung bintang jatuh
“kamu jatuh dari sana, tapi kamu tak sampai ke sini.”
“kemanakah kamu jatuh?”
ia bersenandung bersama angin
“kamu ada, aku merasakanmu”
“tapi aku tak bisa melihatmu”
ia menambal tiap lubang di istananya
dan tak lupa barikadenya
bagian yang paling penting
istananya miliknya, mahkotanya miliknya
atau mungkin ia hanya takut pada ramai?
maka ia membangun barikadenya sendiri
di antara riuh, di antara tawa
di antara chaos, di antara sedu sedan
dia sendiri berdiri ditengahnya, di dalam barikadenya
ia sendiri, tapi tidak sedih
*oke, gue kebanyakan dengerin nirvana dan radiohead*
dan iya…
gue ga bisa nulis puisi. jelek.

11 Comments