Selingkuh itu Anuh
Beberapa waktu lalu, gue, temen kantor, dan boss gue terlibat dalam pembicaraan santai seputar selingkuh. Temen gue nggak ngerti kenapa orang bisa selingkuh dll.
Hmmm… gue jg nggak ngerti.
Tapi pada dasarnya, kita emang nggak bisa mengendalikan yang namanya perasaan cinta. Bisa dateng kapan aja dan memilih siapa aja. Jadi bisa aja kita naksir sama pacar atau suami orang, sama sahabat sendiri, ato sama pacarnya sahabat. Terdengar kejam dan gak tahu diri, ya? Naksir kok sama suami orang, ato sama pacarnya sahabat sendiri.
Lah? Emangnya cinta bisa milih-milih ya?
Gue pribadi berpendapat, cinta itu emang gak pernah salah. Sekalipun kalo elo jatuh cinta sama suami orang.
Semua orang gak bisa menentukan dan mengatur sama siapa dia akan jatuh cinta. Mereka gak akan tahu dalam hidup mereka akan bertemu siapa, jalan hidupnya akan “bersentuhan” dengan siapa. Sampai bisa saja tiba momen di mana kita bertemu seseorang yang ternyata mampu memberi warna dalam hidup kita, dan mungkin momen itu justru datang di waktu yang tidak tepat.
Cinta emang nggak salah, tapi ketika kita mencoba mendapatkan cinta itu di saat kita (atau dia) sudah terikat dalam pernikahan, maka kita adalah penjahat. Tidak setuju dengan pendapat saya? Silakan.
Saya shock ketika suatu hari sahabat saya yang telah menikah dan memiliki anak memberi tahu saya kalau ia selingkuh. Ditambah lagi dia ingin mengenalkan saya pada si selingkuhannya ini. Duh. Padahal sang suami sahabat saya ini juga dekat dengan saya.
Reaksi saya santai, tapi kata-kata saya tajam. Menurut saya, sahabat saya bebas mau ngapain, saya tidak berhak ikut campur. Tapi saya mengatakan padanya, “Setiap jalan yang kita pilih, setiap pilihan yang kita lakukan, pasti memiliki resiko. Dan gue percaya elo udah cukup gede untuk mengerti resiko apa yang elo akan hadapi”
Sahabat saya berdalih dia melakukan ini karena suaminya terlalu cuek, dan suaminya pernah melakukan kekerasan fisik pada dirinya. Ia pernah ditampar suaminya, begitu katanya. Lalu saya tanya, “Emangnya elo ngapain sampe ditampar sama dia?” Dia menjawab, “Lupa.” Dia ingat kesalahan suaminya, tp lupa pada kesalahan2 yang dia buat.
Gue menyarankan dia untuk berbicara baik-baik dengan suaminya, apa yang dia inginkan, apa yang tidak dia inginkan. Katakanlah baik-baik agar bisa saling mengerti. Dan dia menjawab, “Gengsi.”
Hadah… gimana mo slese ini…
Saya ingat ibu saya mengajarkan pada saya, pernikahan bukanlah tentang 2 orang yang menjadi satu kemudian dapat berpisah begitu saja ketika menemukan ketidakcocokkan atau terjadi tragedi. Pernikahan adalah proses adaptasi seumur hidup dengan pasangan kita. Ketika di tengah jalan kita menemukan ketidakcocokkan atau pasangan melakukan kesalahan, maka kita harus belajar dan berusaha untuk mengerti, bukannya pergi atau mencari hiburan lain (selingkuh, jajan, ttm, dll).
Jika tidak siap dengan itu, maka jangan menikah. Pacaran aja sana sampe tua. Jadi kalo nggak cocok, nggak suka, tinggal putus. Kalo masih mau selingkuh sana-sini, jangan nikah. Satu2nya alasan perceraian yang masuk akal untuk saya adalah ketika pasangan anda menyakiti anda sampai harus masuk rumah sakit. Saya sendiri mungkin jika suami saya kelak selingkuh, saya akan lebih memilih untuk meninggalkan sang suami. Mudah-mudahan hal seperti itu tidak akan terjadi.
Tapi ibu saya menunjukan pada saya betapa besar hati seorang wanita, sehingga dapat mengalahkan luka dan sakit seperti apapun. Cerai bukanlah jawaban, begitu ibu saya bilang. Selain itu, Ibu saya juga mencintai ayah saya sepenuh hati hingga kesalahan apapun selalu termaafkan. Bahkan jika luka itu begitu dalamnya. Dan kini, ibu dan ayah saya tetap bersama, menyediakan waktu untuk bercengkrama di malam hari sambil menonton TV. Berebut main game zuma di komputer seperti anak kecil. dan sesekali ayah saya merajuk cemburu ketika melihat laki-laki lain bersikap ramah pada ibu saya. pertengkaran-pertengkaran kecil di antara mereka selalu selesai di hari yang sama. Seperti apapun ayah saya, ibu saya tidak pernah meninggalkannya, dan tidak menyambut perhatian2 pria yang mendekatinya (serius, banyak laki-laki yang mencoba mendekati ibu saya).
Bukankah komitmen dalam pernikahan harus seperti itu? Jika tidak sanggup mencintai seperti itu, jika tidak sanggup untuk belajar beradaptasi seumur hidup, jika tidak sanggup menyembunyikan perasaan cinta yang mungkin kelak muncul dan jatuh pada orang lain yang bukan pasangan kita, maka… sekali lagi, janganlah menikah. Atau sekalian, terima resikonya. Terima resiko di setiap jalan yang elo pilih, terutama di saat elo sadar kalo jalan itu salah.
Ah, tapi saya ini siapa. Nikah saja belum ya, belum pantas nasehatin temen saya kayak gini XDDD Jangan2 saya nanti malah lebih parah dari teman saya itu (amit-amit jangan sampe).

22 Comments