Tattooed?
This is a tattoo

and this is…
crap..

Badan gue bersih. Gak ada tatonya. Tapi pengen banget punya tato.
Pertama gue ngeliat aktivitas tato mentato, sekitar kelas 2 SD. Di rumah tante gue di Ambon sana.
Gue punya abang sepupu, namanya Alex, badannya penuh tato vignette . Dulu tribal belum se-ngetrend sekarang, dan orang bertato masih dicap sebagai preman. Rumahnya jadi basecamp temen-temen abang gue. Alex gak cuma punya banyak tato di badannya, tp juga bisa bikin tato. Ritual tato mentato itu serasa seperti ritual mistis yang suci di mata gue. Gimana tangan abang gue bergerak hati-hati melukis motif2 bergaya vignette di tubuh teman-temannya.
Sejak saat itu, gue memutuskan suatu hari nanti gue harus punya seenggaknya satu, sebuah tato di punggung gue. Tato sayap. Semakin ke sini, gue semakin detail membayangkan akan seperti apa tato itu, letaknya di mana, apa makna spiritual dan filosofis tato sayap tersebut buat gue.
Lalu kuliahlah gue di Trisakti.
Selama 5 tahun kuliah di fakultas seni, gue melihat banyak banget cowok dan cewek yang bertato. Ada cewek culun, tp punya tato tribal gede di punggungnya. Cewek gothic yang menyerahkan tubuhnya menjadi kanvas, tato ada di seluruh tubuhnya. Di tangan, di leher, belakang telinga, punggung, kaki. Atau cewek-cewek gaul yang make tato hanya untuk fashion.
Waktu salah seorang temen gue baru menorehkan tato di lengannya, tato yang besar, gue nanya “Lo yakin gak akan nyesel masang tato itu? Apa 20-30 tahun lagi lo masih akan menyukai tato itu? Saat lo dewasa, menjelang tua, punya anak… apa lo msh akan bangga dengn tato itu?” Mengingat tatonya ada di bagian tubuh yang mudah terlihat, dan sangat mungkin 20-30 tahun lagi jalan pikiran kita akan berubah.
Teman saya sih menjawab dia nggak mungkin nyesel. Saya skeptis. Tatonya bergambar wajah setan yang seram. Bukan tipe tato yang akan saya perlihatkan pada anak-anak atau rekan kerja saya kelak ketika saya berumur 30-40 something. Apalagi kalo udah nenek-nenek.
Tato jadi trend, semua org yang punya duit dan gak dilarang bikin tato, pst akan bikin satu. Yang dilarang bikin tato dalam agamanya pun berani2 aja untuk bertato. Tato skrg jadi bahan gaya-gayaan. Bahkan pengacaranya Kris Dayanti punya tato Hello Kitty di tangannya. Ato seperti teman gue yang bikin tato bendera Amerika di pinggulnya (padahal dia sendiri asli made in Indonesia), dan demi bisa pamerin tatonya dia selalu pake atasan yang pamer udel dan celana hipster extreme low waist dgn tali g-string yang nongol2.
Dulu, saya melihat tato sbg suatu hal yang individual, spiritual… Sampai sekarang pun, walau telah dirusak dengan image tato yang kini jadi seperti semacam produk fashion untuk pameran, saya tetap menganggap tato sebagai sebuah komitmen.
Nggak seperti pakaian yang bisa diganti-ganti, klo bosen tinggal dibuang atau kasi ke orang, tato akan selalu menempel di badan kita, selamanya. saat kita mati, dia akan ikut hancur bersama proses pembusukkan mayat kita. Untuk menghapus tato yg nggak kita suka, kita harus melalui proses yang tidak mudah dan tidak murah. Tapi… ngapain bikin tato kalo cuma buat dihapus di kemudian hari?
Nyokap bokap melarang keras keinginan gue untuk membuat tato di badan gue (termasuk keinginan untuk piercing telinga kiri gue, ngecat rambut, dan nge-kost). Kata nyokap, gue baru boleh bikin tato kalo gue udah nggak tinggal di rumah. Dan gue hanya boleh keluar dari rumah, kalo udah nikah.
Gue sebel sih sama aturan dan larangan mereka. Tapi gue setuju untuk menaati aturan itu. Gue percaya, selama gue masih numpang sama orang tua, gue pun harus mengikuti aturan di dalam rumah. Jadi sekarang solusinya kalo mau punya tato, suami gue kelak harus pria yang ngijinin istrinya punya tato XDDDDD
Kalian sendiri, kalo diijinkan membuat satu tato di tubuh kalian, mau tato yang kayak gimana?

42 Comments