Graphic Designer Handal?
Gue inget pernah baca di sebuah majalah, tentang betapa teknologi telah membantu para graphic designer untuk menghasilkan karya-karya yang menarik. Namun di lain hal, teknologi ini malah menjadikan para seniman visual cenderung manja, dan lebih menyedihkan lagi, membuat siapapun bisa menjadi graphic designer. Tanpa perlu capek-capek dan susah payah belajar dan berlatih mati-matian.
Di kehidupan nyata yang gue lihat… hal di atas gak sepenuhnya salah. Gue melihat, misalnya, seorang illustrator. Gambarnya bagus banget! Gue sampai terpana-pana melihatnya. Mengagumi sang illustrator secara diam-diam. Lalu suatu hari, gue melihat isi sketchbook-nya.
Ternyata dia nggak bisa gambar manual. Bisa, sih. Tapi garisnya berantakan, nggak bisa gambar realis, nggak bisa memakai alat warna. Dan gue baru sadar, “Oh, illustrasi keren yang selama ini dia pajang di blognya ternyata pake pen tablet.”
Jadi yaaa… si illustrator ini ternyata tracing/jiplak dari foto-foto di internet. Catet. Foto dari internet. Jadi, bahkan fotonya pun dia nggak motret sendiri.
Sebenernya sih, nggak salah-salah banget tracing/jiplak itu selama bukan untuk komersial alias dijual. Tapi ketika gue tahu ternyata dia bisanya emang tracing doank, dan kalo gambar pake tangannya sendiri hasilnya beda jauh banget, ya itu jadi masalah buat gue. Gue mikir “Ya kalo gitu elo nggak keren. Gue juga bisa kalo jiplak doank, mah…”
Dia termasuk seniman visual yang terlalu bergantung pada teknologi sampai lupa bahwa basic skill seorang seniman visual ( hand drawing ) juga merupakan aspek penting yang harus diasah.
Alat dan teknologi itu emang punya pengaruh besar sepertinya. Misalnya, pensil warna yang 10ribuan pasti hasilnya akan beda dengan pensil warna Derwent yang harganya ratusan ribu sampai jutaan. Spidol snowman, pasti hasil goresannya akan beda dengan Copic Brush. Dan gambar manual, belum tentu hasilnya sebagus dengan menjiplak foto menggunakan pen tablet. Walaupun gak selalu gambar manual kalah dengan gambar digital tentunya.
Gak jarang terbersit di pikiran gue, “Ah, gue juga bisa lebih keren dari itu kalo pake pen tablet.” – “Ah, kerjaan gue pasti lebih cepet selesai kalo pake Imac dan punya Macbook juga.” – “Kalo gue pake Copic Brush juga pasti hasilnya lebih bagus dari itu.”
Dan teringatlah gue kejadian beberapa tahun lalu di kampus, saat salah satu asdos gue menunjukkan hasil karyanya. Sebuah gambar kartun yang diwarnai dengan pensil warna. Hasilnya keren banget kalo kata gue.
Lalu gue liat pensil warna yang dipake sama Si Asdos itu. Pensil warna ga jelas, yang isinya cuma 12 warna dan harganya cuma 6ribuan.
Si Asdos bilang, “Bagus nggaknya suatu teknologi itu, bukan dari harga dan kualitasnya. Tapi dari tangan orang yang make.”
Mungkin dia cuma bercanda waktu itu, sekedar pura-pura menyombongkan diri. Tapi bertahun-tahun kemudian, kata-kata ini jadi bahan pemikiran gue.
Gue sama bodohnya sama graphic designer karbitan kalo gue mengeluhkan gak punya alat ini dan alat itu makanya gak bisa begini. Seharusnya dengan keterbatasan alat bantu yang gue punya, gue bisa survive dan mempertajam skill gue. Alat bantu ya alat bantu, buat ngebantuin. Walau tanpa pen tablet, alat gambar jutaan, Imac, dan semua printilannya itu, gue tetep bisa berkarya, dan kalo bisa harusnya malah lebih bagus dari orang-orang yang ketergantungan sama teknologi dan alat bantu itu :D
Bukannya gue lantas anti teknologi, gue malah mengidam-idamkan pengen punya pen tablet, biar gue bisa tracing langsung dari gambar2 sketsa gue dan lebih cepet ngerjain illustrasi. Gue pengen punya macbook, biar gue bisa kerja kapanpun dimanapun (plus nonton film, browsing, ngegambar2 pake pen tablet :P). Tapi… mudah-mudahan kalo suatu saat gue bisa beli semua itu, gue gak jadi ketergantungan.
Dengan ini, gue juga melaunching *halah* sebagian dari hasil kerjaan-kerjaan gue selama ini yang bisa dilihat di tumblr saya yang baru. Gue baru sadar, gue gak punya online portfolio yang menampilkan karya-karya desain gue. Tadinya mau dibikin di blog ini, page khusus portfolio kerjaan saya, tapi saya lagi males nggak sempet. Banyak deadline :p
Nah, silakan dihina-dina ya hasil kerjaan saya XDDD Tapi… habis dihina, silakan lemparin saya pake pen tablet dan macbook ya (teuteeuupp)
TAMBAHAN 15 MENIT KEMUDIAN :
me-refer dari komen oom Eru yang sangat benar sekali tapi lupa saya masukkin ke sini :
selain SKILL TANGAN, aspek penting lainnya adalah IDE. setuju banget :D

21 Comments
Trackbacks/Pingbacks