Curhat Session

post details top
Mar 31st, 2012
post details top

Gue rasa, gue adalah tipe orang yang over-sensitive terhadap penolakan. Padahal gue sendiri tahu kalau segala sesuatu belum tentu terjadi seperti yang ada di kepala gue.

Misalnya beberapa waktu lalu, seseorang yang cukup dekat dengan gue menceritakan dengan semangat kalau dia akan ke luar kota karena ada acara ini dan itu. Gue pun dengan semangat menjawab, “Ikut, donk!”

Gue dan orang tersebut emang sering jalan ke sana kemari bareng. Jadi gue menganggap dia pasti seneng kalo gue bisa ikut. Karena untuk pergi ke luar daerah jabotabek, biasanya gue seringan susah diajak. Tapi, waktu itu dia malah jawab,”Wah, aku naik mobil temenku… nggak enak kalo ngajak orang lain.” Dijawab dengan gestur tubuh yang menunjukkan keengganan *gaya banget bahasa gue*.

Well. That was a rejection. Pikiran gue menerimanya dengan baik. Hati gue agak sedikit bunyi “krak!” pelan. Karena gue tahu penolakan datang dr dia, bukan dari masalah mobil. Jadi gue terima aja.

Seminggu kemudian, H-1 sebelum berangkat, tiba-tiba dia ngajak gue ikut ke luar kota. Ke tempat yang dia bilang sebelumnya, yang sebelumnya juga dia bilang nggak bisa ngajak gue. Total dia nanyain 4-5 kali, malah sampe ngebujuk-bujuk dan pasang muka sedih.

Tapi sebelumnya gue udah ditolak. Gue gak akan pernah mau menerima sesuatu, jika sebelumnya ketika gue meminta malah ditolak. Akhirnya dia pergi sendiri.

Lain waktu lain orang. Ceritanya gue lagi ngumpul ama temen-temen gue. Mereka lagi asik ketawa sementara gue saat itu lagi punya masalah. Ketika terjadi jeda dalam percakapan dan tawa kita, gue mencoba memulai untuk meminta mereka mendengarkan gue. “Eh, gue lagi bingung, nih…” Tapi gue malah disuruh diem.

Intinya salah satu dari mereka ngomong kalo gue jangan ngomongin masalah gue karena gue bukan “center of the universe”. Ya… itu adalah becandaan gue sama temen2 gue yang lain trus gue bawa ke temen2 nongkrong gue yang lainnya. Which was, saat itu bukan waktu yang tepat untuk bercanda soal “center of the universe” karena gue lg jatuh.

Tapi karena gue merasa di-reject, akhirnya gue ikutan mereka aja ketawa dan bercanda lagi. Walau gue kecewa berat dan berpikir,”Begini, nih, yang namanya sahabat?”

Beberapa bulan kemudian, gue terjebak di dalam kondisi yang gue harus bilang gue punya problem ke temen gue itu. Problem yang mau gue ceritain tapi dilarang itu. Dan reaksinya : “Astaga Le…! Kok, lo gak bilang sama gue, sih??? Itu kapan kejadiannya???”

I was like… hey, I did try! Tapi elo yang nyuruh gue diem karena lo gak mau denger ada curhatan nyelip di antara sesi ketawa kita. Pikiran itu akhirnya cuma menguap dari kepala gue. Karena gue males ngebahasnya. Karena waktu itu malah jadi gue yang salah, dituduh gak terbuka :D

Karena gue over-sensitive sama penolakan ini lah… waktu jaman masih pegang BB, gue cuma minta pin BB orang yang deket sama gue atau ada perlu atau orang kantor. Di chatting, atau sms, telpon, dan kehidupan sehari-hari, gue gak termasuk orang yang proaktif maju duluan kecuali ke orang-orang yang gue deket banget dan gue udah tahu banget. Karena gue pasti bakal terlalu peka dengan penolakan kayak apapun.

Misalnya kalo ngajak chatting duluan, gue segan, takut ganggu. Ngajak nongkrong, pdhl sebelumnya gue udah berapa kali main bareng, tapi klo belum deket banget, gue udah keburu segan jg. Cuma ada segelintir orang dalam hidup gue yang berani gue ganggu atau gue rese’in dan ketika mereka menolak atau lagi nggak bisa, gue biasa aja. Karena gue udah tahu dan kenal deket banget. Yang keinget di kepala gue sekarang aja cuma 5.

Gue tahu sikap kayak gitu jelek banget. Gue kadang dituduh, “Ah, gitu aja ngambek.” Padahal gue bukan ngambek, gue sedih. Hahaha… lebay banget, ya! Tapi gue ngerti, cuma 1 orang di seluruh dunia ini yang ngerti tentang gue soal ini. Itupun dia gak selalu ngertiin. Bahkan dia juga jadi salah satu orang yang bisa membuat gue merasa ditolak.

Ini emang guenya aja, sih.

Trus kenapa gue cerita panjang lebar gini? Intinya gue cuma pengen tahu, sih. Ada gak orang yang ngerasain hal yang sama kayak gue? Kalian ngerasa kayak gitu juga, gak, sih?

Komik Kacrut : Be-Er

post details top
Feb 7th, 2012
post details top
Komik Kacrut : Be-Er

Be-Er by Lea

Bekasi keras, boi.. *dikeplak*

 

Resolusi 2012

post details top
Jan 24th, 2012
post details top
Resolusi 2012

Walaupun sudah nyaris sebulan melewati tanggal 1 Januari 2012, tapi masih boleh kan, ya, gue bikin resolusi-resolusian? Walau sebenarnya mungkin nggak tepat kalau disebut resolusi karena kalau punya gue lebih ke target-target apa aja yang harus gue lakukan dan dapatkan di tahun 2012.

Buat gue, menulis resolusi bukan sekedar untuk memperingatkan diri gue atau membuat target agar gue berkembang dan menjadi lebih baik di tahun berikutnya. Gue menulis resolusi, karena gue percaya, kalau kita menulis apa yang kita inginkan dan memikirkannya, maka hal itu akan terkabul. Klenik, sih, tapi gue kan nggak melanggar hukum dengan melakukan itu :))

(more…)

Me and Mom

post details top
Jan 9th, 2012
post details top
Me and Mom

Ada satu keluarga yang aktif di gereja, tapi aktif juga ngomongin orang. Suatu hari, gue disindir karena gue memiliki kebiasaan merokok dan nyokap gue juga sama. Intinya mereka menghakimi nyokap gue, di depan gue. Tapi saat itu cuma gue yang sedang bersama mereka, nyokap di rumah.

(more…)

Dibalik Desain “Kehabisan Ide?”

post details top
Jan 3rd, 2012
post details top
Dibalik Desain “Kehabisan Ide?”

Baru-baru ini, gue mencoba berpartisipasi dalam kontesnya Ganti Baju yang bertema KopiKita yang dipersembahkan oleh gantibaju.com dan Anomali Coffee.

Ada dua desain yang gue kirim, tapi cuma satu yang lolos seleksi.

Ini proses pengerjaannya.

(more…)

« Previous Entries

Banners