“Joey doesn’t share food!”

post details top
Jul 28th, 2010
post details top
“Joey doesn’t share food!”

Gue pernah nonton di tv, tentang keluarga yang miara 2 harimau. Harimau-nya pun dibebasin, nggak dikandangin. ternyata binatang liar yang satu ini bisa dibilang tingkahnya rada mirip kucing tp dengan kekuatan 100x lipat (gak akurat :p). manja, suka main, suka nyakar2 majikannya *eh?*, secara garis besar, mereka ternyata bisa bertingkah jinak.

tapi satu hal,

jangan pernah ganggu harimau yg lagi makan, sekalipun dia dipelihara sejak masih orok. krn dia nggak segan menyerang orang yang mengganggunya saat sedang makan. meskipun sekedar mengelus kepala atau nyolek, apalagi ditusuk-tusuk pake timah panas.

apa hubungannya sama komik di atas?

ntu dia, gue lagi heran… biasanya gue termasuk orang yg sabar dan gak cepet marah, tp kenapa ya… klo urusannya ama laper, perut, dan makanan, gue suka keluar galaknya.

Misalnya kayak gue pesen indomie gak pake saos, eh dikasinya indomie yang penuh dengan saus botolan yang dari pepaya busuk wortel busuk itu. Langsung emosi gue. warungnya gue acak-acak, trus gue bakar.

atau lain waktu, pas gue makan sushi, waiternya pura-pura budeg dan pura-pura buta. akhirnya gue bikin buta dan budeg beneran. abisan akika kan lagi laper-lapernya ciinnn…

tapi ya sudahlah, semua itu masa lalu. mari kita melihat ke depan dan berpikir positif.

*dikeplak dari belakang sama orang2 yg baca postingan ini*

Lembaran Baru

post details top
Jul 24th, 2010
post details top

Sebelum lulus kuliah, saya punya 2 tahun lebih pengalaman kerja. Mulai dr bekerja magang sebagai resepsionis, guru privat, guru sekolah manga, usher, sampai jadi graphic designer. ketika saya selesai wisuda, saya hanya butuh waktu seminggu setelahnya untuk mendapat pekerjaan. Gampang banget ya? Nggak, nggak gampang justru.

Saya sudah mencoba melamar di berbagai perusahaan sejak saya selesai sidang TA. Saya membuat 10 copy CV dan portfolio menggunakan uang hasil freelance saya untuk membuat komik edukasi tentang perawatan gigi. CV dan portfolio saya desain agar berbentuk seperti semacam katalog ukuran A5 dan dijilid ring. Full color, pake art carton.

Saya mengirim sekitar 7-8 portfolio, dan saya hanya memilih perusahaan besar atau terkenal, bangsanya Concept, Fortune, dan lainnya (tepatnya saya lupa). Akhirnya? sama sekali gak ada yg minat manggil saya XDDD 1 kali dpt panggilan interview, sudah itu gak ada lanjutannya.

Kemudian, setelah wisuda, saya mendapat info dr teman tntg lowongan kerja di sebuah advertising. Saya telpon perusahaan itu, saya interview sampai jam 3 sore. Interviewnya sambil ngerokok. iya, saya diinterview, dan saya merokok di depan orang yg menginterview saya. 1 jam setelah interview, saya ditelpon, dan diterima bekerja. 1 jam stlh interview.

mulailah hari saya bekerja sebagai graphic designer di sebuah perusahaan advertising yg tidak terlalu besar, tidak terlalu terkenal.

Jika sebelumnya menjadi graphic designer di perusahaan advertising terasa keren dan berkelas, bekerja di sana menjungkirbalikkan pandangan itu. Dalam 2 hari, saya bisa saja harus menyelesaikan FA dan revisi sebuah company profile yg siap cetak. Di lain hari, saya mendadak harus mendesain sepaket seragam, merchandise, dan company ID yang terdiri dr beberapa alternatif desain dan bentuk. Ada kalanya saya harus pulang jam 2 malam dari kantor sampai 2-3 hari berturut-turut, atau masuk kerja di hari libur seperti sabtu atau minggu. Saya kerja sendiri, krn saya adalah satu2nya graphic designer di perusahaan ini.

Selain itu, Kesalahan kecil bisa membuat kerugian sampai puluhan juta jika sudah melewati proses cetak/produksi, makanya harus teliti. Untungnya saya dan orang produksi cukup kompak untuk saling membackup agar tidak terjadi kesalahan cetak dan sejenisnya.

Pekerjaan saya meliputi konsep, desain, FA, sampai ikut mengontrol kualitas produksi dengan mengecek mock up. Saya juga harus mempresentasikan desain yg telah saya buat di depan klien, menyiapkan materi presentasi pun menjadi tanggung jawab saya. Kadang saya tidak perlu presentasi, dan itu pasti karena loading kerjaan saya sedang benar-benar banyak.

Hal lainnya, kadang, desain yang telah saya buat capek-capek sampai begadang, bisa saja tidak menghasilkan apapun. Kalah pitching sama perusahaan lain yang disebabkan krn entah desain yang kurang memuaskan, atau harga yg ditawarkan terlalu mahal utk klien. Atau bisa juga kalah pitching, tp ternyata desainnya tetap dipakai tp dibuat oleh perusahaan advertising kompetitor dgn sedikit modifikasi di sana dan sini. Ya, itulah sadisnya dunia advertising.

Eh tapi ada enaknya :D saya bisa masuk siang. jam kantor saya dari jam 8.30-17.30, dan saya biasanya baru masuk kantor jam 9-10 pagi. tapi pulangnya juga lebih malam daripada karyawan lain. Selain itu, suasana di kantor saya sangat kekeluargaan, kami suka ngobrol bareng, curhat2an, atau nongkrong-nongkrong. Bahkan dengan para bossnya. Saya juga kalo kerja suka sambil merokok, minum bir, facebook-an, chatting dll. Buat boss saya, itu gak masalah, asal kerjaan selesai.

Saya mencintai pekerjaan saya, seribet apapun itu :D

Tapi akhirnya, saya ditawarkan kesempatan yang lebih baik. Sebuah pintu menuju tangga yang lebih tinggi terbuka di depan saya. berat, tapi akhirnya saya memilih. Saya keluar dr zona nyaman saya, dan memulai lembaran baru. Meninggalkan kantor lama dan segala kenyamanannya.

Awalnya boss-boss saya tampak kurang setuju, tp pada akhirnya mereka mengerti, bahwa saya memang harus melangkah maju.

Di hari terakhir saya di kantor, boss-boss saya berkata “Yang gue suka dari lo tuh, kerjaan lo bagus, selesai tepat waktu, selalu update kerjaan ke gue. Dan nomor satu yang paling gue suka, elo itu jujur.”

Saya tersenyum, ya pastilah saya kadang suka bohong, tp memang kalau untuk urusan kerjaan, itu sesuatu yg saya hindari. Kalo bisa, di semua urusan pun saya berusaha untuk nggak bohong *kecuali kalo kepepet*

dan kata-kata terakhir mereka…”Elo keluar dari sini dengan meninggalkan kesan yang baik…”

Saya tersenyum sambil sembunyi di balik monitor, kege-eran :p

Makasih ya boss-bossku yang gaul, saya juga senang bekerja di sini, krn pengalaman yang saya dapat di sini benar-benar bermanfaat. Jam kerja yang padat, proyek-proyek yang gak masuk akal (baik proyeknya maupun deadlinenya), serta semua keberhasilan dan kegagalan, telah melatih saya menjadi saya yang sekarang ini :) Gak mgkn perusahaan yang baru ini tertarik sama saya kalau bukan krn saya telah menjadi seperti sekarang dengan semua tantangan yang pernah saya alami.

Satu pelajaran yang paling berharga buat gue selama di kantor lama : kurangi mengeluh, krn ternyata setelah melewati anjing-anjingnya kerja kayak setan, kita malah berkembang dan melampaui batas kita sendiri tnp kita sadari.

Kesalahan yang Tak Termaafkan…

post details top
Jul 2nd, 2010
post details top

… bagi gue.

Oke, mgkn bisa gue maafin, tapi susah untuk gue lupain.

Well, gue cuma manusia biasa, dan bukan malaikat.

1. Orang yang memanfaatkan gue habis2an, cuma nyari gue di saat butuh bantuan dan ngejadiin gue budak egonya habis-habisan. Selalu maksa gue untuk nurutin keinginannya dan marah-marah kalo gue gak bisa ngikutin kemauan dia. Memperlakukan gue seperti pembantu, minta ini minta itu. Sementara dia sendiri gak pernah ada saat gue butuh, saat gue curhat cuma mau dengerin 5 menit habis itu sisanya 2 jam untuk membahas masalah dia dgn pacarnya, pakaiannya, dan musuh-musuh dia.

Dan setelah dia sukses, gue pun ditinggal gitu aja sementara dia sibuk dengan temen-temen barunya. Lupa sama sekali dengan gue yang ada di saat-saat dia jatuh. Nginjek kaki ke rumah gue pun dia gak sudi, pdhl dulu cuma rumah gue yang menerima dia di saat gak ada org lain yg mau nerima dia. Hanya krn rumah gue kecil dan sederhana? Terlalu sempit untuk ego dan kesombongan lo?

2. Orang yang nyakitin hati nyokap gue dan malah menghina nyokap gue setelah puas memanfaatkan kebaikan nyokap gue. I will never forget that. kecuali klo dia minta maaf ke nyokap gue.

3. Orang yang memanfaatkan bokap gue. Menipu bokap gue. Nyakitin bokap gue. Hubungan gue memang gak baik ama bokap gue, tp bukan berarti gue terima kalo ada yang jahatin bokap.

4. Pembohong. Selalu berbohong dan mengira gue gak tahu. Dan setelah ketahuan bohong, bukannya nyadar, tobat, malah bertingkah kek manusia paling bener. Membuang gue demi menjaga harga dirinya, sesuatu yg sebenernya dia gak punya tentu saja, hanya karena gue udah tau semua aib dia.

5. Yang membuang gue karena punya temen baru yang lebih gaul. Yang lupa temen lama setelah dapet temen baru. Yang milih-milih temen. Gue tahu banget lo pilih-pilih temen, plis deh, gak usah sok jadi manusia rendah hati yang baik dan berkepribadian bagus. Gue tahu banget, lo cuma pinter berpura-pura, lidah lo bercabang, dan elo itu cuma topeng dengan kepribadian kosong melompong.

Gue gak keberatan lo ninggalin gue. Tapi ketika lo gue kasi kesempatan untuk berubah dan memperbaiki segalanya, elo malah tetep bertingkah, saat itu pintu gue buat lo udah tertutup. Saat ini, tepatnya. Lo gak punya tempat lagi di dalam hidup gue.

6. Orang yang melecehkan gue di depan umum, berusaha mempermalukan gue, orang yang sombong, ohhh, percayalah, gue inget apa yg udah lo lakuin. Lo pikir gue gak marah? Gue diem bukan berarti gue gak pengen nampol muka lo :) Lo pikir lo siapa sampe ngerasa berhak menjatuhkan orang lain di depan umum padahal tu orang gak salah apa-apa?

Syukurlah di antara semua orang-orang brengsek di atas, Tuhan masih memberikan gue, si pendendam yang juga brengsek ini, sahabat-sahabat yang baik dan menyayangi gue apa adanya gue. Menegur di saat gue salah, tapi nggak ngilang pas gue butuh tempat curhat. Walaupun gak bisa sering-sering ketemu, tp masih tetep mau nyediain waktu untuk ngumpul, sekedar merokok dan minum kopi, atau nongkrong di kalimalang sambil ketawa-ketawa tentang hal2 yg hanya dimengerti oleh kita.

Seperti gue bilang, gue bukan orang suci. Memang lebih mudah mengingat kesalahan orang lain daripada kesalahan kita sendiri. Lebih mudah menghujat daripada introspeksi diri dan meminta maaf.

Well, mungkin seiring berjalannya waktu, gue akan memaafkan, mungkin jg nggak :p seenggaknya, gue gak mau membuang-buang waktu gue mikirin mereka, knp mereka tega, knp mereka gak tobat-tobat, dan lain lain.

Jalan keluarnya cuma satu buat gue : mencoret mereka dari dalam hidup gue.

Selamat tinggal kalian para lintah darat, penipu, pembohong bermuka dua, parasit, makhluk-makhluk berkepala besar yang merasa orang lain tidak pantas menjadi teman kalian kecuali yang kepalanya sama besarnya dengan kalian, dan orang-orang yang berbahagia hanya jika punya bahan untuk dihina-hina dan dilecehkan… Hidup saya sangat bahagia tanpa kalian ;-)

Graphic Designer Handal?

post details top
Jun 17th, 2010
post details top

Gue inget pernah baca di sebuah majalah, tentang betapa teknologi telah membantu para graphic designer untuk menghasilkan karya-karya yang menarik. Namun di lain hal, teknologi ini malah menjadikan para seniman visual cenderung manja, dan lebih menyedihkan lagi, membuat siapapun bisa menjadi graphic designer. Tanpa perlu capek-capek dan susah payah belajar dan berlatih mati-matian.

Di kehidupan nyata yang gue lihat… hal di atas gak sepenuhnya salah. Gue melihat, misalnya, seorang illustrator. Gambarnya bagus banget! Gue sampai terpana-pana melihatnya. Mengagumi sang illustrator secara diam-diam. Lalu suatu hari, gue melihat isi sketchbook-nya.

Ternyata dia nggak bisa gambar manual. Bisa, sih. Tapi garisnya berantakan, nggak bisa gambar realis, nggak bisa memakai alat warna. Dan gue baru sadar, “Oh, illustrasi keren yang selama ini dia pajang di blognya ternyata pake pen tablet.”

Jadi yaaa… si illustrator ini ternyata tracing/jiplak dari foto-foto di internet. Catet. Foto dari internet. Jadi, bahkan fotonya pun dia nggak motret sendiri.

Sebenernya sih, nggak salah-salah banget tracing/jiplak itu selama bukan untuk komersial alias dijual. Tapi ketika gue tahu ternyata dia bisanya emang tracing doank, dan kalo gambar pake tangannya sendiri hasilnya beda jauh banget, ya itu jadi masalah buat gue. Gue mikir “Ya kalo gitu elo nggak keren. Gue juga bisa kalo jiplak doank, mah…”

Dia termasuk seniman visual yang terlalu bergantung pada teknologi sampai lupa bahwa basic skill seorang seniman visual ( hand drawing ) juga merupakan aspek penting yang harus diasah.

Alat dan teknologi itu emang punya pengaruh besar sepertinya. Misalnya, pensil warna yang 10ribuan pasti hasilnya akan beda dengan pensil warna Derwent yang harganya ratusan ribu sampai jutaan. Spidol snowman, pasti hasil goresannya akan beda dengan Copic Brush. Dan gambar manual, belum tentu hasilnya sebagus dengan menjiplak foto menggunakan pen tablet. Walaupun gak selalu gambar manual kalah dengan gambar digital tentunya.

Gak jarang terbersit di pikiran gue, “Ah, gue juga bisa lebih keren dari itu kalo pake pen tablet.”“Ah, kerjaan gue pasti lebih cepet selesai kalo pake Imac dan punya Macbook juga.”“Kalo gue pake Copic Brush juga pasti hasilnya lebih bagus dari itu.”

Dan teringatlah gue kejadian beberapa tahun lalu di kampus, saat salah satu asdos gue menunjukkan hasil karyanya. Sebuah gambar kartun yang diwarnai dengan pensil warna. Hasilnya keren banget kalo kata gue.

Lalu gue liat pensil warna yang dipake sama Si Asdos itu. Pensil warna ga jelas, yang isinya cuma 12 warna dan harganya cuma 6ribuan.

Si Asdos bilang, “Bagus nggaknya suatu teknologi itu, bukan dari harga dan kualitasnya. Tapi dari tangan orang yang make.”

Mungkin dia cuma bercanda waktu itu, sekedar pura-pura menyombongkan diri. Tapi bertahun-tahun kemudian, kata-kata ini jadi bahan pemikiran gue.

Gue sama bodohnya sama graphic designer karbitan kalo gue mengeluhkan gak punya alat ini dan alat itu makanya gak bisa begini. Seharusnya dengan keterbatasan alat bantu yang gue punya, gue bisa survive dan mempertajam skill gue. Alat bantu ya alat bantu, buat ngebantuin. Walau tanpa pen tablet, alat gambar jutaan, Imac, dan semua printilannya itu, gue tetep bisa berkarya, dan kalo bisa harusnya malah lebih bagus dari orang-orang yang ketergantungan sama teknologi dan alat bantu itu :D

Bukannya gue lantas anti teknologi, gue malah mengidam-idamkan pengen punya pen tablet, biar gue bisa tracing langsung dari gambar2 sketsa gue dan lebih cepet ngerjain illustrasi. Gue pengen punya macbook, biar gue bisa kerja kapanpun dimanapun (plus nonton film, browsing, ngegambar2 pake pen tablet :P). Tapi… mudah-mudahan kalo suatu saat gue bisa beli semua itu, gue gak jadi ketergantungan.

Dengan ini, gue juga melaunching *halah* sebagian dari hasil kerjaan-kerjaan gue selama ini yang bisa dilihat di tumblr saya yang baru. Gue baru sadar, gue gak punya online portfolio yang menampilkan karya-karya desain gue. Tadinya mau dibikin di blog ini, page khusus portfolio kerjaan saya, tapi saya lagi males nggak sempet. Banyak deadline :p

Nah, silakan dihina-dina ya hasil kerjaan  saya XDDD Tapi… habis dihina, silakan lemparin saya pake pen tablet dan macbook ya (teuteeuupp)

TAMBAHAN 15 MENIT KEMUDIAN :

me-refer dari komen oom Eru yang sangat benar sekali tapi lupa saya masukkin ke sini :

selain SKILL TANGAN, aspek penting lainnya adalah IDE. setuju banget :D

L.I.A.R.

post details top
May 5th, 2010
post details top

Siapa yang gak pernah bohong seumur hidupnya?

Elo?

Ah… gak percaya gue… :p

(more…)

« Previous Entries Next Entries »

Banners