Secangkir Hujan

post details top
Jan 18th, 2011
post details top

ini tentang secangkir hujan

yang aromanya membasuh keluh kesah

di antara kata-kata yang lelah

dan pertanyaan sepi : akan kemana?

ini adalah secangkir hujan

yang berdiri sepi di ujung meja

dan bekas bibirmu terjejak di sana

dan aku bertanya

menatap ke dalam matamu

adakah setiap tetes di dalam cangkir ini

mampu melunturkan semua amarah dan caci maki

semua sisa sisa air mata yang mengering

lembar demi lembar surat cinta yang pernah datang

….

ini hanyalah secangkir hujan

disesap bukan untuk melepas dahaga

sekedar membasuhnya

yang kau ambil dengan menangkupkan tangan

di bawah mimpi mimpi yang luntur tergerus waktu

….

secangkir hujan

mengambang di sudut meja

terasa pahit

seperti air matamu

SMS dari Mama

post details top
Dec 6th, 2010
post details top

“Tiara udah gede! Masa nggak boleh pulang malem??” pekik Tiara.

“Pokoknya Mama jemput kamu sekarang!” Ibu menjawab dengan tegas.

“Udah, deh! Mending gak punya Mama kalo kolot kayak gini.” Tiara memutuskan hubungan telepon mereka.

Hari ini acara ulang tahun Rini, sahabatnya di sekolah. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, dan Ibunya sudah berisik menyuruh pulang, padahal acara baru akan selesai jam satu. Tiara kesal karena malu jika ia sampai dijemput Ibunya di depan teman-teman.

Dua jam kemudian, tepat pukul dua belas, sebuah pesan masuk ke selular Tiara.

Mama tidak bisa jemput. Mama sayang kamu. Selamat tinggal, Sayang.

Disusul pesan lain dari Ayah Tiara.

Tiara, Papa jemput sekarang. Polisi telepon, Mama sedang kritis di UGD. Jam 10 tadi Mama kecelakaan di jalan saat hendak menjemputmu.

______________

Flash Fiction ini diposting dalam rangka meramaikan Lomba Menulis Flash Fiction Blogfam

Jangan Tebang Pohon Itu!

post details top
Dec 6th, 2010
post details top

Orang-orang menertawakan Nek Minah yang berulah ketika Djarwo hendak menebang pohon-pohon besar di pinggir jalan.

“Jangan ditebang! Ada anak kecil sedang tidur di sana.”

Tidak ada yang mau mendengarkan peringatan nenek renta itu, karena ia memang dikenal kurang waras. Sering berbicara sendiri, tertawa pada tiang listrik, tidur di jalanan.

Setelah pohon itu ditebang, tidak ada apa-apa. Hanya khayalan Nek Minah saja. Djarwo dan rekan-rekannya menggeleng kepala, mengingat betapa histerisnya Nek Minah menghalangi Djarwo tadi.

Malamnya, Djarwo didatangi oleh seorang pria yang membawa anak kecil berkepala botak, meminta pertanggungjawaban atas cedera anaknya karena jatuh dari pohon, “Kaki anak saya patah! Kamu harus tanggung jawab!”

Djarwo terdiam kaku melihat pria tersebut, makhluk hitam besar dengan rambut lebat menutupi wajahnya. Tersembul taring berwarna kekuningan sebesar jari telunjuk dari mulutnya.

______________

Flash Fiction ini diposting dalam rangka meramaikan Lomba Menulis Flash Fiction Blogfam

WANITA

post details top
Nov 10th, 2010
post details top
WANITA

Sosoknya mudah mencuri perhatian, seperti pusat badai, menarik orang-orang disekitarnya terbawa dalam putaran badai yang seakan menari-nari di sekeliling tubuhnya. Namun ia tidak menyadarinya. Ia hanya duduk di sana, membaca sebuah buku sambil jemari kirinya memainkan sebatang rokok berwarna putih. Ia tidak peduli pada mata-mata yang mencuri-curi sosoknya, sembari sedikit berharap sang wanita sudi membagi sedikit senyum ramah.

Bibirnya berwarna cerah, tipis kemerahan tanpa polesan lipstik, mengundang dahaga ketika bibir tipis itu menyentuh pinggir cangkir cappuccino pesanannya. Kacamata berbingkai hitam tebal itu hanya lepas ketika ia selesai membaca, dan itu semakin memperjelas warna matanya yang bening kecoklatan. ketika tertimpa sinar matahari, warna coklat terang itu semakin kentara.

Ia hanya akan muncul di hari ke-enam setiap minggu, dari pukul lima hingga pukul sepuluh malam. Duduk di tempat yang sama, namun selalu membawa buku bacaan yang berbeda. Awalnya tidak ada yang memperhatikan, namun lama kelamaan semua orang menyadari keberadaanya. Mulai dari ia mendorong pintu coffee shop ini, duduk dengan anggun di sofa paling pojok, mengeluarkan sebuah buku dari tote bag berwarna coklat, lalu meminta segelas cappuccino hangat kepada pelayan dengan senyuman manis. Semua terlihat seperti sebuah adegan penting yang tidak boleh dilewatkan.

Ketika sudah mulai tenggelam dibalik buku bacaannya, wajahnya sedikit tertunduk, membuat rambut panjangnya terurai ke bawah menutupi sebagian wajahnya. Dan kemudian ia lupa, ia lupa pada tempatnya berada, ia lupa pada bising suara tawa di sekitarnya, ia hanya membaca. Tidak mencari siapapun, tidak menunggu siapapun. Hanya menjadi magnet, dengan segala ketidakpeduliannya, dengan segala kenyamanannya saat menyendiri. Tapi ia tidak pernah menyadari bahwa dirinya istimewa.

Wanita itu, pernah kukecap bibirnya.

Pertama kali mengecupnya, yang kurasakan adalah kelembutan dan malu-malu.  Tersisa sedikit rasa rokok di bibirnya. Ketika kucoba menangkap matanya, ia ketakutan. Ah, bukan, ia hanya malu. Malu seperti remaja yang baru mengenal sentuhan pria. Atau mungkin saja memang saat itu adalah pertama kalinya ia disentuh kaum pria?

Semua itu berbanding terbalik dengan kesan kuat dan acuh tak acuh yang ia perlihatkan saat tak bersamaku.

Saat aku memeluknya, dengan manja ia menenggelamkan kepalanya di dadaku. Wangi rambut panjangnya menyeruak ke dalam hidungku, aku menyesapnya dalam-dalam seakan tidak ingin kehilangan satu bagian kecilpun dari sosoknya.

Saat ia menatapku, matanya yang bulat tampak seperti mata anak kecil yang meminta perlindungan. Namun ketika aku lelah dan susah hati, ia memelukku erat seakan mengirimkan pesan nyata “Aku yang akan melindungimu!”. Sungguh lucu, padahal sesungguhnya ia adalah wanita yang mudah menangis. Sering kudapati ia menitikkan air mata ketika menonton acara televisi atau film kesukaannya di gedung bioskop.

Ketika aku menyakitinya, ia akan menjerit-jerit padaku dengan air mata yang tak kunjung henti, sesungguhnya hatiku ikut sakit melihat airmatanya. Dan semua pertengkaran itu akan selesai dengan mudah ketika aku memeluknya. Ia menyerah begitu saja, menumpahkan air matanya di dadaku dengan pelan, jemarinya mencengkeram bahuku.

“Heart can change, and we both know that…” bisiknya kadangkala, mengutip sebuah lagu dari penyanyi favoritnya. Aku ingat sering mentertawakannya sembari menjawab, “kecuali hati kita.” dan ia tersenyum penuh arti. Namun sesungguhnya memang waktu mampu mengubah banyak hal.

Pertengkaran semakin sengit setiap kali terjadi, dan aku semakin sering menyakitinya. Dan kudapati semakin lama ia semakin jarang menangis. ketika aku melukainya, ia hanya duduk terdiam menatap ke luar jendela sambil menghisap berbatang-batang rokok. tak ada air mata, hanya senyap. Sesuatu yang sebenarnya membuatku semakin gelisah.

Dan akhirnya kudapati dia tak ada lagi menyambutku pulang. Menghilang begitu saja. Pada detik itu, baru kusadari, hidupku kosong tanpanya.

Sekian tahun, kini aku menemukan sosoknya tanpa sengaja, di tempat ini. Mencabik-cabik lubang menganga di hatiku. Melihatnya tampak penuh dan lengkap, berbahagia sendiri. dan aku hanya bisa menunggu dia datang di hari yang sama, menatapnya dari jauh. Ingin rasanya aku mencungkil mata para pria yang menatapnya dengan penuh kagum dan penasaran, serta berteriak pada mereka bahwa wanita ini milikku.

Namun semua sudah berubah, bukan?

Kini hanya aku, yang mencuri sosoknya di antara jarak, dengan hati yang tak lengkap. Menatapnya berkali-kali menyesali  masa lalu. berharap mungkin ada sedikit… sedikit rindu yang ia sisakan padaku…

- … because you don’t know what you got, till it’s gone… (Counting Crows) -

Ini adalah cerpen WANITA versi saya, untuk melihat cerpen ini dalam format cerfet dengan ending yang berbeda, silakan mampir ke Blogfam :D yang pasti lebih keren daripada tulisan gue yg ini =))

waktu adalah musuh kami

post details top
Sep 18th, 2010
post details top

waktu adalah musuh kami

gravitasi yang merantai kami pada sebuah nama. logika.

malaikat maut yang menanti di ujung jalan, tersenyum meramalkan kekalahan kami

tepian dari kanvas kami, bagian yang tak terlukis oleh kuas kami, tak tersentuh oleh warna kami

mati itu tidak menakutkan, percayalah

kesadaran akan sebuah hilang, jauh lebih menakutkan

kesadaran ketika kita telah sampai di tepian waktu, itu adalah sakit yang lebih nyata

dan ketika kami hanya menjadi secarik masa lalu

yang siap terbungkus rapih untuk disimpan

mungkin saja dilupakan

-

waktu adalah musuh kami

pintu yang tertutup dan terkunci rapat

malam yang mengingatkan dalam sunyi bahwa hari ini berakhir

dan kami, hanyalah masa lalu yang akan berganti ketika matahari selanjutnya terbit

dan kami, hanyalah tentang jarak yang terlalu jauh untuk diraih

tentang sebuah cerita yang tak selesai

« Previous Entries

Banners