WANITA

post details top
Nov 10th, 2010
post details top
WANITA

Sosoknya mudah mencuri perhatian, seperti pusat badai, menarik orang-orang disekitarnya terbawa dalam putaran badai yang seakan menari-nari di sekeliling tubuhnya. Namun ia tidak menyadarinya. Ia hanya duduk di sana, membaca sebuah buku sambil jemari kirinya memainkan sebatang rokok berwarna putih. Ia tidak peduli pada mata-mata yang mencuri-curi sosoknya, sembari sedikit berharap sang wanita sudi membagi sedikit senyum ramah.

Bibirnya berwarna cerah, tipis kemerahan tanpa polesan lipstik, mengundang dahaga ketika bibir tipis itu menyentuh pinggir cangkir cappuccino pesanannya. Kacamata berbingkai hitam tebal itu hanya lepas ketika ia selesai membaca, dan itu semakin memperjelas warna matanya yang bening kecoklatan. ketika tertimpa sinar matahari, warna coklat terang itu semakin kentara.

Ia hanya akan muncul di hari ke-enam setiap minggu, dari pukul lima hingga pukul sepuluh malam. Duduk di tempat yang sama, namun selalu membawa buku bacaan yang berbeda. Awalnya tidak ada yang memperhatikan, namun lama kelamaan semua orang menyadari keberadaanya. Mulai dari ia mendorong pintu coffee shop ini, duduk dengan anggun di sofa paling pojok, mengeluarkan sebuah buku dari tote bag berwarna coklat, lalu meminta segelas cappuccino hangat kepada pelayan dengan senyuman manis. Semua terlihat seperti sebuah adegan penting yang tidak boleh dilewatkan.

Ketika sudah mulai tenggelam dibalik buku bacaannya, wajahnya sedikit tertunduk, membuat rambut panjangnya terurai ke bawah menutupi sebagian wajahnya. Dan kemudian ia lupa, ia lupa pada tempatnya berada, ia lupa pada bising suara tawa di sekitarnya, ia hanya membaca. Tidak mencari siapapun, tidak menunggu siapapun. Hanya menjadi magnet, dengan segala ketidakpeduliannya, dengan segala kenyamanannya saat menyendiri. Tapi ia tidak pernah menyadari bahwa dirinya istimewa.

Wanita itu, pernah kukecap bibirnya.

Pertama kali mengecupnya, yang kurasakan adalah kelembutan dan malu-malu.  Tersisa sedikit rasa rokok di bibirnya. Ketika kucoba menangkap matanya, ia ketakutan. Ah, bukan, ia hanya malu. Malu seperti remaja yang baru mengenal sentuhan pria. Atau mungkin saja memang saat itu adalah pertama kalinya ia disentuh kaum pria?

Semua itu berbanding terbalik dengan kesan kuat dan acuh tak acuh yang ia perlihatkan saat tak bersamaku.

Saat aku memeluknya, dengan manja ia menenggelamkan kepalanya di dadaku. Wangi rambut panjangnya menyeruak ke dalam hidungku, aku menyesapnya dalam-dalam seakan tidak ingin kehilangan satu bagian kecilpun dari sosoknya.

Saat ia menatapku, matanya yang bulat tampak seperti mata anak kecil yang meminta perlindungan. Namun ketika aku lelah dan susah hati, ia memelukku erat seakan mengirimkan pesan nyata “Aku yang akan melindungimu!”. Sungguh lucu, padahal sesungguhnya ia adalah wanita yang mudah menangis. Sering kudapati ia menitikkan air mata ketika menonton acara televisi atau film kesukaannya di gedung bioskop.

Ketika aku menyakitinya, ia akan menjerit-jerit padaku dengan air mata yang tak kunjung henti, sesungguhnya hatiku ikut sakit melihat airmatanya. Dan semua pertengkaran itu akan selesai dengan mudah ketika aku memeluknya. Ia menyerah begitu saja, menumpahkan air matanya di dadaku dengan pelan, jemarinya mencengkeram bahuku.

“Heart can change, and we both know that…” bisiknya kadangkala, mengutip sebuah lagu dari penyanyi favoritnya. Aku ingat sering mentertawakannya sembari menjawab, “kecuali hati kita.” dan ia tersenyum penuh arti. Namun sesungguhnya memang waktu mampu mengubah banyak hal.

Pertengkaran semakin sengit setiap kali terjadi, dan aku semakin sering menyakitinya. Dan kudapati semakin lama ia semakin jarang menangis. ketika aku melukainya, ia hanya duduk terdiam menatap ke luar jendela sambil menghisap berbatang-batang rokok. tak ada air mata, hanya senyap. Sesuatu yang sebenarnya membuatku semakin gelisah.

Dan akhirnya kudapati dia tak ada lagi menyambutku pulang. Menghilang begitu saja. Pada detik itu, baru kusadari, hidupku kosong tanpanya.

Sekian tahun, kini aku menemukan sosoknya tanpa sengaja, di tempat ini. Mencabik-cabik lubang menganga di hatiku. Melihatnya tampak penuh dan lengkap, berbahagia sendiri. dan aku hanya bisa menunggu dia datang di hari yang sama, menatapnya dari jauh. Ingin rasanya aku mencungkil mata para pria yang menatapnya dengan penuh kagum dan penasaran, serta berteriak pada mereka bahwa wanita ini milikku.

Namun semua sudah berubah, bukan?

Kini hanya aku, yang mencuri sosoknya di antara jarak, dengan hati yang tak lengkap. Menatapnya berkali-kali menyesali  masa lalu. berharap mungkin ada sedikit… sedikit rindu yang ia sisakan padaku…

- … because you don’t know what you got, till it’s gone… (Counting Crows) -

Ini adalah cerpen WANITA versi saya, untuk melihat cerpen ini dalam format cerfet dengan ending yang berbeda, silakan mampir ke Blogfam :D yang pasti lebih keren daripada tulisan gue yg ini =))

waktu adalah musuh kami

post details top
Sep 18th, 2010
post details top

waktu adalah musuh kami

gravitasi yang merantai kami pada sebuah nama. logika.

malaikat maut yang menanti di ujung jalan, tersenyum meramalkan kekalahan kami

tepian dari kanvas kami, bagian yang tak terlukis oleh kuas kami, tak tersentuh oleh warna kami

mati itu tidak menakutkan, percayalah

kesadaran akan sebuah hilang, jauh lebih menakutkan

kesadaran ketika kita telah sampai di tepian waktu, itu adalah sakit yang lebih nyata

dan ketika kami hanya menjadi secarik masa lalu

yang siap terbungkus rapih untuk disimpan

mungkin saja dilupakan

-

waktu adalah musuh kami

pintu yang tertutup dan terkunci rapat

malam yang mengingatkan dalam sunyi bahwa hari ini berakhir

dan kami, hanyalah masa lalu yang akan berganti ketika matahari selanjutnya terbit

dan kami, hanyalah tentang jarak yang terlalu jauh untuk diraih

tentang sebuah cerita yang tak selesai

Our Own Planet (Happy Valentine)

post details top
Feb 14th, 2010
post details top
Our Own Planet (Happy Valentine)

Dunia di luar kita berputar cepat

Mereka seperti dinamis

Kita seperti statis

Tersesat di antara riuh

.

Aku memberimu sayap

Kamu memberiku nafas

Hingga kamu tetap terbang

Dan aku tetap hidup

Tapi dunia di luar kita tidak mengerti

Bahwa kita memang diciptakan seperti ini

.

Di luar kita  hari dan detik berdetak

Memaksa kita beranjak

Memaksa kita lelah

Agar mati dan tersepikan

Memaksa kita membuka mata dan bangun dari mimpi

Tahukah mereka bahwa mata dan pikiran merekalah yang sebenarnya buta?

.

Mungkin di luar sana

Sangat jauh dari tempat ini

Ada dimensi yang mereka tidak tahu

Tempat dimana kita bisa melarikan diri

Dan menari

.

Hanya kamu

Hanya aku

.

Secangkir teh hangat untukmu

Dan jemarimu yang terselip di antara jemariku

.

Tidak akan ada yang mengadili kita

Tidak akan ada yang berteriak

Bahwa kita berbeda

Dan tidak seharusnya bersama

.

Dunia di luar kita adalah omong kosong

Dan tentang kita adalah satu-satunya kenyataan

.

Di suatu senja yang manis

Dalam detik yang statis

Secangkir teh hangat untukmu

Dan jemarimu yang terselip di antara jemariku

——————–

Gambar dan puisi sengaja gue buat sampe jam 4 subuh untuk dia sebagai hadiah valentine *surprise! surprise!*

Tapi saya juga naksir sama bukunya Mbok Venus dan Mbak Silly yang belum sempat saya beli (maksudnya duit lo keburu abis le?), maka puisi ini saya ikutsertakan untuk kompetisi kecil-kecilannya Mbok Venus. Malu sih sebenernya, orang gak kenal tapi pede banget ikutan. Hahahhaha…

Tapi tujuan awal tentu saja, untuk mengucapkan Happy Valentine buat semuanya. Bersyukurlah orang-orang yang masih diberi kesempatan untuk bilang sayang ke orang lain, karena waktu kita ini sebenarnya terbatas.

Well, i love you all, i love you full

and i love you my dear, dengan sekuat tenaga :)

BARIKADE

post details top
Feb 10th, 2010
post details top

dan ia membangun barikadenya sendiri

di antara tawa sengau yang menyakiti telinganya

ia membangun istananya sendiri

dengan nada, dengan kata

dengan rupa

tak lupa barikadenya

bagian yang paling penting

lalu ia sadar, ia telah sendiri

yang tersisa sepi dan gema tawa sengau itu

ia merasa sendiri, tapi tidak sedih

merasa sendiri, tapi tidak sedih

sendiri, tidak sedih

diantara sepinya, ia menghitung bintang jatuh

“kamu jatuh dari sana, tapi kamu tak sampai ke sini.”

“kemanakah kamu jatuh?”

ia bersenandung bersama angin

“kamu ada, aku merasakanmu”

“tapi aku tak bisa melihatmu”

ia menambal tiap lubang di istananya

dan tak lupa barikadenya

bagian yang paling penting

istananya miliknya, mahkotanya miliknya

atau mungkin ia hanya takut pada ramai?

maka ia membangun barikadenya sendiri

di antara riuh, di antara tawa

di antara chaos, di antara sedu sedan

dia sendiri berdiri ditengahnya, di dalam barikadenya

ia sendiri, tapi tidak sedih

*oke, gue kebanyakan dengerin nirvana dan radiohead*

dan iya…

gue ga bisa nulis puisi. jelek.

don’t sweat the small stuff

post details top
Jul 7th, 2008
post details top

aku rindu wangi tubuhmu

seperti aroma hujan yang turun di tanah kering

indah

dan menenangkan hatiku

* maka jangan biarkan desir angin yang tak ramah

*menggoyahkan setiap kepercayaanmu padaku

*karena untuk sampai di sini

*aku telah mati-matian mencampakkan egoku

jadi..

bolehkah sekarang aku memeluk tubuhmu dengan nyaman

dan menghirup aroma hujan yang sendu dari pelukanmu?

« Previous Entries Next Entries »

Banners