#IndonesiaTanpaFPI… di Twitter :D

post details top
Feb 15th, 2012
post details top
#IndonesiaTanpaFPI… di Twitter :D

Disclaimer : Tulisan ini sedikit banyak dipengaruhi opini pribadi. Jika ada kesalahan dalam informasi yang terdapat dalam postingan ini, akan sangat saya hargai koreksinya. 

Segala komentar yang kasar, tolol, dan diposting tanpa membaca keseluruhan isi postingan saya, tidak akan saya tampilkan.

Kemarin, tanggal 14 Februari 2012, bertepatan dengan Valentine, diadakan deklarasi atau demo #IndonesiaTanpaFPI. Saya udah nyiapin kamera buat ikutan dengan harapan mungkin jam 7an malam kegiatannya masih berlangsung. Namun pukul 6 sore kegiatan sudah selesai dan menurut pantauan saya di timeline, tidak ada kendala yang berarti.

Karena gak bisa dateng langsung ke lokasi, saya hanya bisa memantau keadaan via timeline. Sejak awal, BANYAK BANGET yang mendukung #IndonesiaTanpaFPI di timeline twitter. Jauh lebih banyak daripada orang yang mencemooh. Sampai hari ini pun masih ada yang ngetwit memberi dukungan.

 

Sebagai warga Indonesia, saya merasa suara saya terwakili oleh orang-orang yang dateng ke Bundaran HI. Halangan saya untuk gak dateng cuma karena ada deadline dan  lembur sampe jam 11 malem. Dan saya yakin, melihat dari banyaknya dukungan di timeline twitter, banyak juga yang merasa suaranya terwakili. Walau tidak dipungkiri, ada sebagian kecil orang yang komentarnya kasar. Tapi serius, deh, cuma sedikit, kok.

Namun agar lebih obyektif, saya juga akan menampilkan komentar kontra, yang menentang #IndonesiaTanpaFPI. Tanpa bermaksud berat sebelah, gaung suara orang2 yang kontra jauh lebih sedikit daripada yang mendukung. Dan komentar mereka pun rata2 cenderung tendensius, offensif, dan berisi tuduhan tidak berdasar.

Rata-rata menuduh mereka yang datang ke Bundaran HI sebagai demonstran bayaran atau “antek-antek”-nya JIL. Please, deh… Walaupun JIL gak ada di muka bumi, SEMUA ORANG YANG PUNYA HATI NURANI PASTI MENOLAK ORMAS MANAPUN YANG FASIS DAN BERLANDASKAN KEKERASAN.

Saya jijik aja dengan orang-orang itu, apa nggak bisa mengungkapkan ketidaksetujuan dengan cara lain yang lebih terhormat dibandingkan main fitnah dan tuduh tanpa bukti?

FYI aja, Saya nggak pro JIL, saya bahkan nggak setuju dengan beberapa pandangan dalam JIL. Silakan tanya orang terdekat saya, gimana pandangan saya tentang JIL. Jadi kalau ada yang berpikiran “Ah, pasti yang nulis postingan ini pro JIL.” Percayalah, saya tidak sama sekali. Bahkan salah satu petinggi JIL saya unfollow dari twitter saya gak suka lihat isi twitnya.

Tapi satu, sih. Sejauh ini saya belum pernah mendengar orang2 JIL memukul apalagi membunuh orang yang berbeda prinsip/sudut pandang dengan mereka. Jadi saya tidak punya alasan untuk membenci mereka.

Kemudian ketika berita-berita sudah mulai muncul di media online, ini reaksi negatif yang saya tangkap.

Seperti biasa, sebagian besar orang, tanpa menelusuri terlebih dahulu, langsung mencap kegiatan #IndonesiaTanpaFPI rusuh. Hanya karena tertipu headline berita. Padahal kalau memantau timeline pasti banyak laporan langsung dr TKP maupun berita dari situs lain yang lebih akurat.

Selain itu banyak juga yang mentertawakan karena jumlah demonstran yang sedikit * saya sendiri nggak tahu pasti sih, jumlahnya*. Tapi seperti saya bilang, banyak yang memberi dukungan via twitter. Sayang aja mereka nggak bisa datang karena entah terjebak jam kerja, nggak punya ongkos, atau khawatir nanti di sana bakal terulang seperti insiden Monas dulu.

Tapi… itulah bedanya gerakan bayaran dengan yang tidak dibayar, bukan?

Dan hari ini saya masih sempat memantau timeline dan melihat reaksi mengenai insiden minor yang terjadi kemarin sore.

 

Well… well… Belum tahu, sih, ini info sahih atau tidak. Tapi menurut sebuah situs, pemimpin FPI sudah menyatakan bahwa pelakunya bukan orang FPI. Hmmm, tapi kok yang dateng adalah pengacara petamburan? Ini tinggal tunggu info selanjutnya aja dari portal berita yang mestinya lebih kompeten daripada sejumlah orang yang berprasangka. Termasuk saya sendiri.

Aksi menentang FPI ini sekali lagi bukan tentang aksi menentang Islam, melainkan aksi menentang paham yang menghalalkan kekerasan dalam memaksakan kesamaan prinsip. Namun entah apa tujuannya, orang-orang pro FPI membuat seakan-akan jika orang lain menolak FPI, maka mereka menolak Islam. Jika mereka menentang FPI, maka mereka menentang Tuhan.

Itu logika dari mana?

Untuk saya, ini adalah tentang masyarakat yang mencintai kedamaian dan percaya pentingnya menghargai sesama ciptaan Tuhan, melawan sekelompok orang yang mencintai kekerasan dan menganggap dirinya berhak menghancurkan orang lain yang berbeda dengan mereka.

 

Resolusi 2012

post details top
Jan 24th, 2012
post details top
Resolusi 2012

Walaupun sudah nyaris sebulan melewati tanggal 1 Januari 2012, tapi masih boleh kan, ya, gue bikin resolusi-resolusian? Walau sebenarnya mungkin nggak tepat kalau disebut resolusi karena kalau punya gue lebih ke target-target apa aja yang harus gue lakukan dan dapatkan di tahun 2012.

Buat gue, menulis resolusi bukan sekedar untuk memperingatkan diri gue atau membuat target agar gue berkembang dan menjadi lebih baik di tahun berikutnya. Gue menulis resolusi, karena gue percaya, kalau kita menulis apa yang kita inginkan dan memikirkannya, maka hal itu akan terkabul. Klenik, sih, tapi gue kan nggak melanggar hukum dengan melakukan itu :))

(more…)

Kebebasan Berpendapat Minus Mikir.

post details top
Jan 20th, 2011
post details top

Katanya freedom of speech

kebebasan berpendapat?

Bikin gue bertanya-tanya, apakah yang dimaksud dengan kebebasan berpendapat itu sama dengan asal njeplak ngomong gak pake mikir, main asumsi dan bawa-bawa nama orang, lembaga, komunitas ato apapun yang ternyata gak berhubungan.

Itu kayak bilang

“Gayus itu koruptor, makanya semua tetangga di kompleknya Gayus itu sama korupnya. Termasuk Pak Soleh, Bu Yanti, dan Mbak Fatima. Mereka pasti koruptor kayak Gayus. Fuck Pak Soleh, Fuck Bu Yanti, Fuck Fatima.”

Kebebasan berpendapat itu rupanya ada yang mendefinisikan sama kayak asal njeplak gak pake otak. Apa salah Bu yanti? Apa karena dia pernah ngasih pinjem kemoceng ke istrinya Gayus, lalu dia boleh dicap koruptor?

Apa karena Pak Soleh pernah bantuin Gayus cuci mobil maka dia koruptor?

Apa karena Fatima pacaran sama Sanip, anak sulungnya Gayus, maka dia juga koruptor?

“Oh, gue gak suka sama Bu Yanti, soalnya dia minjemin kemoceng rusak ke Gayus…”

So what’s up with abusing the F words? Gimana kalo ternyata Bu Yanti gak pernah minjemin kemoceng ke istrinya Gayus, ternyata dia cuma mungut kemoceng jatoh di depan rumah istrinya Gayus? Tapi lo udah memaki2 dia dengan seenak udel.

Apa bedanya elo dengan demonstran yang teriak-teriak di depan gedung DPR cuma krn dikomporin berita di koran, padahal lo ga ngerti esensi dari yg lo protes?

We have no right to express an opinion until we know all of the answers.

– Kurt Cobain

Inget ya temans, kalo lo mau memaki orang lain dan menuduh macem2, pikir dulu pake otak. Jangan sampe salah sasaran, apalagi fitnah. Gimana kalo orang yg lo kata2in, jelek2in, ternyata gak tau apa2? Apalagi kalo sampe lo tulis di blog. Gue pernah baca, seseorang dituntut ribuan dolar gara2 menghina perusahaan jasa sambil bawa-bawa anak dan suami pengusaha yang dia maki-maki.

If you have a problem, fix it. But if you can’t fix it, then turn the fuck around. Lanjutkan hidup lo, dan lawan orang atau sistem yang lo gak suka pake otak dan aksi yang bener, bertanggung jawab.

Kita bukan anak SMP lagi, yang kalo salah dan ditegur tinggal ngamuk-ngamuk teriak2 “SUKA-SUKA GUE! ITU KAN OPINI GUE! BEBAS BERPENDAPAT DONK!”

lalu orang akan diam dan berkomentar “yah, namanya juga anak-anak, gak bisa lah kita paksain berpikir maju…”

– nama dan illustrasi kasus murni fiktif, ga usah mikir macem-macem–

Cewek Matre dan Pacarnya

post details top
Nov 21st, 2010
post details top

Gue lagi keranjingan nonton serial “Lie To Me”, itu film serial tentang seorang pria yang pandai membaca ekspresi orang. Foster bertahun-tahun mempelajari micro expression, ia memiliki sebuah perusahaan yang menjual jasa untuk “menemukan kebenaran”. Misalnya untuk menginterogasi penjahat, mencari tahu apakah seseorang berbohong atau nggak, ya gitu deh.

Over all, menurut gue film ini seru. Walau gue masih lebih suka The Big Bang Theory sih…

Yang menarik, ada satu episode tentang seorang milyuner yang ingin mengetahui apakah kekasihnya mencintainya apa adanya, atau hanya tertarik padanya karena harta.

Gue jadi inget dengan temen2 gue dan keluhan mereka tentang cewek matre, atau pacar matre.

Misalnya temen gue yang naksir seorang cewek cantik, rambut panjang, kuliah di univ swasta ternama di jakarta. Waktu tahu si cewek akhirnya berpacaran dengan seorang cowok bermobil mewah, temen gue misuh-misuh,”Modal gue cuma motor bebek, sih… Coba kalo BMW, pasti dia mau ama gue…”

Atau temen gue yang lain… yang cerita ngebeliin ini itu untuk pacarnya, tapi tiba-tiba putus dan ceweknya jadian ama cowok lain. Sibuklah temen gue ngomel “Padahal gue beliin dia tas anu, parfum itu, gue modalin ke salon…” bla bla bla.

Dan kemudian pada akhir kata mereka menyimpulkan, cewek-cewek itu sebagai cewek matre. Morotin mereka, setelah puas, cari cowok lain yang tajir. Atau untuk yg masih proses menggebet, biasanya menarik kesimpulan : ya iyalah dia ga mau ama gue… coba kalo gue banyak duit, mana mgkn dia nolak gue..

Sebagai seorang cewek, gue gak memungkiri, emang ada tipe cewek kayak gitu. Ada uang, ada cinta *tsah* biar gak ada cinta, yang penting ada uang *halah*. Kadang-kadang gue dan temen-temen gue yang men-spot kecenderungan “cewek matre” pada seseorang, juga ikut geleng2 kepala melihat kelakuan mereka.

Tapiii, jangan samain cewek matre, dengan cewek yang selektif. Beberapa cewek saat ingin membina hubungan yang mengarah ke pernikahan, pasti lebih memilih cowok yang mapan, minimal stabil secara finansial. Itu beda sama cewek matre. Kalo cowok pemalas yang nggak mau kerja, masa berani mengharapkan seorang wanita mau menyandarkan masa depannya dan calon anak-anaknya?

Balik ke cewek matre.

Gue punya jawaban simpel ke temen2 gue yang suka mengeluhkan tentang gebetan matre atau pacar matre.

Misalnya salah seorang temen gue yang ngatain gebetannya matre hanya krn dia ditolak. Gue biasanya ketawa sambil ngomong, “Lagian elo juga, naksirnya ama cewek model begitu, cantik, tinggi, pinter… Coba sana lo deketin cewek dusun, atau cewek2 yang gak bergaya kayak gitu.”

Iya ga, sih? Lo naksirnya sama cewek model “high class” yang biaya perawatannya tinggi. Bukan masalah ceweknya yang matre, elo aja yang belagu… cuma mau deketin cewek cantik, cewek keren. Apa bedanya cowok kayak gitu dengan cewek matre? Apa bedanya cewek yang deketin cowok hanya  karena duit, dengan cowok yang cuma mau deketin cewek yang cantik atau ber-tok*t gede? Sama aja kan? sama-sama shallow.

Lalu dengan cowok-cowok yang mengeluh pacarnya matre dan suka minta dibeliin ini itu, biasanya jawaban gue lebih polos lagi : “Ah, ya gak apa-apa lah lo beliin dia ini itu. Toh itu semua gak gratis… lo pasti dapet service memuaskan donk dr cewek lo? Ya impas lah… lo beliin dia ini itu, dia mau ngeladenin lo ini itu.  Sama-sama seneng kan?”

Dan masalah selesai

Mau ngatain pacar atau gebetan lo sebagai cewek matre? Ngaca dulu sana. Kenapa juga elo milih cewek itu? Kalo hanya karena cantik ato body-nya bagus, well… barang bagus  pasti harga belinya tinggi. Service memuaskan juga didapat dengan biaya yang nggak murah donk. simpel aja kan?

Pengamen Apa Tukang Palak?

post details top
Sep 25th, 2010
post details top

Udah tau belum kalo pengamen itu bisa dibagi dalam 3 kategori?

1. SENIMAN JALANAN

Seniman jalanan itu adalah tipe pengamen yang paling disukai orang-orang. Biasanya penampilannya nyeni, kadang bergerombol, bawa alat musik lengkap. Kalo udah mulai beraksi, mereka selalu memainkan lagu yang mereka bawa dengan wajah tersenyum. Bahkan mereka tampak menikmati lagu yang mereka dendangkan.

Cenderung terima dengan senyum berapapun yang diberikan oleh pendengarnya, nggak dikasi jg gak apa-apa. tapi seringan malah dikasi banyak duit sama orang-orang, karena permainan lagu mereka bikin hati senang, dan pembawaan mereka yg sopan dan ramah.

2. PENGAMEN

Alat musik yang digunakan biasanya standar : gitar, drum seadanya, harmonika, suling. Cenderung ngamen untuk cari uang demi memberi makan anak istri atau orangtua. Kadang kemampuan musik pas2an, tapi tetap berusaha bermain dengan baik. Kadang ramah, tp kadang mukanya kecapekan, kayak lagi banyak pikiran.

Pengamen kayak gini biasanya cuma dikasi gopek atau sukur2 seribu. Biasanya karena pilihan lagunya enak, mainnya gak cempreng, jadi nggak mengganggu sama sekali. Jadi orang-orang yang kebetulan punya receh, ikhlas2 aja ngasi recehnya ke dia. Dikasih recehan pun masih mau, asal nggak 100 perak tok.


3. TUKANG PALAK

ngakunya pengamen, bawa gitar, ukulele, atau  alat musik handmade macam botol aqua atau yakult yang dikasi pasir. Tapi sebelum menyanyi biasanya diawali dengan ancaman, atau nyanyi tanpa permisi. Suka marah2 kalo ngeliat ada orang yang tidur ketika dia lagi ngamen, dituduh pura-pura tidur.

Kadang suka bilang “Lebih baik kami ngamen daripada ngerampok, bla bla bla…”, ancaman terselubung yang bikin orang tambah bete atau malah takut. Kalo dikasi recehan, biasanya marah2 atau malah ada yg teriak “Astagfirulla Alazim, gue cuma dikasi dua ratus!!!”

Kalo gak dikasih marah2 juga, kadang nyumpahin, tapi ada juga yg kalo gak dikasi tetep nyodorin tangan minta duit sambil melotot *eh anj*ng, lo ngamen apa malak, setan!* Ada pula yang berani ngebentak dan nyumpahin padahal orgnya udah ngasi tangan untuk menolak baik2.

Atau pernah neriakin ibu2 di bis “Pelit amat Bu Haji, padahal pake jilbab!” *dan herannya gak ada yg belain ibu tua itu dgn negus si pengamen. dasar laki2 di bis, nyaris gak ada yg bisa diandelin buat belain kaum wanita*

Ada juga yg bawa-bawa agama nyeramahin orang2 yang gak ngasi duit, bahkan dikasi gopek pun masih ngomel.  Bawa-bawa surga neraka, hukum ikhlas, dll. *Eh kampret, situ pikir situ udah paling bener??? udah ngamen tanpa diminta, mainnya jelek, malah bikin sakit kuping, pake ngancem, trus nyuruh orang ikhlas ngasi seribu?? Kalo tu orang pada tajir, bukan naik bis, tapi naik BMW.* Udah salah, ngerasa sok paling bener pulak.

padahal modusnya sudah persis seperti tukang palak, tapi masih dengan pede menyebut diri sebagai pengamen, bahkan seniman jalanan. CUIH.

ini polisi pada kemana sih? Masa pengamen palsu begitu bisa bebas keliaran?

mereka ngerasa udah hebat dengan ngamen dan pantes dapet seribuan, padahal gak ada yg minta dia ngamen, gak ada juga yg bisa nikmatin lagunya, malah ngerasa keganggu. trus berani-beraninya minta org2 ikhlas untuk ngasi duit ke dia. orang mengganggu ketenangan, malah minta duit? gila apa.

situ pikir orang2 yg naik bis atau makan di pinggir jalan itu gak butuh duit jg? tus kalo gak punya recehan, harus ngasi elo 10rb gtu? situ pikir org2 yang naik bis itu org kaya? situ pikir mereka gak kerja banting tulang buat dapetin duit yg mereka punya?

*le, kenapa gak ngmg langsung aja ke pengamennya?*

UDAH SERING.

dikasi 1000 tp recehan semua, malah ngedumel. yg tadinya ikhlas malah jadi gak ikhlas.. *dibales aja : saya juga kerja keras biar dapet duit tauk!”

gak punya recehan, akhirnya minta maaf dengan sopan, malah dipelototin sambil tetep nyodorin tangan *gue bales : situ ngamen apa malak???*

duit tinggal 10rb padahal rumah di bekasi dan itu masih di grogol, dipalak pengamen di bis, dikerubungin 3 orang yg pd melotot *terpaksa ngasih seribu sambil ngitung2 masih cukup apa nggak buat pulang sampe rumah, serem bo dikerubungin 3 orang. laki2 di bis-nya gak ada yg mau belain*

serius deh, walaupun macet makin parah gara2 makin banyak yg pake mobil pribadi dan motor, gue maklumin deh buat kaum perempuan. terlalu banyak bahaya buat perempuan di transportasi publik di negara kita. klo punya kendaraan pribadi, mending ga usah naik bis.

« Previous Entries

Banners