#IndonesiaTanpaFPI… di Twitter :D
Disclaimer : Tulisan ini sedikit banyak dipengaruhi opini pribadi. Jika ada kesalahan dalam informasi yang terdapat dalam postingan ini, akan sangat saya hargai koreksinya.
Segala komentar yang kasar, tolol, dan diposting tanpa membaca keseluruhan isi postingan saya, tidak akan saya tampilkan.
Kemarin, tanggal 14 Februari 2012, bertepatan dengan Valentine, diadakan deklarasi atau demo #IndonesiaTanpaFPI. Saya udah nyiapin kamera buat ikutan dengan harapan mungkin jam 7an malam kegiatannya masih berlangsung. Namun pukul 6 sore kegiatan sudah selesai dan menurut pantauan saya di timeline, tidak ada kendala yang berarti.
Karena gak bisa dateng langsung ke lokasi, saya hanya bisa memantau keadaan via timeline. Sejak awal, BANYAK BANGET yang mendukung #IndonesiaTanpaFPI di timeline twitter. Jauh lebih banyak daripada orang yang mencemooh. Sampai hari ini pun masih ada yang ngetwit memberi dukungan.








Sebagai warga Indonesia, saya merasa suara saya terwakili oleh orang-orang yang dateng ke Bundaran HI. Halangan saya untuk gak dateng cuma karena ada deadline dan lembur sampe jam 11 malem. Dan saya yakin, melihat dari banyaknya dukungan di timeline twitter, banyak juga yang merasa suaranya terwakili. Walau tidak dipungkiri, ada sebagian kecil orang yang komentarnya kasar. Tapi serius, deh, cuma sedikit, kok.
Namun agar lebih obyektif, saya juga akan menampilkan komentar kontra, yang menentang #IndonesiaTanpaFPI. Tanpa bermaksud berat sebelah, gaung suara orang2 yang kontra jauh lebih sedikit daripada yang mendukung. Dan komentar mereka pun rata2 cenderung tendensius, offensif, dan berisi tuduhan tidak berdasar.






Rata-rata menuduh mereka yang datang ke Bundaran HI sebagai demonstran bayaran atau “antek-antek”-nya JIL. Please, deh… Walaupun JIL gak ada di muka bumi, SEMUA ORANG YANG PUNYA HATI NURANI PASTI MENOLAK ORMAS MANAPUN YANG FASIS DAN BERLANDASKAN KEKERASAN.
Saya jijik aja dengan orang-orang itu, apa nggak bisa mengungkapkan ketidaksetujuan dengan cara lain yang lebih terhormat dibandingkan main fitnah dan tuduh tanpa bukti?
FYI aja, Saya nggak pro JIL, saya bahkan nggak setuju dengan beberapa pandangan dalam JIL. Silakan tanya orang terdekat saya, gimana pandangan saya tentang JIL. Jadi kalau ada yang berpikiran “Ah, pasti yang nulis postingan ini pro JIL.” Percayalah, saya tidak sama sekali. Bahkan salah satu petinggi JIL saya unfollow dari twitter saya gak suka lihat isi twitnya.
Tapi satu, sih. Sejauh ini saya belum pernah mendengar orang2 JIL memukul apalagi membunuh orang yang berbeda prinsip/sudut pandang dengan mereka. Jadi saya tidak punya alasan untuk membenci mereka.
Kemudian ketika berita-berita sudah mulai muncul di media online, ini reaksi negatif yang saya tangkap.





Seperti biasa, sebagian besar orang, tanpa menelusuri terlebih dahulu, langsung mencap kegiatan #IndonesiaTanpaFPI rusuh. Hanya karena tertipu headline berita. Padahal kalau memantau timeline pasti banyak laporan langsung dr TKP maupun berita dari situs lain yang lebih akurat.
Selain itu banyak juga yang mentertawakan karena jumlah demonstran yang sedikit * saya sendiri nggak tahu pasti sih, jumlahnya*. Tapi seperti saya bilang, banyak yang memberi dukungan via twitter. Sayang aja mereka nggak bisa datang karena entah terjebak jam kerja, nggak punya ongkos, atau khawatir nanti di sana bakal terulang seperti insiden Monas dulu.
Tapi… itulah bedanya gerakan bayaran dengan yang tidak dibayar, bukan?
Dan hari ini saya masih sempat memantau timeline dan melihat reaksi mengenai insiden minor yang terjadi kemarin sore.



Well… well… Belum tahu, sih, ini info sahih atau tidak. Tapi menurut sebuah situs, pemimpin FPI sudah menyatakan bahwa pelakunya bukan orang FPI. Hmmm, tapi kok yang dateng adalah pengacara petamburan? Ini tinggal tunggu info selanjutnya aja dari portal berita yang mestinya lebih kompeten daripada sejumlah orang yang berprasangka. Termasuk saya sendiri.
Aksi menentang FPI ini sekali lagi bukan tentang aksi menentang Islam, melainkan aksi menentang paham yang menghalalkan kekerasan dalam memaksakan kesamaan prinsip. Namun entah apa tujuannya, orang-orang pro FPI membuat seakan-akan jika orang lain menolak FPI, maka mereka menolak Islam. Jika mereka menentang FPI, maka mereka menentang Tuhan.
Itu logika dari mana?
Untuk saya, ini adalah tentang masyarakat yang mencintai kedamaian dan percaya pentingnya menghargai sesama ciptaan Tuhan, melawan sekelompok orang yang mencintai kekerasan dan menganggap dirinya berhak menghancurkan orang lain yang berbeda dengan mereka.

