Kebebasan Berpendapat Minus Mikir.
Katanya freedom of speech
kebebasan berpendapat?
Bikin gue bertanya-tanya, apakah yang dimaksud dengan kebebasan berpendapat itu sama dengan asal njeplak ngomong gak pake mikir, main asumsi dan bawa-bawa nama orang, lembaga, komunitas ato apapun yang ternyata gak berhubungan.
Itu kayak bilang
“Gayus itu koruptor, makanya semua tetangga di kompleknya Gayus itu sama korupnya. Termasuk Pak Soleh, Bu Yanti, dan Mbak Fatima. Mereka pasti koruptor kayak Gayus. Fuck Pak Soleh, Fuck Bu Yanti, Fuck Fatima.”
Kebebasan berpendapat itu rupanya ada yang mendefinisikan sama kayak asal njeplak gak pake otak. Apa salah Bu yanti? Apa karena dia pernah ngasih pinjem kemoceng ke istrinya Gayus, lalu dia boleh dicap koruptor?
Apa karena Pak Soleh pernah bantuin Gayus cuci mobil maka dia koruptor?
Apa karena Fatima pacaran sama Sanip, anak sulungnya Gayus, maka dia juga koruptor?
“Oh, gue gak suka sama Bu Yanti, soalnya dia minjemin kemoceng rusak ke Gayus…”
So what’s up with abusing the F words? Gimana kalo ternyata Bu Yanti gak pernah minjemin kemoceng ke istrinya Gayus, ternyata dia cuma mungut kemoceng jatoh di depan rumah istrinya Gayus? Tapi lo udah memaki2 dia dengan seenak udel.
Apa bedanya elo dengan demonstran yang teriak-teriak di depan gedung DPR cuma krn dikomporin berita di koran, padahal lo ga ngerti esensi dari yg lo protes?
We have no right to express an opinion until we know all of the answers.
– Kurt Cobain
Inget ya temans, kalo lo mau memaki orang lain dan menuduh macem2, pikir dulu pake otak. Jangan sampe salah sasaran, apalagi fitnah. Gimana kalo orang yg lo kata2in, jelek2in, ternyata gak tau apa2? Apalagi kalo sampe lo tulis di blog. Gue pernah baca, seseorang dituntut ribuan dolar gara2 menghina perusahaan jasa sambil bawa-bawa anak dan suami pengusaha yang dia maki-maki.
If you have a problem, fix it. But if you can’t fix it, then turn the fuck around. Lanjutkan hidup lo, dan lawan orang atau sistem yang lo gak suka pake otak dan aksi yang bener, bertanggung jawab.
Kita bukan anak SMP lagi, yang kalo salah dan ditegur tinggal ngamuk-ngamuk teriak2 “SUKA-SUKA GUE! ITU KAN OPINI GUE! BEBAS BERPENDAPAT DONK!”
lalu orang akan diam dan berkomentar “yah, namanya juga anak-anak, gak bisa lah kita paksain berpikir maju…”
– nama dan illustrasi kasus murni fiktif, ga usah mikir macem-macem–
