Kesalahan yang Tak Termaafkan…

… bagi gue.

Oke, mgkn bisa gue maafin, tapi susah untuk gue lupain.

Well, gue cuma manusia biasa, dan bukan malaikat.

1. Orang yang memanfaatkan gue habis2an, cuma nyari gue di saat butuh bantuan dan ngejadiin gue budak egonya habis-habisan. Selalu maksa gue untuk nurutin keinginannya dan marah-marah kalo gue gak bisa ngikutin kemauan dia. Memperlakukan gue seperti pembantu, minta ini minta itu. Sementara dia sendiri gak pernah ada saat gue butuh, saat gue curhat cuma mau dengerin 5 menit habis itu sisanya 2 jam untuk membahas masalah dia dgn pacarnya, pakaiannya, dan musuh-musuh dia.

Dan setelah dia sukses, gue pun ditinggal gitu aja sementara dia sibuk dengan temen-temen barunya. Lupa sama sekali dengan gue yang ada di saat-saat dia jatuh. Nginjek kaki ke rumah gue pun dia gak sudi, pdhl dulu cuma rumah gue yang menerima dia di saat gak ada org lain yg mau nerima dia. Hanya krn rumah gue kecil dan sederhana? Terlalu sempit untuk ego dan kesombongan lo?

2. Orang yang nyakitin hati nyokap gue dan malah menghina nyokap gue setelah puas memanfaatkan kebaikan nyokap gue. I will never forget that. kecuali klo dia minta maaf ke nyokap gue.

3. Orang yang memanfaatkan bokap gue. Menipu bokap gue. Nyakitin bokap gue. Hubungan gue memang gak baik ama bokap gue, tp bukan berarti gue terima kalo ada yang jahatin bokap.

4. Pembohong. Selalu berbohong dan mengira gue gak tahu. Dan setelah ketahuan bohong, bukannya nyadar, tobat, malah bertingkah kek manusia paling bener. Membuang gue demi menjaga harga dirinya, sesuatu yg sebenernya dia gak punya tentu saja, hanya karena gue udah tau semua aib dia.

5. Yang membuang gue karena punya temen baru yang lebih gaul. Yang lupa temen lama setelah dapet temen baru. Yang milih-milih temen. Gue tahu banget lo pilih-pilih temen, plis deh, gak usah sok jadi manusia rendah hati yang baik dan berkepribadian bagus. Gue tahu banget, lo cuma pinter berpura-pura, lidah lo bercabang, dan elo itu cuma topeng dengan kepribadian kosong melompong.

Gue gak keberatan lo ninggalin gue. Tapi ketika lo gue kasi kesempatan untuk berubah dan memperbaiki segalanya, elo malah tetep bertingkah, saat itu pintu gue buat lo udah tertutup. Saat ini, tepatnya. Lo gak punya tempat lagi di dalam hidup gue.

6. Orang yang melecehkan gue di depan umum, berusaha mempermalukan gue, orang yang sombong, ohhh, percayalah, gue inget apa yg udah lo lakuin. Lo pikir gue gak marah? Gue diem bukan berarti gue gak pengen nampol muka lo :) Lo pikir lo siapa sampe ngerasa berhak menjatuhkan orang lain di depan umum padahal tu orang gak salah apa-apa?

Syukurlah di antara semua orang-orang brengsek di atas, Tuhan masih memberikan gue, si pendendam yang juga brengsek ini, sahabat-sahabat yang baik dan menyayangi gue apa adanya gue. Menegur di saat gue salah, tapi nggak ngilang pas gue butuh tempat curhat. Walaupun gak bisa sering-sering ketemu, tp masih tetep mau nyediain waktu untuk ngumpul, sekedar merokok dan minum kopi, atau nongkrong di kalimalang sambil ketawa-ketawa tentang hal2 yg hanya dimengerti oleh kita.

Seperti gue bilang, gue bukan orang suci. Memang lebih mudah mengingat kesalahan orang lain daripada kesalahan kita sendiri. Lebih mudah menghujat daripada introspeksi diri dan meminta maaf.

Well, mungkin seiring berjalannya waktu, gue akan memaafkan, mungkin jg nggak :p seenggaknya, gue gak mau membuang-buang waktu gue mikirin mereka, knp mereka tega, knp mereka gak tobat-tobat, dan lain lain.

Jalan keluarnya cuma satu buat gue : mencoret mereka dari dalam hidup gue.

Selamat tinggal kalian para lintah darat, penipu, pembohong bermuka dua, parasit, makhluk-makhluk berkepala besar yang merasa orang lain tidak pantas menjadi teman kalian kecuali yang kepalanya sama besarnya dengan kalian, dan orang-orang yang berbahagia hanya jika punya bahan untuk dihina-hina dan dilecehkan… Hidup saya sangat bahagia tanpa kalian ;-)

July 2nd, 2010 | curhat colongan, jahil | 17 Comments |



Tracing. Hah?

Di post sebelumnya, saya sempat menyebut kata tracing yang saya gunakan untuk merefer kata “menjiplak”.

Nah, tracing itu sendiri sebenarnya apa sih?

Menurut mbah gugel, definisi tracing adalah sebagai berikut :

  • the act of drawing a plan or diagram or outline
  • a drawing created by superimposing a semitransparent sheet of paper on the original image and copying on it the lines of the original image
  • the discovery and description of the course of development of something; “the tracing of genealogies”wordnetweb.princeton.edu/perl/webwn

Kira-kira maksudnya adalah menjiplak sebuah image atau gambar dengan menggunakan sejenis kertas semi transparan, contoh-nya seperti ini :

Biasanya teknik ini dipakai dalam proses pembuatan kartun atau komik. Kalo ada yang pernah baca bukunya Will Eisner mungkin ngerti. Sementara foto yang dijiplak biasanya adalah foto2 yang dibuat sendiri dengan menggunakan model bayaran/gratis (kalo pake temen sendiri :p)

Semakin maju teknologi, istilah tracing juga mengalami generalisasi. Gak hanya menjiplak menggunakan kertas semi transparan, tapi juga bisa menggunakan software komputer seperti adobe illustrator, adobe photoshop dan sejenisnya.

ini contoh hasil tracing buatan gue menggunakan adobe illustrator dengan foto milik temen gue sebagai bahan jiplakannya:

Caranya : foto ditaruh di layer paling bawah, lalu di atasnya dikasih layer baru dan gue jiplak garisnya menggunakan pen tool dan mouse, kemudian beri warna. Nanti kapan2 gue kasi tau tutorial simpelnya deh :D

Kalo menggunakan vector dan mouse, tracing-nya agak sulit. butuh ketelitian dan kesabaran. gue aja mendingan gambar manual deh daripada pake cara ribet gini.

Cara yang paling mudah mungkin adalah dengan menggunakan pen tablet, seperti yang gue bahas di postingan sebelum ini.

Nah, kenapa gue bisa bilang lebih gampang pake pen tablet? Seperti yang kalian lihat, dengan pen tablet, kita bisa langsung jiplak dari foto. Kalo jiplaknya salah tinggal pencet ctrl + z alias undo. Bisa juga dihapus pake eraser tool. Dan semua itu nggak seribet pake vector dengan mouse atau manual pake tangan dan alat gambar.

Tapi gak selamanya gampang loh pake teknologi satu ini. Karena ada yang walaupun pake pen tablet, ternyata garisnya masih keriting pletat pletot dan gak bisa njiplak bagian yang detail dan rumit.  Apalagi kalo yg emang gak terbiasa menggambar manual, atau yg gak terbiasa nggambar menggunakan pen tablet.

Yang udah jago sih biasanya mereka gak perlu pake foto yang dijiplak-jiplak gitu. Banyak temen gue yang tetep gambar sketsa manual di kertas, kemudian di-scan, baru deh outline yang rapih dan pewarnaannya menggunakan media pen tablet dan komputer. Nah, itu lah bedanya ama yang menjiplak dengan yang tetep nggambar sendiri. Bedanya yang niat beneran bikin dengan yang niat curang.

Sebenernya tracing itu gak salah kok! Gak dosa. Tapi bisa jadi salah kalo kondisinya seperti ini :

1. Menggunakan foto milik orang lain tanpa izin

2. Apalagi kalo fotonya ternyata foto komersial

3. Udah pake foto orang, tanpa izin, dijiplak tanpa/minim improvisasi pula. Cuma beda di warna doank, misalnya.

4. Dipake untuk tujuan komersial, alias diperjual belikan, atau dipamerkan ke publik tanpa memberitahu sumber gambarnya darimana.

Ada beberapa komikus asing yang kesandung sama masalah tracing dan jiplak-menjiplak ini misalnya pada komik Slam Dunk, dan ada juga komikus asing yang niru dari manga Bleach. Contoh-contoh produk dan karya hasil tracing yang ketahuan orang-orang bisa dilihat di sini. Tapi disitu gabung sama segala macam kasus plagiarisme, pencurian ide, dan kasus-kasus cuma mirip :D tapi ya bisa dilihat-lihat deh, sekalian liat pendapat orang lain tentang tracing atau meniru atau yang cuma mirip.

Fiuhh, ini mengerikan. Gue aja masih menggunakan metode meniru loh untuk latihan gambar. Selain itu, utk menggambar pose yang sulit pun kadang gue pake foto-foto dr internet. Walau yang gue tiru cuma pose tubuh doank. Baju, karakter, muka dan lainnya beda. Soalnya gue belum punya kamera buat ngambil gambar2 pose tubuh yang susah.

Walau kita mikirnya “Ah, kan ini gambarnya pake improvisasi, ga bener2 plek niru aja gitu…” tapi orang lain belum tentu mikirnya sama  TT__TT

Jadi, sudah jelas kan sekilas tentang tracing? Mudah-mudahan memberikan pencerahan XD

June 21st, 2010 | Graphic Design, tips of the day | 25 Comments |



Graphic Designer Handal?

Gue inget pernah baca di sebuah majalah, tentang betapa teknologi telah membantu para graphic designer untuk menghasilkan karya-karya yang menarik. Namun di lain hal, teknologi ini malah menjadikan para seniman visual cenderung manja, dan lebih menyedihkan lagi, membuat siapapun bisa menjadi graphic designer. Tanpa perlu capek-capek dan susah payah belajar dan berlatih mati-matian.

Di kehidupan nyata yang gue lihat… hal di atas gak sepenuhnya salah. Gue melihat, misalnya, seorang illustrator. Gambarnya bagus banget! Gue sampai terpana-pana melihatnya. Mengagumi sang illustrator secara diam-diam. Lalu suatu hari, gue melihat isi sketchbook-nya.

Ternyata dia nggak bisa gambar manual. Bisa, sih. Tapi garisnya berantakan, nggak bisa gambar realis, nggak bisa memakai alat warna. Dan gue baru sadar, “Oh, illustrasi keren yang selama ini dia pajang di blognya ternyata pake pen tablet.”

Jadi yaaa… si illustrator ini ternyata tracing/jiplak dari foto-foto di internet. Catet. Foto dari internet. Jadi, bahkan fotonya pun dia nggak motret sendiri.

Sebenernya sih, nggak salah-salah banget tracing/jiplak itu selama bukan untuk komersial alias dijual. Tapi ketika gue tahu ternyata dia bisanya emang tracing doank, dan kalo gambar pake tangannya sendiri hasilnya beda jauh banget, ya itu jadi masalah buat gue. Gue mikir “Ya kalo gitu elo nggak keren. Gue juga bisa kalo jiplak doank, mah…”

Dia termasuk seniman visual yang terlalu bergantung pada teknologi sampai lupa bahwa basic skill seorang seniman visual ( hand drawing ) juga merupakan aspek penting yang harus diasah.

Alat dan teknologi itu emang punya pengaruh besar sepertinya. Misalnya, pensil warna yang 10ribuan pasti hasilnya akan beda dengan pensil warna Derwent yang harganya ratusan ribu sampai jutaan. Spidol snowman, pasti hasil goresannya akan beda dengan Copic Brush. Dan gambar manual, belum tentu hasilnya sebagus dengan menjiplak foto menggunakan pen tablet. Walaupun gak selalu gambar manual kalah dengan gambar digital tentunya.

Gak jarang terbersit di pikiran gue, “Ah, gue juga bisa lebih keren dari itu kalo pake pen tablet.” - “Ah, kerjaan gue pasti lebih cepet selesai kalo pake Imac dan punya Macbook juga.” - “Kalo gue pake Copic Brush juga pasti hasilnya lebih bagus dari itu.”

Dan teringatlah gue kejadian beberapa tahun lalu di kampus, saat salah satu asdos gue menunjukkan hasil karyanya. Sebuah gambar kartun yang diwarnai dengan pensil warna. Hasilnya keren banget kalo kata gue.

Lalu gue liat pensil warna yang dipake sama Si Asdos itu. Pensil warna ga jelas, yang isinya cuma 12 warna dan harganya cuma 6ribuan.

Si Asdos bilang, “Bagus nggaknya suatu teknologi itu, bukan dari harga dan kualitasnya. Tapi dari tangan orang yang make.”

Mungkin dia cuma bercanda waktu itu, sekedar pura-pura menyombongkan diri. Tapi bertahun-tahun kemudian, kata-kata ini jadi bahan pemikiran gue.

Gue sama bodohnya sama graphic designer karbitan kalo gue mengeluhkan gak punya alat ini dan alat itu makanya gak bisa begini. Seharusnya dengan keterbatasan alat bantu yang gue punya, gue bisa survive dan mempertajam skill gue. Alat bantu ya alat bantu, buat ngebantuin. Walau tanpa pen tablet, alat gambar jutaan, Imac, dan semua printilannya itu, gue tetep bisa berkarya, dan kalo bisa harusnya malah lebih bagus dari orang-orang yang ketergantungan sama teknologi dan alat bantu itu :D

Bukannya gue lantas anti teknologi, gue malah mengidam-idamkan pengen punya pen tablet, biar gue bisa tracing langsung dari gambar2 sketsa gue dan lebih cepet ngerjain illustrasi. Gue pengen punya macbook, biar gue bisa kerja kapanpun dimanapun (plus nonton film, browsing, ngegambar2 pake pen tablet :P). Tapi… mudah-mudahan kalo suatu saat gue bisa beli semua itu, gue gak jadi ketergantungan.

Dengan ini, gue juga melaunching *halah* sebagian dari hasil kerjaan-kerjaan gue selama ini yang bisa dilihat di tumblr saya yang baru. Gue baru sadar, gue gak punya online portfolio yang menampilkan karya-karya desain gue. Tadinya mau dibikin di blog ini, page khusus portfolio kerjaan saya, tapi saya lagi males nggak sempet. Banyak deadline :p

Nah, silakan dihina-dina ya hasil kerjaan  saya XDDD Tapi… habis dihina, silakan lemparin saya pake pen tablet dan macbook ya (teuteeuupp)

TAMBAHAN 15 MENIT KEMUDIAN :

me-refer dari komen oom Eru yang sangat benar sekali tapi lupa saya masukkin ke sini :

selain SKILL TANGAN, aspek penting lainnya adalah IDE. setuju banget :D

June 17th, 2010 | curhat colongan, kram otak | 22 Comments |



Kenapa Gak Boleh “Autis”?

Jaman muda dulu *hasyah* kalo ngeliat temen yang sibuk sama gadget-nya sampe gak peduli ama sekitarnya, sering ngatain “Ih, autis luh!”

Kedengerannya sih lucu kali ya, temen-temen yang lain juga kan menggunakan istilah yang sama.

Namun di kemudian hari… gue liat di surat pembaca, ada seorang ibu yang memprotes presenter Empat Mata *iye, Tukul* karena menggunakan kata “Autis” untuk mengejek salah seorang bintang tamu. Gak berapa lama kemudian, gue menemukan postingan Mbak Silly yang memprotes penggunaan kata “Autis”.

Dan sejak saat itu, gue berusaha untuk berhenti menggunakan kata tersebut sebagai bahan ejekan.

Tapi jujur aja, gue masih gak ngerti, kenapa nggak boleh? Gue mikir, dengan orang-orang bereaksi negatif dan sepertinya merasa sakit hati pada penyalahgunaan kata “Autis” memberi kesan seakan-akan “Autis” adalah sebuah aib, sebuah kata yang rapuh. Sebuah keadaan yang buruk dan patut dikasihani sehingga tidak boleh dijadikan bahan bercandaan.

Padahal gue gak ngeliat Autis sebagai sebuah kekurangan yang patut dikasihani. Autistik hanya keadaan dimana orang itu berbeda dari orang lain. Udah, gitu aja. Buat gue, gak asik banget kalau memperlakukan pengidap autistik seperti orang yang memiliki penyakit mematikan yang parah dan harus dikasihani. Dengan memperlakukan pengidap autistik layaknya orang lain yg bukan autistik, bukankah itu lebih baik? Memberi mereka kesempatan yang sama, perlakuan yang sama.

Lalu sampailah gue pada pemikiran ini…

Seperti gue bilang, buat gue autistik itu bukan kekurangan. Itu hanya berbeda, spesial, unik. Maka itu gak bisa dibilang sebagai kekurangan/cacat/penyakit. Dan sebaiknya diperlakukan sama seperti orang lain.

Tapi, dengan penggunaan kata “AUTIS” untuk mengejek orang lain, maka itu mengecilkan dan menghina arti dari kondisi tersebut.

Mungkin seperti ada orang yang menggunakan nama lo untuk me-refer pada sesuatu yang negatif.

Misalnya nama lo SANIP. Trus nama lo dianalogikan sebagai kentut. Jadi tiap ada orang kentut, orang lain ngatain dengan “Ih, lo abis SANIP ya??? Bau SANIP lo!”

Pertanyaan gue

dimana letak lucunya itu?

Gak lucu kan? Gak asik kan? Nyolotin kan? Pengen ngajak mereka ribut kan kalo nama lo dipake buat bahan ejekan?

Gue sih gak nyuruh kalian brenti menggunakan kata autis untuk jadi bahan bercandaan :D Cuma ngasi bahan pemikiran aja…

Saat lo bercanda pake kata AUTIS…

Mungkin teman kalian itu memang punya kakak, adik, atau kerabat yang autistik dan langsung merasa malu punya keluarga yang autis.

Mungkin ada seorang ibu yang memiliki anak autistik, dan terluka mendengar becandaan kalian.

Bahkan mungkin ada seorang autistik di sekitar kalian yang mendengar bercandaan kalian dan langsung merasa dirinya nggak berharga dan cacat.

Kalian tega?

Maap yak klo postingannya sok tua XDDD *gubrak*

June 11th, 2010 | kram otak | 15 Comments |



Heavier Than Heaven

Ini adalah buku tentang biografi Kurt Cobain, musisi favorit gue nomer 1. Melebihi Tom Yorke.Tom Yorke nomer 2-nya.

Pertama kali gue liat Kurt Cobain dan bandnya, di MTV, waktu SD. Gue liat video clip Smells Like Teen Spirit, dan video klip serta lagunya benar-benar membekas di hati gue. Tapi saat itu, gue ga ngerti siapa mereka. Waktu kelas 1 SMP, barulah gue bener-bener dikenalin sama Kurt Cobain dan Nirvana oleh temen-temen cowok gue.

Karena anak SMP duitnya gak seberapa, gue cuma bisa ngoleksi CD bajakan yang suka gue puter pagi-pagi sebelum sekolah, dan sore-sore sepulang sekolah. Bokap nyokap suka geleng-geleng kepala dan ngatain lagunya Nirvana sebagai lagu setan.

Beranjak SMA, gue mulai bisa beli kaset-kasetnya. Mulanya gue cuma sebatas tahu lagi-lagu di album Nevermind, MTV Unplugged, dan Belach. Lalu di bangku kelas 2 gue bertemu 2 orang Grunge Freak. dan dipinjemin lah gue album-album yang lebih lama dari mereka. Gue juga dikenalin dengan Silverchair dan band-band grunge (yang gue lupa apa aja) lainnya.

Akhirnya sih kaset dan CD gue pada dibuangin sama ortu gue :D tapi kemudian kehidupan berlanjut ke era digital, dan penuhlah MP3 gue dengan lagu2 Nirvana.

Suatu hari, di majalah Rolling Stone apa Hai, gue lupa, gue baca review tentang Heavier Than Heaven. Tapi waktu itu, menurut majalah tersebut buku ini belum terbit di Indonesia. Dan sampai beberapa waktu lalu, gue masih berpikir bahwa buku itu gak ada di Indonesia.

Ternyata gue salah :D

Oom kita yang satu ini, dengan baik hatinya mengirimkan saya buku ini, buku yg akhirnya menjadi kitab suci saya ini beberapa hari yang lalu. Betul2 nggak nyangka!!!

Ternyata buku ini dijual di Indonesia, dan edisi terjemahan pula XDDD

Setelah gue googling, ternyata memang buku ini diterbitkan oleh penerbit Indonesia. Tapi tampaknya promosi dan distribusinya kurang merata. Selain itu yang menerbitkan jg bukan penerbit yang terkenal (Harmonia) saya pribadi baru denger nama itu. Saya mikirnya, pantes aja saya gak pernah nemu di Gramedia. Sementara edisi aslinya sepertinya dijual di toko buku import, tapi denger-denger harganya nyampe 500rb *pingsan*

Sangking sayangnya saya sama buku ini, saya bacanya pelan-pelan, gak pengen cepet selese XDDD biasnaya buku setebel itu bisa saya habisin 2-3 hari.

Terimakasih yang sebesar-besarnya untuk Oom warm atas kebaikannya :D kebaikan ini gak akan saya lupakan. Dan yang pasti, akan saya balas dengan hadiah kecil yang sudah saya janjikan. tapi sabar ya Oom XDDD

PS : Setelah selesai baca, nantikan review dari saya :D

May 31st, 2010 | chocolate, pamer | 24 Comments |