Sehat itu ternyata BENAR-BENAR mahal ya…

Perhatian!!! Postingan ini panjang karena berisi kutipan dari sumber lain (yang berwarna biru), anda dapat membaca dengan melewatkan paragraf berwarna biru (tidak disarankan).

ANDA TIDAK WAJIB MEMBACA POSTINGAN INI ATAU MEMBERI KOMENTAR JIKA ANDA MEMANG TIDAK TERTARIK UNTUK MEMBACA ATAU MEMBERI KOMENTAR.

Tadi pagi, mendapat “berita” dari ibu frozzy, saya disuruh mampir ke sebuah blog yang ditulis oleh ndorokakung, soalnya ada berita gaswit… katanya korban malpraktek malah bisa masuk penjara lohh… LOH KOK???

setelah saya main ke blog tersebut, saya rada terkejut bacanya. tanpa pikir panjang, saya pun mengklik link ke blognya tikabanget ituh yang ada di halamannya ndorokakung. Dan ternyata tika dengan gagah berani, mengcopy paste surat/email keluhan yang dibuat oleh Ibu Prita. daripada banyak bicara, saya tunjukkan saja isi surat keluhan Ibu Prita yang saya copy dari  SUARA PEMBACA DETIK.COM.

RS Omni Dapatkan Pasien dari Hasil Lab Fiktif

Prita Mulyasari – suaraPembaca


Jakarta – Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.

dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.

Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.

Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.

Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi.  Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.

dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.

Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.

Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.

Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.

Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.

Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas.  Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.

Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.

Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah.

Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.

Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum.

Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.

Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.

Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.

Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.

Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan.

Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.

Salam,
Prita Mulyasari
Alam Sutera
prita.mulyasari@yahoo.com
081513100600

Pihak Rumah Sakit OMNI telah membuat surat bantahan yang isinya benar2 hanya bantahan, bukan klarifikasi yang menjelaskan di belahan mananya Ibu Prita tidak benar dan tidak ada penjelasan kejadian sebenarnya.

sebagian isi dari surat bantahan yang dimuat di sebuah surat kabar ini adalah :

1. Bahwa isi surat elektronik (e-mail) terbuka tersebut tidak benar serta
> tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya terjadi (tidak ada penyimpangan
> dalam SOP dan etik), sehingga isi surat tersebut telah menyesatkan kepada
> para pembaca khususnya pasien, dokter, relasi OMNI INTERNATIONAL HOSPITAL
> ALAM SUTERA, relasi Dr. HENGKY GOSAL, SpPD, dan relasi Dr. GRACE HILZA
> YARLEN NELA, serta masyarakat luas baik di dalam maupun di luar negeri.
>
> 2. Bahwa tindakan SAUDARI PRITA MULYASARI yang tidak bertanggungjawab
> tersebut telah mencemarkan nama baik OMNI INTERNATIONAL HOSPITAL ALAM
> SUTERA, Dr. HENGKY GOSAL, SpPD, dan Dr. GRACE HILZA YARLEN NELA, serta
> menimbulkan kerugian baik materil maupun immateril bagi klien kami.
>
> 3. Bahwa atas tuduhan yang tidak bertanggungjawab dan tidak berdasar hukum

> tersebut, klien kami saat ini akan melakukan upaya hukum terhadap SAUDARI
> PRITA MULYASARI baik secara hukum pidana maupun secara hukum perdata.
>
> Demikian PENGUMUMAN & BANTAHAN ini disampaikan kepada khalayak ramai
untuk
> tidak terkecoh dan tidak terpengaruh dengan berita yang tidak berdasar
> fakta/tidak benar dan berisi kebohongan tersebut.

Disini sebagai warganegara saya tentu saja penasaran, jika suara pembaca tersebut dikatakan sebagai kebohongan, lalu fakta yang sebenarnya itu seperti apa? Tolong dijelaskan? (siapa juga yang mau ngejelasiiinn…)

trus ibu Pritanya apa kabar? ada… baik-baik aja… LAGI NGASO DI DALAM PENJARA. Padahal masih punya anak yang mesti diasupi ASI loh. mau ndak mau anaknya dikasih susu formula aja gitu sama bapaknya. kasian tuh anak…

Lalu apa pendapat saya sebagai warga sipil yang bodoh dan nggak tahu apa-apa ini?

Artinya SAYA (KITA, SAMPEYAN, KALIAN SEMUA) NDAK BOLEH SAKIT. Kalo nanti saya sakit, terus berobat ke rumah sakit bonafid, terus kena MALPRAKTEK dari rumah sakit tersebut, terus SAYA MENGELUH MELALUI BLOG INI tentang malpraktek tersebut, SAYA MALAH BAKAL DIPENJARA. Jadi… SUDAH SAKIT, TAMBAH SAKIT KARENA SALAH DIAGNOSA/OBAT, UANG HABIS BUAT BEROBAT, eh ditambah lagi MASUK PENJARA.

UU ITE aja yang ditegakkan… UU PERLINDUNGAN KONSUMENNYA dibengkokkan?

Haduhh… kok jadi warga sipil yang miskin dan bodoh seperti saya itu resikonya gede banget ya? Lebih gede daripada resiko menjadi seorang koruptor. Perlindungan terhadap warganegara Indonesia ini sebenarnya sudah adil dan kuat nggak sih? Apa benar kata orang-orang…. YANG PUNYA UANG DAN JABATAN (dan dukun kuat) AJA YANG BISA HIDUP AMAN TENTERAM DI BUMI INDONESIA INI?

Saya mendoakan Ibu Pritha dan Rumah sakit terkait. Mudah-mudah Tuhan YME bersikap adil kepada anda sekalian. Entah siapa yang benar, siapa yang salah, dan siapa yang disalah-salahin padahal benar… Mudah-mudahan Tuhan YME menunjukkan kuasa-Nya dalam waktu singkat. Amin…

Sebagai warganegara sipil yang ndak tahu apa-apa, ndak punya apa-apa, hanya dukungan ini yang bisa saya berikan kepada Ibu Prita. Hal ini saya lakukan bukan karena sekadar ikut2an biar keliatan keren atau pengen ngomporin teman-teman blogger, tapi karena saya juga merasa khawatir dan takut bila kejadian ini menimpa saya atau orang-orang yang saya kenal dan saya ingin anda-anda sekalian bisa aware dengan kejadian ini. Terlepas yang mana yang sebenarnya korban, dan yang mana yang jadi banditnya.

Artikel yang patut dibaca juga :

Perkembangan kasus Ibu Pritha

Peninjauan ulang UU ITE

44 responses to “Sehat itu ternyata BENAR-BENAR mahal ya…

  1. dony >> siapa yang dilawan?🙂

    fanz >> ahahha, maaf, yg bikin panjang suratnya sih..

    Heryan >> kejadian yang mana?🙂

    frozzy >> haduh… komentar yang singkat tapi menohok, tepat sasaran, dan sangat benar

  2. kasian ya dokternya, kuliah bbertahun2 n bikin botak tp karena mal praktek akhirnya gelarnya di cabut. tp si korban jg lbh kasihan

  3. Di indonesia human right emang terkenal di abaikan. Hampir ngak pernah ada kasus seperti ini yang dimenangkan korban.

    Bagi dokter2 atau profesi apaun yang mau melakukan percobaan terhadap manusia hidup sangat disarankan datang lah ke Indonesia.

    Jadi inget dorama nya hideki takizawa dengan kasus yang sama, di dorama itu pihak pemerintah sampe ikutan loh

  4. Walopun ngomong panjang lebar tetep aja disayangkan, ga ada bukti yang kuat, bisa jadi senjata bunuh diri kalo ke pengadilan, malah membuka celah untuk di tuntut balik

  5. miris juga waktu baca berita ini dari cause yang disebar pa Enda di fb….

    Tapi kita gak bisa berbuat banyak. Hukum di Indonesia sudah terlalu sulit untuk dimengerti masyarakat. Jadi inget banyak kasus juga yang ditangani pemerintah Indonesia disini soal TKW yang bermasalah…dan kebanyakan dari sekian kasus itu, keadilan hanya ‘mampir’ pada beberapanya saja. Padahal kalo dilihat dengan mata dan logika, si korban udah babak belur penuh dengan evidence yang memberatkan tersangka, tapi masih aja si korban kalah telak dipengadilan dan si tersangka bisa berlenggang kangkung tidak dipersalahkan. nasib..nasib….semoga nasib buruk jauh dari kita orang-orang yang ingin hidup tenang dan damai….

  6. cuma bisa berdoa, semoga bu Pritha segera mendapatkan jalan keluar yg terbaik. karna yg benar pasti akan mendapatkan kemenangan

  7. polar >> sebenernya aku rasa sih, kalo dokter dan rumah sakit minta maaf dan mengganti biaya pengobatan, si korban mungkin ga akan lapor kemana2 dan bersedia damai, jadi dokternya ga perlu dicopot segala gelarnya.

    sinta >> ada lagi, “Orang Miskin Dilarang Sekolah”

    natazya >> ahahah, ohh…pengen maki-maki ya? ketahuan XDDD

    aNGga Labyrinth™ >> doramanya yang mana? judulnya apa? kasi tau donkkk…

    kriwul >> biar dibilang amin juga, pasti ga mungkin jadi kasus terakhir…

    Raffaell >> tapi kan dokter dari rumah sakit kedua bisa ngasih kesaksian… jug abisa dipertanyakan, kalo trombosit normal, kenapa pihak RS Omni masih bilang kalo Bu Pritha sakit demam berdarah dan dipaksa rawat inap?

    @rien >> iya, kmu pasti miris ya rien, soalny akamu di negara sana dan jadi saksi gimana keadaan TKW disana. sementara berita tentang TKW disana nggak pernah ada yang nyampe kesini😦 mau jadi apa bangsa kita, ga di luar negri, ga di dalam negri… tetep aja ga aman dan ga terjamin.

    linda >> amin… mudah2an Tuhan menunjukkan kuasa-Nya.

  8. Pingback: » Bebaskan Ibu Prita·

  9. udah dibebasin bukan, Can?
    masih tahanan kota tapi katanya…

    gila ya, curhat begitu aja bisa masuk penjara…
    udah gila dunia… *jiaaahhhbarusadar*

  10. itu Rumah sakit aneh yah…. pasiennya mengeluh dan mengkritik kok malah di jeblosin ke penjara… Lebaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaay

  11. Kasus unik ya…itulah sisa peninggalan orde lama…org nggak bisa di kritik langsung maen penjara…huh…klo nggak mau di kritik…ke laut aja!

  12. Baca E-mailnya bu Prita aja saya terenyuh. Nggak mungkin cerita sedetail itu hanya sebuah rekayasa Bu Prita.
    Nggak tahu saya kinerja Hakim yang menangani kasus ini, kok bisa Bu Prita kalah… Huuh…..

  13. leaaaaaaaaaa…. gw udh baca semuanya.
    tp bingung mau komen apa, soalnya udh diborong org2 di atas. xD
    hmmm… cuma mau bilang, gw jd rada khawatir ng-update blog keritikentang kalo kyk gini.
    salah2 ntar gw dipenjara lg… hakhakhak… xD

  14. Pingback: Cuma Kentut yang ‘Gratis’ « Cuma Omong Kosong Tentang Hidup yang Menguap dari Kepalaku yang Pengap·

  15. bener tuh mba . aku juga kaget banget soal itu .
    ihiks .
    parah !
    uda jatoh ketimpa tangga ketiban duren pula !
    pihak RS omni ga gentle ! malah nuduh nuduh orang . padahal mereka yang salah ..

  16. ya memang rangkaian kata yang kita tulis di dunia maya memang punya konsekuensi logis. memang ini perlu di cermati dan memang setiap tulisan itu selalu ada yang pro atau kontra

    namun pada kasus ini adalah ibu prita memang layak dan wajar menulis itu. dan inipun ia tulis dengan berani dan mengunakan identitas Asli.seharusnya pihak rumah sakit memperbaiki kekurangan yang ada tidak lantas harus melaporkannya.

    mari kita semua mendukungnya

  17. A : ada yg bisa dibantu ?
    B : pesan penjara satu, toppingnya UU ITE…
    A : baik….ditunngu sebentar yah….
    *kira2 kalo nulis gini kena pasal 310 KUHP juga ga yah?*

  18. Menurut saya..

    Walaupun apa yang dilakukan pihak RS menggugat Bu Prita ndak ada salahnya kalau dilihat dari sisi hukum, tapi saya setuju bahwa kasus ini akan menjadi preseden buruk untuk kampanye kebebasan berbicara.

    Idealnya, memang pihak RS menggunakan hak jawabnya. Tapi menggugat seseorang bukanlah pelanggaran hukum. Masalahnya adalah, pencemaran nama baik adalah subyektif banget sifatnya. Tergantung penerimaan orang.

    Untuk blogger, saya ndak melihat alasan untuk takut menulis, mengkritik atau beropini. Misalnya, kamu melihat kecelakaan di jalan yang menewaskan orang, apakah kamu jadi harus takut berkendara di jalan? Ndak kan? Tapi, sebaiknya kamu menjadi lebih hati-hati di jalan. Begitu juga sebaiknya untuk kasus ini. Ndak usah takut. Tapi yang namanya hati-hati berbicara toh ndak ada salahnya.

  19. iya bener, udah jatuh tertimpa tangga pula. cuman kali ini tangganya sengaja ditimpakan😦 lah banner ibu pritanya mana? *celingukan*

  20. Dulu juga sempat aku kira mas, hehehee…
    Tp mudah2an kita semua ga kena lah ya… serem, mo ngeblog malah ditangkap.

  21. Salam kenal dan salam bahagia, ya…sama…kita beridukungan pada mbak Prita….Alham dulillah sekarang dia tidak lagi tahanan kota……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s