Pentingnya Penghargaan Hak Kekayaan Intelektual Terhadap Perkembangan Ekonomi Kreatif

Sudah pernah dengar tentang ekonomi kreatif?
Satu dekade yang lalu, mungkin ketika mendengar kata ekonomi kreatif, kita akan menjawab, “Ekonomi yang bagaimana, tuh? Kok, kreatif?”. Padahal sementara itu, pada saat yang sama kota-kota besar di negara maju seperti Amerika, Belanda dan Inggris telah beralih dari ekonomi berbasis Industri menjadi ekonomi berbasis kreatif.

Namun, beberapa tahun belakangan ekonomi kreatif di Indonesia mulai mendapat perhatian seiring dengan meningkatnya industri kreatif dan apresiasi terhadap industri kreatif itu sendiri. Pada tahun 2006, Menteri Perdagangan RI, Dr. Mari Elka Pangestu meluncurkan program Indonesia Design Power di jajaran Departemen Perdagangan RI, yaitu suatu program pemerintah yang diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk-produk Indonesia di pasar domestik maupun luar negeri. Selain itu, pada tahun 2008 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah mencanangkan Tahun Indonesia Kreatif 2008, dimana pada saat itu diadakan Pameran Ekonomi Kreatif dan Pangan Nusa 2009 sebagai acara puncaknya.

Kontribusi ekonomi kreatif terhadap pembangunan di Indonesia pada tahun 2002-2008 mencapai rata-rata Rp139,8 triliun atau 7,8 persen dari total Product Domestic Bruto. Walaupun masih berada di bawah sektor perindustrian, pertanian, dan perdagangan, tapi dapat dilihat bahwa sektor kreatif memiliki perkembangan yang cukup baik. Dalam cetak biru industri kreatif 2009-2025 pemerintah pun menargetkan industri kreatif dapat meningkatkan kontribusinya menjadi 9-11% pada tahun 2025 dari total keseluruhan Product Domestic Bruto.

Ekonomi kreatif itu sendiri sebenarnya apa, sih?


Ekonomi kreatif adalah sistem ekonomi yang berbasiskan pada industri kreatif. Tim riset ekonomi kreatif Departemen Perdagangan Republik Indonesia mendefinisikan ekonomi kreatif sebagai :

“Industri yang berasal dari pemanfaatan kreatifitas, ketrampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut.“

Sementara, merujuk pada definisi dari John Howkins, yang konon katanya merupakan orang yang pertama kali mencetuskan istilah ekonomi kreatif, menjabarkan ekonomi kreatif sebagai kegiatan ekonomi dimana input dan outputnya adalah gagasan. John Howkins sendiri merupakan sosok yang berperan besar dalam perkembangan ekonomi kreatif secara global. Beliau adalah penulis sebuah buku best seller yang berjudul “Creative Economy, How People Make Money from Ideas”.
Walau definisi John Howkins lebih singkat dan sederhana, tapi pada dasarnya memiliki makna yang tidak jauh berbeda. Ya, gagasan sendiri merupakan wujud paling awal dari kreativitas. Lahirnya produk hasil kreativitas tentu saja dimulai dari sebuah bentuk gagasan atau ide di otak kita! Gagasan akan berlanjut menjadi konsep, kemudian menjadi rancangan, sampai akhirnya menjadi sebuah bentuk karya atau obyek yang konkrit.
Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, ekonomi kreatif mulai diperhatikan secara serius, dan mulai banyak pula publik yang memperhatikan tentang ekonomi kreatif ini. Terbukti ketika saya mengetik “ekonomi kreatif” pada Google search engine, saya menemukan banyak sekali artikel di blog yang membahas tentang ekonomi kreatif. Banyak dari artikel tersebut membahas tentang definisinya serta seperti apa bentuknya, hal ini turut membuktikan bahwa orang-orang sudah mulai mengetahui apa itu ekonomi kreatif. Sebagai seorang yang bekerja dan mengenyam bangku pendidikan di bidang kreatif, saya merasa cukup malu karena ternyata saya sendiri belum banyak mengerti soal ini.
Lalu, yang dimaksud dengan industri kreatif itu sendiri apa?
Pernah baca novel? Mendengarkan musik di radio atau televisi? Menonton TV atau menonton pertunjukkan seni?
Itulah beberapa contoh dari hasil produk industri kreatif. Sebut saja… iklan, film, lagu, video klip, pertunjukkan seni, pameran, lukisan, pakaian, tas, sepatu, poster-poster di tembok jalanan, novel, majalah, dan masih banyak lagi. Ya, itu semua adalah produk dari industri kreatif. Banyak sekali kan? Di sekeliling kita terdapat banyak sekali produk-produk kreatif, bahkan mungkin saat ini kita sedang menggunakannya, atau malah mengerjakannya? Karena blog ternyata termasuk dalam sektor indutri kreatif, loh…
Dlihat dari hal tersebut, kiranya saya setuju dengan definisi UK Department of Culture, Media and Sport tentang industri kreatif, yaitu Industri-industri yang mengandalkan kreatifitas individu, keterampilan serta talenta yang memiliki kemampuan meningkatkan taraf hidup dan penciptaan tenaga kerja melalui penciptaan (gagasan) dan eksploitasi Hak Kekayaan Intelektual.
Di Indonesia, ada empat belas sektor industri yang termasuk dalam industri kreatif, sektor-sektor tersebut adalah : periklanan; arsitektur; pasar seni dan barang antik; kerajinan; desain; desain fashion; film/video dan fotografi; permainan interaktif; musik; seni pertunjukan; penerbitan dan percetakan; layanan komputer dan piranti lunak; TV dan radio; serta riset dan pengembangan.
Beberapa sektor yang mengalami peningkatan yang signifikan pada tahun 2009 adalah musik, film, layanan komputer, periklanan, arsitektur, serta piranti lunak. Sementara sektor yang paling benyak memberi kontribusi adalah fashion dan kerajinan tangan. Lihat saja, tidak seperti sepuluh tahun lalu, kini film Indonesia banyak menghiasi bioskop-bioskop Indonesia. Bahkan popularitas beberapa film Indonesia bisa mengalahkan film-film dari luar negeri yang masuk ke sini. Sungguh pencapaian yang menakjubkan.
Jika diperhatikan, sebenarnya sangat masuk akal jika Indonesia menerapkan ekonomi berbasis kreatif. Negeri kita yang indah ini merupakan negeri yang memiliki warisan seni budaya yang memiliki macam ragam dan berjumlah sangat banyak. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa ini sudah kreatif sejak jaman nenek moyang dulu. Mulai dari tarian, lagu, alat musik, kerajinan tangan, tenunan, hingga makanan. Satu obyek seni budaya saja sudah memiliki banyak ragam.
Misalnya tarian, kita memiliki ratusan bahkan mungkin ribuan jenis tarian, antara lain tari Pendet dari Bali, tari Tor Tor dari Tapanuli, Tari Topeng Cirebon… wah, mungkin saya bisa menghabiskan berjam-jam untuk sekedar mendata semua jenis tarian yang ada di Nusantara ini. Tapi setidaknya, itulah salah satu bukti dari tingginya attitude kreatif yang dimiliki oleh bangsa ini.
Sebagai salah satu orang yang bekerja di industri kreatif🙂 dan semenjak saya mengenyam pendidikan di bidang desain grafis, saya mencoba untuk lebih peduli pada perkembangan industri kreatif, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Saya juga turut memperhatikan dari yang paling dekat dengan lingkungan saya, yaitu teman-teman saya yang telah berkecimpung di dalam industri kreatif.
Bisa dikatakan, mereka adalah sebagian kecil dari sekian banyak individu yang berjasa di bidang industri kreatif . Mereka malahan memulai usaha mereka dari usia yang sangat muda. Saya melihat gejala menjamurnya usaha kreatif yang dijalankan oleh mahasiswa atau para fresh graduate. Hal ini tentu menjadi prestasi yang sangat baik, ketika seseorang bisa membuka lahan pekerjaan sejak usia muda dengan omzet yang mencapai jutaan.
Sebutlah, sepatu lukis, tas lukis, kalung-kalung dan aksesoris unik, desain iklan dan poster, animasi, komik, dan masih banyak lagi. Produk-produk itulah yang mereka hasilkan, dan dilakukan dalam usia yang masih muda. Apa yang saya kerjakan, belumlah sebesar mereka, dan hal ini memacu saya (dan mungkin banyak muda-mudi lainnya) untuk berusaha lebih keras.
Namun, ada beberapa hal yang cukup mengganggu saya sebagai insan kreatif.
Suatu hari saya berbicara dengan seorang sahabat saya yang kini telah bekerja sebagai seorang penulis lagu. Kami membicarakan tentang profesinya tersebut. Lagu-lagu karya teman saya telah beredar di radio dan televisi, dinyanyikan oleh penyanyi yang cukup populer. Bahkan lagu tersebut masuk ke dalam daftar lagu-lagu yang populer. Tapi saya menemukan bahwa nama sahabat saya tidak dicantumkan sebagai pencipta lagu tersebut. Alih-alih, nama seorang vokalis band ternama lah yang disebut-sebut sebagai pencipta lagu tersebut. Reaksi sahabat saya sih santai saja, menurutnya hal tersebut tidak masalah, karena toh ia sudah dibayar dengan harga tinggi.
Mundur ke belakang, sewaktu saya masih duduk di bangku kuliah, saya terlibat percakapan dengan para senior di kampus saya yang mengeluhkan tentang free pitching. Saya yang belum pernah mendengar istilah tersebut dengan bingung kemudian menanyakan apa artinya free pitching. Berdasarkan penjelasan senior saya, free pitching adalah semacam proses penyeleksian untuk sebuah karya desain agar dapat dipilih oleh perusahaan yang akan membeli desain mereka.
Illustrasinya begini, perusahaan ABC mengumpulkan tiga orang desainer dan meminta mereka masing-masing untuk mendesain sebuah produk, misalnya saja logo. Perusahaan ABC pun kemudian akan memilih salah satu dari tiga desain yang ada. Sementara, dua desain yang lain akan gugur begitu saja, tanpa dibayar. Padahal mungkin saja sang desainer telah bekerja mati-matian untuk membuat logo tersebut.
Menyebalkan? Tunggu saja, masih ada hal yang lebih menyebalkan lagi.
Kita kembali pada tiga desainer tadi. Seandainya perusahaan ABC memilih logo rancangan desainer nomor satu. Kemudian terjadilah negosiasi harga, dan ternyata desainer satu mematok harga yang cukup mahal. Pada titik ini, sering terjadi si perusahaan tidak jadi memakai desainer nomor satu. Mereka akan memilih desainer lainnya yang lebih murah dan memintanya untuk membuat logo yang agak mirip atau bahkan sama persis dengan logo yang dibuat oleh desainer nomor satu.
Ide si desainer nomor satu akhirnya dicontek, dicatut, dicuri secara licik. Lalu, pada situasi ini, bisakah desainer nomor satu memperjuangkan idenya? Selama dia belum mendaftarkan hak paten dari logonya… tidak. Akan sangat sulit untuk meminta keadilan pada situasi seperti ini.
Inilah secuil dari begitu banyak hal yang sekiranya telah menjadi penghalang besar dalam perkembangan ekonomi kreatif Indonesia. Yaitu betapa riskannya pencurian dan pembajakan ide yang terjadi di negeri ini.
Dari sudut pandang saya, sejujurnya, saya pribadi merasa kurang puas pada perlindungan hak cipta terhadap karya intelektual. Contoh konkritnya, PEMBAJAKAN. Betapa tidak, begitu mudahnya karya cipta seseorang diperkosa oleh individu atau kelompok tertentu yang serakah dan tidak menghargai karya kreatif. Beda dengan kasus yang saya sebutkan sebelumnya, dimana biasanya sang desainer yang idenya dicuri kebanyakan belum mempatenkan karyanya, kaset-kaset dan CD lagu yang beredar di Indonesia tentunya telah terdaftar hak ciptanya, dan semestinya memiliki kekuatan hukum yang konkrit.
Tapi bagaimana dengan prakteknya? Begitu banyak kaset, CD/ VCD bajakan beredar, bahkan kemungkinan produk bajakan tersebut malah lebih laku daripada yang orisinil. Lapak-lapak dan toko yang menjual VCD dan DVD bajakan banyak sekali beredar dan mudah ditemukan, karena barang-barang tersebut diperjualbelikan secara terang-terangan. Saya jadi ingat, ketika saya sedang berbelanja ke sebuah pusat perbelanjaan, saya melihat keluarga bule yang membeli DVD bajakan hingga satu tas penuh.
Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI) mencatat bahwa lagu yang dibajak di Indonesia pada tahun 2006 mencapai sekitar 400 juta keping baik untuk CD, kaset, maupun MP3. Dan jumlah ini malahan meningkat pada tahun 2007 menjadi 500 juta keping. Sungguh ironis, negara yang memiliki nilai seni dan kebudayaan tinggi justru memiliki prestasi yang sedemikian memalukan di bidang karya cipta seni.

Loh, memangnya pemerintah tidak melindungi karya cipta insan kreatif di Indonesia?
Sebenarnya pemerintah telah mengatur tentang Hak atas Kekayaan Intelektual dalam Undang-Undang Hak Cipta, Undang-Undang Rahasia Dagang, Undang-Undang Desain Industri dan lainnya. Tapi saya rasa implementasinya belum cukup maksimal. Masih perlu banyak pembenahan dan konsistensi dari pihak pemerintah serta kita sebagai warga negara dalam mengawasi pelanggaran atas Hak Kekayaan Intelektual.
Sebelumnya, biar saya jelaskan apakah Hak atas Kekayaan Intelektual itu sendiri.
Hak Kekayaan Intelektual (H.K.I.) merupakan terjemahan dari Intellectual Property Rights (IPR). Secara garis besar, Hak kekayaan Intelektual dapat didefinisikan sebagai hak yang berasal dari hasil kegiatan kreatif suatu kemampuan daya pikir manusia yang diekspresikan kepada khalayak umum dalam berbagai bentuknya, yang memiliki manfaat serta berguna dalam menunjang kehidupan manusia, juga mempunyai nilai ekonomis.
Hak Kekayaan intelektual itu sendiri tebagi atas empat jenis. Diantaranya adalah Hak Cipta yaitu hak dari pembuat sebuah karya cipta terhadap ciptaannya dan salinannya; Hak Paten yaitu hak yang melindungi ide pembuatnya, bukan wujud dari ide tersebut; Merk Dagang (trademark) yaitu obyek yang digunakan untuk mengidentifikasikan sebuah produk atau perusahaan, bisa berupa nama produk atau usaha, logo, atau gambar; dan Rahasia Dagang, yaitu rahasia sebuah produk atau jasa dalam perdagangan, misalnya resep produk Coca Cola.
Kemudian, apa sebenarnya hubungan antara Hak Kekayaan Intelektual dengan perkembangan ekonomik kreatif?
Sebagai pekerja kreatif, selama ini saya mengerjakan beberapa desain untuk logo perusahaan, desain tampilan web, komik, poster, brosur, dan lainnya. Apa yang terjadi jika suatu saat saya melihat ada orang lain yang membuat sebuah karya desain yang persis sama dengan saya dan memperjualbelikannya? Bagaimana jika karya intelektual saya bebas ditiru oleh siapa saja? Aduh, jujur saja, saya lebih baik tidak menunjukkan karya saya sama sekali kepada khalayak daripada mengalami resiko seperti itu.
Pada lingkup yang lebih besar, saya ambil contoh industri komik Indonesia. Pada tahun 1960-an, komik Indonesia sangat populer dan mungkin bisa dikatakan “sedang jaya-jayanya”. Kita memiliki Si Buta dari Gua Hantu karya Ganes TH, Jaka Sembung karya Djair, Hans Jaladara dengan Pendekar Panji Tengkorak-nya, Mandala, Siluman Sungai Ular karya Man, maupun komik-komik jenis roman remaja, roman sejarah, superhero, atau science fiction, komik humor, dan komik dongeng yang dikenal dengan sebutan komik Andersen (dari nama pendongeng dunia Hans Christian Andersen).
Tapi industri ini kemudian terpuruk sangat dalam pada tahun 1980-an. Kenapa bisa seperti itu? Jawabannya adalah karena pembajakan. Ya, pembajakan bisa membuat sebuah industri terpuruk seperti itu. Pada tahun 1980 mulai banyak muncul komik-komik yang didistribusikan tanpa membayar lisensi, komik-komik hasil fotocopy, bahkan komik yang merupakan gambar ulang atau menjiplak dari komik yang asli.
Komik-komik bajakan tersebut menawarkan harga yang jauh lebih murah dibandingkan komik orisinil, tak ayal banyak orang yang lebih memilih untuk memebeli produk dengan harga lebih murah. Kualitas yang kemungkinan tidak terlalu oke diabaikan demi mendapat harga murah tersebut. Dan dampak dari pembajakan serta sikap konsumen yang tidak menjunjung tinggi Hak Kekayaan Intelektual para komikus tersebut, jadilah industri komik Indonesia sempat mati suri.
Bagaimana jika industri musik, industri fashion, dan industri kreatif lainnya melesu karena pemerintah dan kita sebagai konsumen tidak mengacuhkan Hak Kekayaan Intelektual para pekerja industri kreatif? Bisa saja mereka menjadi lesu dan tidak termotivasi untuk berkarya, karena tidak ada jaminan karya tersebut tidak akan diklaim oleh orang atau kelompok lain.
Atau seperti contoh dari industri komik kita, yang terperosok karena tidak adanya masyarakat yang mau membeli produk asli. Mungkin bisa dikatakan sebuah keajaiban industri musik dan perfilman kita tidak mengalami hal yang sama dengan industri komik mengingat tingginya tingkat pembajakan di Indonesia. Tapi, apakah kita memang harus menunggu sampai industri kreatif kita benar-benar terpuruk baru kita melakukan sesuatu?
Jika Hak Kekayaan Intelektual tidak diperhatikan dan dihargai, akan menyebabkan kelesuan di dalam sektor industri kreatif dan pengetahuan. Orang-orang takut akan mengalami kerugian karena pembajakan, pencurian ide, dan lainnya sehingga tidak ada semangat dalam berkarya. Hal ini dapat menyebabkan perkembangan ekonomi kreatif yang stagnan. Padahal pada masa kini, ekonomi kreatif juga merupakan basis ekonomi yang perlu diperhatikan.
Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dunia, eksploitasi terhadap sumber daya alam membuat industri pertanian tidak bisa sebesar beberapa abad yang lalu. Lahan pertanian telah menyusut semakin jauh, terutama di negara maju, bahkan lahan pertanian dan kehutanan di Indonesia pun semakin menyusut. Sementara perkembangan teknologi semakin canggih saja, Indonesia sebagai negara berkembang masih harus bersusah payah mengejar pesatnya laju industri teknologi negara-negara maju. Negara-negara besar memiliki modal yang besar untuk membangun industri-industri berskala raksasa, perkembangan informasi, jaringan komunikasi yang tersebar luas… Wah, maaf saja… kalau menyangkut sumber daya manusia, saya yakin ada banyak anak bangsa yang jenius dan memiliki etos kerja yang tinggi yang bisa bersaing dengan negara-negara maju. Tapi kalau sudah bicara soal modal? Yaaaa…. gitu, deh! bisa dibilang, kita masih kalah jauh kalau urusannya sudah menyangkut modal.
Maka itu, ekonomi kreatif mulai menjadi sebuah basis ekonomi yang signifikan untuk masa kini dan yang akan datang. Ketika lahan pertanian menyempit, teknologi industri telah berkembang begitu cepat, dan jaringan komunikasi menjadi semakin luas dan canggih, maka ekonomi kreatif menjadi sebuah gagasan yang mampu menjadi sumber ekonomi yang tinggi di negara maju.
Indonesia sebagai negara berkembang dan masih memiliki lahan agraris yang luas memang masih bertahan dengan basis ekonomi pertanian dan industri. Tapi di sisi lain juga terbukti bahwa kita memiliki potensial tingkat tinggi dalam mengembangkan ekonomi kreatif. Walaupun perannya belum signifikan dalam perekonomian negara ini, tetapi potensinya patut digali dari sekarang.
Selain karena bangsa ini memiliki dasar dan modal yang kuat dalam membangun ekonomi kreatif, pada kenyataannya ternyata industri berbasis ekonomi kreatif adalah sektor yang paling tahan banting terhadap krisis ekonomi. Ketika krisis ekonomi baru-baru ini, hampir seluruh sektor perindustrian dan perdagangan merasakan dampak negatif dari krisis tersebut. Namun tak disangka,sektor kreatif justru tidak terpengaruh oleh dampak krisis ekonomi. Ide-ide segar dan gagasan tetap mengalir, masyarakat tetap menghasilkan ide dan kreasi.
Nah, potensi menuju ekonomi kreatif ini tidak akan bisa kita raih jika kita tidak menghargai Hak atas Kekayaan Intelektual. Seperti saya bilang sebelumnya, perilaku yang semena-mena terhadap ide dan karya cipta orang lain bisa membunuh semangat para pekerja di sektor industri kreatif ini dan akhirnya melemahkan kesempatan kita untuk menjalankan ekonomi berbasis kreatif. Pembajakan, pencurian ide, harga yang terlalu murah, penyalahgunaan… semua itu adalah ancaman yang dapat melemahkan sektor kreatif.
Pemerintah sebenarnya telah mengatur perihal Hak Kekayaan Intelektual dalam Undang-Undang HAKI Indonesia. Pemerintah juga mengatur tentang Paten, Merek, Desain , dan lainnya. Tidak hanya itu, komitmen Indonesia dalam melindung Hak Kekayaan Intelektual terlihat dari aktifnya Indonesia untuk berperan dalam konvensi-konvensi internasional yang berkaitan dengan Hak Kekayaan Internasional.
Antara lain :

TRIP’S (Trade Related Aspecs of Intelectual Property Rights) (UU No. 7 Tahun 1994)
Paris Convention for Protection of Industrial Property (KEPPRES No. 15 TAHUN 1997)
PCT (Patent Cooperation Treaty) and Regulation Under the PCT (KEPPRES No. 16 TAHUN 1997)
Trademark Law Treaty (KEPPRES No. 16 TAHUN 1997)
Berne Convention for the Protection of Literary and Artistic Works (KEPPRES No. 18 TAHUN 1997)
WIPO Copyrigths Treaty (KEPPRES No. 19 TAHUN 1997)

Pelaksanaan dari undang-undang Hak CIpta mungkin belum bisa maksimal, contohnya peran pemerintah dalam melawan pembajakan. Terbukti VCD dan DVD bajakan masih dijual serampangan bak berjualan kacang di pinggir jalan. Tingkat pembajakan produk musik maupun hasil industri fashion dan kerajinan tangan juga masih tinggi.
Tapi perlu diingat, kita juga memiliki kewajiban untuk turut menghargai Hak atas Kekayaan Intelektual milik orang lain. Jika hanya pemerintah yang bekerja sementara kita bersikap masa bodoh, tentu tidak akan ada hasil yang signifikan. Kita harus menghargai kreasi orang lain serta Hak Kekayaan Intelektual milik mereka.

Adapun beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk menghargai HAKI adalah :

Tidak membeli produk bajakan

Tidak menyalin, menjiplak, atau meniru karya orang lain secara tidak sah. Termasuk melakukan copy paste dari blog orang lain tanpa menjelaskan darimana sumbernya.

Tidak memperbanyak dan mengedarkan suatu produk atau hasil karya secara tidak sah.

Tidak mengambil atau meniru karya orang lain dengan ditambah sedikit perubahan atau memodifikasinya, kemudian disebarkan atau dipublikasikan secara umum sehingga orang lain tidak tahu bahwa karya tersebut adalah merupakan gubahan dari karya orang lain. Selalu ingat untuk mencantumkan sumber atau pencipta dari karya tersebut.

Dan saya rasa masih banyak hal lainnya yang bisa kita lakukan untuk menghargai HAKI dan karya cipta orang lain.
Pemerintah pun banyak memberi penghargaan kepada Hak Kekayaan Intelektual dan terlihat memang memiliki komitmen yang besar terhadap perkembangan industri kreatif untuk memajukan ekonomi kreatif. Misalnya dengan diluncurkannya program Design Power pada tahun 2006, lalu Tahun Indonesia Kreatif 2008 dan dilanjutkan kembali pada tahun 2009 yang diadakan oleh Presiden Bambang Susilo Yudhoyono dengan acara puncaknya yaitu Pameran Ekonomi Kreatif. Dimana disana digencarkan istilah “Virus Kreatif”, terminologi “virus” tersebut diharapkan mampu menularkan antusiasme masyarakat Indonesia akan pentingnya industri kreatif.
Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Suryadharma Ali pun menyatakan bahwa pemerintah menyediakan dana sekitar Rp 700 miliar untuk ekonomi kreatif. Tidak hanya itu, Kemenneg Koperasi dan UKM juga menjamin penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) tahun depan akan lebih ditingkatkan lagi untuk menstimulus industri kreatif. Sebenarnya ini semua merupakan awal yang cukup baik.
Selain itu Depkominfo dan beberapa organisasi teknologi informasi turut giat dalam menggencarkan kesadaran atas penghargaan terhadap industri kreatif. Menamakan diri dengan MIKTI, atau Masyarakat industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia bersama Teknopreneur mengadakan kompetisi menulis blog tentang Hak kekayaan Intelektual. Kegiatan ini dapat menjadi kampanye untuk memperkenalkan tentang ekonomi kreatif dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menghargai Hak Kekayaan Intelektual.
Bisa dilihat di sini, usaha pemerintah yang menampakkan komitmennya, bersama dengan orang-orang yang perduli pada industri kreatif. Usaha ini tentu saja akan sia-sia jika kita tidak mencoba menimbulkan kesadaran dan mengubah perilaku yang dirasa kurang menghargai karya cipta orang lain. Jadi, sekarang giliran kita untuk turut aktif berperan serta dalam memperkokoh industri kreatif demi menyongsong ekonomi berbasi kreatif, dan salah satu cara yang paling ampuh untuk mewujudkannya adalah dengan menghargai Hak atas Kekayaan Intelektual. Ayo kita mulai dari sekarang!

Sumber-sumber untuk data-data dalam artikel ini saya dapatkan dari :
http://economy.okezone.com/
http://kutucyber.multiply.com/
http://nadiyamustafabaabad.multiply.com/journal/item/11
http://zuyyin.wordpress.com/2007/05/29/hak-atas-kekayaan-intelektual/
http://zuyyin.wordpress.com/2007/06/16/hak-atas-kekayaan-intelektual-2/
http://binchoutan.wordpress.com/2008/02/27/hak-kekayaan-intelektual/
http://psetiadharma.wordpress.com/2009/08/28/catatan-hki-pemahaman-hki-dan-hak-kekayaan-inteleketual/
http://www.dgip.go.id

19 responses to “Pentingnya Penghargaan Hak Kekayaan Intelektual Terhadap Perkembangan Ekonomi Kreatif

  1. wah sepertinya saya susah menerapkan cara2 di atas, mp3 dan film2 yg dinikmati kebanyakan hasil download. Software2 yg dipake di komputer non kantor bisa dibilang hampir semuanya bajakan (sebagian lagi freeware, bukan beli software ori lho :p)

  2. Wow, pembahasan yang lengkap dna meninjau banyak aspek pula, saya setuju

    hmm,,, untuk content digital rada2 susah ya

    Panjang banget, posting terpanjang yang pernah saya baca di blog ini😀 mungkin isi BAB I😀

  3. TamaGO >> ya kalo diniatin kan bisa😛

    AtA chan >> ini buat kompetisi blog. hihihih…

    aNGga Labyrinth™ >> iya. menghabiskan berhari-hari untuk bikin postingan ini XDDDD

    vbi_djenggotten >> ampun mas feby…. XDDD

  4. Ide nya mending, suruh tu sony bmg Indonesia kerjasama dengan operator ponsel, bikin server lagu, jual tu lagu per lagu, kan enak tuh…. trus bikin kemudahan download lagunya gimana, kalo gagal download gimana, dsb dsb…

  5. semoga menang yaa…..

    Menghimbau kepada para ‘petani’ agar turut serta menghargai HAKI, berapa aja kek….ini kan namanya turut membantu perkembangan negara…xixixix….

  6. hehe.. mentang2 negara ini negara agraris, orang Indonesia banyak yang kreatif dan menjunjung tinggi ‘pembajakan’ ya can…😀

    saya juga tu, sukanya donlot mp3 dr internet, beli dipidi bajakan, abis mura sih, can . kl yg asli kan mahal… *dicakarmacan*

  7. sulit penerapannya, bukan pesimis tapi melihat banyaknya barang yang bisa didapat secara gratis melalui bajakan, orang akan memilih cara yang praktis…🙂

    tapi idenya inspiratif dan tulisannya detil banget.. salam kenal..😀

  8. Lalu, pada situasi ini, bisakah desainer nomor satu memperjuangkan idenya? Selama dia belum mendaftarkan hak paten dari logonya… tidak.–> cuma mo sharing dikit aja, say. sepertinya sedikit keliru, bukan mendaftarkan hak paten, tapi lebih tepatnya adalah hak cipta, karena kalau untuk hak paten sendiri adalah hak yang diberikan untuk invensi di dalam bidang teknologi. sering banget dalam kehidupan sehari-hari orang masih keliru membedakan antara hak paten dan hak cipta. *beuh….ternyata masih ada sisa2 skripsi gue nempel di otak…hehehe*

  9. Eka Situmorang-Sir >> makasi mbak ekaaa…

    Raffaell >> aku setuju tuh mas kalo kayak gitu. daripada dijual sama pembajak, ga dapet untung, mending sekalian dijual murah lewat server. jadi tinggal donlot.

    @rien >> petani dan pembajak? :p iya, makasih rien doanya

    yoan >> ah, sedih kalo mengingat ironi itu yo :p
    makanya, mustinya kan produsen juga nyari cara gmn buat ngurangin pembajakan. misalnya nggak curang, atau murahin harga produknya…

    lilliperry >> sulit kalo cuma 1 orang yang berusaha, tapi kalo banyak yang berusaha untuk nerapin, maka ga akan sulit🙂 salam kenal ya…

    sinta >> iya, aku juga. senang deng dengernya kalo profesi kreatif ternyata bisa dijadikan basis ekonomi suatu negara.

    frozzy >> ah, iya mbak. tenkyu. aku udah coba baca artikelnya tentang hak paten dan hak cipta, tp karena bahasanya ribet aku ga bisa dpt garis besarnya. nah, mustinya dia pake bahasa yg simpel kayak elo…kan gue langsung ngerti nih… hahahahah

  10. Penilaian T :

    1. Topiknya serius aje gile.
    2. T baca tapi nggak nyantol2 ni di otak.

    :p

    Btw, pa kabar, sist? Baik2 aja kan? *hughs*

  11. ekonomi kreatif saat ini benar2 lagi berkembang. tapi sayang, di negeri ini begitu minim penghargaan atas hasil karya. dah cinta mati ma bajakan!!!

    mari kita berkarya dan berkreatifitas, untuk lebih memajukan lagi🙂

  12. SELAMAT YAA… Juara Lomba Penulisan Teknopreneur hehe…

    tulisannya bagus banget, walau unsur kompilasi dari berbagai sumbernya banyak, sistematikanya oke dan gaya bahasanya cucok.. wajar nih klo menang..

    come visit my blog sometimes.. cuman kayaknya blog gw ngebosenin terlalu serius hehe..

  13. BLACKBERRY nih cin…..huhuy…congratz…tulisannya emang bagus kok, kliatan banget niat nulisnya….cie…bisa BBM-an lo sekarang si kriwul…

  14. Tsk-tsk-tsk…dari sederetan yang komen, keitung tangan sebelah kiri yang bahas topik diatas…parah…

    Well, bagus nih artikelnya…topik yang justru bakal dicibirin sama kalangan “pengusaha kreatif.” Sebut saja:

    1. Jaringan (apparel) Clothing-ngan yang lagi marak. Ga malu-malu maen comot portfolio desainer2 bule…atau foto2 seleb seenaknya…membunuh kreatifitas yang sebenarnya jadi daya jual produk mereka…sinting kan? haha…

    2. Merchandise & Maenan anak yang asal comot karakter di TV. Kalo mau jujur, emang murah ya izin menggunakan muka Spongebob di balon seharga Rp 5.ooo,- perak? Jangan lihat pengecernya, pasti trenyuh; tapi coba lihat bandar (produsen) balon itu, pasti geram. Mereka pelaku dan penyebab mati-nya potensi para “Cartoon Designers” Indonesia.

    Sisanya, cari sendiri dah di lapangan…haha…

    Kalo masalah pembajakan software, sebut saja via torrent, atau yah…banyak deh; sebenarnya sih cuma perkara daya beli dan daya penggunaan. Ga sedikit rumah desain lumayan “sangar”, pake bajakan…dan gitu2 aja terus, ga ada kemajuan. keliatan dari isi portfolio-nya yang ga nambah. Pengalaman pribadi sih, dari temen2 se-profesi.

    Di tempat kerja gue dulu, bos-nya kagak mau beli bajakan…”Bukan karena saya punya uang, Joe” katanya…”Tapi gimana ya…hukum karma…kalo pake bajakan, ga tau kenapa job yang kita dapet pasti murahan…saya udah coba…kesimpulan saya begitu.”

    Dulu, waktu jaman kaset (belom CD apalagi RBT) musik bener2 bisa diandelin jadi sumber inspirasi. Mungkin karena beli yang legal kali ya…haha…ga ngerti dah. Tapi sekarang, karena kaset dah ga mungkin lagi didapat, CD original juga edan banget harganya (buat kantong desainer kelas lokal, plus pasti CD luar; sementara, musik dalem negeri-ehm- cenderung sumber humor kedengarannya).

    Dan lebih mudah ke mp3boo.com; akibatnya, inspirasi dari musik malah nihil…

    Intinya, dengan pembajakan/pitching/copas…sumber inspirasi DAN bayangan kemapanan lewat profesi desainer grafis jadi susah banget diperoleh semakin ke sini ini. Sadar ga sadar, kebanyakan (hampir semua) cenderung ngikutin gaya desain orang laen di internet (tutorial, template, freebies, dst). Originalitas minim, yang ada banting harga melulu…

    yah…udah ah, komen gue malah lebih panjang dari artikel yang dikomentarin…

    *wops…btw, download-an gue dah kelar nih…komen ini juga dibuat sambil nungguin download sesuatu…yang jelas, bukan bajakan…haha*

  15. Pak Joe,
    Setelah saya sendiri bekerja di perusahaan advertising saya tidak bisa tidak setuju dengan kata2 – topik yang justru bakal dicibirin sama kalangan “pengusaha kreatif.”- krn ternyata sulit sekali untuk menjadi orisinil jika status pekerja desain grafis adlah “karyawan”

    saya pun masih pake software bajakan. ironis. saya hanya mampu berjanji akan menggunakan software orginal jika saya punya cukup penghasilan.

    lalu musik? ohh, saya sdh lama tidak membeli mp3 bajakan dan mendownload, sjk saya menemukan situs lagu2 yg bisa didengar dgn streaming, saya lebih memilih untuk mendengarkan musik dgn cara itu.

    tp saya akui, saya kecewa dgn apa yg saya lihat pd kenyataannya, tentang ripping, produk bajakan, produk2 yg menggunakan karakter yg bukan miliknya… kita bisa mencegah diri kita utk membajak/mencopy tp kita tdk bisa mencegah org lain utk melakukannya. yahhh, saya memang masih terlalu naif.

    topik spt ini memang sulit ditemui solusinya. seandainya pun ada solusi konkrit, tp susah sekali utk mengajak org2 bersama2 menjalankan solusi itu sndiri. sy sendiripun tdk bisa menyebut diri saya “suci”.

    sy benar2 menghargai komentar anda🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s