HUKUMAN MATI?

Waktu masih di bangku SMA, seorang guru PPKn bertanya pada saya di tengah pelajaran, “Menurutmu, kejahatan apa yang pantas diganjar dengan hukuman mati?”

Dan dengan tegas gue jawab, “PEMERKOSAAN.”

Sang guru PPKn tersenyum, mgkn dia setuju dengan jawaban saya. Mungkin jg dia menahan tawa karena hal tersebut sangat mustahil untuk dijadikan kenyataan.

Di luar sana, orang-orang sibuk memperjuangkan penghapusan hukuman mati. Pada masa itu, memang sedang ramai-ramainya isu pro dan kontra hukuman mati. Kalau tidak salah untuk tindak kriminal perdagangan narkoba. Saya lupa.

Narkoba itu merusak generasi penerus bangsa, narkoba bisa merusak seluruh bangsa. Maka untuk orang yang memperluas peredaran narkoba, sebaiknya dihukum mati. Lah, kayaknya mendingan teroris sama pembunuh kambuhan yang lebih pantas diganjar hukuman mati.

Begitu juga dengan pemerkosa. Mereka layak dihukum mati.

Alasannya?

Pertama, jika dibandingkan dengan pengedar narkoba, setidaknya korban peredaran narkoba memiliki pilihan. Apakah korban mau membeli barang laknat tersebut atau tidak. Kalo nggak mau beli, ya udah nggak apa-apa. Mungkin akan dilakukan sedikit bujuk rayu janji manis ala sales obat panu di pasar. Tapi tetap saja, tidak ada unsur paksaan. Para korban membeli dan mengkonsumsi murni karena kebodohannya sendiri.

Lalu bagaimana dengan tindak pemerkosaan?

Korban tidak diberi pilihan.

Korban dianiaya, dilecehkan, harga dirinya diinjak-injak, diperlakukan seperti binatang.

Lalu yang tersisa adalah luka, sakit, dan trauma yang mungkin tidak akan hilang seumur hidup. Seandainya tidak trauma, bisa saja akhirnya menjadi pelacur karena sudah terlanjur basah. Merasa tidak ada lagi yang perlu dipertahankan, merasa memang sudah tidak punya harga diri yang patut dijaga. Ya baguslah kalau bisa begitu. Nah, yang trauma gimana?

Hidup dengan ketakutan, perasaan takut, terbayang-bayang kejadian di saat si korban diperlakukan secara biadab. Bisa saja sampai trauma pada laki-laki, tidak mau menikah. Seandainya pun bisa survive dan tidak trauma, tapi apakah perasaan terhina, jijik pada diri sendiri, ketakutan, apakah perasaan itu bisa hilang?

Tidak hanya korban yang “rusak” lahir batin. Bagaimana dengan keluarganya? Ayah? Ibu? Adik? Kakak? Suami? Pemerkosaan tidak hanya menghancurkan si korban, tapi juga seluruh keluarganya, sahabatnya, masa depannya… Apakah pantas orang yang telah menghancurkan begitu banyak hal dalam satu kali kejahatan masih bisa mendapatkan hidup layak dan tenang?

Jawaban saya : TIDAK

Apalagi kalo dilakukan berkali-kali. Beeeuuhhh, ga usah di hukum mati. Langsung aja di kebiri sampe gundul. Biar ga bisa main celup seenaknya.

Saya dari dulu emang udah jijik sama kejahatan yang satu ini, apalagi baru-baru ini saya membaca berita tentang pemerkosaan di Bekasi yang “hanya” diganjar 4 tahun dari tuntutan 10 tahun 6 bulan dengan alasan pelaku HANYA MENODAI dan TIDAK MELUKAI. Kampretos de la sompretos! (ngomong2 si TS yang melakukan pembunuhan berencana dengan menembakan peluru timah kepada staf pengadilan di depan umum juga hukumannya 4 tahun ya? itu juga penjaranya fasilitasnya kayak hotel ya?)

Ohhh… wanita Indonesia…

Pedihnya nasib kalian…

Jadi pahlawan devisa, malah diperkosa sama juragan-juragan arab dan melayu. Jadi sekretaris elit, dicolek-colek sama pak bos. Jadi gembel, diteror sama preman-preman kolong jembatan. Jadi mahasiswa, diperkosa teman atau pacar sendiri.

Mana tuh yang katanya wanita diciptakan dari tulang rusuk pria agar selalu dekat di hati dan untuk dilindungi?

Berapa persenkah makhluk adam di dunia ini yang tidak pernah menyakiti wanita seumur hidupnya?

ah, sudahlah… tak penting.

Mungkin ada yg gak setuju sama pendapat saya ini. Tapi, memang menurut kalian sendiri, kejahatan macam apa sih yang pantas diganjar hukuman mati?

10 responses to “HUKUMAN MATI?

  1. saya setuju!
    kebiri! bunuh!

    *emosi tingkat tinggi*

    enak aja tu pemerkosa maen kencing sembarangan en ngerusak hidup orang.

    setuju, can! bunuh!

  2. @ ata : ohh, cilok itu di celup ya? aci dicolok kan ya?

    @ yoan : teman seperjuangan! *halah*

    @ arthworks : iya sih, katanya disodomi sama napi lain. tp klo cowok kan ga ada bekasnya :p

  3. Setuju, soalnya luka korban itu dibawa seumur hidup
    yang nampaknya menyakitkan

    Masa ga ada bekasnya? kan kentutnya beda bunyinya ntar (re: napi-rape)

  4. Jadi, sebenarnya kamu menuntut keadilan atau balas dendam le? Dalam hukum ada istilah, hukumlah seseorang dengan seadil-adilnya, bukan dengan seberat-beratnya.

    Dan adalah mustahil, semua orang mempunyai kadar keadilan yang sama. Termasuk juga kamu, yang kadar keadilanmu untuk kasus perkosaan adalah hukuman mati. Saya menghormati keadilan menurutmu. Tapi adil ndak menurutmu kalau aib yang ditanggung korban adalah seumur hidup sementara tanggung jawab pelaku cuma ditahan, diadili, trus mati. Justru menurut saya enak banget si pelaku dilepaskan dari tanggung jawabnya dengan dibunuh, tanpa merasakan sakit. (Maaf, jangan ngomongin surga dan neraka di sini. Hehe!)

    Saya adalah penentang hukuman mati untuk amrozi, cs. Kenapa? Karena menurut saya ndak adil. Nyawa 200 orang ditebus cuma dengan nyawa seorang amrozi (ditambah nyawa segelintir saudara-saudaranya)?? Menurut saya itu jauh dari adil. Tapi karena hukuman mati dirasa adil oleh hakim, ya saya ndak bisa memaksakan keadilan versi saya.

    Saya bukan mau membela pelaku kejahatan, tapi memang susah banget le, membicarakan masalah keadilan. Adil itu terlalu luas dan cenderung ndak jelas batasannya.

    Tapi, kalau yang dituntut adalah pembalasan dendam, jangan lewat hukum. Silahkan datangi si pelaku, kemudian bunuh. Dendam akan terbalaskan, walaupun mungkin akan dijerat pasal pembunuhan, ndak apa-apa kan, yang penting sudah bisa balas dendam.

  5. @ mbak eka : sama2 perempuan jadinya ngerti banget kan ya…

    @ pushandaka : bukan keadilan, bukan balas dendam. aku cuma mikir, manusia seperti itu tidak pantas hidup di dunia.
    selain itu, aku mikir teroris pantas dihukum mati juga karena kalau dia masih hidup, berarti masih ada kesempatan buat dia untuk membunuh orang lain lagi.
    tapi daripada hukum mati, saya sebenernya lebih seneng kalo pemerkosa dikebiri sampai gundul. jadi hidupnya menderita seumur hidup.
    kejam sih… tapi kan itu hanya ada dalam pikiran aku XDDD maklumlah, aku bisa ngebayangin gimana sakitnya jadi korban pemerkosaan. aku ngeliatnya dari sudut pandang si wanitanya. jadi ndak subyektif.

    well, semua orang bebas berpendapat🙂 walau sebenernya sudut pandang pushandaka jauh lebih bijaksana daripada saya.

  6. apa yg lebih baik, klo diperkosa jangan melawan aja. layan aja baik2. belai mr.p nya dgn lembut. lakukan oral seks, swaktu mata dia melotok menahan keasyikan gigit aja mr.p dia tu sampai putus. hehe…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s