WANITA

Sosoknya mudah mencuri perhatian, seperti pusat badai, menarik orang-orang disekitarnya terbawa dalam putaran badai yang seakan menari-nari di sekeliling tubuhnya. Namun ia tidak menyadarinya. Ia hanya duduk di sana, membaca sebuah buku sambil jemari kirinya memainkan sebatang rokok berwarna putih. Ia tidak peduli pada mata-mata yang mencuri-curi sosoknya, sembari sedikit berharap sang wanita sudi membagi sedikit senyum ramah.

Bibirnya berwarna cerah, tipis kemerahan tanpa polesan lipstik, mengundang dahaga ketika bibir tipis itu menyentuh pinggir cangkir cappuccino pesanannya. Kacamata berbingkai hitam tebal itu hanya lepas ketika ia selesai membaca, dan itu semakin memperjelas warna matanya yang bening kecoklatan. ketika tertimpa sinar matahari, warna coklat terang itu semakin kentara.

Ia hanya akan muncul di hari ke-enam setiap minggu, dari pukul lima hingga pukul sepuluh malam. Duduk di tempat yang sama, namun selalu membawa buku bacaan yang berbeda. Awalnya tidak ada yang memperhatikan, namun lama kelamaan semua orang menyadari keberadaanya. Mulai dari ia mendorong pintu coffee shop ini, duduk dengan anggun di sofa paling pojok, mengeluarkan sebuah buku dari tote bag berwarna coklat, lalu meminta segelas cappuccino hangat kepada pelayan dengan senyuman manis. Semua terlihat seperti sebuah adegan penting yang tidak boleh dilewatkan.

Ketika sudah mulai tenggelam dibalik buku bacaannya, wajahnya sedikit tertunduk, membuat rambut panjangnya terurai ke bawah menutupi sebagian wajahnya. Dan kemudian ia lupa, ia lupa pada tempatnya berada, ia lupa pada bising suara tawa di sekitarnya, ia hanya membaca. Tidak mencari siapapun, tidak menunggu siapapun. Hanya menjadi magnet, dengan segala ketidakpeduliannya, dengan segala kenyamanannya saat menyendiri. Tapi ia tidak pernah menyadari bahwa dirinya istimewa.

Wanita itu, pernah kukecap bibirnya.

Pertama kali mengecupnya, yang kurasakan adalah kelembutan dan malu-malu.  Tersisa sedikit rasa rokok di bibirnya. Ketika kucoba menangkap matanya, ia ketakutan. Ah, bukan, ia hanya malu. Malu seperti remaja yang baru mengenal sentuhan pria. Atau mungkin saja memang saat itu adalah pertama kalinya ia disentuh kaum pria?

Semua itu berbanding terbalik dengan kesan kuat dan acuh tak acuh yang ia perlihatkan saat tak bersamaku.

Saat aku memeluknya, dengan manja ia menenggelamkan kepalanya di dadaku. Wangi rambut panjangnya menyeruak ke dalam hidungku, aku menyesapnya dalam-dalam seakan tidak ingin kehilangan satu bagian kecilpun dari sosoknya.

Saat ia menatapku, matanya yang bulat tampak seperti mata anak kecil yang meminta perlindungan. Namun ketika aku lelah dan susah hati, ia memelukku erat seakan mengirimkan pesan nyata “Aku yang akan melindungimu!”. Sungguh lucu, padahal sesungguhnya ia adalah wanita yang mudah menangis. Sering kudapati ia menitikkan air mata ketika menonton acara televisi atau film kesukaannya di gedung bioskop.

Ketika aku menyakitinya, ia akan menjerit-jerit padaku dengan air mata yang tak kunjung henti, sesungguhnya hatiku ikut sakit melihat airmatanya. Dan semua pertengkaran itu akan selesai dengan mudah ketika aku memeluknya. Ia menyerah begitu saja, menumpahkan air matanya di dadaku dengan pelan, jemarinya mencengkeram bahuku.

“Heart can change, and we both know that…” bisiknya kadangkala, mengutip sebuah lagu dari penyanyi favoritnya. Aku ingat sering mentertawakannya sembari menjawab, “kecuali hati kita.” dan ia tersenyum penuh arti. Namun sesungguhnya memang waktu mampu mengubah banyak hal.

Pertengkaran semakin sengit setiap kali terjadi, dan aku semakin sering menyakitinya. Dan kudapati semakin lama ia semakin jarang menangis. ketika aku melukainya, ia hanya duduk terdiam menatap ke luar jendela sambil menghisap berbatang-batang rokok. tak ada air mata, hanya senyap. Sesuatu yang sebenarnya membuatku semakin gelisah.

Dan akhirnya kudapati dia tak ada lagi menyambutku pulang. Menghilang begitu saja. Pada detik itu, baru kusadari, hidupku kosong tanpanya.

Sekian tahun, kini aku menemukan sosoknya tanpa sengaja, di tempat ini. Mencabik-cabik lubang menganga di hatiku. Melihatnya tampak penuh dan lengkap, berbahagia sendiri. dan aku hanya bisa menunggu dia datang di hari yang sama, menatapnya dari jauh. Ingin rasanya aku mencungkil mata para pria yang menatapnya dengan penuh kagum dan penasaran, serta berteriak pada mereka bahwa wanita ini milikku.

Namun semua sudah berubah, bukan?

Kini hanya aku, yang mencuri sosoknya di antara jarak, dengan hati yang tak lengkap. Menatapnya berkali-kali menyesali  masa lalu. berharap mungkin ada sedikit… sedikit rindu yang ia sisakan padaku…

– … because you don’t know what you got, till it’s gone… (Counting Crows) –

Ini adalah cerpen WANITA versi saya, untuk melihat cerpen ini dalam format cerfet dengan ending yang berbeda, silakan mampir ke Blogfam😀 yang pasti lebih keren daripada tulisan gue yg ini =))

6 responses to “WANITA

  1. pas lagi ngebayangin sosok ceweknya, kenapa yang muncul malah mbak macan? jangan jangan cewek yang digambarin disini emang mbak macan? jangan jangan ini pengalaman peribadi? *diinjek mbak macan*

  2. @ billy : #curcoldetected =))

    @ puput : wuih, sekeren itu kah gue? *ngakak* ayo puput mau makan dimana? sini gue traktir… hahahahha

    @ oom warm : kayaknya itu Bon Jovi deh. aku kurang inget, dulu temenku pernah ngutip itu wkt aku lg curhat *cieee*

  3. hmmmmm,….. gak bs ngomong apa-apa, cuma “wow…”
    Akhirnya aku menemukan versi aslinya,.. keren. emang sangat beda jauh,… versi blogfam belom finish…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s