Desain Lo Kok Mahal, Sih?

Pernah ngomong gitu gak ke desainer? Misalnya minta dibikin desain logo, desain kebaya, desain cover, desain interior tempat usaha, atau website dagangan kalian…

Pas ngelihat quotation, mata melotot melihat deretan angka yang ditawarkan. Padahal menurut kalian *mungkin*, sang desainer bukan orang terkenal, gak eksis, portfolionya gak ada di internet, namanya gak pernah masuk majalah, de es te. Kenapa dia bisa ngasih harga mahal, ya?

Tapi tunggu, yang kalian maksud dengan mahal itu apa sebenarnya? Standar mahal kalian apa? Ya saya ketawa sih, kalo kalian bilang ngedesain website seharga *misalnya* Rp. 250.000 itu mahal. Atau desain company profile seharga Rp.2.500.000 itu mahal? Standar orang beda-beda sih, tapi kalo harga segitu aja dibilang mahal, berarti mending kalian berhenti membaca postingan ini dan silakan lanjutkan main twitter.

Nah, jadi, gue mau ngasi sedikit gambaran, kenapa harga desain bisa mahal *menurut kalian/klien*. Apa alesannya si Anu maupun Si Itu bisa ngasih harga sekian dalam penawaran.

1. Modalnya gede.

Desainer grafis, desainer fesyen, arsitek, dan yang lainnya bukan profesi yang gampang diraih begitu aja. Mereka perlu skill, dan tools. Kalian tahu nggak berapa banyak uang yang perlu dikorbankan untuk menjadi Graphic Designer *karena gue taunya untuk posisi itu aja*?

Mulai dari uang kuliah. Sekarang uang kuliah di universitas yang lumayan bagus, khusus Fakultas Desain dan sejenisnya, sekurang-kurangnya mencapai Rp. 10.000.000 per semester. Uang masuknya saja bisa lebih dari Rp.20.000.000. Jadi kalau ditotal, minimal uang masuk sampai uang semester hingga lulus, bisa menghabiskan sekitar Rp.100.000.000. Itu minimal.

Udah? Gitu aja? Noooo… Mahasiswa FSRD harus punya perangkat komputer yang menunjang tugas kuliah mereka. Ibaratnya, 2 juta aja nggak dapet🙂 Itu belum ditambah flashdisk, hard disk external, pen tablet, laptop (hari gini mahasiswa desain udah pada bawa laptop, gak kayak jaman gue), dan ada juga yang sampe beli kamera. Kalo ditotal semuanya, mungkin bisa habis 15-20juta.

Masih ada lagi dooonk! Perangkat tugas kuliah juga harus dihitung. Mulai dari alat gambar seperti cat, kuas, buku gambar, kertas, pensil, drawing pen, buku-buku diktat, fotocopy, buku tipografi. Sampe akhirnya ke tuga-tugas kuliah itu sendiri. Sepengalaman gue, untuk 1 tugas besar, gue bisa ngabisin 250-500ribu. Yang bapaknya tajir, bahkan bisa ngeluarin duit sampai 2jutaan untuk tugas kuliah *serius, ada yang begitu*. Nah, untuk ini aja mungkin satu semester bisa keluar 2-5juta rupiah. Pas Tugas Akhir, minimal uang yang dikeluarkan untuk ngeprint dan bikin display bisa Rp.2.000.000. Dan itu baru minimal.

Jadi kalau ditotal, selama 8 tahun kuliah, kasarnya, seorang mahasiswa desain memerlukan uang sebesar 150-200juta. Bahkan mungkin lebih. Itu kalau kuliahnya di universitas swasta yang lumayan bagus. Kalau yang jelas bagus, ya jauh lebih mahal lagi. Dan itu hitungan gue tahun 2004-2009 loh, ya. Gue gak berani ngitung pengeluaran mahasiswa angkatan 2010 ke atas.

Dengan modal segitu besar, wajar mereka nggak mau dinilai sama dengan orang-orang yang  jualan logo pake template. Mungkin ada yang pernah nemu ada yang berani jual desain logo Rp.50.000? Silakan bandingkan hasilnya dengan desain logo anak-anak yang masih kuliah. Pasti beda🙂

Bukan berarti yang nggak kuliah desain otomatis nggak bisa desain. Banyak kok yang tauknya pas kuliah belajar FISIP atau IT, eh ternyata ngedesainnya jago. Ato malah gak kuliah sama sekali. Tapi mereka juga harganya gak gobanan.

 

2. Jam Kerja Extra

Hampir semua freelancer pasti ngerasain ini : saat klien tidur nyenyak, kita malah kerja sampai pagi. Belum lagi ditambah kalo kerjanya dobel, alias masih berstatus pegawai. Bisa-bisa dalam seminggu cuma tidur 2-4 jam tiap malamnya. Sisanya kerja. Sukur-sukur bisa nongkrong ngopi-ngopi 2 jam sama temen-temen.

Saat kita punya deadline yang mepet di kantor, harus mikirin gimana caranya bisa nyelesein deadline satu lagi. Kalau projectnya mayan gede dan ribet, otomatis banyak hal yang harus dikorbankan. Dan itu, adalah materi yang gak bisa dinilai dengan uang.

 

3. Modal Kerja

Freelancer, biasanya, wajib punya : laptop, pulsa, koneksi internet. Tambahan lainnya jika dibutuhkan : kamera, pen tablet, alat gambar, duit buat beli kopi di kafe dengan koneksi wi-fi memadai, dll, tergantung projectnya apa. Jadi bukan “sim salabim jadilah desain kebaya!”. Semuanya pake modal.

 

4. Sama Sama Cari Makan

Katakanlah begini. Anda memiliki usaha pabrik tempe. Berapa harga produksi tempe Anda per kilo? Mulai dari gaji pegawai, harga bahan baku, sampai harga alat-alat pengolah tempe yang anda punya. Coba kalau pelanggan Anda, hanya mau membayar harga bahan baku. Katakanlah Rp.5.000 per kilo. Bagaimana tanggapan Anda?

Perkiraan saya, biasanya tanggapan orang yang usaha, begini : “Enak aja. Saya bikin tempe pake tenaga dan usaha. Lah, kalo sampeyan cuma bayar modalnya aja, saya dapet apa? Pegawai saya gimana gajinya? Saya makan apa?”

Nah🙂

Coba pola pikir itu dipakai juga saat Anda menyewa jasa atau membeli produk orang lain. Anda saja maunya dapat untung, masa Anda tidak terima kalau desainer cari untung? Sebagai sesama pengusaha *halah* mestinya kita saling menghargai. Hargai tenaga orang, agar orang menghargai juga usaha Anda.

 

5. IDE itu Priceless

Anda novelis? Musisi? Pengusaha butik? Apa perasaan Anda kalau tiba-tiba ada temen Anda yang dateng, trus bilang “Ciyyn, gue bagi novel lo 10 biji, donk. Gratis yaaa.”

Atau begini, “Beb, bagi baju kawinan dari koleksi lo donk. Yang brokatnya import dari Prancis itu. Tapi eyke beli sejuta aja yaaa…” Padahal kalo beli di toko, gaun pengantinnya harganya 25 juta. Syok nggak?

Intinya adalah, kalian tahu susahnya membuat sesuatu, susahnya menulis, susahnya bikin lagu, susahnya bikin konsep dll. Pasti kalian pengen banget karya dan produk kalian dihargai oleh orang lain. Selain itu kalian pasti akan menjual karya/produk kalian dengan standar harga tertentu. Maka hargailah juga desainer yang sudah membantu kalian. Desainer yang merancang interior butik kalian, yang membuat cover buku kalian, yang membantu mendesain pakaian kalian, dan sebagainya. Karena toh, semua itu balik-baliknya akan mempengaruhi bisnis kalian juga. Interior yang menarik, bisa menarik pelanggan. Brosus yang eye catchy dan informatif, bisa membuat promosi lebih efektif. Bukan begitu, bukan?

 

Itu lah kira-kira kenapa seorang desainer memasang harga tertentu. Ada yang cukup murah sebenarnya, tapi mungkin ada yang sampai puluhan juta (atau milayaran kayak logo BNI46 itu). Semua itu pasti ada alasannya kenapa mereka ngasih harga segitu. Ada yang masih mau kasih harga temen, tapi ada juga yang lihat-lihat jenis usahanya. Ibaratnya, harga desain logo untuk warung kopi dan butik multi-nasional, pasti beda. Masa pengusaha dengan omzet puluhan sampe ratusan juta per bulan minta harga yang sama dengan yang hanya sekian juta per bulan?

Intinya, berapapun harga yang ditawarkan oleh desainer, pasti ada pertimbangannya. Baik external maupun internal. Kualitas dan deadline pun dipertimbangkan.

Postingan ini gue bikin berdasarkan pengalaman gue dan temen-temen gue. Karena gue juga sering nanya-nanya ke sesama temen atau desainer-desainer senior yang gue kenal. Kalau ada yang menurut temen-temen sekalian kurang berkenan atau nggak sesuai kenyataan, silakan dikoreksi atau ditambahkan. Karena mungkin ada yang pengalamannya berbeda😀

Yang pasti intinya sih yang namanya usaha dan ide itu harus dihargai, apapun usahanya.

111 responses to “Desain Lo Kok Mahal, Sih?

  1. gw baru dapet sms, katanya agen properti
    K : calon klien
    G : Gw

    K : Pak kalau membuat web untuk jual beli rumah dan saya bisa memasukan data rumahnya sendiri berapa?
    G : Mulai dari 3.5 juta
    K : tinggi itu pak..
    G : Bapak punya budget berapa?
    K : dibawah 500 ribu
    G : Maaf pak budgetnya gak masuk

    Gile aja, web buat jual beli rumah minta 500ribu… bikin aja sendiri

    • brother web online 3.5 juta its too cheap, Saya ngerti bagaimana client minta, okay anak binus bisa koe bikinin 1 jutaan, atau saya tau teman saya bisa bikin harga murah, Saya dengan senyum reply, silahkan pak, tp apakah sudah diberikan hosting security? apakah sudah diberikan domain? hosting gratis dan domain gratis?.. silahkan tp 1, secure tidak,.. dan anak kuliah/freelance dapat buat website bagus, tp apakah nanti kalo shut down mau kembali di hubungi? buat apa hosting gratis tp rentan akan virus spam. Buat teman designer yg ingin membeli hosting, silahkan kontak layerspeed ya, kita bisa saling bantu dan kerja sama. antonioshan@layerspeed.com

  2. Saya rasa portofolio adalah hal yang bisa menjadi salah satu standar untuk mendapatkan harga yang pantas bagi seorang desainer. Bukan portofilio yang hanya terbukti bernilai secara pribadi, tetapi juga secara umum. Hal ini akan memberi standar yang jelas bagi kedua belah pihak, desainer dan klien. Ibarat pengalaman kerja seseorang, gaji menyesuaikan…

    • Setuju, tapi bukan hanya portfolio yang menjadi standar ukur. Jenis project dan deadline juga harus menjadi tolok ukur. Karena desainer juga manusia, bukan robot yang bisa disuruh ini itu sesuka hati. Butuh istirahat dan makan🙂

  3. betul tuh ane jg pernah ngalamin.. padahal klien uda ane kasi murah bgt harga buat foto shoot gt.. uda gt blg mahal bgt cuma jepret2 doang.. astaga.. memangnya gampang apa ya? mesti nyari lokasi, kluar duit buat survey, bukun konsep, kamera, lighting, dll.. hadehh.. sedih rasanya..

  4. well.. nice explanation.
    ane sebagai anak IT ngerti banget ini poin2 yang ente maksud. hahaha..

    sayangnya… kebanyakan client datang dari background yg berbeda.
    IMO sih (ane bukan orang ekonomi/semacemnya, jd cuman pikiran aja), keknya gini contohnya,
    kita desainer udah keluar duit banyak buat desain. Dealer aka yg ngebayar kita juga dijepit dari atasan/rapat anggaran untuk ga boleh ngeluarin anggaran lebih untuk desain karena *anggap* prosentase naik profitnya mereka ga seberapa dan *katanya* desain mengenal kata usang (bisa bosen) dan itu suatu saat bisa ganti desain lagi.

    nah intinya ane mo bilang sih. seenggaknya untuk bikin dalih2 alasan ke client, jgn pake alasan background yg macem2. client ga bakal *mau* ngerti. pakelah alasan2 yg lebih menjual (ya karena kita dagang desain kan? ya harus dibuat se-eksklusif mungkin lah :3 )

    well.. tapi ini udah bagus kok poin2nya. anggep ini buat itung2an di belakang clientnya😄

    • Sebenernya klien kan punya banyak pilihan. Kalau mau yang murah, bisa cari saudara, teman, atau anak kuliahan maupun yang baru lulus. Bisa juga lihat dari portfolionya. Kalau portfolio bagus, tentu jangan minta harga yang sama dengan yang portfolionya mediocre. Intinya, klien juga harus memilih desainer dengan pengalaman dan skill yang sesuai dengan budget mereka. Jadi inti postingan ini bukan nyuruh desainer pasang harga setinggi-tingginya, justru hanya minta dihargai selayaknya. Sesuai modal dan skill. Postingan ini bukan dalih dan alasan, justru bahan pemikiran agar perusahaan tidak meremehkan orang-orang yang mereka hire tenaga, waktu, dan skillnya. Ini nggak cuma berlaku untuk desainer aja, tetapi semua profesi.

      • Masalahnya kalo minta sama temen ato saudara, lebih ke arah ga mau bayar alias gratis tis tis :))

  5. Saya ga setuju dengan semua alesan anda. Poin 1-4 itu sudah konsekuensi setiap pekerja dan tidak pantas untuk dibebankan ke klien kecuali bila ada ongkos cetak, pengiriman, membeli hosting,domain dll. Lalu untuk poin ke 5 ide itu murah, karena kalau dipikir2 ide yg original di dunia branding hampir tidak ada, yang mahal itu ide menciptakan produk. tolong dibedakan ide membuat branding dan produk.

    LALU apa dong yang membuat sebuah harga design mahal?

    jawaban saya adalah.

    1. Nilai tanggung jawab – biasa diukur dari besar perusahaan, karena anda harus mempertanggungjawabkan dampak dari design yang anda buat untuk perusahaan tersebut.

    2. DETAIL – seberapa detail diri anda dalam membuat dan memikirkan sebuah design atau branding. contoh: bank mand*ri – customer service di bank mandiri diberi guide untuk menyapa customer dengan nama itu saja sudah termasuk branding yang tidak dipikirkan banyak org dan dari itu saja dampaknya besar.

    intinya di dunia kerja itu
    mahal bukan berarti bagus
    tapi mahal itu berarti berhasil dan terjamin.

    • Setuju nggak setuju ya nggak masalah. Sebetulnya harga desain mahal sama aja dgn gaji karyawan. Kalau punya pengalaman kerja, punya keahlian, waktu dan tenaga diforsir sampai hrs lembur, masa mau dibilang “Ya resiko kerja, kalo nggak mau capek, gak usah kerja.”

      Walau dibilang ide original udah nggak ada, bisa diadu sih. Desainer yg berpengalaman dan nggak berpengalaman pasti kualitasnya beda. Attitudenya juga beda.

      • gw setuju dengan pernyataan lu yg “Desainer yg berpengalaman dan nggak berpengalaman pasti kualitasnya beda. Attitudenya juga beda.” tapi itu gada hubungannya sama ide original. itu ud beda konteks.

        dan klo harga design sama dengan gaji karyawan itu juga salah menurut gw, harga design itu bukan kayak lu gaji karyawan. karena harga design yg sebenarnya itu dinilai sesuai dengan tingkat design yg dikerjakan. coba pola pikir lu lu tempatin kayak lu yg punya perusahaan design. apakah lu hargain design cuma dari gaji karyawan? sekali lagi menurut gw lembur itu pilihan. kalau lu lembur di kantor gara2 dipaksa menurut gw itu ada sebuah kesalahan dari sistem kerja kantor lu. kalau management timeline kerjaannya bener mestinya kan bisa diatur. kecuali lu jadi animator dimana yang namanya ngerender itu emang masih menjadi masalah waktu.

      • Ya udah gini aja. Misalnya Mas punya ide, mas yakin ide mas lebih bagus dari graphic designer. Trus coba deh, si Mas sama Graphic designer diadu.
        Mana yang eksekusinya lebih bagus?

        Karena “ide” itu nggak cukup. Habis ide harus dilanjutkan dengan research, habis itu lanjut bikin konsep, habis konsep lanjut draft, kemudian eksekusi, setelah jadi, masih ada finishing.

        SEMUA orang bisa punya IDE. Tapi NGGAK SEMUA ORANG bisa eksekusi ide itu dengan baik.

        Kecuali kalo mas mau bayar desainer cuma dari idenya aja, biar murah. Pas bikin desainnya sampe jadi, mas bikin sendiri aja.

    • Mungkin alasan2 di atas lebih bagus buat ditujukan kepada desainer2 itu sendiri yang ga tau seberapa harga mereka seharusnya. Karena emang masih ada desainer2 yg ngasih harga murah karena ga tau nilai mereka sebenarnya berapa. Dengan memberitahu modal yg udah dia keluarkan, hrsnya desainer ybs lebih bisa menilai dirinya lebih tinggi. Dan soal mengapa desain itu mahal bagi client, mungkin yang ada d pikiran mereka hanya sebatas “buka photoshop, ceplak ceplok gambar, jadi.” Mungkin bisa membuka pikiran client kalau setiap ngedesain sesuatu, laporkan progressnya. Kasih intip sketsa2 dllnya. Kasi liat kerja kerasnya. Dijelasin scr detail apa yg kita lakukan.

      Kalo masih ga mau ngerti, suruh kerjain sendiri aja. Biarin jutek, yg kykgitu ga perlu dipertahankan😡

  6. Bagus tulisan ini, kalo ada klien cuman budget 3 juta buat bikin web, yak ane beli theme di themeforest dong cuman 350rb, ganti warna dikit-dikit sama setting hosting murah…, gak nyampe 2 jam beres hehe… lumayan masi dapet untung.

    btw, kok inti tulisannya pake blockquote, susah bacanya kalo pake laptop mode power saving.

  7. wah gw pernah ngalamin “desain kaos temen”
    pertama minta ini itu,trs gw kerjain,trs kata dia mau dibayar,padahal gw gak minta lhamdullilah bgt kan,,kata dia nanti di transfer,sampe gw udh ksh rek gw..desain udah selesai 1,,dia puas,,minta kerjain 1 lagi..karna katanya dia mau transfer jd gw kerjain lagi deh dgn senang hati..kerjaan kedua selesai,,sampe udah naek cetak,gw dikasih 1 kaos,mayan deh..tp udah brp bulan gw gak ditransfer juga???udh gw tanya berkali-kali tapi bnyak alesan,,dan sampe saat ini blm juga di transfer..menyedihkan😦

  8. Umm..menarik.. gw yg freelance hampir 13thn sering mndapat perlakuan yg kayak gitu,untung sabar n slalu memindset kerjaan ini sbagai hobi juga(alih2 menyenangkan diri) padahal sebelnya bukan main..hahaa.. intinya saling menghargai ajalah..masalah ide itu mahal loh..ga stuju tuh ada yg bilng murah.. klo kita mau ukur(bukti) ya cb kerja sama org luar..gambar kita jelek asal konsep/ide nya masuk mereka mau byr mahal..

  9. masuk akal.. tapi lebih masuk akal lagi Desainer yang benar benar desainer pasti dalam membuat logo penuh dengan penelitian atau Perencanaan komunikasi… itulah yang menjadikan mahal .. tapi kalau hanya berdasarkan persepsi semata dan khayalan karena bagus ….. ??

    • Maksudnya berdasarkan persepsi semata gimana? Khayalan kerena bagus yang gimana, ya? Designers don’t design based on nothing. This is my point actually. I was trying to teach people like you. People who doesn’t understand effort in design works and feel so superior to judge that designer only work based on our imagination and perceptions.
      Logo yang “penuh penelitian” harganya bisa sampai ratusan juta sampai milyaran rupiah, seperti logo Garuda, Pertamina, dan BNI46 (well yeah, milyaran dan hasilnya “cuma” begitu doank kalo dari kacamata orang awam). Apakah most people in Indonesia willing untuk bayar segitu? Then stop telling designers how we should work unless you understand the process🙂

      btw sorry, today’s not a good day for me. Jadi replynya agak straightforward :p

  10. kalau saja semua orang berfikir seperti loe pasti gw gak akan uring-uringan ngadepin orang-orang yang selalu berfikir picik, sumpaahhhhh dari penjabaran loe seharusnya orang-orang semua mengerti bahwa apa yang dikerjakan oleh orang-orang di bidang industri kreatif seharusnya bisa jauh lebih di hargai, nah dari penjabaran loe, loe berbicara soal backgraound pendidikan dan harga yang perlu di keluarkan oleh orang-orang yang amengenyam pndidikan di bidangnya. pertanyaan gw adalah bagaimana dgn orang-orang yang bekerja didunia kreatif yang learning by doing? kebayang gak sih mereka berapa banyak yang harus dikorbankan untuk bisa mencapai ke titik tertentu. blm lagi pengalaman mereka dihina dihina dan di remehin orang. gilak yah mereka-mereka yang picik itu.

    sekian

    hahahahhahahaaa

  11. ide itu mahal, karena apa yang diliat gak semata sebuah sketsa yang cuma begitu doang, banyak hal yang harus dipikirkan sebelum design itu jadi dan terealisasi dalam bentuk nyata.

  12. Le punya cerita gan…

    > lagi ngerjain proyek novel
    > temen Le datang
    > ngajak diskusi tentang desain
    > tiba-tiba temen Le request bikin 3 logo dan 4 poster
    > Le tanya kapan hari H-nya
    > temen Le jawab “…besok” awalnya Le tolak
    > temen Le memandang Le dengan penuh harapan “pasti bisa kan? ayolah cuman tempel doang”
    > Le cuma “……………………..”

    Well, sepertinya dia menganggap saya gak punya kehidupan.

    Note : Syukur dia bilang ke saya, kalo minta sama anak jurusan desain (tepat di sebelah kampus Le), pasti bakal di-exorcist se-kampus.

  13. memang rada susah bagi mereka yang gag menghargai Seni…
    mereka hanya tau “cuman gitu doank” padahal klien juga belum tentu bisa bikin sendiri…
    repot dapet klien yang belum bisa menghargai karya Seni

  14. Daripada kerjain web design atau design dengan respon publik yang serendah ini. Mending gw jual badan atau jadi bandar bola.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s