Desain Lo Kok Mahal, Sih?

Pernah ngomong gitu gak ke desainer? Misalnya minta dibikin desain logo, desain kebaya, desain cover, desain interior tempat usaha, atau website dagangan kalian…

Pas ngelihat quotation, mata melotot melihat deretan angka yang ditawarkan. Padahal menurut kalian *mungkin*, sang desainer bukan orang terkenal, gak eksis, portfolionya gak ada di internet, namanya gak pernah masuk majalah, de es te. Kenapa dia bisa ngasih harga mahal, ya?

Tapi tunggu, yang kalian maksud dengan mahal itu apa sebenarnya? Standar mahal kalian apa? Ya saya ketawa sih, kalo kalian bilang ngedesain website seharga *misalnya* Rp. 250.000 itu mahal. Atau desain company profile seharga Rp.2.500.000 itu mahal? Standar orang beda-beda sih, tapi kalo harga segitu aja dibilang mahal, berarti mending kalian berhenti membaca postingan ini dan silakan lanjutkan main twitter.

Nah, jadi, gue mau ngasi sedikit gambaran, kenapa harga desain bisa mahal *menurut kalian/klien*. Apa alesannya si Anu maupun Si Itu bisa ngasih harga sekian dalam penawaran.

1. Modalnya gede.

Desainer grafis, desainer fesyen, arsitek, dan yang lainnya bukan profesi yang gampang diraih begitu aja. Mereka perlu skill, dan tools. Kalian tahu nggak berapa banyak uang yang perlu dikorbankan untuk menjadi Graphic Designer *karena gue taunya untuk posisi itu aja*?

Mulai dari uang kuliah. Sekarang uang kuliah di universitas yang lumayan bagus, khusus Fakultas Desain dan sejenisnya, sekurang-kurangnya mencapai Rp. 10.000.000 per semester. Uang masuknya saja bisa lebih dari Rp.20.000.000. Jadi kalau ditotal, minimal uang masuk sampai uang semester hingga lulus, bisa menghabiskan sekitar Rp.100.000.000. Itu minimal.

Udah? Gitu aja? Noooo… Mahasiswa FSRD harus punya perangkat komputer yang menunjang tugas kuliah mereka. Ibaratnya, 2 juta aja nggak dapet πŸ™‚ Itu belum ditambah flashdisk, hard disk external, pen tablet, laptop (hari gini mahasiswa desain udah pada bawa laptop, gak kayak jaman gue), dan ada juga yang sampe beli kamera. Kalo ditotal semuanya, mungkin bisa habis 15-20juta.

Masih ada lagi dooonk! Perangkat tugas kuliah juga harus dihitung. Mulai dari alat gambar seperti cat, kuas, buku gambar, kertas, pensil, drawing pen, buku-buku diktat, fotocopy, buku tipografi. Sampe akhirnya ke tuga-tugas kuliah itu sendiri. Sepengalaman gue, untuk 1 tugas besar, gue bisa ngabisin 250-500ribu. Yang bapaknya tajir, bahkan bisa ngeluarin duit sampai 2jutaan untuk tugas kuliah *serius, ada yang begitu*. Nah, untuk ini aja mungkin satu semester bisa keluar 2-5juta rupiah. Pas Tugas Akhir, minimal uang yang dikeluarkan untuk ngeprint dan bikin display bisa Rp.2.000.000. Dan itu baru minimal.

Jadi kalau ditotal, selama 8 tahun kuliah, kasarnya, seorang mahasiswa desain memerlukan uang sebesar 150-200juta. Bahkan mungkin lebih. Itu kalau kuliahnya di universitas swasta yang lumayan bagus. Kalau yang jelas bagus, ya jauh lebih mahal lagi. Dan itu hitungan gue tahun 2004-2009 loh, ya. Gue gak berani ngitung pengeluaran mahasiswa angkatan 2010 ke atas.

Dengan modal segitu besar, wajar mereka nggak mau dinilai sama dengan orang-orang yangΒ  jualan logo pake template. Mungkin ada yang pernah nemu ada yang berani jual desain logo Rp.50.000? Silakan bandingkan hasilnya dengan desain logo anak-anak yang masih kuliah. Pasti beda πŸ™‚

Bukan berarti yang nggak kuliah desain otomatis nggak bisa desain. Banyak kok yang tauknya pas kuliah belajar FISIP atau IT, eh ternyata ngedesainnya jago. Ato malah gak kuliah sama sekali. Tapi mereka juga harganya gak gobanan.

 

2. Jam Kerja Extra

Hampir semua freelancer pasti ngerasain ini : saat klien tidur nyenyak, kita malah kerja sampai pagi. Belum lagi ditambah kalo kerjanya dobel, alias masih berstatus pegawai. Bisa-bisa dalam seminggu cuma tidur 2-4 jam tiap malamnya. Sisanya kerja. Sukur-sukur bisa nongkrong ngopi-ngopi 2 jam sama temen-temen.

Saat kita punya deadline yang mepet di kantor, harus mikirin gimana caranya bisa nyelesein deadline satu lagi. Kalau projectnya mayan gede dan ribet, otomatis banyak hal yang harus dikorbankan. Dan itu, adalah materi yang gak bisa dinilai dengan uang.

 

3. Modal Kerja

Freelancer, biasanya, wajib punya : laptop, pulsa, koneksi internet. Tambahan lainnya jika dibutuhkan : kamera, pen tablet, alat gambar, duit buat beli kopi di kafe dengan koneksi wi-fi memadai, dll, tergantung projectnya apa. Jadi bukan “sim salabim jadilah desain kebaya!”. Semuanya pake modal.

 

4. Sama Sama Cari Makan

Katakanlah begini. Anda memiliki usaha pabrik tempe. Berapa harga produksi tempe Anda per kilo? Mulai dari gaji pegawai, harga bahan baku, sampai harga alat-alat pengolah tempe yang anda punya. Coba kalau pelanggan Anda, hanya mau membayar harga bahan baku. Katakanlah Rp.5.000 per kilo. Bagaimana tanggapan Anda?

Perkiraan saya, biasanya tanggapan orang yang usaha, begini : “Enak aja. Saya bikin tempe pake tenaga dan usaha. Lah, kalo sampeyan cuma bayar modalnya aja, saya dapet apa? Pegawai saya gimana gajinya? Saya makan apa?”

Nah πŸ™‚

Coba pola pikir itu dipakai juga saat Anda menyewa jasa atau membeli produk orang lain. Anda saja maunya dapat untung, masa Anda tidak terima kalau desainer cari untung? Sebagai sesama pengusaha *halah* mestinya kita saling menghargai. Hargai tenaga orang, agar orang menghargai juga usaha Anda.

 

5. IDE itu Priceless

Anda novelis? Musisi? Pengusaha butik? Apa perasaan Anda kalau tiba-tiba ada temen Anda yang dateng, trus bilang “Ciyyn, gue bagi novel lo 10 biji, donk. Gratis yaaa.”

Atau begini, “Beb, bagi baju kawinan dari koleksi lo donk. Yang brokatnya import dari Prancis itu. Tapi eyke beli sejuta aja yaaa…” Padahal kalo beli di toko, gaun pengantinnya harganya 25 juta. Syok nggak?

Intinya adalah, kalian tahu susahnya membuat sesuatu, susahnya menulis, susahnya bikin lagu, susahnya bikin konsep dll. Pasti kalian pengen banget karya dan produk kalian dihargai oleh orang lain. Selain itu kalian pasti akan menjual karya/produk kalian dengan standar harga tertentu. Maka hargailah juga desainer yang sudah membantu kalian. Desainer yang merancang interior butik kalian, yang membuat cover buku kalian, yang membantu mendesain pakaian kalian, dan sebagainya. Karena toh, semua itu balik-baliknya akan mempengaruhi bisnis kalian juga. Interior yang menarik, bisa menarik pelanggan. Brosus yang eye catchy dan informatif, bisa membuat promosi lebih efektif. Bukan begitu, bukan?

 

Itu lah kira-kira kenapa seorang desainer memasang harga tertentu. Ada yang cukup murah sebenarnya, tapi mungkin ada yang sampai puluhan juta (atau milayaran kayak logo BNI46 itu). Semua itu pasti ada alasannya kenapa mereka ngasih harga segitu. Ada yang masih mau kasih harga temen, tapi ada juga yang lihat-lihat jenis usahanya. Ibaratnya, harga desain logo untuk warung kopi dan butik multi-nasional, pasti beda. Masa pengusaha dengan omzet puluhan sampe ratusan juta per bulan minta harga yang sama dengan yang hanya sekian juta per bulan?

Intinya, berapapun harga yang ditawarkan oleh desainer, pasti ada pertimbangannya. Baik external maupun internal. Kualitas dan deadline pun dipertimbangkan.

Postingan ini gue bikin berdasarkan pengalaman gue dan temen-temen gue. Karena gue juga sering nanya-nanya ke sesama temen atau desainer-desainer senior yang gue kenal. Kalau ada yang menurut temen-temen sekalian kurang berkenan atau nggak sesuai kenyataan, silakan dikoreksi atau ditambahkan. Karena mungkin ada yang pengalamannya berbeda πŸ˜€

Yang pasti intinya sih yang namanya usaha dan ide itu harus dihargai, apapun usahanya.

113 responses to “Desain Lo Kok Mahal, Sih?

  1. Saya webdesigner, saya setuju sama pernyataan mas yang di POINT ke 5. IDE itu Priceless.. gilee ajeee… pas ditanya’in mereka bilangnya “terserah ente.. kan ente yang pinter desain ane trima bagusnye aje..” eh, begitu dibuat dianya ngomel-ngomel. hahaha udah gitu habis designnya dibagusin mereka minta murah.. astaga.. Klien kadang memang kurang pengertian.. orang indonesia Mentalnya jadi Pegawai sih.. kerjanya ngurusin surat. hahaha

    Sukses Terus broo!!

    • Nah itu susahnya freelancer. Kalo nilai projectnya gede sih bisa pake kontrak yg mengikat. Kalo cm sedikit kan modalnya cuma quotation, misalnya klien mangkir kita gak bisa apa-apa. Kalo udah begitu ya mending batalin project….

  2. lebih ngeselin lagi yang cuma ‘bisnis tengkyu’ mbak..
    minta bikin ini itu, riwil, dan pas udah selesai cuma bilang ‘thank you!’
    aaaaaaaaarggghhh!
    tapi mau mbilangin juga gak enak kalo udah deket, kan? 😦

    • Kalo aku mah tergantung siapa dan buat apa. Kalau misalnya aku tahu bakal ribet, aku pasti nawarin quotation. Tapi klo dr om atau tante, ya udah susah tuh pake ngasih-ngasih harga :))

  3. pantesan, bos arif, pas waktu deal sama designer gak pernah nawar…

    jadi, pernah arif liat pas designernya bilang “(nyebutin angka) juta ya pak”..
    bos saya bilang, “oke sip!”

    waktu itu saya mikir.. “lah? mahal banget.. gitu doang?”
    tapi pas baca ini… arif jadi ngerti.. πŸ˜€

  4. Pingback: Copy Cat | Dian dan Riza·

  5. WAH sangat mengena dan saya sendiri sering mengalami hal seperti ini kebetulan saya terjun sebagai fullday freelance illustrator, berbagai macam karakter klien saya jumpai ada yang di kasih harga langsung ACC ada yang nawar sadis ada yang ngilang gitu aja, haha sangat setuju sekali dengan artikel ini, semoga banyak yang baca nih baik klien maupun desainer, bagi para klien semoga semakin mengerti dan menghargai, bagi desainer juga lebih berani pasang rate harga, karena bukan tidak mungkin dari kalangan desainer sendiri ada beberapa yang banting harga padahal menurut saya itu justru tidak menghargai karya sendiri, Mari Berkarya uhuk uhuk XD

  6. andai semua klien punya pikiran kaya gini.
    sering maklum sih kalo dapet klien yang suka ngasih harga gak manusiawi..
    negara masih berkembang, SDM masih rendah #hayahh

  7. samma kayak potograper juga kali ya lee ?

    “moso moto gitu aja mahal??” — disangka kamera dapet warisan .. dikira tukang cetak itu om nya … dikira yg bikin bingkai itu pakde .. #KokJadiSodaraSemua?

    blom selama ngedit tuh begadang yg ngabisin berbungkus2 mi goreng , roko, dan kopi saset :p hueheuheuh

  8. setuju bro, oleh karena itu kita sebagai desainer harus pinter milih klien , dan harus mampu ngasih pengertian sama klien, kenapa kita kasih harga segono. hahaha

    oh iya, saya juga ngopi loh, tapi ga ada temennya :’

  9. Gw sih mendingan kasih gratis daripada nurunin standard harga gw! kenapa gratis? ya kan bayaran ga mulu soal uang… ada relasi ada barter ada halfbarter, etc.. daripada nurunin harga yang ada besok2 gw desainer murahan dah gitu g dapet relasi, g dapet barteran sama perushaan yang hire gw… -,-

  10. Setuju bgt. ada bagusnya karya seni harus jual mahal.. biar karya seni bisa di hargai.. terutama di indonesia. secara ga langsung apa yg kita pakai dan kita lihat sehari2 semua itu desainer yg merancang.

  11. Good points!
    Sebenarnya banyak alasan kenapa desain/konsep itu mahal. Tapi sayangnya banyak desainer ga bisa jelasin secara profesional kenapa mereka ga pantas di sejajarkan sama ‘tukang bikin layout/logo’. Semua desain/konsep itu ada pemikirannya, ada hitung-hitungannya, dan selalu ada survei ataupun observasi tentang produk yang akan didesain. Kalo mau dijelasin, terlalu banyak. Susahnya di Indo apresiasi tentang industri kreatif masih sangat” minim. Gw desainer grafis dan freelance illustrator. Ngambil topik TA tentang gimana edukasi-in masyarakat bahwa illustrator (in my case) tidak berbeda dengan profesi lainnya (dokter, lawyer, psikolog, dll). Ya kalo profesi” itu bisa dibayar hanya karena konsultasi 300rb/jam kenapa seorang pekerja kreatif ga bisa diperlakukan dengan sama?
    Poin” diatas udah bagus banget, secara gw anak daerah yang kuliah desain di Jakarta, so i really know how hard and expensive it is. Tapi ya ada beberapa yang ga bisa dijelasin ke kliennya, ignorant, stubborn, dan blom lagi klo kliennya ga bias objektif, wheuuhh.. Mostly important sih, just show your great portfolio to your clients, and explain them why you have to be considered as a professional,, πŸ™‚

  12. ikut nimbrung nih.. walaupun bukan designer profesional, tp sering aku diminta temen buatin ini itu, misal tugas web kampus, bikinin logo / brosur temen yang baru mulai buka usaha.

    Pengalaman nya macem2, ada yang bayar cukup lumayan mahal (karena aku ga matok harga khusus), ada yang cuma senyum2 sambil bilang “thx ya say” (padahal rewel bgt)

    point paling aku setuju adalah “IDE ITU PRICELESS”, utk buat sebuah karya yang bagus itu butuh pemikiran, ga cuma duduk depan komputer trus jadi,

    kalo ada klien mikir gitu, suruh aja dia duduk depan komp trus buat aja sendiri, biar ngrasain susahnya membuat sebuah karya yang “bagus” hahahaha *sadis ya*

  13. Setuju nih setuju. Walau saya disini bukan mahasiswa atau lulusan desain, tapi saya ngerti kenapa mereka bisa pasang harga mahal. Saya punya temen, dia desainer kebaya gitulah.. Pernah ada calon customer yg tanya harga ke dia, dia nyebutin harga terus si calonnya itu kaget gara2 harga yg disebutkan gak sesuai sama harapan dia. Padahal kalo aku liat dia bikin satu kebaya bisa sampe 1 bulan, untuk cari ide, cari bahan, bikin pola, pasang payet dll. Yang paling mahal itu idenya, soalnya gak dijual dimana-mana :p

  14. sedihnya kasus saya, klien temen sendiri.
    dia minta harga temen ya saya kasih. pun harga udah dibanting ala steve austin.
    dia minta di buatin leather patch untuk denim, tapi belum punya logo.
    ujung2nya minta di buatin logo juga. saya bilang harganya bisa beda lagi untuk itu, akhirnya nyinggung pertemanan.
    yasudah saya kasih murah~ banget, itung2 promosi siapa tau dia ngeshare kerjaan saya dan ada orang luar yang minat dari situ. kan buat temen juga

    setelah saya kasih preview desainnya, ga ada kabar lagi dari temen saya ini sampai akhirnya BAM! dia launching produk dengan desain saya yang (padahal) masih preview itu. ngobrol engga, di bayar pun engga. bukan relasi yang didapat malah kehilangan satu relasi.

    pengalaman aja buat saya dan desainer lain untuk melihat – lihat dulu klien dan belajar mengatakan TIDAK ke entrepreneur2 yang belum paham entrepreneurship

  15. Mungkin sedikit beda sama usaha yang lagi aku jalanin (scrapbook maker). Yah sebenernya bikin scrapbook juga butuh mood yg super, gali-gali inspirasi gimana caranya biar desain elegant dan gak pasaran. Tapi jadi agak ‘sedih’ kadang kalo ada yang minta korting dengan alasan ‘harga teman’. Dan kortingannya pun mencapat 20-25%. Bagi saya yang ngambil untungnya udah gak banyak, kortingan segitu pun cukup bikin syok.
    Gimana ya, harusnya sebagai teman sih menurut saya harus lebih menghargai hasil karya saya daripada orang lain.
    Sedihnya, realita orang Indonesia selalu memanfaatkan ‘harga teman’ 😦

    • ada yg buka usaha layout digital scrapbook album??
      bole deh sebut angka…kali msh sanggup kasih saweran.
      hehehe πŸ˜€

  16. kebanyakan orang minta di desain dan digambarin alasannya “kita kan temen,jadi gratis laaah..jangan perhitungan gitu jd temen” bener bener bikin jengkel,padahal kita udah capek mikir dan harus korban waktu,dan tenaga juga.

  17. Saya hampir setuju dengan semua statement Anda. Hanya saja pada statement Anda pada bagian modal itu saya kurang setuju jika statement tersebut diterapkan pada fresh graduate tanpa ad portfolio atau prestasi yg lingkupnya kepada komersil.

    Alasannya? Karena pemikiran seperti itu dapat membuat seseorang yg belum mempunyai pengalaman kerja atau belum begitu memahami etika bekerja menjadi terlalu perhitungan dan terkesan menjadi over confidence atau terlalu percaya diri, sehingga biasanya pada awal bekerja meminta tuntutan yg terlalu tinggi dan efek berkepanjangan akan menganggap asing kepada org2 non-design.

    Komentar saya ini bukan berarti tidak setuju dengan posting ini. Saya sangat setuju maksudnya akan tetapi hanya 1 statement yang saya tidak setuju.

    Thx

    • Aku setuju dengan komentar mas andry. aku nggak menampik adanya generasi sombong; belum bisa apa-apa tapi minta dihargai sekelas professional. Itu lah pentingnya punya portfolio, karena di situ pembuktian kita ke klien, kita layak dihargai tinggi atau tidak.
      Kebetulan postingan di atas dibuat dari sudut pandang saya sbg designer yang telah bekerja (freelance dan fulltime) selama 5 tahun. Terima kasih atas masukan mas andry. I appreciate that.

  18. ijin repost gan,
    mantep nih buat para orang2 yg masih memandang remeh industri kreatif.
    yang mandang sepele ilmu desain.

  19. wah wah mantep ini…kita graphic designer bukan gratis designer haha…harga liat-liat juga target marketnya siapa…point ke 5 itu yang emang ribet…percaya atau engga kalo esain juga mempengaruhi income perusahaan..itu sih pengalaman pribadi dari project yang pernah ane tanganin πŸ˜€ jadi pesan aja buat para desainer “hargai dirimu maka kamu akan dihargai orang lain” maksudnya sih kalo ente ngasih harga sesuai siapa client nya dan gimana karya ente…pasti dah dari mulut ke mulut banjir project selama karya yang bisa dipertanggung jawabkan. hehehe

  20. Pingback: Desain Lo Kok Mahal, Sih? | Visi Bintang·

  21. Justru karena masalah gak bs hargain karya orang lain, banyak desainer indo pindah ke luar negeri dan sukses di sana.
    Mindsetnya mau murah dan bagus, palagi kl bukan barang bajakan.
    Coba mereka yg pada gak bs hargai kita kasi smua perlengkapan desainer trus kerjain 1 project dengan deadline yg sma, pasti bakal pusing tujuh keliling.
    KAMI PARA DESAINER MAU NYARI MAKAN SAMA HIDUPIN KELUARGA JUGA.

    • Nggak apple to apple sebenarnya. Kalo klien saya yang nanya gitu ke saya, saya bakal tanya balik: Anda di kantor atau laptop pakai produk bajakan atau nggak? Lagu di playlistnya bajakan juga atau nggak? Kalo nggak bajakan, berarti Bapak bisa bayar saya sesuai harga software asli, donk. Biar saya bisa beli Adobe CS original.

      Tapi tentu saja, kita nggak mungkin minta harga dari klien based on mereka pake produk bajakan atau nggak. Ya kan? (anyway di kantor aku pake software asli, dan kadang2 masih juga berusaha beli CD lagu original. Tergantung kondisi keuangan saya)

      Terima kasih πŸ™‚

  22. Hemm, ternyata banyak juga freelancer yang senasib…
    Ini nih susahnya di Indo, baik web designer, programmer freelance kurang dihargai…
    Malah ada client yang bilang β€œitu di desainer A/B harganya jauh lebih murah loh mas, kok disini mahal bgt”… :v
    Dimana2 harga sebanding kualitas, kualitas tempe gitu dibandingin sama desain gw, pengen gw timpuk nih orang… :v

  23. saya bukan desainer pro. saya juga bukan lulusan atau sedang kuliah jurusan desain tp saya merasakan susahnya jadi desainer yg bahkan levelnya masih pemula kyk saya ini. pelanggan kebanyakan minta yang instan”. minta bikin sekarang tp minta jadi besok. yg parah malah bikin pagi minta jadi siang. mana gk mau bayar lagi. ditambah lagi si pemesan lambat dalam memberikan materi desain tapi minta desainnya cepet kelar -_-

  24. Saya web designer, biasanya saya balas
    “desain website seharga 2.500.000 bisa membuat Anda menghasilkan uang 4.000.000, dan itu recurring income, sedangkan biaya website adalah one-time payment. Jadi termasuk murah atau mahal?”

    biasanya klo yang dihadapi orang-orang yang perhitungan banget

    • Ahahah, halo mas budi. Aku cuma bisa bilang kalo urusannya ke perut, ya larinya ke materi. Klien memberi materi, pekerja memberi waktu, tenaga, dan ide. Dan yang aku sebut di postinganku bukan alasan, itu kenyataan. Hal-hal yg saya sebut di atas adalah pengorbanan-pengorbanan dan jasa yang ditawarkan seorang desainer (maupun pekerja kreatif lainnya). Jika anda perlu alasan yang bijaksana, bisa dilihat poin nomor 5. Kalau anda pekerja/karyawan perusahaan, apakah anda mau hanya dibayar dengan gaji yang sama dengan tukang sapu jalanan? Terima kasih πŸ™‚

  25. Pingback: DESAIN LO KOK MAHAL, SIH?Portfolio website | Portfolio website·

  26. Setujuuuuu, sama halnya dengan desainer interior, kebanyakan org konsultasi konsultasi selama gue lgi freelance.. seenaknya konsultasi , mnta di gambar layout, sblm di kasih gambar kerja di liatin RAB dlu, langsng melotot semua.. blm biaya produksi, blm tenaga, blm survey, jyaaah.

  27. Saya hanya ingin menambahkan sedikit, semoga kita dapat saling membuka pikiran ^^

    – Rata-rata orang Indonesia pola pikirnya belum maju. Karena pola pikir yang belum maju makanya belum bisa menghargai nilai dari sebuah karya seni.

    – Negara kita didominasi oleh 2 golongan, golongan pengusaha(pedagang) dan golongan pekerja.
    Pola pikir pengusaha = pelit,
    pola pikir pekerja = irit.
    Pengusaha = dapet untung sebanyak-banyaknya dengan modal sekecil-kecilnya.
    Pekerja = hidup ngirit. Orang yang punya mental pekerja ngirit cenderung membeli barang atau kebutuhan berdasarkan fungsinya saja, bukan berdasarkan kepada nilai yang terkandung dari sebuah benda.

    – Perekonomian negara kita ini didominasi oleh orang-orang dengan tingkat perekonomian menengah kebawah. Ibaratnya “Buat idup aja udah susah apalagi buat beli sebuah karya seni”

    – Karena perekonomian kita ini didominasi oleh orang-orang dengan tingkat perekonomian menengah kebawah, maka daya juangnya menjadi lebih sulit. Designer yang bersekolah tinggi harus bersaing dengan “designer jadi-jadian”, Designer jadi-jadian ini lah yang selama ini membuat harga nilai jual sebuah karya seni makin terpuruk. “Jual karya asal jadi, yang penting dibayar dapet uang”

    – Di Indonesia, software bajakan juga sangat mudah didapat, maka jangan heran kalau banyak bermunculan “designer jadi-jadian”

    • Bukan pola pikir yg ga maju..tapi emng udah sengaja dimindset gitu mas bro.. toh kejadian kayak gini masih dilakukan kok sama yg ngakunya profesional,eksklusive .malah lebih gila lg dilakukan oleh sama2 para desainer. Intinya mreka ga mau tau n ga mau peduli yg penting mreka harus dpt bagian gede,sebisa mungkin menekan n menghasilkan utuk pribadi.

  28. ada temen yang bilang saya pinter desain, padahal ” i’m just editor not creator”, ujung2nya dimintain tolong ama temen bikinin desain buat tugas kuliah, dan bayarannya 2 gorengan (mendoan) + cabe 2biji . . .
    ni juga masih numpuk banyak permintaan, padahal tugas sendiri blum sama sekali . . .

  29. Saya ga pernah nawar, karena poin nomor lima. Tapi sebelumnya sudah survey pasaran juga portofolio si desainer, untuk ancer-ancer dana yg harus dipersiapkan. Buat saya, menaruh kepercayaan dan menghargai bagaimana orang berusaha memahami keinginan kita itu lebih penting.
    Ga enakan juga. Kalo mau nawar rasanya lebih enak dengan distributor daripada kreator.
    Apa lagi misal pengen gratis, ya belajar bikin sendiri aja kali yaa…

  30. walaupun saya hanya lulusan SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa) dan nggak pernah makan bangku kuliah, namun sangat dirasakan sekali bagaimana seorang designer itu memerlukan proses yang panjang untuk menjadi seorang profesional, pahit-manis sudah sering dirasakan, dan itu pula yang dapat meningkatkan skill saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s