Pak  Bagas, Pahlawan Nyeleneh

Great Teacher Onizuka adalah sebuah judul komik Jepang yang bercerita tentang seorang preman yang menjadi guru di sebuah sekolah. Komik tersebut menggambarkan Onizuka, sang guru, sebagai pengajar yang bengal, tidak patuh pada peraturan sekolah, namun sangat peduli dan rela melakukan apa saja demi murid-muridnya. Pada akhirnya, para murid yang tadinya membenci Onizuka, malah berbalik menghormati dan menyayanginya.

Dalam kehidupan nyata, saya menemukan guru saya waktu SMP, Pak Bagas, sangat mirip dengan tokoh di dalam komik Great Teacher Onizuka ini.

Pak Bagas adalah seorang guru honorer di sekolah saya yang khusus mengajar komputer, usianya mungkin belum sampai tiga puluh tahun saat itu. Masih muda, gayanya pun masih seperti pemuda seusianya. Rambutnya dipotong cepak, suaranya serak basah seperti Gito Rollies, tidak segan menggunakan sapaan seperti “gue-elo” di dalam kelas. Selain sebagai guru, Pak Bagas sering menjadi tempat curhat bagi murid perempuan maupun lelaki. Ia memperlakukan kami para murid layaknya sahabat sekaligus anak.

Namun, jika menyangkut belajar, tidak ada yang namanya main-main. Jika sudah masuk ke topik pelajaran, Beliau sangat tegas dan serius. Mencontek itu haram baginya. Ia mengakali agar para murid tidak mencontek saat ujian dengan cara mengatur tempat duduk agar saling berjauhan, serta melarang membawa tas maupun buku ke dalam kelas.

Ada satu hal yang dilakukan Pak Bagas yang tidak akan saya lupakan, dan menjadi legenda bagi murid-murid angkatan saya.

Sahabat saya, sebut saja namanya Randy, mungkin tipe murid yang paling dibenci oleh guru di sekolah manapun. Pemberontak, suka membolos, bengal, dan mungkin masih banyak cap lain yang diberikan para guru. Namun pada dasarnya, Randy adalah seorang yang cerdas, baik, dan membutuhkan perhatian khusus. Beberapa guru di sekolah saya menyadari ini dan teta[ mengajarnya bagai anak sendiri, tanpa menghakimi.

Suatu hari ada acara perayaan di tempat saya bersekolah, berupa pameran dan festival band. Randy datang tanpa memakai seragam, hanya kaus dan celana jeans lusuh. Matanya merah, diduga habis mengkonsumsi minuman keras. Saya menyapanya dan memaksanya jangan berkeliaran di dalam area sekolah karena bisa ditegur Bapak Kepala Sekolah.

Ia setuju, kemudian saya menemaninya nongkrong di luar area sekolah demi kebaikannya sendiri. Namun saya yang saat itu menjadi bagian dari panitia, harus kembali ke dalam. Sekali lagi saya memintanya untuk tetap bersama teman-teman yang lain agar tidak masuk ke area sekolah.

Beberapa waktu kemudian tiba-tiba terjadi keributan. Saya mendekati sumber keributan, dan hanya bisa terpana melihat apa yang terjadi. Di depan mata saya, saya melihat Bapak Kepala Sekolah sedang menyeret Randy. Randy mengikuti dengan wajah kesal namun terlihat sedikit takut dan panik. Di belakangnya, Pak Bagas mengikuti sambil berusaha menenangkan Bapak Kepala Sekolah.

Inti cerita, Randy ternyata dipergoki oleh Kepala Sekolah, kemudian ia ditegur dan ditarik ke ruang guru. Pak Bagas ada di sana untuk menenangkan Kepala Sekolah dan Randy. Pak Bagas tidak menyetujui Kepala Sekolah bertindak sekeras itu kepada seorang murid, namun beliau juga berusaha menenangkan Randy agar tidak melawan Kepala Sekolah.

Setelah kejadian itu, Randy berhenti bersekolah di tempat kami. Saya dan teman-teman merasa sedih, karena kami tahu Randy sebenarnya anak yang cerdas, baik, dan peduli pada teman-temannya. Pak Bagas bercerita bahwa beliau sudah mencoba mencegahnya, namun baik pihak sekolah maupun keluarga Randy sudah sepakat bersama-sama untuk tidak melanjutkan pendidikannya di sana.

Hal ini menjadi bahan perbincangan kami, para murid, hingga waktu yang lama. Betapa  heroiknya sikap Pak Bagas yang datang dan membela Randy. Walau ada juga cerita negatif karena sebagian guru tidak menyukai tindakan Pak Bagas yang dianggap membela murid yang salah. Tapi bagi kami para murid, itu adalah tindakan yang sangat istimewa. Ketika ada seorang guru yang mau melihat dan memperhatikan kami, bahkan di saat kami tersesat, di saat kami salah, di saat kami dicap anak nakal.

Pak Bagas sempat membagi keluh kesahnya dengan saya dan teman-teman, ketika Beliau merasa sekolah tidak adil karena menyalahkan sikapnya. Ketika sebagian guru menjadi tidak suka padanya dan memojokkan dirinya. Kami hanya bisa mengatakan bahwa kami mendukung dan percaya kepada Pak Bagas. Bahwa tindakan Pak Bagas sangat berarti bagi kami. Namun Pak Bagas tidak mengatakan siapa guru-guru yang Beliau maksud agar kami tetap menghormati semua guru di sekolah kami.

Sampai penghujung tahun, sekolah kami mengadakan perayaan Natal. Perayaan Natal diadakan dengan ibadah yang dilanjutkan pertunjukan seni. Saya dan teman-teman sempat mengajak Randy ikut bergabung, namun ia tidak mau karena merasa tidak enak, dan tidak punya hak untuk datang. Ia menunggu di luar area sekolah, dengan harapan sepulang dari perayaan, kami bisa berkumpul bersama di luar sekolah. Sebagian dari kami yang dekat dengan Randy, bisa merasakan sedikit kesedihannya. Ketika kami bersenang-senang dengan teman-teman kami, tertawa dan bercanda, Randy hanya bisa menunggu sendirian di luar. Rasanya saat itu saya ingin acara cepat selesai agar bisa berkumpul dengan Randy.

Tiba-tiba, hal yang tak disangka-sangka terjadi. Dari pintu aula gereja, Pak Bagas masuk, tersenyum bangga. Kami yang duduk melawan arah pintu masuk, langsung menengok ke arah Pak Bagas yang tiba-tiba membuka pintu utama aula. Pal Bagas berjalan sambil merangkul bahu seseorang yang tak diduga, Randy. Ia membawa Randy ikut masuk ke dalam aula, merangkulnya dengan penuh kasih dan persahabatan. Randy hanya bisa tersenyum malu. Mendadak kami semua bertepuk tangan, riuh, sorakan kami memenuhi seluruh aula. Ramai-ramai kami menghampiri mereka berdua, menepuk-nepuk Randy yang masih tersenyum malu.

Seingat saya, pada saat itu Kepala Sekolah mendekat, dan beliau tersenyum. Beliau tersenyum pada Randy. Randy pun membalas dengan senyum penuh hormat. Akhirnya Randypun turut merayakan Natal bersama-sama dengan kami, teman-temannya.

Jika Pak Bagas tidak berinisiatif untuk menjemput dan menarik Randy, mungkin Randy tidak akan pernah mendapatkan kesempatan ini. Mungkin Randy tidak akan merasakan bahwa ia sebenarnya tidak dibenci, baik oleh para guru maupun murid lainnya.

Kisah ini sulit saya lupakan begitu saja, saya yakin teman-teman yang dekat dengan Randy merasakan apa yang saya rasakan. Hingga saat ini Randy masih bersahabat dengan saya. Dan bagi Randy, Pak Bagas memiliki tempat yang begitu spesial. Juga bagi saya dan teman-teman saya.

Saya tidak tahu apakah metode pendekatan dalam mengajar dan bergaul dengan murid-murid yang dimiliki Pak Bagas sudah sesuai dengan standar dalam dunia pendidikan atau tidak. Namun bagi kami yang menjadi muridnya, ia justru jauh melampaui standar. Itulah yang kami butuhkan dari para guru; untuk melihat apa yang tidak dilihat orang lain, mengasihi kami tanpa pandang bulu, dan menjadi contoh yang baik bagi kami. Walaupun sikapnya mungkin agak nyeleneh, tapi bagi para muridnya, Pak Bagas adalah seorang pahlawan.

5 responses to “Pak  Bagas, Pahlawan Nyeleneh

  1. Beberapa kali dalam perjalanan sekolah ketemu dengan guru seperti Pak Bagas ini. Tapi sayangnya ya guru semacam ini langka yah, 1 dari 1000? Padahal sebenernya lepas dari masalah kepandaian yang diajarkan, jauh lebih penting adalah bagaimana guru melihat muridnya…

    • betul, langka banget guru nyeleneh yang ngajarnya juga oke. aku malah kayaknya baru sekali sih, nemu yang model kayak Pak Bagas.

  2. alhamdulillah, arif pernah dapet guru kayak gitu.. waktu SMK

    beliau bener-bener ngebela kami murid-muridnya..
    dan sempat,ketika kelas kami kena masalah serius. dia yg digaris paling depan buat ngebela kami.. kami senang sekaligus ngerasa gak enak sama beliau..

    dan akhirya, walaupun perjuangan beliau dan kita kurang sukses, dia malah berdiri didepan kelas, mohon maaf pada kita.. muridnya.. karena masih gagal membela kami.. walaupun sudah berjuang maksimal..

    damn.. mbak.. arif sama temen-temen sekelas nangis ditempat.. :’|

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s