Monolog

Bibirmu terasa seperti hujan di kala senja
Begitu indah, namun sekaligus begitu sepi
Mengecapnya seperti mengalami perpisahan
Seakan itu akan menjadi kecupan terakhir
Kemudian semuanya tenggelam dipeluk malam
Dan yang tersisa adalah mimpi
Yang hanya meninggalkan rasa ketika kita terbangun
Tanpa dapat mengingat kembali apa yang telah terjadi dalam mimpi tersebut
.
Terjebak di dalam matamu terasa seperti hanyut di dalam badai
Terombang ambing
Menyiksa namun tak mungkin melarikan diri dari dalamnya
mencabik semua tembok yang kumiliki
Menyisakan aku dan perasaanku yang telanjang
.
Mungkin kita seperti puisi tanpa rima
Tak bertemu, tak senada
Segala sesuatu tentang aku dan kamu tak terasa logis
Tak terasa pas
Seperti dua ego yang bertabrakan
Dan kemudian aku menjadi pecah
Tinggal serpih yang berputar di sekelilingmu
Menari dan memujamu
Sementara kamu kokoh dan konkrit
Aku stagnan di sekelilingmu
Berputar, berantakan, namun tetap berpusat padamu
.
Bibirmu terasa seperti debur ombak yang jauh
Begitu indah, namun begitu berjarak
Mengecapnya seperti mengalami perpisahan
Seakan sentuhan lembut bibirmu hanyalah sebuah kenangan buram
Ada, namun tidak nyata
Kemudian semuanya akan dihapus oleh angin
Dan yang tersisa hanyalah aroma laut yang tak terlihat
Yang hanya meninggalkan rindu tanpa alasan
Tanpa jawaban, tanpa balasan
.
Dan mungkin kita ini adalah anomali
Sesuatu yang semestinya tidak pernah terjadi
Sebuah luka yang manis

3 responses to “Monolog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s