Hujan yang Jatuh dari Mataku

A heavy rain

 

“Kamu menangis?”

Ia menoleh, kemudian menyapu pipinya dengan jari-jarinya yang kurus. Ekspresi wajahnya tak terlihat, cahaya di kamar kami hanya berasal dari pendar lampu kota yang menyelusup dari balik jendela. Namun aku dapat melihat jelas matanya memantulkan basah, pada pipinya mengalir kesedihan. Ia kembali menoleh ke arah jendela, memandang sepi pada kerlap kerlip cahaya di bawahnya. Kuning, oranye, merah.

“Tidak, aku tidak menangis.”

Jeda. Ia menghisap rokok putihnya dalam-dalam, kemudian menghembuskannya dengan pelan. Batang ke berapa. Aku tak menghitung. Seakan ada kabut di dalam kamar kami.

“Hanya hujan. Hujan yang jatuh dari dalam mataku.” asap putih meluncur kembali dari bibirnya yang tebal dan menggiurkan. Memenuhi langit-langit kamar, menjelma menjadi kabut yang beraroma nafasnya, dan tubuhnya yang telanjang, dan kenangan yang mati.

3 responses to “Hujan yang Jatuh dari Mataku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s