Antara Cinta dan Benci

Ini sih, lebay banget. Sumpah.

Kadang gue masih suka lupa, kalo masih ada sahabat gue yang mau direpotin untuk dengerin curhat gue. Itu karena gue kebiasaan jarang curhat. Tapi untung akhirnya hari itu gue dimention oleh sahabat gue, sebut saja Kiting.

Hanya dengan mengucapkan satu kalimat via whatsapp “Tiba-tiba X ngirim gue message.”, Kiting yang manis, membalas pesan gue tersebut: “Lo gak kasi tau dia, kan, sekarang elo ngekost di mana? Awas, ah, Nie… Bahaya…”

Dari satu kalimat itu, gue langsung inget, hal-hal apa aja yang mengubah hubungan gue dengan X.

Iya, sebutlah dia X. I used to be her bestfriend. Her. Not mine. X was broken inside. Dia beda dari semua orang yang pernah elo kenal. X sakit, tapi bukan sakit jiwa. Dia… incomplete. Karena itu, dia punya masalah besar dengan ego dan anger management-nya. X ini perempuan, tapi ketika emosinya meledak, laki-laki pun kalah sama dia. Saat ia dikuasai emosi, ia bisa melakukan apa saja. Literally. Apa saja. Menyakiti orang lain atau menyakiti dirinya.

Itu makanya dulu gue sayang sama dia. Karena cuma gue satu-satunya orang yang bisa bikin dia tenang. Cuma gue sahabat yang bisa ngikutin gilanya dia, tanpa ngejerumusin dia jadi lebih rusak lagi.

Gue sayang sama dia karena gue nggak mau liat dia jatuh lebih dalam. Tapi sedikitpun gue gak berniat jadi pahlawan. Yang penting gue bisa ada saat dia sedih, saat emosinya meledak, atau saat dia sedang mengalami mental break down (bener gak, sih, istilahnya?)

Tapi ada kalanya gue capek. Karena gue pribadi yang cenderung “mengalah”, lama-lama hidup gue terhisap oleh egonya. Gue dilarang bergaul dengan sahabat-sahabat gue yang lain. Kadang gue malah disuruh milih antara dia atau yang lain. Kadang gue terpaksa membangkang orang tua gue karena dia meminta jadi prioritas. Dia berbicara, terus berbicara, tapi gue nggak dikasi kesempatan untuk menumpahkan kesedihan saat gue ada masalah. Karena apa yang terjadi sama dia, selalu lebih penting dari apapun yang terjadi sama gue.

Dia selalu bilang “Gue sahabat lo, gue sayang banget sama lo. Bahkan kalo lo diganggu orang, gue bakal jadi yang pertama maju belain lo.”

Gue percaya, dan itu terbukti. Problemnya adalah, apakah elo bisa menyayangi seseorang ketika elo jauh lebih mencintai diri lo?

Gue sampe lelah dengan tuntutannya dia. Itu baru hal yang satu. Karena semakin ke sini, banyak hal-hal lain yang di luar batas bagi gue. Begitu banyak batas yang dia lewati sampai akhirnya gue harus memasang pagar dan membangun jarak. Pada satu titik itu, dia memberi alasan untuk gue menjauh. Dan seperti yang biasa ia lakukan sebelumnya, ketika ia sedang bahagia, gue tak kasat mata.

Itu momen yang pas banget buat gue. Gue mendiamkan dia, sementara dia menikmati hidup ketika sedang membaik. Dan jarak itu tercipta begitu saja. Well, gue sempet sedih. Serius sedih. Setiap dia susah, dia selalu nyari gue. Tapi saat dia senang, kenapa dia nggak nyari gue padahal percakapan terakhir kami adalah pertengkaran yang disebabkan oleh dia? Kenapa dia nggak nyamperin gue dan minta maaf? Kenapa dia nggak mempertanyakan gue yang mendadak hilang. Kenapa juga dia nggak mencari gue seperti biasanya, menelpon dua kali sehari, mengajak nongkrong hampir setiap hari, dia berhenti melakukan itu.

Puncaknya ketika melihat dia menulis di facebook-nya (alah, basi abis, ef bi….) kira2 seperti ini “Terima kasih Tuhan karena telah memberiku sahabat-sahabat terbaik. Si A, Si B, dan C (yang terakhir ini dia menyebut nama anjing peliharaannya).”

Gue kayak… errr… jadi bertahun-tahun kemarin itu kita ngapain ya? Giliran susah lo nyari gue, tapi di doa lo aja lo gak nyebut nama gue. Itu gue sedih sih. Walau gue sering sakit hati sama egonya dia,  walau gue sebel banget sama dia yang gak mau ngertiin atau ngedengerin gue, gue sedih sih, gak diakuin sbg sahabatnya. Maka itu, akhirnya gue memutuskan pergi. Gue gak minta dia membalas gue, gue gak bilang gue telah melakukan ini dan itu. Gue cuma sedih, bertanya-tanya “Jadi selama ini gue sahabat lo atau cuma pelarian saat lo susah?”

Sahabat-sahabat gue yang lain, teman rumah, teman sekolah, teman kuliah, justru bersyukur dengan pisahnya gue dan X. Semua orang yang pernah melihat serumit apa hubungan gue dan X, justru mewanti-wanti gue untuk gak deket-deket dia lagi. Saat itu pun gue emang udah berjanji, gue gak akan mau lagi deket sama dia. Karena saat gue bersama dia, bukan gue aja yang ditelan oleh egonya, teman-teman gue yang lain pun kena. Bahkan keluarga gue pun kena dampak negatif dari pergaulan gue dan dia.

Tapi gue gak bisa bilang kalo gue benci dia. Ini bener-bener rasa yang gak bisa didefinisikan. Saat lo care, sekaligus lo capek. Yah gitu, deh, pokoknya.

Hidup gue tenang selama jauh dari dia. Gue bisa bergaul sama siapa aja. Gue bisa tenang dari teror teror telepon. Gue bisa berhemat. Dan yang pasti bebas dari sakit hati terpendam yang selalu terjadi setiap gue bertemu dia. Entah karena kata-katanya, atau perbuatannya. Keluarga gue pun udah nggak terganggu lagi.

Nggak kurang dari 3 tahun, gue hidup dengan tenang.

Sampai tiba-tiba dia muncul lagi, mencoba menghubungi gue.

Perasaan gue campur aduk. Antara takut dan kasihan. Dengan kata-kata sedih, mengatakan betapa sayang dan pedulinya dia sama gue. Dia bilang gue  menjauhi dia, gue udah lupa sama dia sejak gue bekerja. Gue kayak… “Loh, kok jadi salah gue???”

Dia lupa semua hal yang dia lakuin ke gue. To be exact, karena dia egomaniak, tidak ada satupun hal yang salah dari dia, dia tidak pernah merasa salah. Sementara orang lain selalu jadi penjahat buat dia. Jadi, dia muncul, sebagai seorang sahabat yang terluka karena disakiti oleh gue. Gue bahkan nyaris percaya kalau gue memang menyakiti dia, dan dia nggak pernah melakukan apa-apa ke gue.

Kiting, dia yang ngingetin. Dia mengingatkan kenapa dulu gue harus jauh dari X. “Kali ini lo harus tega, Nie. Dia ganggu hidup lo. Lo juga punya kehidupan.”

Tapi gue takut kalo gue ngejauhin X, itu berarti gue jahat.

“Ya gimana ya, Nie. Pilihan..  Dianggap jahat gak selalu jelek. Kalo kayak gini, mending lo dibilang jahat. Masih mau jadi malaikat penolongnya si X?”

Gue jawab “Nggak mau.”

Bukannya gue gak mau nolongin orang, bukan gue mau nyakitin X. Tapi kalau kehidupan gue, keluarga gue, dan sahabat gue yang harus jadi korban, mendingan gak usah. Sahabat-sahabat gue, sayang sama gue unconditionally. Dengan kebiasaan gue yang suka lupa tanggal ulang tahun, suka telat janjian, atau bahkan gak bisa ketemu berbulan-bulan karena guenya yang ribet. Tapi mereka nggak pernah nuntut. Gue gak mau ngorbanin mereka cuma buat satu orang yang meyakini bahwa bumi berevolusi dengan dia sebagai pusatnya.

Barusan gue mengintip facebook page oknum X, ternyata dia lagi ada masalah.

Ini bener-bener berulang. Dan ini mungkin yang ke empat, atau ke lima kali. Saat-saat ia muncul dalam hidup gue, ia hanya datang membawa beban. Saat dia jatuh, yang dia cari cuma gue.

Gue gak masalah menjadi orang yang pertama dicari ketika seseorang sedang susah. Tapi gue lebih seneng lagi kalau pas dia nggak susah, dia bersedia ketemu gue walau hanya sekedar melaporkan bahwa dia sudah baik, atau cuma buat ngerokok dan ngopi bareng. Bayar sendiri-sendiri. Kalo perlu gue yang bayarin *gaya* Yah minimal, asal jangan nyakitin keluarga gue atau sahabat-sahabat gue yang lain. Udah deh, terserah lo mo ngapain juga.

Gue sempat membalas message dari X. Gue bilang, gue menjauh karena sesuatu yang dia katakan dan lakukan. Gue meminta dia untuk introspeksi. Kemudian gue tambahkan, gue sudah melupakan dan memaafkan dia. Gue menjauh hanya karena gue pengen move on, bukan karena benci sama dia.

Mungkin, di dalam skenario hidupnya X, gue ditulis sebagai orang jahat, yang meninggalkan dia ketika gue sudah punya mata pencaharian, ketika gue mendapat teman-teman baru. Tapi mungkin itu yang terbaik buat gue dan X. Minimal buat gue. Agar kita berdua menjadi jauh, walaupun gue menjadi villain dalam hidupnya.

Gue sayang X, tapi gue gak tahan hidup di dalam egonya dia. Semoga suatu saat dia ngerti.

 

 

2 responses to “Antara Cinta dan Benci

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s