A note from Yogyakarta: Borobudur on Vesak Day

Kenapa kamu ingin ke Borobudur saat perayaan Waisak? Apakah kamu seorang Buddhist? Reporter? Fotografer? Atau termasuk golongan orang yang terpesona pada scene pelepasan lampion di film Arisan atau Tangled? Saya termasuk golongan terakhir. Saya sangat ingin menghadiri acara Waisak di Borobudur dan ingin mengabadikan momen pelepasan lampion. Mungkin itu sebuah alasan yang dangkal sekali, mengingat heboh-hebohan kekurangajaran para pengunjung upacara Waisak di Borobudur yang sempat ramai di social media.

Tapi saya dan teman-teman saya datang dengan niat baik. Kami mencari tahu peraturan dan tata tertib yang perlu dituruti di lokasi sebelum berangkat ke Yogya. Secara spesifik, saya mencari aturan bagi pehobi fotografi dan fotografer beneran; berpakaian sopan karena acara tersebut merupakan upacara keagamaan, tidak memakai blitz, tidak membuang sampah, tidak merokok, tidak mengganggu jalannya upacara.

Karena itu, kalau ada yang menganggap saya sama saja dengan para alay-alay atau anak orang kayak bermodal DLSR atau iPhone yang datang ke sana untuk sekedar mengikuti trend, saya nggak mau😐 Saya dan teman-teman saya berusaha mematuhi seluruh peraturan yang ada. Mulai dari berpakaian sopan, tidak buang sampah sembarangan, tidak merokok, bahkan kami tidak duduk di area para umat berdoa. Saya sempat menyalakan rokok krn melihat semua orang merokok, tapi diteriakkin sama teman-teman saya. Dibentak di depan orang-orang. Hahaha… Tapi nggak apa-apa, saya malah senang sudah diingatkan.

Yogya, subuh.

Stasiun Tugu, Yogyakarta

Gunung Merapi, sekilas.

Pasar yang masih tutup.

Ngangon bebek istilahnya.

Hari pertama kami berangkat ke Yogya dengan kereta bisnis pada pukul 9 malam dari Stasiun Senen, kami sampai Stasiun Tugu Yogyakarta pada pukul 5 subuh, hari Sabtu. Kemudian kami menyewa taksi yang menggunakan mobil Avanza, dengan membayar ongkos sejumlah 250 ribu. Kami langsung meluncur ke penginapan di belakang Candi Mendut. Sesampainya, kami tidur sebentar, mandi, sarapan di samping Candi Mendut. Kami sempat melihat-lihat prosesi pembukaan upacara Waisak, namun dari luar area Candi Mendut.

Candi Mendut

Candi Mendut, Upacara Waisak

Kemudian kami balik ke penginapan, mandi dan berganti baju dengan pakaian yang lebih sopan. Makan siang di sebuah warung makan di samping Candi Mendut, sementara area Candi Mendut sudah kosong karena massa sudah bergerak ke Candi Borobudur. Selagi makan, kami bertemu brondong, mahasiswa dari Tegal yang rela naik motor ke Magelang untuk mengikuti upacara Waisak. Darinya kami mendapat 7 buah kartu peserta dan 1 lembar kertas berisi peraturan.

Prosesi acara Waisak dimulai dari Candi Mendut sekitar pukul 9-an pagi, kami tidak mengikuti prosesi tersebut. Kami baru berangkat sorenya, menggunakan delman berangkat ke Borobudur.

Sesampainya di sana, kami langsung masuk ke area candi. Yang lain naik sampai puncak, saya cukup di tingkat pertama, keburu males lihat keramaian pengunjung. Malah sibuk terpana melihat rombongan turis Buddhist asing yang sedang berdoa dengan khusuk.

Sampah. Sampah dimana-mana.

Manusia. Manusia dimana-mana (termasuk gue)

Penuhnya…

Turis Buddha yang khusyuk berdoa. Saya cuma berani mengambil foto dari jauh.

Ketika hari menjelang sore, pengunjung Candi Borobudur pun diminta keluar kecuali yang memegang kartu peserta. Saya dan teman-teman saya yang sudah memegang kartu peserta akhirnya berkumpul di halaman belakang pelataran candi. Kami tidak berminat untuk bergabung dengan peserta yang berkumpul di depan altar. Kalau saya pribadi sih, nggak ke area altar karena lensa kit saya yg cuma 18-55mm pasti nggak sanggup nangkep momen. Saya juga nggak berminat moto-moto ngotot gitu dengan merapat ke altar dan sejenisnya.

Sebagai gantinya saya mengincar untuk memotret ritual penyalaan lilin di area candi. Saya maju ke depan menghampiri panitia yang sudah siap dengan lilin-lilin kecil di dalam gelas. Salah satu panitia, mungkin melihat saya yang antusias ingin memotret, langsung mengajak saya berdiri di sebelahnya, “Ayo sini, Mbak. Kalau mau foto dari sini aja. Di sini spot yang paling bagus.”

Dupa dibakar untuk menyalakan lilin.

Setiap lilin tersebut ditulis dengan nama orang, orang-orang tersebut didoakan agar terus menjadi sumber cahaya bagi orang-orang di sekelilingnya. Itulah makna dari prosesi pembakaran lilin tersebut. Orang yang menyalakan lilin tersebut dipercaya mendapat dharma karena membantu mereka bersinar. Begitulah yang dijelaskan panitia kepada saya.

Kami menunggu cukup lama untuk menyalakan lilin tersebut, karena lilin harus dinyalakan berbarengan dengan dimulainya ibadah. Tapi seperti kalian tahu, acara ibadah terpaksa molor karena ada “bintang tamu” yang terlambat datang. Sambil menunggu, saya ngobrol dengan panitia yang rupanya berasal dari sebuah vihara di Jakarta Barat. Menurut cerita mereka, ritual Waisak di Borobudur memang biasanya seramai hari itu dan mereka tidak keberatan dengan kondisi tersebut.

Tiba-tiba saja ada cowok muncul di belakang kami, berdiri di area rumput yang seharusnya tidak boleh dilewati. Logikanya sih, harusnya dia tahu itu area yang gak boleh dilewatin, soalnya dibatasi dengan tali. Salah satu panitia tampak gusar, dia sempat negur “Eh, kok masuk-masuk ke situ, sih?”

Karena tampaknya si cowok ganteng tapi nggak tahu aturan itu nggak bisa denger teguran sang panitia, gue yang kebetulan hanya berjarak 1 meter mencoba menegur baik-baik, “Mas, nggak boleh nginjek area itu.” Reaksinya gimana? Dia cuma ngeliatin gue sedetik, abis itu lanjut foto-foto. Amit-amit.nBaek-baek budeg beneran lo.

Tapi itu nggak seberapa dibandingndengan yang terjadi di sekeliling saya. Para pengunjung Waisak banyak yang hanya mengenakan rok mini, hot pants, tank top, merokok, makan, buang sampah sembarangan. Banyak pula yang menbawa kardus dan koran untuk tempat duduk-duduk, tapi ketika hujan turun, mereka beranjak tanpa peduli untuk merapikan sampah-sampah kardus, koran dan bungkus makanan mereka.

Entah mereka bodoh atau apa. Padahal itu kan common sense. Memangnya kalian ngerokok dan pake tank top di mesjid dan gereja? Memangnya kalian buang kardus di depan altar atau mimbar rumah ibadah kalian? Mestinya kan itu hal yang nggak sulit untuk dimengerti dan dilakukan.

Ketika  akhirnya sang “bintang tamu” yang ditunggu datang, saya sempat mendengar orang-orang ber-huuuu ria, seakan sedang berada dalam pertunjukkan sirkus. Saat beliau berpidato pun suara sumbang “Huuuuu” kembali terdengar. Saya cuma bisa geleng-geleng. Karena ini pertama kali dalam hidup saya mendengar orang berseru seperti itu pada acara ibadah.

Saya saat itu sudah nggak peduli dengan sekeliling saya sebenarnya, karena pada akhirnya saya malah jadi bantuin panitia nyalain lilin. Karena hujan, prosesi penyalaan lilin terhambat karena lilin-lilin yang basah tersebut jadi sulit dinyalakan. Beberapa orang yang berniat memotret seperti saya pun akhirnya malah membantu menyalakan lilin, nggak jadi motret. Saya hanya sempat mengambil momen-momen awal ketika hujan masih berupa rintik.

Ketika lilin mulai dinyalakan

Hujan kemudian semakin deras, saya akhirnya menyerah dan mencari tempat berteduh untuk menyelamatkan kamera saya. Saya berteduh di bawah panggung, bagian belakang, bersama puluhan orang lainnya. Orang-orang mulai berguguran satu per satu, turun ke bawah, pulang. Salah satu pemuda Jogja sempat nyeletuk, “Iya, kalian pulang aja. Turun sana. Keliatan kan mana yang niat mana yang nggak.” Mungkin saja dia kesal melihat kelakuan para pengunjung yang seenak udelnya.

Saat hari sudah sangat larut, akhirnya panitia mengumumkan kalau acara pelepasan lentera dibatalkan. Sontak semua orang berteriak kecewa, terdengar protes di sana sini. Bahkan teman saya bercerita kalau dia sempat mendengar orang nyeletuk,”Acara apaan, sih, ini? Nggak seru banget!”.

Saya sendiri saat itu udah nggak sempat mikir apa-apa karena saya sedang terpisah dari teman-teman saya tanpa handphone dan uang, kelaparan, kedinginan, mengkhawatirkan kamera saya. Malah kepikiran umat Buddha yang sudah seharian susah-susah menjalankan ibadah, direcoki oleh orang-orang yang seenak udelnya buang sampah, memotret pakai blitz, dan naik-naik ke altar. Pembatalan prosesi pelepasan lampion tidak ada pengaruhnya sama sekali buat saya karena saya sudah malas melihat orang-orang yang seenaknya, selain itu momen penyalaan lilin sudah cukup berkesan untuk saya.

Ketika semua orang beranjak bubar

Ketika acara selesai, saya melihat ke altar, betapa mengejutkan ternyata pemandangan yang saya lihat adalah orang-orang yang sedang berebutan mengambil persembahan di altar. Saya nggak tahu, sih, apakah persembahan itu boleh diambil atau tidak. Ada yang bilang sebenarnya nggak boleh.

Pada akhirnya saya pulang dengan damai (walau ada sedikit drama), dianterin pak polisi sampai guest house (jangan tanya kenapa). Tapi juga saya merasa kasihan dengan umat Buddha yang harus terganggu dengan kelakuan para pengunjung yang seakan lupa bahwa Candi Borobudur dan Upacara Waisak adalah hal yang suci bagi umat Buddha. Apakah kita memang manusia yang serendah itu? Yang lupa menghargai hari raya agama umat lain? Yang lupa menghargai tempat sesakral Candi Borobudur.

Semoga pada upacara Waisak tahun berikutnya, para pengunjung bisa bersikap lebih santun dan menghargai mereka yang beribadah. Termasuk juga saya.

Berikut ini beberapa tips dari saya untuk orang-orang yang ingin berkunjung dan memotret acara Waisak di Candi Borobudur:

– Pakaian yang sopan, ingat itu acara ibadah. Jangan pakai tank top, hot pants, rok mini. Gue tahu tato lo keren, atau mungkin Borobudur panas, tapi tahu tempat lah.

– Nggak usah bawa kardus atau koran buat alas duduk, deh, kalo akhirnya cuma jadi sampah.

– Jangan ngerokok, jangan buang sampah sembarangan. Masih punya otak, kan? Pernah sekolah, kan? Saya rasa untuk hal seperti itu aja, tanpa membaca brosur peraturan, seharusnya kita sudah sadar diri.

– Kalo nggak perlu-perlu amat, nggak usah duduk di area berdoa. Utamakan para umat Buddha dahulu.

– Buat yang motret, jangan pake blitz, jangan kecentilan naik-naik altar. Tangkap momennya, bukan muka para Biksu. Intinya, jangan demi dapet foto bagus, kalian melanggar area-area yang ditutup, atau meluoakan sopan santun.

– Cuma datang ke Candi Borobudur nonton upacara Waisak nggak menaikkan kadar kekerenan elo di socmed. Percaya, deh. Kalo niatnya cuma kayak gitu, mending gak usah dateng. Hargai perjuangan para umat Buddha dan fotografer.

– Jangan ngeluh, jangan teriak-teriak, jangan protes di tempat. Nggak malu sama umat Buddha yang udah capek-capek harus ini itu untuk beribadah? Percuma dateng kalo cuma untuk ngeluh “panas”, “rame”, “lama”, “hujan”, atau “acaranya gak seru”.

– Bawa payung atau ponco untuk berlindung saat hujan.

Untuk tips lebih lengkap, kalian bisa googling kok. Banyak fotografer maupun sekedar pehobi foto yang udah share tips dan peraturan. Jangan malas cari tahu, ya,

Semoga tahun depan kita bisa jadi pengunjung yang lebih baik, ya!

Nanti, di postingan selanjutnya, saya akan membahas Ullen Sentalu dan alasan kenapa kalian wajib mengunjunginya kalau main ke Yogyakarta🙂

5 responses to “A note from Yogyakarta: Borobudur on Vesak Day

  1. ya gimana itu kan borobudur selain tempat ibadah, orang2 taunya ya tempat wisata, apalagi waisak sdh masuk even tahunan
    kalo mau ekstrim sih menurutku pas jam-jam perayaan harusnya borobudur ditutup total saja.

    dan ente selain ikutan bikin sesek area borobudur, gak bilang2 ke jogja dan ga ngajak2 lagi *eh:mrgreen:

    • Ah, mana mau lah pemda nutup ladang duit. Lumayan loh pengunjungnya om. Pemasukkan satu hari itu mungkin bisa senilai pemasukkan seminggu atau 2 minggu hari biasa.
      Aku bilang kayaknya deh, di twitter. Tapi aku lupa, sih, kekirim apa nggak. Soalnya koneksi di sana jelek. Hahahahha…

  2. mba cara dapetin kartu pesertanya gimana yah?
    setuju dengan mba, candi itu tempat ibadah dan ga seharusnya bersikap gak sopan… tengs mba tipsnya.. oia nanya penginapannya juga mba heheheheh makasih mba , mau nyoba tahun depan…

    • Kartu pesertanya bisa didapat di website Walubi, ngisi pendaftaran dulu gitu. step2nya coba dicek di sana, ya. Kalo soal penginapan, di belakang candi Ratu Boko ada banyak buanget guesthouse. Semuanya ada papan namanya dan deket2an. Kalau mau dateng ke situ, utamakan umat Buddha yang beribadah, ya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s