Jakarta Tanpa Sampah

Beberapa waktu lalu, saya dan teman-teman saya melancong ke Kepulauan Seribu, tepatnya Pulau Pramuka. Ini adalah pengalaman kedua saya main ke Kepulauan Seribu, namun pertama kalinya saya berangkat dari Pelabuhan Muara Angke.

Pelabuhan Muara Angke, sejujurnya tidak seperti perkiraan saya, kalau boleh jujur.

Pelabuhan Muara Angke

Pelabuhan Muara Angke
photo by me

Saya sampai di Muara Angke sekitar pukul enam pagi, kebetulan matahari baru muncul. Tanpa menyia-nyiakan momen, saya buru-buru mengeluarkan kamera dan menangkap gambar apapun yang bisa saya tangkap.

Sebenarnya, di luar suasana pelabuhan yang becek dan ramai, pemandangannya cukup indah, ya?

Pelabuhan Angke 2

Jejeran perahu
photo by me

Kapal-kapal berjejer rapih di dermaga, dengan siluet gedung-gedung perkantoran. Dengan air laut yang berwarna gelap namun masih sanggup memantulkan sinar matahari dan warna-warni perahu dengan indah.

Tapi jangan salah.

Pelabuhan Angke 4

Sampah dan bangkai kapal
photo by me

Ini adalah pemandangan Pelabuhan Muara Angke yang sebenarnya. Dimana-mana terdapat sampah dan bangkai kapal yang tak terurus. Bau amis sampah busuk menyeruak ke dalam hidung begitu kita menginjak lokasi. Bisa dibilang, hampir semua sudut Pelabuhan Muara Angke dipenuhi oleh sampah. Sungguh pemandangan yang miris.

Tapi, kalau boleh jujur, sampah adalah pemandangan yang lazim di kota maha megah ini. Mulai dari depan rumah, jalan raya, tempat tongkrongan, hingga pinggir laut. Entah kenapa, pemandangan di Muara Angke ini yang paling bikin saya miris.

Tahukah kamu bahwa volume sampah di Jakarta saja, bisa mencapai 4 kali lapangan bola? Mengejutkan? Bisa dibayangkan itu seluas apa? Bayangkan lagi jika dalam sebulan. berarti 120 kali lapangan bola. Kira-kira berapa luas berapa kecamatan, ya? Saya nggak berani membayangkannya.

Kalau kita tidak melakukan apa-apa dari sekarang, Jakarta akan tenggelam karena sampah. Masa kalian nggak ingin Jakarta yang bersih dan bebas sampah?

Bukannya kita nggak bisa melakukan apa-apa untuk mencegah ini. Justru banyak hal yang bisa kita lakukan. Pemda DKI Jakarta, saya lihat sudah mulai bergerak untuk mencegah Jakarta berubah menjadi kota sampah. Misalnya dengan mengadakan pembersihan sungai-sungai di Jakarta yang dibantu oleh TNI.

Tapi itu saja tidak cukup. Kita juga harus ikut berpartisipasi untuk mewujudkan Jakarta tanpa sampah. Nggak perlu muluk-muluk, kita bisa mulai dari hal kecil, yaitu dengan membiasakan diri membuang sampah pada tempatnya.

Kalian suka nongkrong di convenient store 24 jam sambil minum cola dan makan snack pake saus keju? Atau sering makan fast food? Apa yang kalian lakukan pada sampah bekas makanan dan minum kalian? Ditinggal begitu saja di atas meja? Berharap akan dibersihkan oleh pengunjung setelah kalian, atau pelayan tempat tersebut? Egois sekali😀

Kenyataannya, sampah yang kalian tinggalkan, biasanya dibuang begitu saja ke lantai oleh pengunjung berikutnya. Pramusaji tidak selalu bisa mengontrol sampah yang kalian letakkan begitu saja. Mereka sibuk, Bray! Coba mulai sekarang, setiap nongkrong atau makan di fast food, jangan lupa buang sampah di tempatnya. Tempat-tempat seperti itu biasanya sudah menyediakan tong sampah berukuran besar di sudut-sudut strategis.

Bagaimana kalau sedang di lokasi yang nggak ada tempat sampah, seperti di angkutan umum misalnya? Selalu simpan sampah kalian di dalam tas, atau pegang. Nanti bisa dibuang ketika sampai rumah untuk membuang sampahnya. Sekali lagi, jangan egois. Kasian penumpang angkutan umum yang sudah harus mencium bau keringat orang lain, knalpot, dan kepanasan, eh, masih ditambah dengan sampah.

Begitupun sungai atau kali. Tolong dicatat, sungai atau kali, bukan tempat sampah. Sungai, bermuara ke laut. Sampah yang kalian buang, akan terbawa arus sungai, dan terseret ke laut. Jadinya apa? Pelabuhan yang penuh sampah, dan air laut yang tercemar. Selain itu, bisa saja sampahnya terkumpul, kemudian menghambat arus sungai, jadilah banjir. Seperti sudah saya bilang, jangan egois. Mungkin mentang-mentang daerahmu nggak kebanjiran, tapi di tempat lain, ada yang harus mengungsi setiap kali hujan turun. Karena sampah yang kamu buang sembarangan.

Logikanya gini. Bayangkan jika saya tiba-tiba datang ke rumahmu, kemudian membuang satu gerobak sampah di ruang tamu rumahmu? Pasti kamu marah, kan? Rumahmu jadi kotor dan bau, dan kamu berpikir saya nggak punya hak untuk buang sampah sembarangan di rumahmu. Sama. Kamu juga nggak punya hak untuk buang sampah di manapun, kecuali di tempat yang sudah ditentukan.

Sungai, bukan tong sampah. Trotoar, bukan tong sampah. Jalan tol, angkutan umum, convenient store, itu bukan rumahmu, bukan tong sampah. Kamu sama sekali nggak berhak membuang sampah milikmu di sana. Bayangkan jika puluhan juta orang di Jakarta memiliki pikiran seperti itu, bahwa Jakarta bukan tempat sampah mereka sendiri.

Nggak akan ada lagi tuh, yang namanya banjir karena sungai terblok oleh sampah. Atau makan di pinggir jalan sambil mencium aroma sampah. Atau naik angkutan umum sambil berkutat dengan sampah. Kita bisa melihat trotoar dan taman kota yang bersih, udara yang segar, kali yang jernih. Masa kalian nggak ingin melihat Jakarta seperti itu?

Kalian bisa juga berpartisipasi dalam kampanye “Yuk Buang Sampah pada Tempatnya” yang digalakkan oleh Teach for Indonesia. Selain untuk membantu membangun kesadaran tentang pentingnya membuang sampah pada tempatnya, kalian juga bisa ikutan membantu menyebarkan kampanye dan mengajak orang lain mengikuti kebiasaan baik ini.

Karena hal besar, bisa dimulai dari hal kecil. Yang penting niat, dan konsisten. Plus, menyebarkan kebiasaan baik, agar semakin banyak orang yang sadar dan membiasakan diri untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Ingin Jakarta tanpa sampah? Makanya, yuk buang sampah pada tempatnya😀

Ayo ikutan kompetisi Yuk Buang Sampah pada Tempatnya!

8 responses to “Jakarta Tanpa Sampah

  1. Duh serem banget ya Kak Lea kalau dibayangin >_<

    Daku selalu berusaha untuk buang sampah pada tempatnya dan kalau gak ada tempat sampah pasti dimasukin tas dulu. Semoga banyak yang makin sadar dengan kampanye ini ya🙂

    • Iya kak dims. Banyak yg pake mobil mewah jg tp masih buang sampah sembarangan. Barusan hr ini liat org buang sampah dr mobil, nasi kotak ama sekotak-kotaknya😐

  2. sebenarnya kalau setiap orang sadar pasti ga akan separah ini jadinya. benar kata sarah sechan. bagian mana sih yang sulit dimengerti dari ‘buanglah sampah pada tempatnya’?

    bagian sulitnya adalah menanamkan kesadaran…

  3. Miris sekali melihat pelabuhan banyak sampah kayak gitu pasti baunya menyengat sekali. Kalau sampah plastik itu nggak bisa terurai/hancur.
    btw avatarnya kak lea ganti,ya? itu rambut di cat/warna merah apa pake wig, serasi dengan warna bibir?
    hihihi keren euyy..😀

  4. (Sebenarnya) Jakarta tanpa sampah bukan impian. Kunci nya sih ada di masyarakat. Contoh kecilnya, Pola hidup yang terbiasa membuang sampah sembarangan. Hal sepele itu saja susah sekali di hilangkan..

    Yaa semoga saja kedepannya lebih baik. Tentunya harus di mulai dari kita sendiri ^^

  5. Wah ngeri juga ya kalau jakarta jadi lautan sampah, jangan sampai deh. Mari sama-sama tanamkan rasa tanggung jawab akan kebersihan lingkungan kita masing-masing, di mulai dari diri kita sendiri. Khusus untuk ibukota Jakarta, semoga masyarakatnya berubah mempunyai kesadaran atas kebersihan lingkungannya, kesian kan Pak Jokowi dan bapak TNI yang terus mengeruk sampah di sungai-sungai, Kini kalian sudah punya pemimpin yang peduli dengan lingkungan, ayo dukung donk, jadikan Jakarta kota paling bersersih sedunia, why not ?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s