Kebodohan 1: Tugas Menulis Sambung

Saya ini memang butuh banget motivasi buat ngeblog. Blog saya isinya sarang laba-laba semua. Untungnya kemarin ini Zia ngumumin tentang lomba posting #30HariCeritaKebodohanMasaKecil. Saya nggak peduli hadiahnya, saya cuma pengen ikutan postingnya aja.

Waktu kecil, saya termasuk anak hiperaktif dan caper, bahkan saya sempat divonis mengidap autis oleh Guru TK saya. Menyedihkan sekali bukan? Kalau diingat-ingat, saya rasa wajar guru saya, Ibu Muji, mengira saya autis.

Saat masih TK dulu, ketika murid lain sibuk belajar dan menggambar, saya dengan pedenya malah keluar kelas. Main ayunan. Saya juga nggak gitu inget, kenapa saya pede banget keluar main saat jam pelajaran. Pokoknya saya mikirnya, kalau tugas saya selesai, saya boleh main. Titik.

Dulu saya pikir Bu Muji ngebiarin saya karena saya murid kesayangan. Belakangan saya tahu kalau ternyata justru saya murid yang paling dia sebelin (-_____-)

Sebagai murid TK yang diduga autis, saya paling benci pelajaran menulis indah. Saya nggak punya kesabaran untuk bikin tulisan menyambung-nyambung di buku garis tiga. Lebih enak menggambar atau olah raga.

Suatu hari Bu Muji dengan teganya menyuruh kami, murid TK yang baru berusia 4-5 tahun untuk menulis sambung sebanyak dua halaman. Kedengerannya biasa aja? Gila aja. Buat anak seumuran itu, yang megang pensil masih kagok, menulis sambung sebanyak dua halaman itu semacam siksaan lahir batin. Sebagai bocah hiperaktif, rasanya duduk dan menulis sebanyak itu tanpa ngobrol maupun bergerak, seperti disuruh bikin rumus kimia cara bikin emas dari batu bata.

Di depan papan tulis, saya menganalisa perintah Bu Muji yang tertera di sana, kira-kira bunyinya seperti “Tulislah kalimat bla bla bla sebanyak 2 halaman”. Saat yang lain nulis, saya malah sibuk muter otak, gimana caranya biar cepat selesai.

Pada akhirnya sih saya emang mulai nulis, tapi sedikit-sedikit saya ngobrol, gangguin murid lain, becanda. Ditegur berkali-kali nggak ngaruh. Saya balik nulis lagi, abis itu keliling kelas lagi, ngobrol dan entah ngapain saya lupa. Dan akhirnya ketika murid lain sudah mau selesai, saya baru membuat satu halaman.

Panik, saya pun buru-buru melanjutkan. Dalam pikiran saya, ah terserah hasilnya seperti apa, yang penting dua halaman.

Akhirnya saya berhasil selesai dan turut mengumpulkan tugas saya. Dengan terburu-buru saya berlari ke depan kelas, dan karena saya murid terakhir, buku saya pun diletakkan di tumpukkan paling atas. Dengan pandangan curiga, Bu Muji langsung mengambil buku saya.

Buat saya waktu itu, yang penting saya selesai. Dengan pedenya saya balik ke meja. Belum juga pantat saya nyentuh kursi, tiba-tiba Bu Muji berteriak, “ONIE! INI APA?”

Dengan polos, saya malah menghampiri dan menjawabnya, tanpa tahu bahaya yang mengancam saya, “Kenapa. Bu?”

Wajah Bu Muji murka sekali. “Ini apa yang kamu kerjain??? Kenapa kayak gini?!”

“Loh, Bu… kan kata Ibu dua halaman. Itu kan bener aku bikinnya dua halaman.” Jawab saya dengan polos.

“IYA! TAPI BUKAN KAYAK GINI!” Bu Muji berdiri dan memperlihatkan tulisan saya ke depan kelas. Kemudian buku saya dibuang ke lantai, dan teman-teman menertawai saya. Rasanya malu banget. Saya disuruh nulis ulang (-______-)

Pembelaan saya, kan Bu Muji cuma nyuruh nulis dua halaman, nggak ada keterangan lain. Jadi mestinya saya nggak salah. Beneran dua halaman penuh, kok. Sayangnya saya nggak nyimpen tulisan yang dipermasalahkan itu. Jadi saya kasi liat contohnya aja. Kira-kira tulisan yang saya buat seperti di bawah ini lah.

Huruf Sambung

See? Sehalaman penuh kan? Heran juga kena Bu Muji segitu murkanya. Ckckck…

4 responses to “Kebodohan 1: Tugas Menulis Sambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s