Tahun Baru dan Ritual Basa Basi

Apa ritual malam tahun baru kalian? Kumpul bersama keluarga besar? Clubbing dengan sahabat? Jalan-jalan ke luar kota bersama teman-teman?

Keluarga saya sendiri punya ritual yang hampir tidak pernah dilewatkan sepanjang ingatan saya, yaitu berkumpul dan berdoa bersama lima menit sebelum pergantian tahun. Kemudian diikuti diskusi resolusi dan napak tilas tahun sebelumnya. Well, pada dasarnya saya mengingatnya sebagai judgement day, hari dimana ayah saya memberi omelan tentang kenakalan kami. Karena itu lah, saya sangat membenci malam tahun baru.

Dulu, saat saya kecil, sebenarnya cukup menyenangkan. Karena biasanya saudara-saudara saya yang seumuran akan datang dan menginap. Diam-diam mengambil gelas-gelas berisi wisky cola yang sebenarnya disiapkan oleh ayah saya untuk saudara dan tamu yang lebih tua. Menonton TV sambil ngobrol, main kartu atau monopoli, kadang berkeliling komplek menggunakan sepeda, kemudian main kembang api.

Beranjak remaja, saudara-saudara seumuran saya sudah tidak pernah datang lagi. Saya menyimpulkan itu karena ayah saya sudah tidak semapan dahulu, dan saudara sepupu saya sebaliknya sudah mulai mapan. Tentu mereka lebih memilih berlibur bersama teman-temannya daripada ngedeprok di rumah saya yang sederhana.

Tapi saya masih punya teman-teman komplek, sahabat saya sejak masih piyik. Biasanya kami akan berkumpul di pos karang taruna atau rumah salah satu dari mereka. Menyiapkan ayam dan sosis untuk dibakar, dan bir beserta vodka murah meriah dan anggur merah kemudian makan dan minum sampai setidaknya pukul 4 subuh.

Pada akhirnya ritual ini lama-lama menghilang ketika satu per satu dari mereka menikah atau pindah rumah. Mulanya satu orang yang menikah, dan saat malam tahun baru, pukul 9 malam ia sudah ditelpon istrinya. Diomelin, disuruh pulang. Biasanya kami akan mengejek dan menertawakan teman kami yang malang itu. Tapi akhirnya kami mulai menghilang satu per satu. Mereka semua pada akhirnya menikah dan disuruh pulang cepat oleh istrinya.

Pada akhirnya, tinggal lah saya dengan ritual tahunan keluarga. Karena teman-teman saya yang lain, teman kampus, rumahnya terlalu jauh. Saya tidak bisa lagi kabur keluar setelah ritual doa tutup tahun. Makanya saya sebal dengan tahun baru. Saya sebal karena tidak pernah bisa merasakan tahun baru bersama sahabat di luar kota. Saya sebal dengan saudara-saudara saya yang tidak pernah nongol lagi di rumah karena ayah saya tidak sanggup lagi menyediakan wisky cola, dunkin donut edisi spesial natal, dan angpaw.

Tapi entah kenapa, buat saya tahun ini berbeda. Saya tidak sebal dengan ritual tahun baru keluarga ini. Sedikit banyak, keluarga saya juga memang berubah karena berbagai macam hal yang terjadi beberapa tahun belakangan ini.

Tahun ini malah saya sedikit banyak bersyukur karena masih bsia berkumpul bersama keluarga. Ayah dan Ibu saya masih sehat. Adik-adik saya tidak berubah menjadi anak kurang ajar yang menghilang dari keluarga karena sibuk bergaul dan berpesta. Dan setelah berbagai hal terjadi pada keluarga kecil ini, ternyata, kami masih ada. Kami masih berkumpul dalam keadaan sehat dan gembira. Dan kami lebih dekat dan lebih saling mengerti dibandingkan dahulu.

Keluarga, adalah segelintir orang yang menerima kamu apa adanya, jelek, buruk- baik, sukses – miskin, sakit dan sehat. Di antara keluarga, saya tidak perlu berpura-pura senang, berpura-pura manis, atau berlagak tertarik pada topik yang mereka bicarakan. Yah, tentu saja saya tetap harus berlaku sopan, nggak bisa ngomong “anjing-babi-titit” di depan orang tua. Tapi setidaknya saya tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain.

Ritual tahun baru yang menyebalkan ini, tahun ini terasa berbeda. Bukan ritual yang saya benci. Saya malah tersenyum mendengar ayah saya mengomel tentang berbagai hal, yang lalu kami komentari dengan candaan, ngeles ke sana sini, dan dibalas dengan geleng kepala ayah saya – yang gagal dalam berusaha menyembunyikan tawa. Di antara obrolan kami, saya baru sadar, betapa keluarga saya telah melalui banyak hal, dan ini mendekatkan kami. Saya bahagia, masih memiliki rumah dan keluarga yang menyayangi saya.

Bagaimana ritual tahun baru kalian? Jangan lupa mengucapkan selamat tahun baru dan menyatakan sayang pada keluarga. Karena pada akhirnya, di dunia ini, hanya mereka lah yang kalian punya.

Happy New Year 2014🙂

5 responses to “Tahun Baru dan Ritual Basa Basi

  1. kalo gue le, biasa… di kosan.. browsing sana sini sambil nonton tipi.. hahaaaa

    entah kenapa engga pernah suka dengan perayaan tahun baru.. :’D

  2. ritual saya sedikit berbeda dengan yg lain setiap tahun saya selalu tidur jam 9 malam dimalam tahun agar bisa bangun lari pagi diawal tahun baru, dan selama berlari itu saya mereview apa yag telah saya kerjakan tahun kemaren dan apa yang akan di capai di tahun ini🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s