Kebodohan 3: Ranger Pink

Saya punya sodara sepupu, namanya Ros. Ros ini tinggal di rumah saya bersama Opa dan Oma kami. Orang tuanya kala itu tinggal di Ambon.

Ros punya teman dekat, namanya sebut saja Ani. Ani punya adik laki-laki, sebut saja Budi. Selain main dengan geng anak komplek, saya juga sering main bersama Ros, Ani, dan Budi.

Permainan kesukaan kami adalah Power Ranger, dan Sailor Moon. Maksudnya kami berpura-pura menjadi karakter dalam film dan kartun tersebut, dan bersama bertarung melawan musuh khayalan.

Budi, sebagai satu-satunya anak laki, memiliki tokoh favorit yang selalu diperankan. Dalam role playing game Sailor Moon, biasanya saya memilih jadi Sailor Jupiter, Ros menjadi sailor Mercuri, dan Ani menjadi Sailor Venus. Budi selalu memilih menjadi Sailor Mars, walau sebenernya, mungkin tokoh favoritnya adalah Sailor Venus. Tapi sebagai adik, Budi harus mengalah sama kakaknya, Ani.

Kadang-kadang Budi kami paksa jadi Tuxedo Bertopeng. Entah kenapa, Budi enggan mengambil karakter laki-laki.

Keanehan lainnya adalah saat kami bermain Power Ranger. Tokoh perempuannya hanya ada dua, sementara anak perempuan ada tiga. Kami selalu memperebutkan peran Trini dan Kimberly, Ranger Kuning dan Ranger Pink. Biasanya kami mengalah dan bergantian memilih peran. Misalnya hari ini saya jadi Trini, besok saya jadi Tom, ranger putih. Siapa yang menjadi Ranger Pink? Budi. Budi tidak pernah mau memerankan karakter lain, selain Ranger Pink. Kalau kami tidak memberinya jatah Ranger Pink, dia bakal ngambek dan gak mau ikutan main.

Bagi saya yang masih kecil, Budi sebenernya cukup ganteng. Putih, wajah oriental, dengan poni ala Jimmy Lin. Waktu SD saya ngefans banget sama Jimmy Lin. Tapi saya juga sebel sama Budi, karena dia nggak pernah mau menyerahkan peran Ranger Pink pada kami.

Selain itu, kalau kita main jadi keluarga, Budi selalu memilih jadi ibu atau anak perempuan centil yang suka melawan ibunya. Saat jadi Ibu, dia akan berlagak seperti ibu rumah tangga yang dewasa, bijak, dan care sama anaknya. Saat jadi anak perempuan, dia akan jadi sosok anak perempuan yang suka melawan ibunya. Ani, sang kakak, biasanya kena jatah jadi bapak. Saya sendiri? Biasanya kebagian jadi anak laki yang bandel, atau anak perempuan yang ditindas kakaknya.

Bagi saya, sebetulnya tidak ada yang aneh dari Budi, selain kelakuan menyebalkannya yang selalu ngotot jadi Ranger Pink. Bagi anak perempuan seumur saya, Ranger Pink adalah karakter yang paling keren dan paling cakep. Semua cewek ingin jadi Ranger Pink. Ini kenapa malah kami harus ngalah sama seorang anak cowok?

Suatu malam, saya dan Ros belajar bersama di rumah Ani. Setelah selesai belajar, kami pun bermain. Dan seperti biasanya, yang kami mainkan adalah Power Ranger. Seperti biasanya lagi, sebelum main, kami ribut berbagi peran. Saat itu saya ingin menjadi Ranger Pink.

Budi mengancam nggak akan ikut main kalau bukan jadi Ranger Pink. Saya memang udah niat ngalah sebenernya, tapi muncul rasa penasaran dalam diri saya. Akhirnya saya malah melontarkan pertanyaan yang membuat saya nyesel seumur hidup.

Ketika Budi ngotot ingin main jadi Ranger Pink, saya menatap Budi bingung. Saya memperhatikan cara ngomongnya yang kemayu, gerak badannya yang feminim. Saya akhirnya menemukan alasan kenapa dia senang jadi Ranger Pink. Kemudian tanpa berpikir, saya nanya, “Budi… kamu banci, ya?”

Bagi saya yang masih kecil, banci hanyalah sebuah kata yang ditujukan pada lelaki feminim. Bukan sebagai hinaan, tapi ya… hanya deskripsi. Saya nggak tahu apakah kata itu negatif atau tidak. Saya hanya pernah dengar kata tersebut, tanpa tahu apakah itu menghina atau pujian.

Tanpa peringatan, tiba-tiba wajah saya ditampar oleh Budi. Kemudian, seperti salah satu adegan sinetron kesukaan saya waktu itu, Noktah Merah Perkawinan, Budi berbalik badan sambil mengibaskan rambutnya, tepatnya, poni ala Jimmy Lin-nya. Menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis a la sinetron, dan berlari ke dalam. Kemudian yang saya dengar hanya suara pintu kamar dibanting.

Ani menatap ke arah saya, begitu juga Ros, dan saya hanya bisa bengong bego. Nggak ngerti apa yang salah dengan kata-kata saya. Ani berusia setahun lebih tua dari saya, dan untuk ukuran anak kelas 5 SD (saya kelas 4), ia termasuk dewasa. Dengan sabar ia menjelaskan kalau saya nggak boleh bilang seorang lelaki itu banci. Itu nggak baik. Dan katanya lagi, Budi itu bukan banci, dia cuma agak ke-perempuan-an karena lebih sering main sama anak cewek.

Saya, tentu saja, tetap bingung. Apa yang salah dengan kata banci? Dan apa yang salah dengan menjadi banci? Buat saya, banci hanya sebuah kata untuk seorang anak laki yang seperti perempuan, dan buat saya nggak ada yang salah dengan menjadi anak lelaki yang feminim. Orang tua saya nggak pernah mengajari tentang banci atau homosexual. Butuh waktu yang lama untuk saya akhirnya tahu, bahwa bagi sebagian orang, “banci” memiliki makna yang negatif.

Setelah dijelaskan oleh Ani, akhirnya saya mencoba berbaikan dengan Budi. Awalnya dia nggak mau, menolak membuka pintu kamar. Kami harus merayunya sampai bego. Setelah dia keluar kamar, kami mengijinkan dia main jadi Ranger Pink. Sejak saat itu, nggak pernah ada yang protes dan menuntuk main jadi Kimberly.

Sampai sekarang saya masih menganggap tidak ada yang salah dengan menjadi banci. Tapi sejak saat itu, saya belajar, sebaiknya kamu hati-hati sama banci. Kenapa? Karena banci memiliki perasaan yang sama sensitifnya dengan perempuan pada umumnya, tapi tenaganya tetap tenaga laki-laki. Lumayan juga ditampar sama dia.

Selain itu, hati-hati kalo ngomong. Apa yang menurut kita biasa, bisa jadi nyakitin buat orang lain.

Sayangnya, sampai sekarang mulut saya masih lebih cepet nyeletuk sebelum otak saya memproses. Tapi yang penting, pada akhirnya saya baikan sama Budi dan berjanji nggak akan bilang dia banci lagi.

4 responses to “Kebodohan 3: Ranger Pink

  1. Gue mau ikutan #30HariCeritaKebodohanMasaKecil boleh ya?!

    Budi gampang “tersinggung” dengan perkataan kak lea waktu masa kecil.. hahaha :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s