Jeritan Anak Anjing

Sebagai orang Batak, sejak dini saya sudah diajak setiap ada arisan keluarga Batak. Kadang di rumah Namboru A, kadang Opung B, kadang Amangboru C. Dan saat berkunjung untuk arisan keluarga, saya yang masih kecil, selalu berdandan manis. Menggunakan dress dengan rok yang megar, kaus kaki dengan aksen renda, dan sepatu perempuan kecil hitam dengan tali kulit di bagian pergelangan.

Pada dasarnya, sebagai anak kecil, saya dan saudara-saudara sepupu yang lain biasanya selalu berkumpul dan bermain sementara para orang dewasa ngedeprok arisan dan ngomongin saudara yang nggak hadir di situ. Saya sih, asik-asik saja. Anak-anak biasanya main petak umpet, atau tak jongkok. Sukur-sukur kalau di sekitar rumah yang ketempatan ada lapangan, kita bisa main gobak sodor.

Namun hari itu agak berbeda. Saya nggak mau main dengan yang lain. Karena apa? Namboru yang rumahnya ketempatan arisan saat itu, baru saja mendapatkan 3 ekor anak anjing yang lucu dan imut. Mereka memang memelihara anjing di rumahnya, dan ketiga anak anjing itu mbrojol sekitar semingguan. Lucu, imut, menggemaskan.

Saya memang sejak kecil sangat suka binatang. Dari masih balita aja, saya sudah terbiasa hidup dengan binatang peliharaan ayah saya. Mulai dari burung kakak tua, monyet, kura-kura, anjing, hingga nuri. Makanya kalau melihat anak anjing, saya cenderung terobsesi.

Anak lain hanya main sebentar lucu-lucuan, kemudian bosan dan gantian bermain dengan teman-teman yang lain, entah tak umpet atau tak jongkok. Saya malah pergi ke halaman dan meraup ketiga anak anjing tersebut, kemudian memeluknya dengan penuh sayang.

Sambil duduk-duduk di halaman, saya membiarkan anjing-anjing kecil nan lucu itu tidur di pangkuan saya, saya jadikan rok megar kesayangan saya sebagai alas tidurnya. Ya soalnya tangan saya nggak muat mengangkat semuanya, maka saya jadikan rok saya sebagai semacam gendongan untuk mereka. Kolor saya keliatan, dong? Nggak lah. Kebetulan dress kesayangan saya itu tipenya yang roknya berlapis-lapis. Jadi di dalemnya ada rok lagi.

Mungkin karena saya nggak bisa diem, akhirnya mereka terbangun. Saya langsung mengelus-elus kepala mereka dan bermain dengan mereka. Tanpa sekalipun ada niat menurunkan ketiganya. Induk mereka pun kayaknya nggak keberatan, karena dia cuek aja.

Pokoknya, rasanya saat itu saya jadi anak kecil yang paling bahagia. Bermain dengan anak-anak anjing yang manja dan gak bisa diem.

Beberapa menit kemudian, anak-anak anjing tersebut tiba-tiba gelisah. Sebenernya salah satu doank. Tapi karena yang satu nggak bisa diem, semuanya juga jadi ribut. Kayak anak bayi minta makan gitu loh. Tapi pas saya mau balikin ke emaknya, eh, emaknya nggak ada.

Lagi-lagi, karena naluri keibuan saya, saya malah berdiri dan menggendong mereka, masih menggunakan rok kesayangan saya. Teringat bagaimana Ibu saya suka menggendong dan mengayun-ayunkan adik saya yang masih bayi, saya pun melakukan hal yang sama. Berharap mereka bisa menjadi tenang.

Bukannya tenang, salah satu anak anjing tersebut malah menjerit-jerit. Saya tambah panik. Malah jadi nambah goyang sambil bilang “Cup cup cup. Kamu kenapa?” Padahal nggak ngerti juga kali anjingnya.

Semakin lama, mereka semakin gelisah, bahkan salah satu dari mereka nyaris loncat ke tanah. Panik, saya malah meluk mereka erat-erat dan menyanyikan lagu Nina Bobo. Entah apa ngaruhnya, tapi waktu itu saya mikirnya, kali aja bayi-bayi anjing ini sama kayak adik saya yang masih bayi. Dinyanyiin jadi tenang.

Yang ada malah makin jerit.

Karena putus asa, akhirnya saya memeluk mereka bertiga dengan tangan saya yang kewalahan. Saya peluk dengan sayang, padahal mungkin efeknya malah bikin tambah gerah atau sesak napas. Harap diingat, saat itu mungkin saya baru berumur 6 tahun.

Alhasil mereka pun makin jerit dan berusaha meronta. Dan saya benar-benar nyerah. Sambil masih menggendong mereka, saya masuk ke dalam teras rumah dan menurunkan mereka. Kemudian,tiba-tiba saya nangis.

Saya masuk ke dalam rumah lewat dapur dan menangis. Di dapur sedang ada tante-tante saya yang sibuk mencuci piring dan merapikan dapur. Mereka langsung menengok. Dan menjerit.

“YA AMPUN ONIE!!! ITU BAJU KAU KENAPA?!”

Rok kesayangan saya, dress dengan rok megar dan berlayer-layer, berwarna putih bersih seperti gaun pengantin, sudah berubah menjadi warna coklat. Penuh mencret anjing. Saya menangis putus asa melihat baju tuan putri milik saya penuh mencret.

Dimarahin tante-tante dan ibu saya, gak ada apa-apanya dibandingin pedihnya hati karena dress saya yang putih berubah jadi coklat. Rasanya sebel banget sama anak anjing itu, saya baru sadar bahwa mereka njerit bukan karena laper, tapi karena pengen boker.

Pas saya peluk, bukannya nenangin mereka, ternyata bikin perut mereka mejret. Sayang, saya ga tahu siapa pelakunya di antara ketiga anak anjing tersebut. Tapi seenggaknya saya belajar; jangan seenaknya meluk anak anjing. Jangan. Karena mereka masih belum bisa bedain antara toilet umum dan dress bagus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s