Nggantung

Di area rumah gue, teman cewek gue tuh cuma dikit. Yang lainnya cowok semua. Gue punya 2 teman cewek, yang satu sodara gue, namanya Ros. Satu lagi anak tetangga, namanya Dinta.

Rumah Dinta ini hanya berjarak 6 rumah dari tempat saya. Modelnya tingkat dua dengan balkon di atas, dan pagar tinggi berwarna putih. Di sebelahnya rumah Dinta, ada rumah kosong dengan pagar yang lebih rendah dan mudah dipanjat, tapi harus hati-hati, karena ujungnya dibuat runcing untuk mencegah maling manjat ke situ.

Suatu hari, saya dan Ros hendak main ke rumah Dinta. Dipanggil-panggil, anaknya nggak nongol. Setelah pegal, tiba-tiba dia nongol dari atas balkon. Ternyata di rumah Dinta lagi nggak ada orang, dan dia dikunci di dalem biar nggak keluyuran kemana-mana.

Sebagai teman yang baik, kami nggak mau meninggalkan Dinta sendirian. Kebetulan saya dan Ros punya reputasi yang bagus dalam memanjat pohon di RT kami. Akhirnya kami memilih untuk memanjat ke atas.

Kami merayap dari pagar kosong di sebelah rumah Dinta. Ini bener-bener penuh tantangan. Harap diingat ujung pagarnya runcing. Perlahan kami menjejakkan kaki kami pada pagar tersebut, lalu memanjat setinggi mungkin, dan meloncat ke tembok teras rumah Dinta. Kami berdiri di atas tembok, dan meraih atap rumahnya, kemudian mengangkat tubuh kami untuk naik ke genteng. Setelah itu semuanya mudah, kami hanya perlu hati-hati berjingkat sampai balkon rumah.

Hanya butuh beberapa menit, kami sampai di balkon dan bermain bertiga dengan Dinta. Mulai dari main Barbie, hingga ngerumpi. Entah yang kami rumpiin apa. Ketika hari menjelang sore, kami memutuskan pulang. Soalnya batas waktu jam main saya hanya sampai maghrib. Kalau lebih itu, biasanya saya bakal diteriakkin sama Mbak Asisten Rumah Tangga, kemudian diadukan ke ayah saya, kemudian kaki saya bakal dipukul pake rotan.

Ros, sepupu saya, turun duluan ke bawah setelah merayap, meloncat, dan memanjat dengan hati-hati. Diikuti saya di belakangnya. Tapi, ternyata memanjat turun lebih susah daripada naik ke atas. Pertama, saat turun dari genteng ke tembok teras, kami harus meloncat. Kedua, dari tembok ke pagar tetangga, ternyata lebih seram karena harus hati-hati dengan ujung pagarnya.

Melihat Ros bisa sukses turun ke jalan, saya pun berpikir kalau Ros bisa, berarti gampang. Dengan hati-hati saya merayap turun dan meloncat ke tembok. Namun saat hendak meloncat ke pagar, ternyata agak sulit. Karena kaki saya nggak sampai untuk mencari pijakan.

Saya putuskan, saya harus agak meloncat. Kemudian saya ambil ancang-ancang, dan HUP! Loncatan saya melencenga. Saya terjun bebas dari ketinggian 2 atau 3 meter. Saya berteriak dan menutup mata. Jeritan Ros terdengar, dan saya berpikir nelangsa, mungkin suara itu yang bakal terakhir saya dengar di akhir hidup ini.

Kemudian hening.

Saya merasakan sakit di badan saya. Nyeri di bagian kaki dan punggung. Kemudian saya membuka mata. Loh, tanah tepat berada di bawah kaki saya, tapi kaki dan badan saya melayang di atasnya.

Butuh 3 detik untuk otak saya memproses.

Ternyata saya sukses nyangkut di pagar.

Jadi, bukannya jatuh ke tanah, celana saya, celana pendek jeans milik saya, tersangkut di ujung pagar yang runcing. Membuat saya terjebak dalam posisi memalukan. Pantat nungging, badan terlipat ke bawah, tergantung dan nggak bisa ngapa-ngapain, sekitar 1 meteran di atas tanah.

Saya berusaha mengangkat kepala, menatap Ros panik. Minta tolong. Ros pun nggak bisa ngangkat saya, karena pagarnya terlalu tinggi dan posisi saya sulit bergerak.

Dengan panik akhirnya Ros teriak minta tolong, dan tak lama kemudian kami dihampir bapak-bapak tetangga. Kemudian apa yang terjadi? Bukannya nolongin langsung, MEREKA MALAH KETAWA, DONK! Jadilah saya, dengan posisi pantat nungging dan ngegantung di pagar, sesenggukan sambil diketawain bapak-bapak. Saya nggak inget berapa lama mereka ngetawain saya, buat saya pokoknya itu lama banget.

Setelah puas ketawa baru mereka mengangkat tubuh saya, berusaha melepaskan celana saya, yang ternyata bolong gede banget karena tertembus ujung pagar, sambil masih tetap ngetawain saya.

Kejadian ini tentu saja sampai ke telinga ayah saya dan orang tuanya Dinta. Saya resmi dihukum dan mendapat perintah untuk tidak boleh memanjat pagar siapapun, kapanpun. Saya sih, nggak masalah. Siapa coba yang mau kegantung nungging di pagar sambil diketawain tetangga untuk kedua kali?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s