Orok Mabok

Ini sebenernya cerita saya waktu masih bayi dulu, belakangan diceritakan oleh ayah dan ibu saya ketika saya sudah dewasa. Saya nggak habis pikir dengan kelakuan orang tua saya, tapi sepertinya lucu juga untuk diceritakan.

Waktu itu saya masih berusia beberapa bulan, masih dibedong. Orang tua saya membawa saya ke rumah (almarhum) Opung saya di Medan. Rumahnya merupakan rumah tua tempat ayah saya lahir dibesarkan. Terdiri dari sekitar 6 kamar, ruangan tamu yang sangat luas sampai mampu menampung 4 set kursi dan meja tamu. Kemudian, ada ruang makan yang cukup besar, dengan lemari dan set meja makan yang jadul. Setelahnya, terhubung oleh pintu, terdapat dapur yang cukup luas pula, bisa menampun 10 ibu-ibu untuk masak barengan. Di masing-masing sisinya terdapat kamar mandi.

Jika ayah saya pulang kampung, biasanya beberapa keluarga juga akan datang dan menginap untuk berkumpul. Selain itu, saat itu di sana masih tinggal om dan tante saya yang masih bujangan.

Pada satu malam, saat para lelaki sedang berkumpul, saya yang masih bayi menangis kelaparan. Ibu saya yang sempat tertidur akhirnya bangun dan beranjak ke dapur untuk membuat susu. Ketika di dapur, ia melihat ada ceret air di atas kompor yang isinya masih panas. Tanpa basa-basi, ibu saya pun membuat susu untuk saya menggunakan air yang masih panas tersebut.

Saya menghabiskan susu saya dengan rakus dan lekas tertidur, menurut orang tua saya. Semakin malam akhirnya para orang dewasa masuk kamar dan tidur.

Esok harinya, saat ibu saya terbangun, beliau mendapati saya masih tertidur nyenyak. Akhirnya beliau bangun dan beraktivitas seperti biasa. Menjelang siang, saya masih juga tertidur dengan nyenyak. Ibu saya sempat menunjukkan kekhawatiran dan menanyakan pendapat ayah saya. Tapi karena saya masih dalam keadaan bernafas dengan tenang, mereka memilih menunggu saja. Mungkin saya kelelahan atau entah apa.

Semakin malam, saya masih juga belum bangun, ibu saya panik. Menangis-nangis mengadu pada ayah saya.

Ayah saya dengan gusar bertanya, apa yang terjadi di hari sebelumnya pada saya. Ibu saya menjelaskan saya terbangun tengah malam dan ibu saya memberikan saya sebotol susu. Ibu saya tidak menambahkan macam-macam pada susu saya, selain air panas di ceret.

Ayah saya terdiam, “Air panas yang mana?”

“Itu, loh. Yang ada di dapur semalam. Air panas bekas siapa, tuh…”

Kemudian bukannya panik, ayah saya malah tertawa.

“ITU ISINYA BUKAN AIR! TAPI TUAK!”

Kata ayah saya waktu menceritakan ini, “Onie mah bukannya tidur itu, tapi mabok.” sambil ngakak-ngakak.

Oh wow. Saat lo lo semua baru belajar mabok di usia belasan, saya sudah merasakan mabok sejak masih orok. Rasanya kayak apa, ya…😐

2 responses to “Orok Mabok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s