BECEK!

Pada suatu sore sehabis hujan, Mbak ART yang bertugas mengasuh saya menyuruh saya yang kala itu masih berumur 6-7 tahun untuk mandi dan berpakaian rapih. Dengar-dengar katanya saya mau diajak jalan Ibu saya sepulangnya dari kantor. Ibu saya pegawai BUMN dan biasanya pukul 5 atau 6 beliau sudah sampai di rumah.

Mendengar itu, tentu saja saya semangat untuk mandi. Seusainya, saya memilih baju dress ungu kesukaan saya (yang di kemudian hari menjadi saksi kecaperan saya), dan memakai bedak semuka-muka sampai kayak buah kesemek.

Langit masih mendung sehabis hujan, dan hari semakin sore. Ibu saya masih belum datang, sementara Mbak ART sedang sibuk menyapu halaman.

Di sebelah rumah saya, ada sebuah lapangan luas, biasa dipakai untuk main bola oleh anak komplek dan anak kampung. Saya mengintip ke sana dan melihat lapangan tersebut sudah penuh dengan genangan air di tiap area yang berlubang. Sayapun pamit kepada Mbak ART saya yang biasanya saya panggil Mbak Yati.

“Aku main di lapangan, ya Mbak!”

“Awas jangan sampai kotor, ya!” teriaknya galak. Tapi biar galak gitu dia sebenernya sayang banget sama saya. Tapi ya gitu, galaknya melebihi Ibu saya. Dan dia ini galak ke saya atas seijin ayah saya, karena ayah tahu kalo saya ini bandelnya minta ampun. Kalau dilembekin, biasanya malah makin bandel.

Akhirnya saya main ke lapangan. Padahal saya sudah rapih dengan dress ungu sepanjang betis, dengan aksen renda di bagian leher dan ujung rok, serta pita ungu yang besar di belakangnya. Saya juga sudah memakai sepatu mary-jane (bener gak ya itu namanya?) dan kaus kaki putih dengan renda-renda mekar di pergelangan kakinya.

Saya yang masih kecil sudah senang dengan wangi hujan, selain itu genangan air membuat saya ingin bermain-main.

Pertama-tama saya menginjak salah satu genangan dan tertawa senang melihat airnya terciprat kemana-mana. Lalu saya menginjak genangan yang lain. Kemudian meloncat ke genangan terdekat. Semakin semangat, saya malah berlari-lari mengitari lapangan dan membiarkan air pecah di samping saya. Muncrat sana, muncrat sini. Ketika menemukan genangan yang agak besar, saya meloncat agar cipratannya semakin besar.

Sambil berlari dan meloncat, saya mengarah ke sebuah genangan besar. Dengan semangat, saya meloncat, dan… BLESH! Ternyata genangannya dalam. Nyaris separuh kaki saya terendam. Dan entah kenapa, saya malah kesenengan. Saya berlari keluar dari genangan yang dalam tersebut, kemudian berbalik arah dan meloncat kembali ke dalamnya. Puas, saya pun mencari genangan yang dalam. Rasanya kayak main tebak-tebak genangan. Kalau kubangan yang saya loncati selanjutnya ternyata dalam, saya semakin senang.

Akhirnya sore beranjak menjadi maghrib, dan itu berarti jam pulang saya. Kedengaran suara Mbak Yati melengking memanggil nama saya. Kesenangan, saya berlari pulang, berpikir Ibu saya sudah datang.

Sesampainya di teras rumah, dengan wajah riang saya menyapa Mbak Yati dan menanyakan Mama. Bukannya dijawab, Mbak Yati malah menatap saya aneh. Matanya melotot, nyaris keluar. Perasaan saya udah nggak enak.

“YA AMPUN ONIIIIEEEE!!! ITU KENAPA BAJUNYA COKLAT SEMUA?!”

Lapangan bola di sebelah rumah saya itu lapangan tanah merah, dan main-main becek di sana menghasilkan baju saya yang berubah warna. Tadinya saya pikir nggak separah itu, mungkin cuma kotor di ujung roknya. Ternyata di seluruh badan. Sampai kaus kaki berenda warna putih milik saya pun berubah menjadi coklat.

“MANDI ULANG!!!!” tanpa bisa berkelit akhirnya saya diseret kembali ke kamar mandi, sambil diomelin tentu saja.

Seingat saya, sore itu saya nggak jadi jalan-jalan. Tapi kayaknya saya tetep hepi, soalnya bisa main becek :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s