Fucked Up and the Other Things.

Dua tiga bulan belakangan ini adalah masa yang paling berat bagi saya. Banyak hal yang terjadi, dan keseluruhannya menjadi momen yang benar-benar nyakitin buat saya.

Hal yang sedikitnya cukup akurat untuk menggambarkan kondisi saya… mungkin kira-kira seperti dilempar ke tengah laut dan ditinggalkan sendirian di tengah badai sementara perahu saya direbut orang lain.

The worst part was, saya kira selama perahu itu masih terlihat, ada 0,01% kemungkinan bahwa perahu itu akan berbalik dan menyelamatkan saya. Tapi tentu saja, ketika seseorang dibuang dan ditinggalkan jauh, kembali adalah sebuah probabilitas yang nyaris mustahil.

In the end, semua orang hanya memikirkan dirinya sendiri. Mereka nggak akan pernah mau memikirkan apa yang terjadi pada orang yang tenggelam di belakang, karena mereka perlu menyelamatkan dirinya sendiri. Karena itu juga lah mereka melihat ke depan, bukan kepada saya.

Ada yang bilang sama saya, dunia toh gak akan ngasi kita dispensasi saat kita sedang fucked up. Kerjaan tetep dateng, masalah lain tetap dateng, mau makan tetep harus bayar, mau ngantor tetep harus ngeluarin ongkos. Dan most people won’t give a fuck. Apa yang terjadi sama kita nggak ada relevansinya sama orang lain.

Pretending to be happy, supposed to be a good solution. You know what they say, fake it until you believe it. Tapi pura-pura bahagia itu menyakitkan. Mencoba mengalihkan kesedihan menjadi kemarahan pun nggak mengubah apa-apa. Sementara whining pada akhirnya kan membuat orang lain capek dan gerah ngelihatnya.

Apapun yang kalian lakuin nggak akan pernah bener. Either buat orang lain, maupun buat diri lo sendiri.

Hal yang paling konyol buat saya adalah ketika orang mengatakan “Ini yang terbaik buat kamu.” Atau… “Ini jalan Tuhan.”

WTF. Kenapa sedikit-sedikit harua nyalahin Tuhan? Setiap orang punya pilihan. Bedanya cuma, apakah kamu bakal milih jalan yang menyakiti orang lain, atau nggak.

Dan kalaupun ini yang terbaik buat saya, kenapa hingga detik ini saya nggak merasa lebih baik?

Semua omong kosong kata mutiara ini bikin saya capek.

Ada kalanya saya berpikir, kenapa nggak ada yang bisa dan mau menyelamatkan saya? But hey… orang lain nggak ada hubungannya dengan apa yang saya alami. Dan nggak pantes juga kalau kita mengharapkan orang lain fix the damage made by other people.

Ada pula kalanya saya bertanya-tanya. What did I do to deserve these? Dan saya menyimpulkan, nggak, nggak ada satupun hal yang bikin saya (atau juga jutaan orang lainnya) layak dibeginikan.

What is the worst part from this things?

Mungkin perasaan dibuang ini… lonely and wasted. Betrayed and loose.  Lost and hurt. Saya kehilangan kepercayaan diri. Saya kehilangan signal fire saya, yang selama ini membuat saya tetep sane.

Sebagian besar orang bilang, “Elo kuat, Le.” Atau, “Elo berhak bahagia.” Harus ikhlas, harus lupain, harus terus maju ke depan. Kalo bisa pun sudah saya lakuin dari kemarin.

Tapi sayangnya, elo nggak bisa memperbaiki kerusakan yang nggak terlihat.

Toh pada akhirnya saya fucked up dan struggling sendirian, sementara orang-orang-yang menyakiti saya sedang berbahagia. How do you overcome that?

Having support from people who loves you is great. Tapi mereka nggak ada 24 jam sama kita, dan kita berjuang penuh selama 24 jam. Tiap detik. Nggak ada satu detik pun yang lewat tanpa lo berjuang mati-matian untuk sekedar bernafas.

Ini lebay. Tapi ini kenyataannya.

Doing stupid things, go out with friends, minum-minum, curhat ke sana ke mari, nangis kayak keran bocor. Itu nggak menyelesaikan masalah. It makes you feel better, tapi cuma temporary.

Orang bilang, hey banyak orang yang ngalamin masalah lebih berat. Tapi hey lagi, I don’t give a fuck. Saya udah punya cukup banyak masalah dan ngelihat orang lain punya masalah lebih besar nggak membuat saya merasa lebih baik. Yang saya tahu cuma saya harus dikorbankan agar orang lain bahagia. How I suppose to overcome that?

Sampai detik ini saya masih struggling. Masih nangis setiap sendirian. Selera makan berantakan. Jam tidur semakin berkurang. Kerjaan ikut berantakan.

Masalah-masalah lain masih datang. Dan jadi akumulasi.

And I’m here asking, hey, where’s my silver lining. Harusnya kalian ada somewhere near kan?

Sekali lagi, seperti kalimat “Ini yang terbaik dari Tuhan.”, silver lining pun jadi konsep yang penuh omong kosong untuk saya.

I don’t care about what’s best for me. Or karma. Or what was God wanted. I don’t give a fuck for all those craps. Yang saya tahu cuma, saya berantakan, dan gak akan ada yang bisa memperbaiki ini semua. Nggak ada yang perlu juga. Karena semua orang punya masalahnya sendiri-sendiri.

Saya cuma bisa keep running. Keep swimming. Saya nggak tahu apa saya bisa survive. Berapa lama? Saya nggak tahu. Dan seperti yang sudah-sudah, saya juga harus siap-siap. Karena masalah akan tetap terus berdatangan tanpa bertanya “Are you ready?”.

Mengharapkan orang lain atau dunia ini untuk ngerti masalah saya juga sebetulnya terlalu egois. Menuntut orang lain memperlakukan saya seperti barang fragile pun terlalu manja.

You know… life goes on. People come and go. In the end, semua orang hanya mikirin kebahagiaan masing-masing, dan gak peduli seberapa hancurnya elo. Ada yang stay sebentar, ada yang gak peduli, dan ada yang bahagia ngelihat lo ancur.

Dan sementara saya sendiri nggak bisa egois kan…

So. Yeah…

The fuck with people and their selfishness. I’m going to enjoy my sadness. Whining and whatever. Trying to build my confidence that has been destroyed in to pieces.

Ok. Good bye.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s