Am I Pretty?

Tiga hari terakhir ini saya stay di Medan untuk support Tante kesayangan saya yang sedang berjuang melawan cancer. She said she’s getting better now.

Selama di Medan, saya nginep di rumah om saya yang memiliki balita berusia 4 tahun, namanya Ika. Malam pertama dan kedua saya terlalu sibuk bulak-balik rumah sakit sehingga nggak bisa bermain dengan Ika. Padahal dia sudah caper-caper sama saya. Pikiran saya sendiri pun terlalu sibuk dengan berbagai hal sehingga saya cenderung menarik diri dan nggak mau berkumpul dengan saudara-saudara saya (saya nggak mau tiba-tiba breakdown di depan mereka).

Hari ini lah yang agak berbeda. Pagi ini saya bangun, mandi, kemudian duduk sendirian di teras. Semua orang masih lelap krn kecapekan begadang semalam.

Kemudian Ika menghampiri saya, kami pun bermain dan mengobrol berdua. Saya tanya macam-macam. Dan kemudian ia curhat sama saya.

Ika bilang, beberapa anak jahat sama dia dan nggak mau main sama dia. Saya tanya kenapa. Kemudian lanjutan kalimatnya membuat saya benar-benar kesal.

“Mereka bilang ‘Jangan lah kita main sama Ika, kita-kita ini kan cantik, Ika jelek’. Anak-anak itu bilang gitu sama aku. Makanya aku nggak main kemana-mana. Di rumah aja sama mamak.”

I swear I almost kick the table in front of me. Fuck!

Dengan kesal saya beranjak ke kamar, saya ambil cermin lipat dari tas saya dan kembali duduk dengan Ika.

“Sini, Ka. Duduk sama kakak.” Saya bilang. Saya pangku gadis manis itu lalu saya buka cermin lipat saya menghadap wajah kami berdua.

“Menurut Ika, kakak cantik nggak?” Tanya saya. Oke saya tahu, di sini sih tampang saya standar banget. Gendut, kulit gelap, rambut keriting berantakan. Tapi di Medan sini, saya nggak kalah lah sama cewek lokal *halah*

Sambil tersenyum malu-malu, Ika menjawab saya cantik (so, di dunia ini udah ada 2 org yg blg saya cantik: nyokap sendiri, dan ika).

“Sekarang lihat ke kaca. Lihat sini.” Kami berdua pun memandang cermin di depan kami.

“Rambut Ika keriting, sama kayak kakak. Mirip kan?”

Ika mengangguk.

“Coba bulu matanya. Lentik begini. Mirip sama kakak, kan?”

Ika mengedip-ngedipkan matanya. Iya, katanya.

“Coba Ika senyum.” Kata saya. Ia pun tersenyum lebar. Memamerkan giginya yang putih, kecil, dan berderet rapi.

“Nah tuh cantik… lihat. Giginya rapih, putih, bersih. Senyumnya cantik. Jadi Ika cantik, kan?”

Dia tersenyum bangga sambil mengangguk malu.

“Nih cerminnya buat Ika. Kalo ada yang bilang Ika jelek lagi, Ika senyum aja sambil ngaca. Liat rambut keritingnya, mata lentiknya, sama senyumnya Ika. Nanti pas gede Ika pasti jadi kayak Kakak.”

Pada akhirnya cermin lipat pemberian saya, selalu ia pegang kemanapun ia pergi seharian ini.

It pissed me off. Dari umur segitu dia harus ngerasa dirinya jelek. Seharusnya dia baru mikirin itu 20 tahun lagi. Bukan sekarang. Nggak waktunya dia ngerti mana jelek mana cantik. Kan taik banget.

But on the other way… I felt so fake. I made her believe that she’s as beautiful as me while I believe that I am ugly. Saya benci apa yang saya lihat di dalam cermin setiap hari. Saya benci tubuh saya, saya benci wajah saya, perut saya yg buncit, payudara saya yang kecil, kulit saya yang gelap. Saya benci semua yang ada pada diri saya. Saya merasa jelek.

Kepercayaan diri saya dan ketidakpedulian saya pada penampilan saya sudah hilang entah kemana. Saya merasa tidak menarik dan menyedihkan. Saya melihat iri pada mbak-mbak kurus kecil dengan dandanan feminin. Kemanapun saya pergi, setiap saya melihat perempuan kurus kecil yang manis, saya membenci diri saya. Saya merasa seperti bagian yang tersisihkan di dalam society. Karena saya kalah dibandingkan mereka. Saya cuma badut jelek di antara mereka.

Tanpa sengaja saya pun melaparkan diri saya setiap hari…

Membayangkan perasaan ini dirasakan oleh anak seumur Ika membuat saya benar-benar kesal. Karena nggak seharusnya mereka merasa jelek. Nggak seharusnya mereka terpaksa ngumpet di rumah karena nggak pede main dengan teman-temannya.

What the fuck with you, society? What the fuck.

7 responses to “Am I Pretty?

    • Sayangnya aku nggak ngerendah oom. I wish I was only being polite. Atau caper pengen dibilang cantik. Tp sayangnya nggak. Ini bener2 yang aku rasain. Tp makasih ya oom warm🙂

  1. Misalnya tinggi badan 165-170, berat badan 45-55 kg udah bilang seksi (nggak gendut) kecuali berat badannya 80-90 kg..
    pernah saya dulu ceting di salah satu website, ngatain seorang bule. saya bilang bule gendut langsung di banned

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s