Hari Ke Tiga Ratus Enam Puluh

Ia terbangun, alarmnya menjerit setelahnya. Rima mematikan alarm yang terletak di nakas samping tempat tidurnya. Ia terdiam, memandang langit-langit kamarnya yang menguning karena berbulan-bulan dihajar asap rokok milik Rima.

“Hari ke tiga ratus.” Bisiknya dalam hati, “Dan luka ini masih ada.”

Rima mencoba mengingat-ingat ini hari apa. Senin kah? Sabtu kah?

Ia sedikit terkejut mendengar desah nafas di sampingnya. Ia menoleh. Oh, ini hari Sabtu. Semalam Ia pulang ke apartemennya bersama lelaki yang sekarang terlelap di sampingnya.

Siapa namanya? Rima berpikir keras. Andre? Alex? Alfa? Rima memutuskan akan memanggilnya dengan sebutan “Babe”. Senjata ampuhnya selama ini.

“Babe… aku harus keluar nih. Ada kelas Thai Boxing.” Rima menegakkan tubuhnya, selimutnya melorot, payudaranya terpampang. Mendadak Ia kesal sendiri melihat ke arah payudaranya yang tipis. Seperti remaja berusia empat belas tahun.

Lelaki di sebelahnya – entah siapa pun namanya – mengeluarkan erangan lembut saat Ia meregangkan tubuhnya. Sementara Rima bergegas bangun, mengenakan tank top hitam yang tergeletak di lantai, dan celana dalam berwarna sama. Lelaki tersebut membuka matanya dan melirik ke arah Rima, menatapnya penuh dahaga. Di dalam hatinya Ia merasa puas ternyata tadi malam Ia mendapatkan wanita yang tidak terlalu buruk.

“Selamat pagi Nona Rima.” Ujarnya mesra.

Rima membalikkan badan, menatap pria yang sedang berbaring di atas tempat tidurnya. Ia teringat persetubuhannya semalam dan berpikir bahwa lelaki ini payah sekali. Wajahnya tampan, alis tegas, hidung mancung, mata cekung, dan bibir tebal yang sangat lelaki. Tubuhnya liat, hasil tempaan kelas fitness tiga kali seminggu, berdasarkan pengakuan lelaki tak bernama ini. Tapi sayang, kemampuannya di tempat tidur tidak jauh beda dengan seorang pemuda tanpa pengalaman yang pernah Ia tiduri beberapa minggu lalu.

“Babe, aku harus jalan setengah jam lagi, kamu cabut sekarang, deh.” Ujar Rima dingin. Setelahnya Ia langsung masuk ke kamar mandi.

Pria tak bernama itu terdiam dan kebingungan. Rima tidak seperti ini tadi malam. Seingatnya, perempuan yang tadi malam Ia antar pulang, tingkahnya begitu manja dan manis. Sebelum mereka masuk kamar, Ia membuatkan sepiring mac’n’cheese untuknya (Ia sendiri entah kenapa tidak mau makan), menanyakan bagaimana rasanya. Kemudian mereka membicarakan musik, buku, pekerjaan, hidup, dan cinta seakan mereka telah kenal begitu lama.

Mulanya Ia hanya ingin meniduri perempuan ini, tapi hanya dalam dua jam pembicaraan tadi malam, Ia menjadi ingin mengenalnya lebih dekat. Tapi kenapa hari ini Rima begitu dingin?

Antara kesal dan kecewa, Ia mengenakan pakaiannya. Ditunggunya Rima selesai mandi.

“Hai, Babe.” sapa Rima sambil masih mengenakan kimono mandi. Rambutnya panjangnya yang basah dibiarkan tergerai begitu saja. Tubuhnya pun belum sepenuhnya kering. Lelaki tanpa nama berusaha mati-matian mengendalikan diri untuk tidak menariknya dan merebahkannya di atas tempat tidur.

“Aku mau jalan.” Demi gengsi lelaki, Ia mencoba terlihat acuh.

“Ok, take care. Thanks ya tadi malam.” Jawabnya sambil lalu. Ia meraih hair dryer di atas meja rias dan mulai mengeringkan rambutnya.

Begini saja? Lelaki itu bertanya dalam hati.

“Kapan kita bisa ketemu lagi?” akhirnya Ia mencoba membuang egonya dan memilih mencari kemungkinan pertemuan kedua.

“Oh, ayolah… that was only one night stand. What do you expect?”

“Only a one night stand? Memangnya nggak bisa dilihat dulu? Dicoba dulu?”

Rima menoleh ke arah pria itu, dan tersenyum, “Sorry , Babe. I don’t date. I fuck.”

Lelaki itu ingin memakinya, mungkin dengan meneriakinya “Dasar perek.” akan membuatnya merasa lebih baik.
Tapi tidak.

Ada sesuatu dari wanita ini yang membuatnya tidak layak disebut perempuan murahan. Alih-alih marah, Ia patah hati. Ia pun pergi seperti seekor anjing yang kalah bertarung. Meninggalkan Rima yang masih sibuk mengeringkan rambutnya.

“Hari ke tiga ratus. Lelaki yang ke tiga puluh satu.” Hitung Rima dalam hati, “Tapi tidak ada yang berubah…” bisiknya sedih.

***

Ia melangkahkan kaki keluar dari sebuah rumah mewah dengan tembok menjulang. Ia mulai lelah. Sudah berapa bulan ia berkonsultasi dengan Dokter Peter, tapi rasanya tak ada kemajuan berarti. Membayar sebanyak itu setiap kali datang rasanya menjadi percuma.

Tiba-tiba Rima merasa dirinya menyedihkan sekali. Setiap Minggu ia harus berbohong pada semua orang, mengatakan dirinya latihan Thai Boxing, padahal ia menemui seorang terapis untuk berkonsultasi. Tapi itu yang terbaik yang bisa Ia lakukan. Semua orang menanyakan perihal berat badannya yang terus menurun, dan hanya olah raga yang bisa menjadi alasan ampuhnya.

Apa yang akan teman-temannya lakukan jika mereka tahu bahwa Rima mengidap eating disorder? Ia selalu menahan diri untuk tidak makan, dan jika merasa bersalah setelah makan, Ia akan mengeluarkan kembali semua makanan yang telah Ia santap dari dalam perutnya. Bahkan kepada terapisnya pun Ia tidak mengucapkan sepatah kata soal penyakitnya yang satu ini. Ia hanya membicarakan perasaannya, mimpi-mimpi buruknya yang kerap datang tiap malam, dan break down yang sering ia alami.

Rima tersadar dari lamunannya, melihat sekelilingnya dan berusaha berpikir dimana kah Ia sekarang. Ia sering merasa seperti ini. Tiba-tiba terdiam dan kebingungan, bertanya-tanya sedang dimana, apa yang hendak Ia lakukan, siapa yang hendak Ia temui saat ini.

Rima adalah wanita yang tersesat. Ia selalu merasa dirinya tersesat.

***

Mbak Rima, saya Sisi, istrinya Mas Akbar. Bisa ketemu? Saya ingin membicarakan sesuatu.

Rima terpaku membaca pesan di layar telepon genggamnya tersebut, tangannya langsung berkeringat, dadanya berdebar begitu kencang hingga terasa sakit. “Bagaimana ia tahu nomorku?” batin Rima.

“Kenapa lo, Ma?” tanya temannya.

Rima menoleh, terkejut, sesaat tadi Ia lupa bahwa dirinya sedang menikmati bergelas-gelas vodka bersama teman-temannya. Sedetik kemudian ia kembali menguasai diri, dan menarik bibirnya ke samping. Sesuatu yang mereka sebut dengan tersenyum. Rima sendiri sudah lupa, senyum itu apa.

“Bukan, nyokap sms, minta transfer duit. Biasa lah. Ada aja yang harus dibeli.” Rima bahkan lupa kapan terakhir Ia mengangkat telepon dari Ibunya.

Tapi Rima tidak akan lupa, siapa Sisi dan siapa Akbar. Ia memilih untuk tak mengacuhkan sms itu.

***

21:35
Mbak Rima, kenapa sms saya nggak dibales? Tolong balas sms saya, Mbak.

22:00
Mbak Rima, Akbar lari dengan adik perempuan saya. Saya nggak tahu harus cerita sama siapa. Saya minta maaf Mbak. Saya betul-betul minta maaf pernah merebut Mas Akbar dari Mbak. Saya hanya butuh seseorang untuk diajak bicara karena cuma Mbak yang bisa ngerti.

22:17
Mbak, saya pernah lihat Mas Akbar dulu sering sms Mbak sebelum tanggal pernikahan kami. Tapi nggak ada satupun balasan dari Mbak. Saya merasa, dalam beberapa hal kita pernah dalam posisi yang sama. Saya hanya ingin sekedar mendengar cerita dari sisi Mbak.

23:03
Mbak, saya sendirian, nggak punya siapa-siapa. Saya nggak habis pikir. Kok dia tega meninggalkan saya bersama adik saya?

23:59
Mbak, tolong saya, rasanya saya mau mati saja.

Rima menghisap ganja dan tak keluar kamar tiga hari.

***

Rima berdiri telanjang di depan cermin. Di dadanya sebelah kiri tertera rajah permanen berwarna hitam, sehelai bulu burung. Di bagian lain tubuhnya, Ia tak bisa melihatnya, tetapi Ia bisa membayangkan tato lainnya di punggung, sepasang sayap yang membuat Ia diam-diam merasa menjadi malaikat.

Ia melihat ke arah payudaranya. Ia membencinya.

Ia mengecek lengannya. Ah, masih gendut. Lebar sekali seperti paha gajah.

Ia menatap perutnya. Kenapa perut ini tidak kunjung mengecil? Harus lebih cekung daripada ini.

Ia menatap pahanya. Najis. Katanya dalam hati.

Kenapa aku jelek sekali? Seperti ibu-ibu tua gendut.

Empat puluh sembilan kilogram itu terlalu gendut. Menjijikkan. Pantas saja Akbar meninggalkannya demi perempuan lain. Siapa yang mau dengan perempuan gendut jelek? Berat badan berkurang tiga puluh kilogram pun tak ada artinya. Tetap saja jelek dan gendut.

Rima membayangkan Sisi. Mungkin Sisi jadi gendut dan jelek, seperti Rima. Makanya Akbar selingkuh lagi dengan perempuan lain. Adiknya pula. Hahaha… Makanya, jangan makan. Biar tidak gendut seperti babi.

Tiba-tiba dadanya sesak, serangan itu datang lagi. Tangis Rima pun pecah. Ia menjerit, menangis seperti anak kecil.
Hari ke tiga ratus ratus dua puluh. Tapi tidak ada yang berubah. Rima masih jelek dan buruk rupa, dadanya masih selalu sakit, air matanya masih selalu berontak.

***

“Gila, Riiimmm… lo makin cantik aja tiap ketemu. Sekarang sukses banget lo ya. Kayaknya gue liat lo ganti cowok melulu. Jadi cantik, seksi, kayak layaknya wanita karir ibu kota. Udah bisa tinggal di apartemen. Nangis kali, Si Akbar kalo liat lo sekarang secantik ini.”

Rima tertawa. Tapi tidak mempercayai satu katapun yang diucapkan lelaki di depannya.

“Gitu, donk. Semangat. Dulu gue pusing lihat lo dikit-dikit nangis, dikit-dikit curhat soal Akbar. Laki-laki kayak gitu mah gak pantas ditangisi. Cuma cowok brengsek yang ngerasa dirinya kebagusan. Gue yakin, gue aja tuh dari segala sisi masih lebih baik dari dia. Sekarang lo udah sadar, kan, banyak cowok yang lebih baik dari dia.”

Rima mengiyakan sambil tertawa, tapi di dalam hatinya Ia berpikir semua lelaki itu sama. Tidak ada yang lebih baik. Ia mengingat-ingat, sejak kapan ia bisa bersandiwara sebaik ini.

***

Tenggorokannya terbakar, panas sekali. Ia mengingat-ingat, berapa banyak makanan yang Ia lahap semalam. Setengah porsi tenderloin steak, mashed potato, salad buah, empat gelas anggur putih. Menjijikkan. Semalam Ia makan seperti babi. Rima merasa harus menghukum dirinya dengan cara menyodokkan telunjuk ke dalam tenggorokkannya, dan membiarkan semua makanan yang ia lahap meluncur keluar.

Lemas, ia meyandarkan kepalanya di atas dudukan toilet.

“Dia… lebih cantik dari kamu.”

Oh, fuck. Not now.

“Yang, kamu diet, dong. Olah raga, kek.”

Fuck. Stop it.

“Kamu gendut banget, deh, pake baju itu. Ganti yang lain, ah. Jelek banget.”

“Nih, aku beliin sepatu biar kamu olah raga. Biar kurus.”

“Ih, Yang… cewek tuh, gak baik kalo segendut kamu.”

Rima menangis. Ia ingin menghentikan suara Akbar yang berputar-putar di kepalanya.

“Jangan nangis berlebihan, ah. Kamu tuh drama banget. Kita kan belum menikah. Belum ada ikatan apa-apa. Wajar kalau aku mau mendapatkan wanita yang lebih baik.”

 

“Sisi itu…. Too good to be true. Cantik, berkelas, kepribadiannya menarik, semua yang aku inginkan dari seorang wanita, ada di dia.”

“Lalu aku apa?! Aku apa buatmu?!” Rima mendengar jeritannya sendiri.

Ia pun kembali berlutut dan mengarahkan kepalanya menghadap lubang kakus, dikoreknya kembali tenggorokannya dengan jari telunjuk. Tenggorokkannya terasa perih, tapi ia tak peduli. Aku gendut seperti babi. Aku harus kurus. Aku harus cantik. Lebih cantik dari Sisi.

Tak ada yang keluar. Mengapa tak ada yang keluar? Ayo perut sialan. Kamu rakus seperti babi. Kamu harus dihukum.

Ingatan Rima kembali ke malam sebelumnya. Wajahnya berhadapan dengan Akbar. Lelaki di sebelah Rima, calon teman tidurnya malam itu, hanya diam dengan bingung melihat wanita di sebelahnya tiba-tiba ditahan oleh seorang pria lain.

“Kamu Rima, kan? Rimaku sayang?”

Wajah Rima hanya datar, menatap pria itu tanpa ekspresi. Rima lupa, sejak kapan ia pandai bersandiwara. Padahal hatinya terasa hancur berkeping-keping, kakinya lemas, dadanya terasa sakit. “Rimaku sayang” sudah mati berbulan-bulan lalu, Dear Akbar.

“Kamu cantik banget sekarang. Kok bisa sekurus ini? Beda banget sama dulu. Aku tadi nyari nggak ngenalin. Kenapa kamu nggak pernah mengangkat telepon dariku? SMSku nggak pernah dibalas. Aku nyari kamu kemana-mana.”

Ternyata handphone barunya bekerja dengan baik, Ia sudah memblok semua jalur komunikasi dengan Akbar sejak berbulan-bulan lalu. Telepon, sms, email, dan aplikasi chat. Semuanya Ia blok. Karena baginya Akbar hanya menyisakan mimpi buruk dalam hidupnya, dan hal terakhir yang Ia inginkan adalah monster yang muncul kembali dari kuburnya untuk merusak hidup Rima.

“Maafin aku, Rim. Maafin kesalahan-kesalahan aku… kamu harus maafin aku.”

Dulu kata itu tidak pernah keluar dari bibirnya. Apa memang harus menunggu selama ini sampai Akbar menyesal dan meminta maaf?

“Usahaku berantakan, aku kabur dengan adiknya Sisi. Mungkin kamu sudah dengar kabar ini. Aku jatuh cinta dengan adiknya. Sisi itu cuma cewek matre kegenitan. Nggak becus apa-apa. Tapi ternyata belakangan aku tahu adiknya pun nggak beda jauh. Di belakangku Ia tidur dengan laki-laki lain. Kayaknya… sekarang tuh hidupku berantakan banget.”

“Kamu harus maafin aku.” Ia merengek, “Kayaknya aku kena karma, deh. Hidup aku berantakan setelah kamu pergi. Maafin aku, Rim. Please. Aku ingin hidupku membaik. Kalau kamu nggak maafin aku, bisa-bisa aku susah terus.”

Rima menatap Akbar, bertanya-tanya di dalam hati, “Siapakah lelaki menyedihkan ini? Ia bukan pria yang menyematkan cincin tunangan di jarinya setahun yang lalu. Ia bukan Akbar yang telah menemaninya selama bertahun-tahun dalam susah maupun senang. Siapakah laki-laki menjijikkan ini?”

Sedetik yang lalu Rima sempat berpikir lelaki ini mungkin masih menyisakan sedikit Akbar yang Ia kenal, ternyata tidak. Akbar sudah mati. Lelaki ini hanya makhluk menyedihkan yang menumpang hidup di tubuh Akbar. Tak dipercayanya Akbar meminta maaf bukan karena menyesal, namun karena menganggap kesialan dalam hidupnya disebabkan oleh Rima. Mengapa Ia bisa begitu egois?

“Does he annoyed you?” lelaki di sebelahnya bertanya gusa, “You want me to get rid of him?”

“No need.” Jawab Rima, “This poor guy… I think he’s kinda crazy or something. I don’t know him. Maybe he mistaken me with other people.” Rima tak merasa perlu memelankan suaranya, Ia tak peduli Akbar bisa mendengarnya dengan jelas.

Akbar terpana menatap Rima, jawaban wanita itu menusuk tepat di jantungnya. Seakan kalah, Ia melepaskan genggamannya dari lengan Rima.

“Rima… kamu berubah…”

You’re the one who made me, batin Rima. This douchebag should get a mirror. Dan Iapun pergi. Dengan hati penuh duka. Akbar sudah mati, yang tersisa hanya monster menyedihkan yang mendiami tubuh Akbar.

Tapi sayangnya, Akbar yang bisa Ia ingat dengan jelas hanyalah prIa yang terus menerus mengeluhkan penampilan Rima, dan memuji-muji wanita lain bernama Sisi. Ia tak ingat lagi pada Akbar yang dulu pernah Ia sayang, sejak kapan kekasihnya itu mati dan berubah?

Lamunan Rima terputus. Tiba-tiba Rima merasa sesuatu bergolak dari perutnya, Ia merasa bahagia, seperti menemukan harta karun. Buru-buru Ia tarik telunjuknya dan membIarkan dirinya muntah.

Ia menatap pucat pada isi perutnya yang berhamburan ke lubang kakus. Itu bukan makanannya tadi malam. Itu semua darah. Darah berontak keluar dari tenggorokannya tanpa henti.

***

Malam itu, malam paling menakutkan dalam sepanjang hidup Rima. Kelak, apa yang terjadi malam itu, selalu berputar di kepalanya, setiap hari, seakan Ia sedang dihukum paksa menonton film yang Ia benci. Saa itu, Ia sedang menatap layar handphone milik kekasihnya. Barisan pesan mesra antara Akbar dan wanita lain terpampang di depan matanya.

“Sayang, kamu udah sampe rumah?”

“Sayang, maaf ya, kamu jadi harus nunggu. Aku dikit lagi sampe, kok.”

“Sayang, aku kangen…”

Ia menatap wajah Akbar, lelaki itu hanya diam, seperti pencuri yang tertangkap basah.

“Siapa dIa?”

“Kita nggak ada hubungan apa-apa, kok. Belum ada. Aku mesti gimana?”

“Kalau nggak ada hubungan apa-apa, telepon dia, dan bilang sama cewek ini kalau kamu sudah punya aku.”

Akbar terdiam. Kemudian dengan suara pelan, Ia menjawab, “Aku… sayang sama dIa. Aku udah nggak sayang kamu lagi.”

Semua kepingan puzzle mendadak menyatu di kepala Rima. Jadwal meeting Akbar yang lama-lama menjadi begitu sering, janji kencan yang mendadak batal, sulitnya bertemu dengan Akbar, jam-jam ketika dia tiba-tiba menghilang dan tak dapat dihubungi dimanapun, dan permintaan-permintaan Akbar agar Ia diet dan olahraga, berdandan dan memakai pakaIan yang feminim dengan rok sepan atau mini dress yang manis.

Rima menarik lepas cincin emas putih di jarinya, kemudian melemparkannya ke arah lelaki itu. Padahal Rima baru mengenakan cincin itu beberapa hari. Baru saja Ia merasa bahagia setelah menunggu bertahun-tahun tanpa kepastian akan kemana hubungan mereka beranjak.

“Pergi.” Ujarnya pelan. Dan lelaki itu pun pergi setelah mengambil handphonenya dari genggaman Rima. Cincin yang Ia buang pun dIambilnya. Mungkin kelak untuk diberikan kepada wanitanya yang baru ini.

Lelaki itu pergi dan tak pernah kembali selain untuk memuji-muji Sisi di depan muka Rima. Lalu hilang begitu saja dengan ucapan terakhirnya, “Aku akan menikahi Sisi. Kamu jangan hubungi aku lagi.”

Rima melarikan diri pada alkohol dan pekerjaan, berkencan dengan berbagai macam pria yang mendekatinya. Dan satu waktu Ia terlalu mabuk, dan terbangun di samping seorang lelaki di kamar hotel. Rima menangis, dan nyaris bunuh diri. Harta yang Ia jaga selama ini, direnggut oleh pria yang baru Ia kenal beberapa minggu.

Sejak itu Rima bertualang, mencari teman tidur, agar Ia tak perlu terbangun di pagi hari dengan perasaan sepi dan tertekan. Namun Rima tetap merasa tersesat. Sementara dari jauh Ia bisa melihat, Akbar membangun perusahaan, menikah dengan Sisi hanya dalam hitungan bulan, hidup bahagia. Sementara Rima semakin terpuruk. Ia sempat berhenti kerja karena dipecat, pekerjaannya berantakan. Ia harus berusaha mati-matian untuk membangun hidupnya kembali, sementara Akbar selalu tampak bahagia. Hingga satu titik Ia berhenti memperhatikan Akbar dari jauh, dan menjalani hidup seperti robot.

Menjadi robot tak apa, asal bukan menjadi perempuan yang menangis setIap hari.

Tapi luka itu tak pernah hilang. Sejauh manapun Rima berlari, luka itu tetap mengikutinya. Bahkan saat rasa sayang dan rindunya pada Akbar telah menjadi tawar, rasa sakit itu tak pernah hilang.

Mungkin mati saja memang lebih baik.

***

Mata Rima terbuka. Tak ada suara alarm. Matanya menatap langit-langit. Mengapa bersih sekali? Tidak ada bercak kuning hasil tempaan nikotin.

“Rima!” suara yang sangat familiar. Rima menoleh. Ibunya. Mengapa Ibunya ada di sini? Wanita tua itu menangis. Menghambur memeluk Rima. Ia masih bingung, apa yang terjadi.

Ayahnya juga ada di sana, begitupun kakak lelakinya yang selama ini sibuk bekerja di luar negeri. Kenapa Ia tiba-tiba ada di sini? Dilihatnya lagi, sahabat-sahabatnya, empat orang lelaki. Rima tak punya sahabat perempuan. Berada dekat perempuan membuat dirinya merasa jelek.

Rima ingin bicara, tetapi tak bisa, tenggorokkanya terasa terbakar. Ibunya buru-buru menyodorkan gelas dengan sedotan. Rima meminumnya.

Seorang perawat datang, mengecek nadinya, infusnya, kemudian mengatakan sesuatu pada orang tua Rima. Rima masih tak mengerti apa yang terjadi.

Ada satu yang telat Ia sadari, lelaki tanpa nama. Teman tidurnya yang ke tiga puluh satu. Rima jarang ingat nama, tetapi Ia selalu mengingat nomor mereka. Lelaki itu berdiri di sudut, menatap Rima lega. Ia hanya mengenakan kaus dan celana jeans. Bukannya kemeja dan jas hitam yang waktu itu Ia pakai saat menghampiri Rima di bar malam itu.

Satu yang sama, semua orang menatap Rima dengan penuh sedih.

Rima tak mengerti, Ia hanya sibuk menebak hari. Ini hari yang ke berapa? Tolong, seseorang, beritahu aku.

***

Hari ke tiga ratus enam puluh. Rima sudah bisa menaikkan punggungnya dan duduk di atas tempat tidur rumah sakit.
Rafael, lelaki yang tadinya tanpa nama, sibuk mengupas apel dan memotongnya menjadi irisan tipis. Akhirnya Rima mengetahui namanya.

“Aku nggak tahu kalau kamu punya eating disorder.”

Rima terdIam.

“Waktu itu… kenapa kamu datang ke apartemenku?” tanya Rima pelan.

“Aku ingin mencoba. Aku ingin ketemu lagi sama kamu dan memulai semuanya dengan cara yang lebih baik. Dan aku ingin kamu tahu… aku lebih daripada sekedar pria untuk ditiduri.”

Siang itu, saat Rima meregang nyawa di dalam apartemennya, Rafael sibuk mengetuk dan mengebel pintu. Ia menelepon Rima, tak dIangkat, tapi suara handphonenya terdengar sampai luar. Rafael berhasil mendapat nomor telepon Rima dari akun socIal medIa milik wanita itu. Rafael mencari tahu tentang Rima dari berbagai macam sumber. Akhirnya Ia tahu bahwa Rima adalah seorang copy writer ternama, bekerja di agency advertising bergengsi. Memiliki reputasi yang bagus. Ia melihat informasi dan foto-foto Rima dari berbagai foto yang disebarkan oleh teman-teman dan kerabatnya di internet

Rafael terkejut ketika Ia menemukan foto-fotonya. Tahun lalu wanita itu bertubuh gemuk, namun tampak sangat ceria, sangat hidup. Ekspresi wajahnya seperti anak kecil yang tak pernah merasakan pahit. Beda dengan Rima yang Ia temui, yang langsing, dingin, dan memiliki senyum yang terasa sepi.

Rafael menghitung tanggal foto-foto tersebut. November, Desember, Rima dengan pipi gembil, kemeja flanel, celana jeans, dan boots. Tiba-tiba Februari Ia mengurus, tak lagi tersenyum, kebanyakan mengenakan baju ketat dengan belahan dada rendah, rok mini, dress hitam, pakaian semacam itu. Begitu berbeda. Wajahnya berubah, lebih tenang dan dewasa. Bulan-bulan berikutnya Ia semakin kurus, walaupun Ia tersenyum di dalam foto-fotonya, namun Rafael bisa melihat bahwa itu bukan senyum yang sama dengan sebelumnya. Di dalam hatinya ada sesuatu yang terasa berat, dadanya merasa sakit. Ia menyukai Rima dengan pipi gembil dan tersenyum penuh bahagia, bukan Rima yang langsing bak model namun senantiasa berwajah seakan menahan siksaan.

Manusia macam apa yang mampu mencabut senyum seindah itu dari seorang wanita seistimewa Rima? Rafael tak habis pikir.

Pada akhirnya Ia memutuskan menghampiri apartemen Rima. Dan Ia menemukan Rima tak menjawab panggilannya. Ia sempat berpikir mungkin Rima tak mau menerima tamu. Tapi hati Rafael terasa sesak, firasatnya sangat tak enak.
Ia bergegas memanggil pengurus apartemen, meminta pintu didobrak oleh keamanan. Setelah melalui debat panjang, dan percobaan telepon yang tak kunjung dIangkat padahal mereka bisa mendengar ringtonenya berbunyi, petugas keamanan memutuskan untuk mendobrak pintu.

Di dalam kamar, tepatnya di dalam kamar mandi, mereka menemukan Rima tergeletak tak berdaya bersimbah darah. Rima telanjang, dan Rafael bisa melihat tulang-tulang rusuk Rima menonjol begitu tegas. Kapan terakhir Ia melihat Rima telanjang? Dua bulan lalu? Tapi sepertinya saat itu Rima tidak sekurus sekarang.

Ia menangis, padahal Ia bukanlah pria yang mudah menangis. Buru-buru diambilnya selimut dan menutupi tubuh Rima. Diangkatnya wanita itu sambil dalam hatinya berdoa sekuat tenaga, jangan sekarang Rima, beri aku kesempatan.

Detik ini, ketika Rafael duduk di samping tempat tidur Rima, dan mengiris apel untuk dimakan oleh wanita itu, Ia bersyukur. Ia bersyukur dengan sepenuh hati.

“Ayo dimakan dulu apelnya.”

Rima mengunyah dengan pelan, berusaha setengah mati. Akhirnya Ia boleh memakan sesuatu, sebelumnya Ia hanya mendapat asupan makanan dari selang-selang infus. Dan itu sungguh menyiksa.

“Makasih ya, Raf.”

“Jangan. Seharusnya cinta itu nggak perlu dibalas dengan terima kasih. Bukan begitu caraku mencintaimu.”

Rima tertawa sinis, pelan dan sebentar, tetapi tajam.

“Rima… jangan jadikan Akbar sebagai standar. Aku nggak terima kalau disamakan dengan pria serendah dia. Itu nggak adil. Buat aku, dan buat orang lain yang peduli sama kamu.”

Rima terdiam.

“Kamu tahu, kamu nggak akan bisa mengubah hati orang. Sama seperti kamu nggak akan bisa mengubah hati Akbar untuk kembali mencintai kamu. Kamu nggak akan bisa mengubah hati seseorang yang jauh agar Ia peduli sama kamu.”

Rima masih terdiam.

“Sama seperti aku nggak akan bisa mengubah hati kamu untuk mencoba melihatku lebih dari sekedar salah satu teman tidurmu. Aku sadar itu. And I am willing to take the risk. Untuk menyayangi kamu walau mungkin kamu nggak akan pernah membalasnya.”

Rima tetap terdiam. Matanya menatap pada satu titik yang maya.

“Dan kamu nggak akan bisa ngubah apa yang aku rasain ke kamu. Walau kamu diam seperti ini, walau kamu nggak mengacuhkan aku, sekalipun kamu melakukan hal-hal bodoh yang kamu kira mampu membuatku meninggalkan kamu. Kamu nggak akan bisa.”

“Dulu… dia juga mengatakan hal yang mirip seperti itu. Lihat apa yang terjadi setelahnya. Dan kamu kira, aku bakal jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kali?” Rima menatap Rafael tajam.

“Apakah hingga detik ini kamu masih sayang sama pria itu?”

Rima menggeleng lemah. Rasa itu mungkin sudah hilang, yang tersisa hanya luka.

“Satu-satunya cara untuk berbahagia adalah dengan mengijinkan luka. Dan satu-satunya cara untuk menyembuhkan luka adalah dengan mengijinkan dirimu untuk bahagia.”

Rafael meraih tangan Rima yang kurus, “Apakah kamu… pernah mengijinkan dirimu untuk bahagia?”

Wanita itu teringat pada rasa lapar yang selalu Ia tahan, rasa sepi yang selalu Ia tekan, bagaimana Ia melarikan diri pada pekerjaan sehingga hampir tak ada waktu untuk istirahat, bagaimana Ia selalu menahan diri agar tidak menganggap pria-pria yang mendekatinya dengan serius karena takut kembali dikhianati.

Ia punya uang, Ia dikejar banyak lelaki, jabatan yang bisa dibanggakan, popularitas, gaya hidup yang dulu tak pernah bisa Ia rasakan. Tapi mengapa Ia selalu merasa sakit dan tersesat?

Rafael memeluknya erat, “Rima, berhentilah berlari, ijinkan aku mengangkat bebanmu walau sebentar dan berjalan di sampingmu. Istirahat, lah. Berjalanlah dengan pelan bersamaku…”

Ia biasa dipeluk laki-laki, berbagai macam laki-laki, ketika mereka hendak melakukan persetubuhan. Tetapi bukan pelukan seperti ini. Ini rasanya berbeda. Rima pecah, menangis seperti bayi. Kata-kata Rafael seperti hujan yang tiba-tiba turun dan membasuh jiwa Rima yang kering.

Hari ke tiga ratus enam puluh, dan beban di dalam dada Rima mendadak terasa sedikit ringan. Seseorang hadir, memintanya berhenti berlari, dan itu cukup. Mungkin suatu saat Iapun akan menghilang dari hidup Rima, atau menyakitinya, atau mungkin mengkhianati Rima seperti Akbar. Tapi sepertinya itu tak mengapa. Untuk sekarang, ini semua cukup.

Rima ingin bahagia, maka Ia bersiap terluka kembali. Karena untuk menyembuhkan lukanya saat ini, Ia harus mengijinkan dirinya berbahagia. Kemudian, segala sesuatu menjadi begitu sederhana…

18 responses to “Hari Ke Tiga Ratus Enam Puluh

  1. Komentar gue kurang-lebih sama, Le. Storyline-nya bagus, cerita untuk cewek karena banyak dari mereka bisa relate dengan mudah ke perasaan Rima. Lebih bagus setelah lo revisi. Kalo lo punya sepuluh cerpen dengan standar setara ini (ada sih hal-hal terkait tata bahasa yang mesti dirapiin), lo gak akan kesulitan punya kumcer sendiri.

  2. “berhentilah berlari, ijinkan aku mengangkat bebanmu walau sebentar dan berjalan di sampingmu. Istirahat, lah. Berjalanlah dengan pelan bersamaku…” like it!

    nice shoot..
    idem sama kak el, story linenya bagus kak, jadi langsung inget cewek” skrg yang udah kuruspun masih mengaggap dirinya gemuk krn standar mata para cowok.

    eniwei, “Menjadi robot tak apa, asal bukan menjadi perempuan yang menangis setIap hari.” ga dua-duanya.

    • aku masih dibilang gendut kok sama temen2. berarti masih harus lebih kurus lagi *halah*
      emang gak dua2nya, tp kalo nangis tiap hari selama berbulan-bulan tuh capeknya luar biasa loh *fyuh*

      • Kalo kamu emang gendut sih kak.. *emaap

        Waduh entah ya kak, untuk menjalani percintaan mungkin aku termasuk yg bebel’ menganggap kegagalan dlm berhubungan itu wajar walau harus selsai dgn meninggalkan sisa sampe seumur hidup dibawa mati dgn harus sangat dijaga dan dihidupipun. Nangis paling lama sehari. Galau palinggg lama 2minggu. Dan udahnya malah bikin have fun diri sendiri tanpa nyakitin kaya yang di atas gitu. *kamu gede kan? Masa ga kuat?* *ambigu*, hahaha..

      • It takes so much to understand that every individual has different strength on facing problems. What applied to you might not works the same way to other person.

  3. Kalau menurut gue cerita udah bagus, kak lea..
    Meman bikin suatu cerita apalagi novel itu sulitnya minta ampuuunn..

    Gue sih nunggu novelnya aja kak lea, siapa tau laris manis🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s