Baggage

I was in a steady relationship for almost 7 years. Sejak gue masih mahasiswa, hingga gue sudah jadi wanita karir dan tinggal sendiri tanpa support dari ortu, dan malah gantian jadi tulang punggung keluarga, semua itu gue lewatin dengan hanya ditemani satu laki-laki. Laki-laki ini sekarang statusnya udah mantan. No big deal. Life goes on.

Awal-awal hubungan kami, it was a rocky road… mulai dari beda agama, jarak (Jakarta-Surabaya), dan salah satunya adalah, dia masih kebayang-bayang mantan gue sebelum dia. Di awal hubungan, mungkin dia terus-terusan ngomongin mantan gue sebelum dia sampe jutaan kali. Dan gue selalu dengan sabar berusaha jelasin ke dia kalo gue cuma mikirin dia dan nggak ada space buat mantan gue. Apa yang terjadi antara gue dan mantan udah lewat, dan gue juga kan gak punya kuasa untuk ngubah masa lalu gue.

Beberapa kali gonta ganti pacar, bikin gue kenal sama diri gue sendiri, pada intinya gue sebetulnya bukan tipe orang yang ngebawa baggage bekasan mantan dari  masa lalu. Ketika sesuatu selesai, maka itu pasti selesai buat gue. Apa yang dulu pernah gue rasain, gak akan pernah balik lagi.

Gue inget ketika dulu, baru putus sama salah satu mantan, gue kontak-kontakkan lagi sama mantan gue yang sebelum-sebelumnya lagi. Gak tanggung-tanggung langsung 2 orang. Sebutlah Mr. A dan Mr. C. Gue jalan sama mereka (ya sendiri-sendiri lah, gak mungkin langsung bertigaan), dan mereka treated gue manis. Tapi ya… ternyata apa yang udah lewat ya udah lewat. Lo mo korek-korek kayak gimana juga gak akan bisa balik lagi. Buat gue.

Kemudian ya lama-lama gue mundur dan hilang, sampe akhirnya ketemu Mr.X. Si Mas Mantan Super Ultimate ini.

Mungkin emang, buat sebagian orang, baggage pasangan kita itu justru kita yang gak bisa nanggung, bukan si pasangan itu sendiri. Gue sendiri, seperti gimana gue nggak terganggu dengan mantan gue, gue juga biasanya nggak pernah terganggu dengan mantannya pacar gue saat itu. Gue aja bingung kenapa gue bisa begitu.

Tapi ya suatu hari, setelah eranya Mas Mantan Super Ultimate, gue melihat tulisan di salah satu socmed yang sebetulnya agak menyentil buat gue. Kira-kira kek gini:

Semoga cewek gue kelak bukan cewek yang pernah disakitin habis-habisan sama mantannya. Karena pasti bakal susah banget nyembuhinnya.

(maap kalo ada yang sadar sbg pemilik tulisan di atas)

Gue sadar, mungkin buat sebagian orang, gue bawa baggage yang berat banget. Mungkin buat yang lagi deketin gue, susah banget nembus pertahanan gue. Yang nelpon dan ngajak jalan tapi gue tolak, terus tiba-tiba satu hari dengan entengnya gue telpon dan ngajak ngafe. Abis itu tiba-tiba gue ilang lagi. Yang udah pede gue tanggepin, tauk-tauk liat gue apdet status di twitter lagi jalan sama orang lain. Atau yang pas jalan sama gue, isinya cuma dengerin gue nangis-nangis dan curhat soal mantan. Lah ya pada akhirnya semua bubar dan ngejauh. Gak masalah.

Iya lah, gue sadar. Betapa gue udah jadi egois akhir-akhir ini.

Tapi kalo gue cuma diliat dari baggage yang terpaksa gue seret-seret, kok rasanya nggak adil juga…

Gue gak minta disembuhin, toh gue gak kenapa-kenapa juga gitu. Yang udah lewat ya lewat aja. Dan setiap orang toh punya baggage masing-masing. Gak akan ada orang yang bisa ngubah masa lalunya sendiri. Bukan gue gak sadar kalo ada yang rusak di dalam diri gue. Oh iya ada. Tapi gue gak minta disembuhin. Karena kalo gak ada damage ini, gue gak akan jadi orang yang lebih baik, lebih sabar, dan lebih dewasa. Gue exaggerating diri gue sendiri, sih. Tapi seenggaknya orang yang bener-bener tahu gue luar dalem, sadar, kalo memang ada yang berubah sama gue. Dan menjadi sedikit lebih dewasa adalah salah satunya.

Tapi yah, kalo memang lo gak bisa deal sama baggage pasangan lo, pergi baik-baik adalah jalan yang paling bener. If you can’t fix things in front of you, at least jangan dibikin tambah rusak. If you can’t deal with your significant other’s past, then leave it as it is. Biarin orang lain aja yang handle itu. Mungkin emang bukan jatah lo aja. Pasangan lo udah capek-capek menata hidupnya, dealing with their past, nggak perlu ditambah dengan harus dealing dengan kemanjaan dan keegoisan lo.

Everyone got their own baggage, so do you. You can’t ask them to put the baggage off. It’s how you deal with it that matters. Lo mo nolongin dia bawa baggagenya atau jalan di samping dia nemenin dia keseret-seret… itu better daripada maksa dia buang baggage itu. You can’t change someone’s past. Deal with it, or just leave it.

Dan karena gue udah punya baggage gue sendiri, gue akan sangat-sangat-sangat-sangat berterima kasih untuk orang-orang yang nggak nambahin beban baggage itu. Itu hal yang terbaik yang bisa dilakukan orang lain ke gue saat ini.

3 responses to “Baggage

  1. le, kala membaca postinganmu ini, aku malah kebayang saat td cek-in td yg over-baggage, sampe 12 kilo, itu sama aja 240 rebu, buset leee bikin kere *curcol*

  2. Pingback: Shit happens. Shits just happened. | Macangadungan·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s