Firasat

Telepon selular milik Chandra menjerit. Pemuda itu melirik jam dinding dengan mata menyipit, masih terkantuk-kantuk. Sedetik kemudian baru ia sadar, telepon selular miliknya memainkan “I Will” milik The Beatles. Itu panggilan dari dari kekasihnya, Mel. Jam dinding menunjukkan pukul tiga subuh, jarang-jarang Mel meneleponnya selarut ini.

“Halo?”

“Chandra…” suara Mel masih terseret karena baru terbangun, sama seperti Chandra.

“Kenapa? Kok, jam segini kamu bangun?” tanyanya khawatir.

“Aku mimpi…”

Chandra terdiam sesaat, ada sedikit rasa kesal karena dibangunkan selarut ini hanya karena hal sesepele itu, “Mimpi apa?” tanyanya malas.

“Aku mimpi kamu pergi ninggalin aku.” kemudian terdengar tangis Mel pecah.

Dada Chandra terasa sesak, ia bangkit duduk dari posisi tidurnya, “Kamu, nih… Jangan aneh-aneh. Itu cuma mimpi.”

“Tapi rasanya kayak nyata banget. Kamu ngelihat mukaku kayak mau nangis, terus kamu pergi ninggalin aku. Aku manggil-manggil kamu, tapi kamu nggak mau berhenti. Kamu terus pergi.” Susah payah Mel menjelaskan di antara sela tangisnya.

Lelaki itu terdiam sebentar, memberi jeda pada tangis Mel yang lirih, namun terasa nyaring di telinga Chandra. Ia menghela nafas, “Nggak, Mel. Aku nggak akan pernah ninggalin kamu. Itu cuma mimpi.”

Kekasihnya masih terisak, beberapa detik yang panjang kemudian Ia berbisik, “Seandainya… seandainya kamu nggak sayang aku lagi, kamu bilang, ya. Jangan ninggalin aku gitu aja.”

“Ya ampun. Ini apa, sih? Aku nggak akan pernah ninggalin kamu. Nggak akan pernah!”

Hanya hening di seberang sana.

“Mel?”

“Jangan janji hal yang nggak kamu tahu pasti.”

Giliran Chandra terdiam.

“Aku sayang kamu… Seandainya suatu hari, kamu berhenti menyayangi aku, kamu hanya perlu bilang. Aku sadar, Yang. Kita tuh, nggak bisa maksain perasaan seseorang. Aku terima, aku akan terima dengan lapang dada, kalau suatu hari kamu memutuskan kita cuma sampai di sini. Kalau sayang kamu ke aku nggak sebesar sayangmu ke aku, aku terima.”

“Kamu ngomong apa, sih? Aku kan udah bilang, aku sayang sama kamu. Aku nggak akan ninggalin kamu.” Nada suara Chandra menajam. Sekali lagi hanya dijawab hening.

“Mel?” panggil Chandra pelan.

“Aku sayang kamu. Aku tidur dulu, ya.” Kata-kata Mel, entah mengapa terdengar sedih. Chandra kembali menghela nafas. Terjebak di antara rasa kesal dan rasa bersalah.

“Ya udah. Met tidur, ya. Udah. Jangan mikir yang aneh-aneh. Aku di sini buat kamu. Aku akan selalu ada di sini.”

Kekasihnya tak menjawab. Kemudian telepon terputus. Chandra terdiam. Ia menatap layar teleponnya, ada satu sms masuk.

Sayang, aku capek. Kamu harus milih. Mel atau aku? Kita nggak bisa kayak gini terus. Kamu udah janji mau nikahin aku. Aku nggak akan pernah terima kalau ternyata kamu cuma bohong.

Nama perempuan yang bukan Mel tertera di kolom pengirim. Chandra terpaku menatap layar telepon genggamnya. Pesan ini dikirim tiga jam yang lalu, sesaat setelah ia mengobrol di telepon dengan perempuan tersebut.

“Aku mimpi kamu pergi ninggalin aku.” Suara Mel di antara isak tangisnya terdengar kembali, seakan gadis itu masih ada di ujung telepon.

Chandra sendiri heran, betapa mudahnya ia mengucapkan kata sayang pada kekasihnya, padahal hatinya tidak merasa seperti itu lagi.

Tenang, Sayang. Aku akan bahas ini besok sama Mel.

Ia menekan tombol send. Di dalam hati ia sudah memutuskan, ia akan memilih pergi begitu saja. Ia tak sanggup menghadapi tangisan Mel. Lebih baik menghilang.

Semua orang berhak bahagia, semua orang berhak memilih kebahagiaannya masing-masing. Walaupun kebahagiaannya membuat Mel terluka. Tidak apa-apa. Tidak akan apa-apa.

Toh Mel sudah tahu ia akan pergi. Mel sudah merasakannya. Harusnya ia paham jika Chandra akhirnya benar-benar menghilang.

“Semua orang berhak bahagia, semua orang berhak memilih kebahagiaannya masing-masing.” Chandra mengucapkan kalimat itu di dalam hatinya berjuta kali hingga akhirnya ia terlelap. Mungkin mantra itu akan menghapuskan rasa bersalahnya, mungkin mantra itu akan membuat segalanya terasa benar. Mungkin mantra itu akan menghapus semua dosa-dosanya. Masa bodoh dengan Mel.

4 responses to “Firasat

  1. terlalu banyak cowok yang kayak gitu…pergi begitu saja drpd hrs jujur dan menghadapi tangisan perempuan yg jelas2 nangis karena dia…. apalah kalau bukan pengecut namanya ya kak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s