Manusia yang Berjarak

Ada satu orang, yang menanyakan dua pertanyaan pada saya.

Yang pertama, waktu ngobrol di telepon. Saya cerita sama dia, dulu saya pernah ditinggal sendirian oleh teman-teman saya di Candi Borobudur. Handphone dan dompet ada di mereka. Saya meminjam handphone orang-orang asing di sana untuk mencoba menghubungi handphone saya karena saya tidak hapal nomor teman-teman saya.

Lalu lawan bicara saya, kira-kira merespon dengan pertanyaan ini, “Kenapa kamu nggak nelpon pacarmu waktu itu? Memang kamu nggak hapal nomornya?”

Saya terdiam. Iya, ya. Padahal saya hapal nomor (mantan) pacar saya waktu itu. Kenapa, ya…

Lalu orang yang sama, main ke kamar kost saya suatu hari. Ia melihat-lihat foto yang saya pajang, dan lagi-lagi dia bertanya, “Mana foto kamu sama pacar kamu?”

Saya jawab, “Nggak ada. Nggak pernah majang foto berdua.”

“Kenapa?”

Iya, ya… Kenapa?

Kemarin malam, saat main ke apartement Elia, tiba-tiba saya membahas ini. Saya sendiri masih bingung. Kenapa ketika saya tersesat, bukan (mantan) pacar saya yang saya cari? Kenapa saya tidak memiliki foto berdua yang bisa dipajang di kamar? Padahal kami bertahun-tahun pacaran, dan bener-bener deket banget sampai kayak biji titit. Tapi kenapa, ya…

Teori pertama Elia; dia mungkin bukan lelaki yang bisa diandalkan pada kondisi tertentu. Misalnya kayak Elia, dia nggak ngerti soal mesin, jadi kalau ada orang yang butuh bantuan soal mesin, nggak mungkin nanya dia.

Dipikir-pikir nggak juga. Karena kalau soal pas saya nyangsang sendirian di Borobudur, sebetulnya saya bisa menghubungi (mantan) pacar dan minta dia ngontak teman-teman saya di twitter (karena saya hapal akun twitter mereka). Tapi entah kenapa, saat itu saya tidak terpikir sama sekali untuk menghubungi dia.

Kemudian Elia melempar teori kedua; dia adalah lelaki yang berjarak. Sehingga saat saya butuh seseorang, saya nggak bisa lari ke dia karena terasa ada jarak.

Saya diam.

Itu mungkin sesuatu yang pahit untuk diakui. Iya, ya. Betul juga. Bertahun-tahun dalam hubungan kami, memang ada jarak yang ia berikan di antara kami. Mungkin bukan dengan sengaja. Mungkin memang karena dia tipe orang yang seperti itu. Rasanya aneh, menyadari bahwa orang yang kita kenal selama ini, bukanlah orang yang kita kenal.

Saya jadi teringat kutipan dari salah satu film kesukaan saya, “Eternal Sunshine of a Spotless Mind”.

What a loss to spend that much time with someone, only to find out that she’s a stranger.

Beberapa bulan sebelum saya berpisah dengan dia, kutipan tersebut menjadi status Whatsapp saya. Karena ketika menonton film itu yang kedua kalinya, saya menyadari bahwa… (mantan) pacar saya semakin lama terasa semakin asing. Walau mungkin saja itu terjadi karena pada titik itu dia sudah berhenti berusaha menyayangi saya, dia sudah jatuh cinta dengan perempuan lain. Maka semua yang ada padanya terasa asing. Tapi mungkin juga, saya yang baru sadar, kalau dia memang selalu asing (dan berjarak), untuk saya. Dan semakin saya mengenalnya, keasingan itu justru semakin terasa.

Jika mengingat kembali, pada posisi sekarang ini, saya baru sadar kalau jarak itu selalu ada. Dan semakin lama semakin terasa. Ada sedikit perasaan sedih di dalam saya, bahwa saya telah menghabiskan waktu dan air mata begitu banyak bersama seseorang yang asing. Saya ingat, saya telah berusaha mencoba menghapus jarak itu.

Saat saya berjalan berdua dengannya, saya akan meraih tangannya. Dan biasanya, tak lama kemudian dia akan melepaskannya. Alasannya, malu dilihat orang.

Saat saya berbicara dengannya, ada kalanya saya bertanya, apa yang dia rasakan, apa yang dia pikirkan. Tapi dia jarang menjawab dengan terbuka. Padahal saya peduli pada apa yang dia pikirkan dan rasakan.

Saat saya ingin bisa bertemu dia sepulang kerja, ia kurang suka karena ia malas menunggu saya selesai kerja. Terlalu lama. Dan belakangan saya tahu ia bilang ia merasa diperlakukan seperti tukang jemput (dia nggak tahu betapa sakitnya perasaan saya dibilang seperti itu). Padahal… saya cuma ingin ketemu dia aja. Kalaupun dia yang pulang lebih malam dari saya, saya nggak akan segan duduk manis menunggu di depan kantornya. Walau harus menunggu sendirian.

Mungkin, itu semua memori yang terjadi belakangan. Mungkin di awal hubungan kami, kami berdua baik-baik saja. Tapi saya sudah tidak ingat. Yang bisa saya ingat hanya hal-hal pahit yang tersisa di tahun-tahun terakhir hubungan kami.

Saya menulis tentang ini bukan karena belum move on dari mantan. Justru saya sudah move on jauh sekali. Saya hanya sedang memikirkan, bagaimana bisa saya menghabiskan waktu selama itu, bersama seseorang yang berjarak sama saya? Dan kenapa saya nggak menyadari jarak itu?

Saya ingin tahu, bagaimana rasanya bisa bersama seseorang yang tidak memberi jarak pada saya…

 

***

 

PS: Mr. X bukan cowok yang jahat, sih. Kalau buat saya, dia nggak jahat hanya karena nggak sayang sama saya. Toh, kita kan nggak bisa maksain perasaan orang lain ke kita.

2 responses to “Manusia yang Berjarak

  1. Kadang-kadang kita suka “mengabaikan” perasaan kita akan sesuatu hal hanya karna alasan kita menyayangi seseorang. Cinta membuat orang “kurang peka” sama perasaannya sendiri sampe ketika cinta itu memudar baru deh mulai nyadar😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s