Aku Datang, Aku Hancurkan, Aku Pergi

Kebiasaan saya adalah memikirkan hal-hal yang sepele.

Bukannya dengan sengaja, sih. Kadang terpikir begitu saja. Tapi kebiasaan ini mungkin makin meningkat sejak awal tahun. Karena, yah, banyak hal yang terjadi belakangan ini. Jadi mulai sering mikirin “Kenapa?”, “Bagaimana?”, “Kok, bisa?”, bahkan untuk hal yang paling nggak penting. Dan semua itu ya otomatis aja kepikiran. Kalau kata nyokap, saya ini emang tipe orang yang apa-apa dikit kepikiran. Beliau bilang begini sejak kami jadi lebih dekat dan lihat saya semakin stress karena kerjaan. Kata beliau, “Mama kan, keunal kamu dari dulu. Dari dulu juga Mama tahu, kok, kalo kamu apa-apa dikit kepikiran.” Iya juga, ya…

Tadi malam ini saya mendadak terpikir, kenapa seseorang bisa tega nyakitin orang lain yang ‘katanya’ dia sayang.

Katakanlah begini; X bertemu Y. Y adalah subyek yang sedang dalam keadaan tidak baik, sakit, atau apalah. X tahu benar keadaan Y seperti apa. Tapi, entah bagaimana, X justru mendekati Y dengan resiko dia tahu dia akan menyakiti Y. Dia tahu, dia akan membuat Y tambah sakit. Tapi X menikmati berada di dekat Y, maka dia tetap berusaha menembus pertahanan Y.

Pada akhirnya, X membuat Y menangis. Kemudian X pergi begitu saja. Bagi X, apa yang terjadi antara mereka berdua adalah pengalaman yang indah. Sementara bagi Y, jadi pengalaman buruk. Padahal X tahu itu, tapi tetap saja semuanya dilakukan, dan kemudian X pergi begitu saja.

Nah, saya terpikir. Kenapa orang seperti X, bisa melakukan hal seperti itu?

Kalau dari sudut pandang saya, jika saya menyayangi seseorang, dan orang itu kebetulan sedang dalam keadaan sedih, yang terpikir di saya adalah… apapun yang terjadi, saya tidak akan membuat dia sedih. Saya tidak akan pernah membuat diri saya menjadi sama dengan orang yang membuat Y terluka. Iya, kan? Kalau sayang, tidak akan begitu. Saya nggak terpikir untuk membuat Y sembuh, karena kan memang harusnya dia sembuh sendiri. Bukan kewajiban saya untuk membuat Y berubah menjadi individu yang lebih baik dan lebih bahagia. Tapi setidaknya, karena saya sayang sama Y, saya tidak akan pernah mau menyakiti dia.

Baru-baru ini, saya melihat dan mendengar dengan mata kepala saya sendiri, bagaimana seseorang bisa mengatakan hal-hal seperti, “Aku sayang kamu.”, “Aku nggak akan pernah ninggalin kamu.”, “Aku mau kamu jadi yang terakhir buat aku.”, “Aku maunya nikah sama kamu.”, padahal… tidak ada satu katapun yang diucapkan orang ini dengan serius. Semua cuma bohong. Kebohongan yang diucapkan untuk membuat pasangannya diam dan berhenti menangis. Kebohongan yang diucapkan agar perdebatan lekas selesai. Dan juga karena diserang rasa bersalah.

Dari orang ini, saya mengerti, bahwa buat sebagian orang, kata-kata sayang hanyalah sekedar kata-kata. Nggak perlu mewakili apa yang sebenarnya dia rasakan. Itu hanya kata-kata yang diucapkan karena orang tersebut tahu benar kalimat tersebut mampu menyelesaikan konflik.

Menilik dari pengalaman tersebut, saya yang teringat akan kasus X dan Y ini, jadi menarik kesimpulan. Jika dilihat kembali, walau X mengatakan bahwa ia menyayangi Y, tidak mau kehilangan Y, takut membuat Y sedih, sangat besar kemungkinan semua itu cuma kata-kata kosong untuk menghapus rasa bersalah atau untuk mendapatkan hal-hal yang dia mau. Misalnya X ingin Y melihatnya sebagai sosok yang baik. Atau X ingin Y tidak meninggalkan dia karena X masih menikmati bersama dengan Y. Dan ya mungkin itu lah yang paling besar, untuk menutupi rasa bersalah.

Saya sendiri sudah kenyang ya, ditembak bertubi-tubi dengan kalimat “Aku sayang kamu.” dan “Aku maunya sama kamu, nggak ada cewek lain yang bisa gantiin kamu.” . Pada akhirnya, actions speak louder than words.

Hanya butuh jeda lima menit untuk mengatakan, “Aku sayang kamu. Aku maunya sama kamu. Aku belum siap kehilangan kamu.” dan kemudian berubah menjadi, “Aku sayang dia. Aku nggak mau ngelepas dia.”

Oh, saya paham benar betapa kosongnya sebuah kalimat “Aku sayang kamu.”.

Mungkin itu lah yang terjadi antara X dan Y. Mungkin sejak awal mula tidak ada kata-kata X yang serius. Karena jika diingat kembali. Kalau memang sayang, nggak mungkin seseorang mengawali sesuatu dengan tidak benar. Kalau memang sayang, nggak mungkin X menyakiti Y. Menurut saya, menyakiti dengan tidak sengaja itu tidak ada. Kalau dengan tidak diniatkan, mungkin ada. Pada akhirnya, mungkin X hanya sekedar lebih memikirkan kebahagiaan dan kebutuhannya dibandingkan memikirkan perasaan Y. Mungkin Y hanya selingan atau bahan eksperimen. Atau mungkin X mengira apa yang dia rasakan terhadap Y itu nyata, sampai dia sadar itu cuma infatuasi belaka yang kemudian hilang gitu aja.

Atau mungkin yah, X hanya ingin bahagia. Tapi tidak punya tempat di dalam hatinya, untuk memikirkan apa yang akan terjadi pada Y.

Orang-orang yang lebih mengutamakan kebahagiaannya sendiri memang ada, kok. Saya sedang belajar mengerti, hanya karena mereka tidak peduli perasaan orang-orang yang mereka sakiti, bukan berarti mereka jahat. It’s just… normal. Tapi yah, jika memang seperti itu lah normal, semoga saya tidak akan pernah menjadi normal.

We don’t just walk into someone’s life and destroy them. If you can’t make people happy, at least, don’t make them cry and feel bad about themselves.

6 responses to “Aku Datang, Aku Hancurkan, Aku Pergi

  1. Makanya sekarang aku menanamkan ke diriku sendiri begini, “If someone truly loves me, he will fight for me. Dia akan buktikan ucapannya. Bukan hanya sekadar kata2. Karena… talk is cheap.” Yah, kecuali buat orang-orang yang serius dengan setiap kata yang diucapkannya, orang-orang macam kita, Le.😀

  2. Gw juga suka kepikiran sama orang yang suka bilang “Kamu adalah segalanya bagiku”, “Aku cinta mati sama kamu” trus “Aku janji hanya akan mencintai kamu seorang disisa hidupku”. Nonsense! Dosa nya tebel tuh orang-orang macam gitu. Untung gw mah cuma sekali doang *nyengir kuda*

    • Aku juga ngmg gitu sama (mantan-mantan) pacar yg aku beneran sayang. Ok, cuma satu mantan sih, yang pernah kugituin.
      But I did mean it. Kalo aku udah ngomong gitu, berarti aku serius. Bukan gombal.

  3. Oleh karena itulah kita tidak perlu mengumbar kata “i love u” karna kata2 itu sakral bgt menurutku🙂 Eh suamiku sekarang juga jarang bgt bilang i love u, agak ‘ngenes’ sih rasanya tapi gak papalah…setidaknya dia membuktikan cintanya, gak cuma di ucapin doang😀

    • Aku malah suka banget bilang “I love you”. Kalau perlu tiap hari minimal 3 kali. Tapi itu cuma kalo aku bener2 sayang. Udah by default buatku untuk nunjukkin afeksi baik scr verbal maupun action. Gak bisa ditahan :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s