Moving On

Be-sad---be-broken

Patah hati itu biasa. Putus itu biasa. Sedih sebentar, kemudian kita lupa.

Sampai kita bertemu patah hati yang sebenarnya. Sebagian besar orang pasti pernah mengalami ini. Satu kali patah hati yang terbesar, yang mengubah diri kita, hidup kita, dan pandangan kita secara umum. Saat kita patah hati sebagai orang dewasa.

Ini, adalah patah hati yang tersulit, yang mungkin lukanya akan kita bawa seumur hidup. Yang mungkin akan memberi dampak pada hubungan kita selanjutnya. Sebagian besar dari kita, yang mengalami ini setelah usia 25 tahun, mungkin ngerti rasanya.

Ada fase panjang, ketika kita nggak bisa berhenti self loathing, terbelah antara ingin memperjuangkan hubungan ini atau nggak, dan yang paling terasa, mungkin perasaan tersesat yang terus menerus. Kita lupa bagaimana cara menikmati makan malam yang nikmat, tertawa bersama teman, menyayangi diri sendiri, semua hal yang dulu bisa membuat kita merasa penuh, entah kenapa tidak bisa membuat kita melupakan rasa sakit yang ada di dalam dada kita.

Pekerjaan terbengkalai, hal-hal yang dulu kita kuasai, entah kenapa jadi begitu sulit. Pekerjaan paling mudah pun tidak bisa kita lakukan. Masih ditambah merasa bersalah sama sahabat-sahabat kita karena kita sibuk menghilang kemudian muncul sambil menangis histeris sesuka hati, atau mengganggu sahabat kita dengan cerita yang sama berulang-ulang. Apapun nasehat yang diberikan sahabat, tidak kita dengarkan, kita hanya sibuk menangis, dan menyusahkan sahabat kita.

Rasa sakit dan kesepian yang terus menerus, yang membuat kita melarikan diri pada banyak hal. Teman, alkohol, rokok, kemesraan-kemesraan kosong dengan lawan jenis, hobi, pekerjaan, bahkan mungkin… rasa sakit secara fisik. Semua itu, hal-hal tolol yang kita lakukan sekedar untuk melupakan rasa sakit dan sepi.

Di dalam hati kita, kita menjerit “Somebody, please save me.”, bahkan mungkin kita meneriakkannya pada sahabat, teman, atau orang-orang asing di blog, twitter, path. Tapi tidak ada yang mendengar. Mereka mendengar, tapi nggak ngerti. Kadang pun, ada orang-orang yang sudah datang, menyelamatkan kita, tapi kita yang nggak ngerti. Kita nggak ngerti, karena kita terlalu sibuk merasakan sakit. Kita nggak bisa menghargainya, karena kita terlalu sibuk menangisi diri sendiri. Dan pada akhirnya, mereka nggak akan ngerti. Mereka akan capek, dan kita kembali sendirian.

Pada akhirnya, kita akan sampai pada titik dimana mau nggak mau kita harus pura-pura baik-baik aja. Karena berbagai macam alasan. Karena pekerjaan dan hidup kalian sudah terlalu berantakan, mau nggak mau kalian harus bangkit dan jadi lebih kuat. Karena mantan kekasih kita sudah bahagia dengan pasangannya yang baru, dan kita sadar, menangisinya hanya akan membuat orang-orang brengsek yang menyakiti kita merasa superior. Karena sahabat-sahabat kita sudah lelah menanggapi drama kita, dan kitapun sudah lelah mendengar mereka marah dan menyindir betapa lemahnya kita. Masa bulan madu ketika mereka ada buat kalian, buat kita, sudah habis. Berganti jadi masa mereka mentertawakan kita. Dan pura-pura kuat, adalah satu-satunya opsi agar kita nggak kehilangan sahabat kita.

Pada masa itu lah… pada masa itu lah perjuangan terpanjang kita.

Kita tertawa, kita hidup seperti orang normal, bekerja seperti biasa, kita mulai menanggapi lawan jenis yang mendekat, kita ikut mentertawakan mantan kekasih kita. Dan sangat mungkin sekali, kita sudah tidak merindukan para bajingan itu. Kita sudah nggak peduli lagi sama mereka. Berhenti stalking social media mereka. Berhenti mencari tahu.

Tapi kita tahu, kita belum sembuh.

Ketika lawan jenis mendekat, perasaan takut itu ada. Ketakutan bahwa pada akhirnya kalian akan disakiti lagi. Ketakutan bahwa kalian kembali memilih orang yang salah. Rasa tidak percaya, ragu, dendam, lelah, semuanya jadi satu.

Kalian tersenyum di depan teman-teman kalian untuk membuktikan sama mereka kalian baik-baik saja. Bahkan kalian benar-benar yakin kalian baik-baik saja. Tapi kalian sadar, kalian hanya terlalu malu untuk mengakui, bahwa rasa sakit itu ada. Kalian hanya terlalu lelah mendengar sahabat-sahabat mengomel dan menyindir jika mereka tahu yang sebenarnya. Kalian hanya takut dihakimi oleh sahabat-sahabat kalian jika menunjukkan apa yang kalian rasakan sebenarnya.

Kalian mulai bisa melakukan berbagai hal sendirian atau bersama teman. Pergi belanja bulanan sendirian, makan di restoran tempat kalian biasa ngedate tanpa harus keringat dingin, tidak punya lagi orang yang bisa dihubungi saat hendak tidur, tidak ada lagi sosok yang bisa kalian jadikan sandaran. Semua harus bisa dilakukan sendiri. Dan kalian akhirnya sadar, bahwa ya, kalian sanggup melakukan semua itu sendirian.

Tapi ada saatnya. Ketika kalian jatuh berantakan.

Ketika beban stress karena pekerjaan menjatuhkan kalian, dan tidak ada seseorang yang bisa kalian ajak bicara seperti si mantan. Seseorang yang mendengarkan karena benar-benar peduli sama kalian, karena benar-benar sayang sama kalian.

Ketika ada masalah keluarga yang biasanya bisa kalian bicarakan dengan mantan, tapi kali ini ia tak ada, dan kalian nggak bisa cerita ke sahabat karena masalahnya terlalu sensitif. Dan hanya mantan kalian yang bisa mengerti masalah itu.

Ketika tiba-tiba lagu kalian berdua terputar di iTunes, atau hal-hal spesifik yang dulu punya titel “our things”, yang nggak bisa kalian lakukan sama orang lain selain dia karena rasanya akan total berbeda, atau ada kerabat yang menanyakan kabar mantan, atau malah memberi update kabar terbaru tentangnya. Ketika pada malam-malam tertentu yang sial sekali, kalian tiba-tiba merasa sangat sangat sangat kesepian tanpa alasan jelas.

Dan kalian sadar, biasanya pada momen seperti itu, kalian akan mencari dia. Pada saat-saat seperti itu, kalian tersadar, ternyata luka itu masih ada. Masih basah dan menganga.

Kemudian kalian menangisinya. Bertanya-tanya putus asa. Kenapa saya masih merasa sedih setelah berlari sejauh ini?

Ini belum ditambah, ketika akhirnya kalian jatuh cinta.

Sungguh beruntung, jika kalian menemukan seseorang yang siap menerima kondisi kalian yang berantakan. Seseorang yang mengerti, bahwa kalian masih berjalan tertatih-tatih, kalian masih terluka dan tidak sedang dalam kondisi 100%. Bahwa yang di depan mereka adalah orang yang baru terisi 25%. Dan 25% yang kalian miliki, adalah 25% yang sudah diperjuangkan mati-matian. Dan bahwa mungkin, masih ada sisa-sisa mantan pada diri kalian. Entah lukanya, entah kenangannya, entah rasa sayangnya. Seseorang yang mengerti dan sabar. Seseorang yang berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dia nggak akan pernah melukai kalian. Seseorang yang cukup kuat untuk bertahan dan membantu kalian berbenah diri. Seseorang yang nggak menuntut kalian memperbaiki diri, nggak menuntut kalian berubah demi dia, dan juga nggak berniat “menyembuhkan” kalian. Melainkan menyayangi kalian, sepaket dengan semua cacat, kerusakan, luka, airmata, dan mau bersabar menunggu kalian berjuang untuk sembuh.

Saya tahu, langkanya manusia yang seperti itu. Sungguh beruntung bagi mereka yang menemukannya.

Dan jatuh cinta, adalah obat yang paling mujarab. Kalian tahu itu. Jatuh cinta, atau seseorang begitu sabarnya menunggu kalian jatuh cinta padanya tanpa pernah pergi, sekaligus tanpa memaksa.

Tapi tentu saja… jatuh cinta bukan berarti semua rasa sakit itu selesai. Ketakutan itu akan selalu ada. Kita tahu, rasa takut dikhianati itu akan selalu tersisa. Atau buat sebagian orang, mungkin rasa lelah. Lelah untuk berjuang, karena airmata, tenaga, semuanya sudah terhisap bertahun-tahun kemudian menguap pada satu hari yang sial ketika hati kalian dihancurkan oleh mantan.

Dan pada titik itu, kita terdiam sendirian, dan mungkin menangis, bertanya-tanya…

Sadarkah dia, luka macam apa yang sudah dia tinggalkan di hati saya?

Sadarkah dia, seberapa banyak kehancuran yang dia tinggalkan di dalam diri saya?

Sadarkah dia, bahwa luka ini, mungkin akan saya bawa sampai tua, sampai mati?

Mengapa dia tega melakukan ini terhadap saya?

Moving on, adalah sebuah jalan yang sangat-sangat panjang. Bahkan, saat kita sudah berjalan sangat jauh dari masa lalu, sudah berpindah ke rumah yang baru, pasti akan ada satu kepingan kecil yang terikut bersama kita. Mungkin kecil sekali, tapi mungkin saja sangat besar.

Dan saat kalian masih harus berjuang mati-matian, mungkin orang yang menyakiti kalian sudah melupakan kalian, dan berbahagia tanpa sedikitpun merasa bersalah, atau tahu, perjuangan macam apa yang masih kalian jalani. Akui saja, hal ini sedikit banyak membuat luka itu semakin terasa.

Moving on, memang nggak akan semudah itu. Kalian mungkin sudah tidak menyayangi bajingan yang menghancurkan kalian, kalian tidak merindukannya dengan cara yang sama, bahkan mungkin kalian sudah tidak membencinya lagi.

Tapi kalian tahu, rasa sakit itu masih ada. Jelas dan nyata. Sama seperti saat kalian pertama kali merasakannya.

Namun kali ini, kalian sudah nggak bisa meminta orang lain mengerti kesakitan kalian, dan kalian harus pura-pura baik-baik saja. Dan menjadi kuat adalah pilihan terakhir. Menjadi kuat, atau dihakimi, ditertawakan, dan dibenci orang-orang di sekitar kalian.

Saya cuma bisa bilang, kalian nggak sendirian. Satu-satunya cara, fake it ’till you make it. Pura-pura lah kuat, berpura-puralah, sampai kalian menjadi benar-benar kuat.

Jangan berharap ada seseorang yang muncul dan menyelamatkan kalian. Berhenti menuntut agar orang-orang mengerti kondisi kalian. Jangan berharap orang yang menyakiti kalian akan menyesal dan muncul sambil meminta maaf. Jangan mendoakan hal buruk pada orang lain. Dengan begitu, kalian mulai belajar berjuang sendirian, mulai belajar mandiri, mulai belajar mengerti kalau kita nggak bisa menyandarkan kebahagiaan pada manusia.

Nggak semua orang punya privilege untuk mengalami patah hati seperti ini. Mungkin sakitnya akan bertahan sampai kita tua dan mati nanti. Tapi seenggaknya, harusnya rasa sakit ini bikin kita belajar lebih kuat sekaligus lebih peka sama kesedihan orang lain.

Di saat kalian menangis sendirian di kamar, merasa kesepian dan bertanya-tanya kenapa, ingat aja di dalam hati. Ini nggak selamanya, kok. Mungkin memang nggak akan ada yang namanya ksatria berkuda putih yang menyelamatkan kalian. Maka jadilah ksatria itu. Lawan naganya dengan tangan kalian sendiri. Agar saat besok-besok, kalian apes, disakiti oleh orang yang kalian sayang lagi, kalian tahu bagaimana caranya bangkit berdiri dan move on, kalian sadar bahwa kalian harus lebih menghargai diri sendiri.

Karena luka kita ada, untuk mengingatkan kita kelak, seberapa besar perjuangan kita sampai di titik ini. Dan nggak ada satupun orang di dunia ini yang layak mengecilkan perjuangan kita. Nggak ada satupun orang di dunia ini, yang layak membuat kita merasa nggak berharga.

Biarkan orang yang menyakiti kita pergi dan berbahagia, sesakit apapun rasanya buat kita. Pukul mereka jika kamu nggak puas. Tapi jangan biarkan mereka membuatmu merasa tidak berharga terus-terusan. Jangan juga biarkan mereka merasa sudah membayar lukamu dengan cara membalasnya secara impas. Biarlah kelak mereka ingat, mungkin saat mereka lebih dewasa dan akhirnya memiliki hati, bahwa pada satu masa, mereka telah menyakiti seseorang dengan begitu luar biasanya. Dan tak ada satupun yang bisa mereka lalukan untuk membayar itu.

Mungkin kita harus moving on seumur hidup. Biarlah itu jadi pengingat kita. Bahwa hidup nggak selalu berjalan seperti yang kita mau, bahwa kita pernah jatuh dan ternyata kita bisa bangun lagi, bahwa orang yang kita sayang dan sayang sama kita akan sanggup untuk melukai kita separah itu. Bahwa kita, harus jadi ksatria berkuda putih untuk diri kita sendiri.

5 responses to “Moving On

  1. Pingback: 4 Salah Paham tentang Depresi | Macangadungan·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s