Memperjuangkanmu atau Memenjarakanmu?

2014 10 11

 

Malam itu, saya menikmati secangkir kopi di sebuah kafe di bilangan Jakarta Selatanbersama seorang teman lelaki yang sudah tidak bertemu saya beberapa bulan. Dua atau tiga bulan mungkin. Kami mengobrolkan hal-hal remeh, padahal saya tahu teman saya ini baru saja putus dengan kekasihnya. Tapi saya memang sengaja nggak tanya, saya nunggu dia cerita duluan.

Pada saat kami keluar merokok, baru Ia cerita.

Sebelumnya, biar saya jelaskan sedikit. Sejak teman saya ini berbagi beberapa cerita tentang kekasihnya, saya sudah tidak suka. Untuk banyak alasan, si perempuan ini mengingatkan saya pada mantan pacar yang chauvinist dan egois, mereka memiliki ciri-ciri yang sama dari segi perilaku. Waktu saya masih bersama mantan saya, si teman lelaki ini sudah mengingatkan saya bahwa mantan saya itu tidak beres. Dia mengatakan kekasih saya waktu itu pengecut dan pembohong, kira-kira seperti itu. Yang akhirnya, ternyata hal-hal yang pernah diucapkan teman saya, menjadi kenyataan. Dan dia bilang, “Aku kan udah bilang dari duluuuu!”

Nah, kemudian kini posisinya berbalik. Saya, nggak suka dengan kekasihnya, karena menurut saya, tingkahnya sama persis dengan mantan saya. Tapi tentu saja, saya diam saja. Si perempuan ini meminta teman saya untuk pindah agama demi menikahi dia. Saya bilang, “Dia cuma mikirin diri sendiri. Persis kayak Mr. X.” Tapi tentu saja teman saya tidak peduli dengan komentar saya, dan saya sendiri tidak tertarik menambahkan. Maksudnya, itu hidup dia, terserah dia mau ngapain. Lagipula, saya pernah ada di posisi dia. Saat kita betul-betul menyayangi seseorang, semuanya terasa benar, walaupun alarm bawah sadar kita sudah menjerit-jerit mengingatkan bahaya.

Makanya, ketika teman saya menceritakan bahwa kekasihnya berselingkuh, saya tidak kaget. Itu hal yang sudah pasti akan dilakukan orang-orang egois. Saat mereka tidak bisa mengaturmu menjadi sesuatu yang mereka inginkan, begitu ada orang lain yang hadir, akan mereka sambar begitu saja. Saat seseorang mengalami krisis umur dan terobsesi ingin menikah, mereka akan menyambar siapa saja yang datang asal cukup cakep dan cukup tajir. Mereka nggak akan mutusin pasangannya dulu, karena mereka maunya saat mereka pergi, sudah ada yang datang menyambut mereka dengan kepastian.

Makanya saya bilang egois. Makanya jenis seperti mereka pasti selingkuh.

“Padahal beberapa waktu sebelumnya dia yang menangis, dan meminta saya tidak mengakhiri hubungan kami. Begitu saya sudah mantap, ngomong ke orang tua, tiba-tiba dia bilang dia sudah bersama lelaki lain dan ingin mengakhiri hubungan kami.”

Saya jawab, “Persis sama dengan mantan saya. Waktu saya ajak putus baik-baik, ia menangis. Saat itu saya berpikir, oh, mungkin dia benar-benar sayang saya. Oke, saya akan berjuang bersama dia. Tapi apa? Ternyata diam-diam di belakang saya dia mendekati beberapa perempuan, minta pada teman-temannya untuk menjodohkan dia dengan perempuan single. Tiba-tiba sudah sayang-sayangan sama perempuan lain di belakang saya.”

Yang mantan saya tidak tahu. Saya mengajak dia putus karena saya kasihan sama dia. Saya sayang, benar-benar sayang sama dia (waktu itu), tapi saya tahu saya nggak akan bisa jadi perempuan yang dia mau. Saya nggak mungkin pindah agama karena diminta orang lain. Dan saya rela melepas dia, biar dia bisa mencari perempuan yang sesuai dengan mau dia. Padahal untuk mutusin dia waktu itu pun, saya sebenarnya ingin menangis, ketakutan, tidak siap. Tapi semua saya sembunyikan. Saya ingin mempermudah hidupnya, dan membiarkan dia berbahagia dengan orang lain.

Dan reaksinya, menangis, membuat saya berpikir, bahwa hubungan kami layak diperjuangkan. Bahwa dia, layak diperjuangkan. Bahwa ia menangis dan tak mau melepas saya, karena ia menyayangi saya.

Sama seperti teman lelaki saya. Tangisan (mantan) kekasihnya, membuat dia berpikir, wanita ini berharga, hubungan ini layak diperjuangkan. Dan wanita ini, mencintainya setulus hati.

Kami berdua salah. Kami ditipu.

Later I knew, kata mantan saya, dia menangis bukan karena sayang saya. Dia sudah tidak sayang saya waktu itu, katanya. Dia menangis hanya karena kasihan sama saya, kalau kami putus, nanti saya jadi sendirian.

Kasihan kalau putus, tapi nggak kasihan kalau selingkuh, ya?🙂 Nggak kasihan kalau pedekate sama cewek-cewek lain di belakang saya ya?

Dari pembicaraan dengan teman saya, saya jadi mengerti. Saya sampai pada satu kesimpulan.

Ada beda yang besar, antara seseorang yang memperjuangkanmu, dengan seseorang yang sekedar memenjarakanmu.

Ketika kalian tidak bahagia dan ingin pergi, namun pasangan kalian menahan mati-matian dengan menangis atau menyakiti diri sendiri, itu bukan karena ia menyayangimu. Bukan. Tapi karena ia lebih menyayangi dirinya sendiri daripada kamu. Dia nggak peduli kamu harus bahagia, sedih, atau tertekan. Bagi orang egois seperti itu, bagi mereka, yang paling penting hanya kebahagiaan mereka. Kalian cuma tools untuk memenuhi ego mereka.

Karena ketika ada tools yang lebih baik dan lebih mendekati keinginan mereka, mereka nggak akan segan untuk memilih opsi tersebut, baru kemudian meninggalkan kalian.

Mereka tidak akan repot-repot berusaha memperlakukan kalian dengan lebih baik dan lebih terhormat. Mereka tidak akan menghargai apa yang kalian berdua punya (atau pernah punya), atau perjuangan yang kalian sudah lewati, perasaanmu, apalagi dirimu. Karena buat mereka, buat orang-orang egois ini, yang berharga cuma kebahagiaan mereka sendiri. Buat mereka, tidak masalah kalau harus menghancurkan kalian atau membuat kalian menangis, karena mereka hanya perlu menutup mata dan telinga, lalu hidup bahagia dengan “barang” baru mereka. Yang sesuai dengan keinginan mereka.

Orang-orang seperti ini memang ada, kok. Dan mereka rata-rata memang punya ciri-ciri dan perilaku yang sama. Jadi… kalau pasangan kalian menunjukkan hal-hal yang mirip dengan mantan kekasih saya dan teman saya, hati-hati aja🙂

3 responses to “Memperjuangkanmu atau Memenjarakanmu?

  1. Hahahaha. Yup, memang ada beberapa cowok yang menjadikan cewek sebagai tools saja. Ada yang lebih baik pasti akan diembat juga.

    Btw do you mind to follow my other blog please. It is on hidupiniseperti.wordpress.com

    I rarely blogging on this account. right now.🙂

    • Loh, blog yang itu seru juga, Aku lagi baca-baca, nih.
      Anw, gak cuma cowok doang yg jadiin cewek tools. Berlaku sebaliknya kok. Gue patah hati, tapi bukan dendam sama cowok :)))))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s