Gitar Kesayangan

Cie gue…

Tadi siang iseng-iseng main gitar sambil direkam pake photobooth macbook saya. Lucu juga saya pikir, iseng-iseng mau pamer di blog. Maaf ya kualitas video dan suaranya jelek (baik kualitas medianya maupun kualitas nyanyi orangnya :p)

Eniwei, sebenarnya dari kemarin mau posting soal gitar kesayangan saya yang bisa saudara saudari sekalian lihat di dalam video di atas. Travel guitar Yamaha yang sudah saya idam-idamkan, sejak tahun 2010 atau 2011.

Saya sendiri bukan pemain gitar, jago aja nggak. Dulu belajar gitar berbekal majalah MBS dan karir musik saya hanya sampai taraf anak band sekolahan (yang nggak pernah memenangkan festival band antar sekolah FYI). Saya hanya sekedar suka main gitar aja.

Di rumah saya memiliki gitar akustik Yamaha juga, yang mungkin usianya sudah lebih dari 20 tahun, lengseran dari Bapak saya. Sudah pernah jatuh, bocor (kemudian ditambal), kebanting, dll, sehingga sekarang suaranya udah nggak karuan walaupun saya sudah mencoba menyelamatkan dengan gonta ganti senar dan membeli capo. Makanya, waktu satu hari saya jalan dengan mantan pacar ke Gramedia Matraman dan melihat gitar travel Yamaha yang ukurannya lebih kecil dari biasanya, saya langsung bilang, “Nanti aku ulang tahun mau dikadoin itu, ya.”

Gini, saya bukan tipikal perempuan yang senang minta ini itu. Sejak kecil, saya terbiasa nggak minta apa-apa sama orang tua kecuali kalau saya butuh. Lihat sepatu bagus di mall, saya nggak akan minta dibelikan, kecuali kalau satu-satunya sepatu sekolah saya rusak. Saya nggak pernah minta dibelikan baju atau boneka. Saya tipe yang apa yang dikasih, itu yang saya terima, dan tentu saja kalau orang tua tiba-tiba membelikan sesuatu, saya akan jingkrak kesenangan karena saya nggak pernah berharap dibelikan (misalnya waktu dibelikan boneka Barbie edisi Mermaid atau ensiklopedia ilmu pengetahuan Disney).

Begitupun dengan mantan pacar. Bertahun-tahun saya pacaran sama dia, saya termasuk perempuan yang jarang minta. Ya sering sih minta… minta ketemuan dan minta dimanjain. Tapi kalau barang, jarang. Makanya ketika saya minta dibeliin gitar sebagai hadiah ulang tahun, itu berarti saya bener-bener kepengen banget. Saya tahu, secara keuangan, mantan saya waktu itu sanggup membelinya. Karena saya, yang gajinya jauh lebih kecil dari dia aja, sanggup beli barang yang harganya sama untuk hadiah ulang tahun dia (ya tapi nyisihin uang gajian 2-3 bulan, sih).

Ketika saya ulang tahun, saya sudah senang dan berharap dibelikan gitar. Saya diajak ke Gramedia di dekat rumah saya. Namun ternyata di sana nggak ada gitar yang saya mau. Dan dia menawarkan membeli hadiah lain, sepaket Rotring dengan harga yang sama dengan gitar yang saya mau. Saya nagging minta gitar aja daripada Rotring, tapi dia bilang, dia malas ke Gramedia Matraman dan nyuruh saya ambil aja Rotringnya. Toh harganya sama.

Yah. Saya sedih sih. Padahal yang bikin hadiah bermakna itu kan effortnya, bukan harganya. Anyway, tapi saya tetap senang dan berterima kasih sudah dibelikan hadiah ulang tahun. Saya masih berharap, mungkin tahun depan saya akan dibelikan gitar sebagai hadiah ulang tahun. Namun sampai akhirnya kami berpisah, gitar itu tak pernah terbeli, karena kami nggak pernah balik lagi ke Gramedia Matraman. Dan tentu saja, soalan gitar ini sudah dilupakan dia begitu dia membelikan sepaket pena rapido Rotring. Cuma saya yang masih kepikiran.

Akhirnya, pada ulang tahun saya yang ke-28 kemarin, saya memutuskan, saya nggak perlu orang lain untuk mewujudkan keinginan saya. Saya pergi ke Grand Indonesia bersama teman-teman saya, dan saya membeli gitar tersebut, gitar yang saya mau, dengan uang saya sendiri. Saya memberikan gitar itu untuk diri saya sendiri sebagai hadiah ulang tahun. Well ya harganya udah beda, udah naik. Tapi nggak apa-apa. It was worth it.

Dulu saya mikir, karena terbiasa bersama pasangan, rasanya ada beberapa hal yang jadi terasa sulit dilakukan karena kita terbiasa mengandalkan, atau melakukannya bersama pasangan. Tapi ketika saya membeli gitar ini, saya ngerti, saya nggak perlu siapa-siapa untuk membahagiakan diri saya. Saya bisa membahagiakan diri saya sendiri. Saya nggak perlu berharap orang ngasih perhatian lebih ke saya, atau ngasih hadiah. Saya bisa beli buat diri saya sendiri (ya walau harus pake nabung dulu, trus makan popmie berminggu-minggu).

Ini alasan kenapa saya sayang sama gitar ini, gitar saya adalah hadiah ulang tahun yang pertama kali diberikan ke saya, oleh diri saya sendiri.

5 responses to “Gitar Kesayangan

  1. Point nya adalah “saya ga butuh siapa2 untuk mewujudkan keinginan saya dan saya ga perlu siapa2 untuk membahagiakan diri saya sendiri”

    I love it!

  2. wah salah kamar nih. ane kira review gitar… tapi akhirnya baca nyampe selesai wkwk. nice story sis..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s