What Elia Has Taught Me

Saya sudah mengenal Elia sejak beberapa tahun. Pertama kali melihatnya tahun 2009, ketika dia memainkan Across The Universe di Pesta Blogger 2009. Setelah itu berlanjut dengan saling kunjung di blog masing-masing (dia yang pertama kali mengunjungi blog saya), kemudian bertegur sapa di twitter, chatting, dan akhirnya nongkrong bareng bertiga bersama sahabat saya yang lain, Pito.

Elia bersama saya sejak saya masih baik-baik saja, masih jadi perempuan yang dunianya hanya berputar di sekeliling satu lelaki dan yang lain tidak penting. Kemudian Elia melihat saya jatuh, dia mendengar saya menangis, melihat saya yang tidak bisa tidur, melihat saya tersesat, bahkan ada masanya saya meminta dia menemani saya tidur karena tidak bisa tidur 2 hari dan butuh seseorang menemani saya. Ia duduk dengan tenang menulis novel, sementara malam itu saya akhirnya bisa tidur.

Dia melihat saya menangis, marah, berlari, putus asa, ia duduk di depan saya dengan sabar ketika saya menceritakan hal dan orang yang sama, berulang-ulang. Dia tidak segan bilang kalau dia bosan, atau dia tidak suka dengan sikap saya, atau kata-kata saya, atau cara saya berpikir. Bahkan menertawai saya karena menangisi pria yang sama terus-terusan. Pada intinya, Elia adalah salah satu orang yang paling bisa saya percaya, karena ia bukan sahabat yang pura-pura manis dan hanya mengatakan hal yang ingin saya dengar. Elia lebih sering mengatakan segala sesuatu dengan apa adanya.

(Tapi walau Elia kadang suka ngeluh, ngetawain, atau marahin saya, dia nggak pernah nyuruh saya diam dan berhenti curhat. Dia selalu dengerin.)

Bukan berarti sahabat saya yang lain tidak begitu. Tapi mungkin yang paling banyak bersama saya di masa itu adalah Elia.

Banyak hal yang saya pelajari dari Elia, dan saya pengen banget orang lain yang sedang atau pernah berada dalam posisi saya tahu ini. Karena apa yang Elia ajarkan pada saya, memiliki pengaruh besar terhadap perjuangan saya sepanjang tahun ini.

Selingkuh itu salah, tetapi peselingkuh nggak berarti jahat.

Setiap saya mengeluh tentang mantan pacar yang selingkuh, Elia berkali-kali mengatakan hal ini. Bahwa peselingkuh tidak sama dengan penjahat. Caranya salah, tapi bukan berarti ia penjahat. Ini adalah sesuatu yang sulit saya cerna. Tapi karena Elia berkali-kali mengatakan ini, lama-lama saya belajar memaafkan. Ya nggak 100%, sampai sekarang saya masih benci, tapi saya benci karena ia memperlakukan saya dengan salah, bukan karena ia penjahat.

Mungkin seseorang yang tidak baik buat kita, adalah baik buat orang lain. Dan saya sedikit-sedikit mencoba menerima hal ini.

Berhenti menganggap diri sebagai korban. Jangan biarkan people define diri lo.

Berbulan-bulan saya melihat diri saya sebagai sampah, cewek gendut jelek, dan korban. Hanya karena apa yang dikatakan mantan saya tentang diri saya. Padahal sebenarnya, saya nggak boleh mengijinkan bagaimana penilaian seseorang malah mendefinisikan diri saya. Saya yang harusnya tahu siapa saya. Kalau saya melihat diri saya jadi korban, saya akan terus-terusan jadi korban. Padahal ini cuma masalah pasangan saya berhenti menyayangi saya, dan bukannya man up dan menerima ajakan saya putus baik-baik, malah sayang-sayangan sama perempuan lain di belakang saya. Caranya salah, tapi bukan berarti saya boleh mengijinkan diri saya terjebak di posisi korban terus-terusan.

Cuma pengecut yang menggantungkan harapan pada karma.

Elia nggak tepatnya ngomong gini, sih. Tapi intinya gini, karma itu nggak ada, saat orang lain nyakitin kita, ngapain kita nangis sambil berharap suatu saat karma datang nampar balik orang itu? Awalnya, hal ini terasa nggak adil. Rasanya pengen banget lihat mantan diselingkuhin balik, bangkrut, ditinggal cewek selingkuhannya (yang high class, cie high class…). Tapi lama-lama, saya mulai nggak peduli dan ngerti maksud Elia. Ngapain kita habisin waktu berharap entitas bernama tuhan membalas semua kesakitan kita? Hidup jalan terus, dan kadang orang yang nyakitin kita bakal tetap hidup bahagia tanpa peduli kita berantakan. Ketika kita berharap orang lain dapat balasan, kita nyakitin diri kita sendiri dengan keputusasaan. Seakan kalau karma nggak dateng ke dia, dunia ini nggak adil.

Tapi dunia nggak berjalan sesuai yang kita mau.

Dan daripada fokus berharap orang lain menderita, hidup ternyata lebih baik ketika kita fokus membahagiakan diri kita.

Ya bukan berarti kalian nggak perlu membalas bajingan yang nyakitin kita. Ada kalanya kalau kita dipukul, ya kita harus mukul balik, biar orang itu tahu, dia nggak bisa sembarangan sama kita. Biar dia belajar, lain kali harus respek sama orang lain. Tapi jangan habisin hidup lo untuk balas dendam atau menunggu karma.

Hidup terlalu indah untuk dipakai memikirkan orang yang nyakitin kita

***

Sebetulnya, ada banyak sekali hal yang saya pelajari dari Elia, tapi mungkin untuk saat ini, segini dulu yang saya share. Bisa dibilang, saya bukan saya yang sekarang tanpa Elia. Banyak hal-hal yang Elia katakan pada saya, dan mengubah cara saya berpikir. Awalnya saya defensif dan nggak setuju dengan jalan pikiran Elia. Saya merasa, saya nggak bisa menerima logika Elia. Saya mikir, Elia bisa ngomong gitu karena dia nggak ada di posisi saya. Tapi belakangan saya sadar, apa yang Elia katakan itu justru logis banget. Itu bukan sesuatu yang didapatkan Elia begitu saja, nangkep dari angin. Justru mungkin banyak hal yang dia alami yang ngebentuk cara berpikir kayak gitu. Dan dia berhasil meracuni saya dengan caranya berpikir.

Saya bersyukur punya sahabat kayak Elia (dan beberapa orang lainnya yang mungkin akan saya sebut di postingan yang lain), dan saya merasa seharusnya setiap orang punya satu sahabat kayak Elia. Yang ngajak mikir logis, yang ngajarin legowo, yang ngajarin jangan manjain pikiran jelek.

Akhir-akhir ini saya sering denger orang nyeletuk, “Kok lo sekarang wise banget?” – Serius, temen-temen saya banyak ngomong gitu pas ngobrol sama saya, bukan narsis, nih. Jawabannya, bukan karena mantan(-mantan) saya. Mereka nggak ngasi pengaruh baik dalam hidup saya. Nggak membentuk saya menjadi orang lebih baik. Selain karena kesialan yang saya alami setahun belakangan ini, Elia lah yang membentuk saya. Saya harus bilang ini, karena saya nggak mau mantan saya take credit dan mikir, “Sesalah-salahnya saya, saya berhasil bikin perempuan ini jadi orang lebih baik.” Karena memang mereka sama sekali nggak memberikan kontribusi yang bagus dalam perkembangan cara berpikir saya.

Elia lah orangnya. Dan sahabat-sahabat saya yang lainnya.

2 responses to “What Elia Has Taught Me

  1. seni mendengarkan orang lain bicara itu simpel tapi juga sangat sulit, dan anak muda pemberontak yg kau bicarakan ini, ajaibnya punya itu. 😀

    • Elia gak selalu mau dengerin, kok :)) Tapi kalo ke aku, dia bisa bilang nggak mau dengerin curhatanku, atau nyuekin aku, dan aku tetep nggak masalah. Karena dia suka ngomong apa adanya sama aku.

      Kalo udah kayak aku, yang udah kenyang dibohongin, ketemu orang yang bisa aku percaya kayak Elia itu means everything buatku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s