Menghitung Berkat

Kadang saya duduk di depan monitor, di tengah deadline yang gila-gilaan, namun saya diam karena sibuk memilah-milah yang mana yang harus saya prioritaskan. Kadang hanya karena lelah. Kadang karena saya sibuk membaca brief atau email berbahasa Inggris yang kini sulit saya cerna. Entah kenapa sekarang saya susah sekali untuk konsentrasi. Ya sejak dulu saya punya masalah untuk konsentrasi, dan sekarang malah jauh lebih parah.

Tapi ada masa, ketika saya hanya diam karena berpikir putus asa, kapan hidup saya membaik.

Saya melihat orang-orang berjalan maju, jauh di depan saya. Melakukan hal-hal yang mereka inginkan, mengalami hal-hal yang luar biasa baik, menikmati kebebasan, menyayangi dan disayangi. Saya tidak iri. Saya ikut bahagia bersama mereka. Saya hanya lelah menunggu, kapan giliran saya.

Ada kalanya saya sibuk menghitung berkat. Tapi jangan membayangkan hal-hal besar. Saya sibuk menghitung hal-hal sederhana, tapi baik dalam hidup saya. Misalnya saya memiliki Ibu yang sangat keren dan menyayangi saya, teman-teman yang baik dan mengajarkan saya banyak hal, pekerjaan yang membuat saya bisa menghidupi keluarga saya, deadline yang terpenuhi, makanan di atas meja, traktiran-traktiran tak terduga dari teman-teman, banyak sekali.

Tetapi pada saat yang sama, masalah masih datang, satu-dua orang membuat saya sedih dengan menyakiti perasaan saya, pekerjaan menumpuk karena saya bekerja sendirian menangani begitu banyak jobdesks dan klien, dan berita-berita buruk datang pada saya tak ada habisnya. Kadang, di malam tertentu, saya merasa begitu sendirian, atau saat sedang melakukan sesuatu saya teringat apa yang orang lain lakukan pada saya. Lalu saya menangis tanpa bisa saya tahan.

Saya juga sekali dua kali masih dihantui pertanyaan, “Kenapa mereka tega sama saya?” Pertanyaan yang nggak akan pernah saya tahu jawabannya, karena saya tahu, saya nggak akan pernah tega sama orang lain. Namun saya berusaha untuk nggak terganggu sama hal-hal tersebut. Saya sibuk mencari pengalih perhatian.

Atau seperti saat ini, saat saya berusaha tidur, namun gagal, saya terpikir, bagaimana mereka bisa tidur nyenyak. Segitu nggak berharganya kah saya bagi mereka? Nggak mau dipikirin, tapi ya kalau terlintas mau bagaimana lagi.

Mungkin ada orang-orang yang sama kayak saya. Tiap hari berjuang untuk hidup normal, menyempatkan diri tertawa, menghitung hal-hal baik dalam hidup, berusaha tetap bekerja dengan baik, menyisakan tenaga untuk menghibur orang lain, kemudian berusaha tidur saat malam. Walau saat hendak menutup mata, tiba-tiba semua hal yang bikin sedih, semua kenangan yang lebih mirip mimpi buruk, tiba-tiba datang dan memenuhi pikiran.

Lalu sebelum tidur kita bertanya, “Kapan ini selesai? Kapan giliran saya bahagia?”

Beberapa orang, mungkin memang ada dalam hidup kita untuk menghancurkan kita dan menyisakan luka. Tapi mungkin itu untuk pengingat, kalau kita nggak boleh gitu sama orang lain. Mungkin juga untuk mengingatkan kita, bahwa orang-orang yang bersama kita selama ini, ternyata begitu berharga. Karena saat kita disakiti orang lain, mereka yang bertahan sama kita. Mereka yang menahan diri untuk tidak melukai kita di saat mereka sebenarnya punya kesempatan dan kekuasaan untuk melakukannya.

Saya mulai berhenti berharap semuanya akan membaik, dan fokus memperbaiki apa yang masih bisa saya tangani. Misalnya pekerjaan. Atau belajar lebih menghargai teman. Lebih peka sama kesedihan mereka. Toh gimanapun juga, hidup nggak selalu berjalan seperti yang kita mau. Bisa aja saya seumur hidup seperti ini. Bisa saja dua tiga bulan lagi saya disakiti orang lain lagi.

Saya nggak mau menghabiskan hidup saya mengharapkan sesuatu yang nggak pasti, lalu bersedih ketika hal itu nggak datang. Sudah bisa tidur, bekerja sesuai deadline, memiliki keluarga lengkap dan sehat, serta teman-teman yang tidak susah dihubungi ketika ingin saya ajak bicara atau ketemu, itu mungkin sudah hal-hal terbaik yang saya miliki dalam hidup saya.

Semoga satu hari, saya bisa menikmati semua berkat tersebut, tanpa terganggu oleh kesedihan saya sendiri.

One response to “Menghitung Berkat

  1. this is me as well :
    1. pekerjaan menumpuk karena saya bekerja sendirian menangani begitu banyak jobdesks
    2. Tiap hari berjuang untuk hidup normal, menyempatkan diri tertawa, menghitung hal-hal baik dalam hidup, berusaha tetap bekerja dengan baik, menyisakan tenaga untuk menghibur orang lain, kemudian berusaha tidur saat malam.
    3. Lalu sebelum tidur kita bertanya, “Kapan ini selesai? Kapan giliran saya bahagia?”
    4. Saya mulai berhenti berharap semuanya akan membaik, dan fokus memperbaiki apa yang masih bisa saya tangani.
    5.Saya mulai berhenti berharap semuanya akan membaik, dan fokus memperbaiki apa yang masih bisa saya tangani. Misalnya pekerjaan.

    sama bangett…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s