Post 2014

Lea-TaiwanDulu, saya pernah dapat pertanyaan, “What’s your turning point?” dan saat itu saya bingung mau jawab apa (seperti kalau ditanya, “Siapakah cinta pertamamu?”) – karena saya memang nggak pernah mengalami yang namanya titik nadir. Sampai saya bertemu Februari 2014. Ketika mantan saya memeluk saya, dan mengatakan akan terus menemani saya, namun lima menit kemudian saya menemukan ia sudah memanggil perempuan lain dengan sebutan “Sayang” dan diam-diam sering ketemuan di belakang saya.

Saya nggak pernah tahu kalau patah hati bisa sedahsyat itu, dan bisa mengubah saya, jalan pikir saya, bahkan cara saya melihat orang lain dan hal-hal di sekitar saya. Walau sudah melewati 2014, pedesnya masih ada, loh. Terima kasih buat Mr. X yang udah ninggalin bekas permanen di hati saya🙂

Dari sana, cara saya berpikir berubah, sebagian besar kalau tidak bisa dibilang total.

Seperti kata Mr. X, selingkuh itu tidak salah, karena semua orang berhak mencari kebahagiaannya sendiri (suatu saat mungkin kalimat tersebut akan kembali ke dirinya sendiri, semoga jangan sampai), tapi di sini saya menentukan, saya ingin bahagia tapi bukan dengan cara yang egois seperti Mr. X.

Tahun 2014, saya belajar egois- tentu saja bukan egois a la Mr.X, saya belajar menyisihkan uang untuk membahagiakan diri saya, belajar berani meninggalkan orang-orang yang lebih sering membuat saya sedih atau kesal daripada senang, berjuang bekerja lebih keras mengejar ketertinggalan saya selama masa-masa berduka. Enam bulan tanpa performance di kantor, dan atasan saya masih memberi kesempatan, berkali-kali. Mati-matian saya kejar semuanya. Saya juga mulai membiasakan jalan-jalan ke luar kota, sekedar beristirahat dari Jakarta yang penuh rasa pahit untuk saya. Syukurnya hampir tiap bulan saya selalu berhasil kabur dari Jakarta. Melakukan hal-hal yang mungkin bagi orang lain sia-sia; bermalas-malasan di tempat tinggal teman saya, mabuk-mabukan, belanja hingga rekening menjerit. Tapi saya bahagia, dan saya tak menyakiti siapa-siapa.

Dari awal tahun penuh acara nangis, curhat tengah malam, mabuk-mabukan, mengurung diri di kamar, marah-marah di blog dan twitter, perlahan bergeser menjadi pamer foto jalan-jalan, menggambar bareng di Taman Suropati, bertemu teman-teman baru, meninggalkan teman-teman lama yang perlu saya tinggalkan, flirting, jatuh cinta, jadian, dikhianati kembali, putus, nangis lagi, ketawa lagi. Sudah lama saya tidak merasakan tahun yang begitu penuh.

Tapi yang pasti, tahun 2014 mengajarkan saya untuk tidak percaya pada orang-orang, dan menyadarkan saya bahwa saya pantas mendapatkan yang lebih baik.

Semoga tahun 2015, saya bisa jalan-jalan ke tempat baru lagi, lebih baik dalam pekerjaan, belajar menabung, menyelesaikan novel, berkarya, jatuh cinta pada orang yang tepat, mulai dari awal bersama orang yang mencintai saya sebesar saya mencintai dia, lebih berhati-hati juga agar tidak mudah dibohongi lagi, lebih bisa menghargai orang lain.

Saya sadar, rasa sakit saya pasti akan nyisa. Tapi saya juga sudah belajar, rasa sakit itu dijalani, bukan dihindari.

Dan kali ini, saya benar-benar berdoa, semoga tahun 2015 lebih ramah sama saya, dan semoga saya lebih kuat.

Saya survived 2014 dengan selamat walau berantakan. Dan itu cukup.

6 responses to “Post 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s