Teror Mantan

Saya dan pasangan saya sedang asik ngobrol sambil makan malam, lalu entah kami membicarakan apa, pasangan saya tiba-tiba berkata (kira-kira begini), “Kamu tuh, masih trauma. Sama orang jadi nggak gampang percaya, dicuekin dikit udah mikirnya aneh-aneh, apa dikit nggak percaya. Aku ngerti, sih. Aku bisa bayangin. Kamu sudah lama sama Mr. X, tahu-tahu diselingkuhi. Eh, sudah begitu, langsung ketemu Mr. A, dan dibohongi. Wajar kalau kamu kayak begini.”

Saya hanya bisa nyengir, dan merasa bersalah sama pasangan saya.

Sejak saya putus dari Mr. X karena tahu dia sudah sayang-sayangan dengan perempuan lain, saya tahu bahwa hal-hal kayak gini akan terjadi. Bahwa saya akan jadi lebih mudah curiga, lebih mudah sedih, lebih mudah merasa insecure. Karena itu, saya berjanji sama diri saya sendiri, saya nggak ingin memanfaatkan pengalaman buruk saya untuk meminta dikasihani sama pasangan saya kelak.

Ternyata itu sulit.

Ketika Mr. I mengungkapkan perasaannya sama saya di awal kami berhubungan, saya tidak membalas dengan kalimat yang sama. Setiap Mr. I mengatakan ia menyayangi saya, saya selalu diam, atau menjawab, saya tidak percaya.

Bajingan sekali ya, saya?

Berapa kali saya meragukan Mr. I dan membuat ia sedih/kecewa? Saya tidak ingat.

Dengan Mr. I, saya berusaha mempertahankan prinsip saya untuk tidak menyama-nyamakan dengan Mr. X dan Mr. A, atau meminta dikasihani sambil bilang, “Aku tuh sedih, pernah diselingkuhi, pernah disakiti, kamu jangan gitu sama aku, blablabla…”

Namun, walau kata-kata itu tidak diucapkan, saya baru tahu hari ini, bahwa Mr. I bisa merasakannya dari sikap saya.

Ternyata memang ada hal-hal yang tetap akan terlihat walau tidak diucapkan.

Kadang, teror mantan yang pernah membuat kita sakit hati, tidak muncul dari sms, whatsapp, atau postingan sosial media oleh mantan. Kadang, teror mantan hanya ada di kepala kita. Dan nggak seperti komunikasi atau postingan yang bisa kita cuekin, teror yang ada di dalam kepala kita nggak bisa dihilangkan begitu aja. Kita bisa berusaha menghapus pikiran itu, namun satu trigger kecil, bisa membuat kita bereaksi pada hal yang sebenarnya nggak eksis.

Misalnya saat pacar menerima telepon sambil menjauh, langsung ngirain lagi teleponan sama cewek lain. Ternyata sama orang tuanya. Pacar mendadak nggak bisa dihubungi, kirain lagi sibuk sama cewek lain, ternyata cuma ketiduran. Pacar masih dihubungi mantannya, langsung siap-siap merelakan pacar untuk balikan sama mantannya, ternyata pacar malah nggak suka dihubungi mantan.

Hal-hal kayak gitu, yang tidak diucapkan, yang tidak direspon, yang disembunyikan, ternyata bisa terlihat hanya dari sikap. Walau pura-pura cuek, pura-pura ngerti, pura-pura nggak peduli, ternyata sikap saya nggak bisa menipu orang lain bahwa ketakutan itu masih ada.

Kadang Mr. I nyeletuk, “Kok mereka tega, ya, sama kamu? Padahal kamu baik.” dulu pertanyaan itu menghantui saya. Berbulan-bulan lamanya. “Kok, mereka tega? Padahal saya nggak jahatin mereka.” Tapi seiring jalan, pertanyaan itu sudah berhenti, dan saya sudah menerima; tidak semua pertanyaan perlu dijawab. Saya lebih suka fokus dengan hubungan saya dan Mr. I. Dengan pasangan saya menanyakan hal tersebut ke saya, saya merasa bersalah. Saya sudah membiarkan teror mantan, yang hanya ada di dalam pikiran saya, membuat pasangan saya juga terganggu dan kepikiran.

Padahal, saya nggak ingin membuat pasangan saya merasa kasihan, atau sedih bersama saya.

Rasanya menyedihkan, menyadari bahwa mantan masih bisa meneror saya tanpa melakukan apapun. Semuanya hanya ada di dalam kepala saya. Dan saya harus berkali-kali mengingatkan diri saya, hanya karena saya dibohongi 2 kali berturut-turut oleh 2 laki-laki yang berbeda, bukan berarti semua laki-laki akan memperlakukan saya seperti mereka memperlakukan saya.

Mengucapkan memang nggak semudah melakukan. Tapi yang penting jangan sok sedih atau sok kuat dulu. Dijalanin aja. Dan jangan jadi cewek nyebelin yang minta dikasihanin. Itu aja dulu. Karena teror mantan belum tentu bisa hilang, bisa aja saya dan cewek-cewek lain yang pernah mengalami apa yang saya rasakan, akan selamanya ngerasa takut. Tapi kalau teror mantan itu dikasih makan terus dengan pikiran negatif, lama-lama bisa jadi gemuk.

Yang penting acceptance aja dulu. Shit happens, bad people exists, people come and go, loves you and hates you, makes you smile or makes you cry. Itu kan namanya hidup.

9 responses to “Teror Mantan

  1. Tentang tega dan gak tega, saat seseorang lakuin sesuatu ke elo, alesannya gak selalu berhubungan ama lo. Bisa aja orang komen di blog lo bukan karena tertarik ama cerita-cerita lo atau peduli ama lo (padahal lo ngeblognya sepenuh hati), tapi untuk memperbanyak backlink–alesan yang sama sekali gak ada hubungannya ama lo.

    • Which is, kind of sad juga kan? Saat seseorang yg lo kenal udah lama banget, memutuskan melakukan sesuatu yang dia tahu bgt bakal bikin lo sedih, tapi dia gak peduli karena lo nggak ada di dalam alasan keputusan tersebut dilakukan.

      TAPIIII… gue gak peduli lagi kok el. Gak urus lagi alesan2 mereka dll. Beneran. Serius.

  2. Ujian itu bisa bikin kita lebih kuat dan dewasa. Dan menurut gue, lu gak salah juga kok jadi parno gitu. Tenang aja, waktu akan menghilangkan itu semua… Be Strong yaaah.. ^___^

  3. Ini sama bgt kyk gue…
    Rasanya emang sakit banget diselingkuhin, bukan masalah gak ikhlasinnya tapi rasa sakitnya yg selalu nempel….mantan nya udah pergi tp dia ninggalin rasa sakit yg ga gampang buat disembuhin…
    Kadang kita emang suka salah, malah curiga sm orang yg blom tentu “curangin”…ya gara2 teror mantan itu!

    • Bingung, sih. Mau nggak curiga, tapi parno, takut ketipu lagi. Tapi mau curiga pun jadi ngerasa bersalah. Sejauh ini sih, tiap pacaran, aku berusaha jelasin hal-hal apa yang mengganggu, efeknya ke aku, dan alasannya apa. Nggak bermaksud ngungkit mantan ke pacar baru, tapi ketakutan itu ada dan sebaiknya dikomunikasikan. Daripada kita diem tapi paranoid kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s