Kalo Anak Lo Homo Gimana?

Percakapan beberapa tahun lalu, saat Jakarta lagi heboh karena Q Film Festival.

“Le, pendapat lo tentang homo gimana?”

“Hmmm… gimana, ya. Gue gak ada masalah sama gay. Kenapa emang?”

“Kok, lo begitu? Kalo anak lo homo gimana? Lo mau? Lo bakal ngebiarin?”

“Gini. Kalo boleh milih, gue gak mau anak gue jadi homo. Bukan karena gue benci homo, tapi karena gue tahu gimana masyarakat akan memperlakukan dia. Dan gue gak akan kuat ngeliat anak gue tumbuh dalam situasi kayak gitu.

Coba lo mikir. Lo punya anak, gay. Di luar rumah, dia harus menghadapi kondisi ditekan lingkungannya, digencet teman-temannya, dihina orang-orang. Trus, masa pas dia pulang ke rumah, lo juga ngelakuin hal yang sama kayak orang-orang ini?

Trus, lo tega gitu ngeliat anak lo dihina dan disakitin sama orang lain hanya karena dia gay?”

“Oh… iya juga, ya. Gue gak mikir ke sana…”

“Daripada sama gay, gue lebih takut sama orang-orang ini. Orang-orang yang ngerasa berhak nyakitin orang lain hanya karena menurut mereka perbedaan ini adalah dosa.”

 

***

Dulu Q Film Festival diributin karena katanya mempropagandakan LGBT. Sekarang topik ini naik lagi, dan sumpah berlebihan banget.

Apa yang mau dipropagandakan dari LGBT? LGBT nggak kayak kampanye pemilu. Ketika didatangi kemudian diberi presentasi ini itu yang menggebu-gebu, kemudian setelah acara selesai, orang-orang langsung memutuskan “Oke, saya akan memilih caleg yang ini.”

Hebat banget seksual preferensi bisa diubah hanya melalui kampanye.

Banyak orang yang nggak suka dengan keberadaaan kaum LGBT, sementara saya lebih nggak suka dengan keberadaan orang tolol judgemental. Apakah lantas saya boleh menunjuk wajah orang lain sambil bilang, “Kamu tolol, pergi jauh dari sini!”?

Kita pernah remaja, pernah sekolah. Saya masih ingat bagaimana teman-teman saya mengejek anak lelaki yang feminin atau perempuan yang terlalu tomboy. Saya nggak pernah ada di dalam kelompok anak-anak seperti itu. Simply karena saya nggak peduli. Tapi teman-teman saya yang lain bagaimana? Mereka menganggap itu lucu, tapi bagaimana dengan anak-anak yang jadi korban?

Bayangkan, jika setiap orang dewasa, kita-kita ini lah, teriak-teriak soal LGBT haram dan lain sebagainya. Cemoohan seperti apa yang akan dialami anak laki-laki yang memiliki kecenderungan feminin, dan anak perempuan yang tomboy? Jangan-jangan lebih buruk daripada teman-teman saya di masa kecil.

Kok kalian tega, sih?

Orang-orang mengatakan jangan mempropagandakan LGBT dibalik alasan HAM. Nggak ada yang melanggar hak kaum LGBT. Pembela LGBT membantu menyebarkan LGBT.

Ini yang saya lihat:

Kalian menyebarkan kebencian dan fitnah terhadap kaum LGBT.

Kalian yang mulai menyerang LGBT. Yang mana, jumlahnya minoritas, dan kebanyakan memilih diam ketika dihina dan ditekan.

Lalu muncul orang-orang yang peduli, dan stand up, untuk minoritas yang terus direpresi oleh masyarakat mayoritas.

Tiba-tiba orang-orang yang mencoba memberikan penjelasan dan pengertian kepada kalian soal LGBT malah dituduh kampanye LGBT.

Oh, come on.

Nggak usah bahas LGBT salah atau benar dulu, deh. Lihat dulu. Ketika kalian berteriak soal anti LGBT, apakah kalian nggak menjadi monster dan menggigit orang-orang yang nggak pernah menyakiti kalian?

Kemudian sok bawa agama dan moral, sambil menambahkan LGBT harus dibawa ke jalan yang benar.

Bagaimana caranya? Disekap kemudian dipaksa berhubungan badan dengan lawan jenis? Diancam agar melawan naluri biologi dan keadaan psikologinya? Ditekan dan dicemooh agar takut mengakui orientasi seksualnya? Dicuci otak?

Kalian meminta orang-orang berhenti membahas tentang bagaimana menghargai kaum LGBT. Meminta orang-orang berhenti memberi penjelasan dan pengertian soal LGBT. Sementara, kalian bebas menghina, mengutuk, mengancam, dan memfitnah?

Dulu ada yang pernah mengilustrasikan tentang preferensi seksual ke saya.

“Le, lo straight kan?”

“Iya.”

“Kalo ada orang yang nodong pistol ke elo, terus maksa lo harus jatuh cinta sama cewek, lo bakal nurut gak?”

“Lah ya gimana mo nurut juga? Mo ditembak juga gue gimana caranya naksir cewek kalo emang gue doyannya ama laki. Yah tembak aja lah. Mo gimana lagi.”

“Nah, itu kondisinya sama kayak homo dipaksa jadi hetero. Nggak ada bedanya.”

Kalian mikir aja deh, pake otak kalian yang jenius. Jika kalian yang merasa sang maha suci dan maha benar sebagai seorang straight, kemudian dipaksa mencintai sesama jenis di bawah paksaan dan ancaman, bisa ngelakuin nggak? Mencintai loh ya, bukan ngesle sama sesama jenis.

Intinya. Kalian boleh nggak suka sama kaum LGBT. Tapi ya nggak usah lebay mengkampanyekan kebencian terhadap LGBT, lah. Kalian juga pasti kesel kan kalau misalnya mayoritas masyarakat tiba-tiba mengkampanyekan kebencian terhadap orang bodoh kemudian mengatakan kebodohan itu menular maka harus dihapuskan dengan cara memaksa orang bodoh membaca dan belajar terus di dalam asrama sampe pinter?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s