Piknik BUKAN Obat Depresi

Salah satu musuh terbesar depresi adalah stigma.

Sebelum didiagnosa oleh terapis, saya memang sudah memiliki dugaan bahwa saya mengidap depresi. Namun saat itu dugaan saya termakan oleh stigma negatif terhadap depresi.

Dulu, bagi teman-teman saya, saya aneh. Kesedihan dan kegelisahan saya diterjemahkan sebagai “lebay” dan “drama”. Dan saya percaya itu. Saya percaya bahwa saya lebay dan drama.

Dulu, bagi saya, teman-teman saya yang justru aneh. Saya mengira orang-orang hanya pintar dalam menyembunyikan kesedihan dan beban pikirannya. Saya yakin semua orang seperti saya, menangis sendirian di malam hari, overthinking di siang hari, melamun jika tidak ada yang memperhatikan. Mereka hanya lebih pintar dalam menyembunyikannya.

Sama seperti orang yang normal tidak mengerti jalan pikiran saya, saya juga nggak mengerti jalan pikiran orang normal. Mereka mengira saya lebay, saya mengira mereka jago untuk pura-pura kuat.

Hasil self-diagnose berdasarkan sebuah artikel psikologi di internet menunjukkan bahwa saya memiliki sembilan dari sembilan gejala depresi, dan memang saya merasa depresi. Tapi berkat hasil dihakimi oleh teman-teman saya sendiri, saya tidak mengacuhkan artikel tersebut. Saya cuma lebay, dan artikel psikolog tersebut cuma cucoklogi.

Stigma “lebay”, “drama”, dan “caper”, membuat saya hidup dua tahun di dalam kondisi depresi. Dan nggak ada satupun orang normal di dunia ini yang bisa mengerti gimana menderitanya hidup seperti itu. Saat kalian sendiri bahkan nggak yakin bahwa kalian depresi. Akhirnya nangis sendirian sambil mikir bego, kalau ini cuma lebay, kenapa sakitnya nyata banget?

Kesedihan dan keadaan saya yang berantakan hanya dijawab dengan, “Mungkin kamu kurang piknik.”

Dan saat itu saya percaya bahwa saya memang kurang piknik. Saya menghabiskan uang segitu banyak untuk jalan-jalan keluar kota, belanja, dan mabuk. Saya bahkan percaya bahwa saya sudah sembuh, bahwa piknik, belanja, dan curhat berhasil menyembuhkan saya.

Saya tidak menganggap serius malam-malam di mana saya menangis sendirian di kamar dan nggak bisa curhat sama siapapun karena saya nggak tahu apa penyebab saya menangis. Atau insomnia yang datang dua tiga hari setiap minggu. Atau nafsu makan yang kadang hilang berhari-hari. Atau hari-hari di mana saya ngumpet di toilet atau tangga darurat saat jam kerja hanya untuk menangis. Karena bagi saya, saya hanya lebay.

Gila aja udah ngabisin uang jutaan buat travelling, curhat dan nangis ribuan kali, masa iya saya ngasi tahu orang-orang kalau saya masih suka nangis sendirian?

Terpikir untuk ke psikolog, tapi, saya terlanjur percaya kata-kata teman-teman saya; SAYA CUMA DRAMA DAN LEBAY, SAYA HANYA PERLU PIKNIK.

Sampai akhirnya ada beberapa sahabat saya yang percaya saya depresi. Dan karena mereka lah, saya memutuskan untuk ke psikolog. Karena ada mereka yang percaya bahwa saya butuh bantuan professional. Karena ada orang-orang ini, yang nggak meremehkan kesedihan dan kegelisahan saya.

Ketika saya akhirnya memutuskan pergi ke psikolog, baru saya mengerti semuanya. Tentang depresi saya, tentang gejala dan sumber penyakit saya. Dan saya hanya butuh dua bulan untuk mengalahkan monster yang nggak bisa saya lawan selama dua tahun.

Bayangin. Penderitaan saya selama nyaris dua tahun, yang dengan sombongnya saya coba sembuhkan sendiri, dengan uang yang dihamburkan begitu saja hingga tabungan habis, ternyata bisa disembuhkan hanya dalam dua bulan. Di tangan orang yang tepat; seorang psikolog.

Stigma “lebay”, “drama”, “caper”, dan “kurang piknik”, benar-benar musuh besar depresi. Stigma ini bikin pengidap depresi membuang uang untuk hal-hal yang nggak bakal bikin sembuh. Stigma ini bikin pengidap depresi merasa nggak butuh ke psikolog.

I was this close to death. Karena saat itu saya yakin saya lebay, dan saya mikir kalau lebay merupakan bawaan saya sejak lahir, dan saya nggak kuat dengan kondisi itu. Saya sempat percaya, satu-satunya solusi untuk saya adalah bunuh diri.

Demi tuhan saya nggak bisa jelasin kenapa saya dulu berpikir seperti itu. Saya nggak tahu. Saya nggak bisa jelasin logika saya saat itu sedikitpun.

Nggak bermaksud dramatis, tapi tanpa dukungan sahabat-sahabat saya untuk ke psikolog, saya nggak akan ada di dunia ini pada detik ini. Karena pada saat itu, bunuh diri adalah satu-satunya jalan keluar yang terasa logis, dan saya tidak merasa takut sedikitpun untuk melakukannya.

My point, stigma negatif terhadap penderita depresi, bisa dan sangat bisa, menyebabkan kematian.

Jika ada sahabat atau teman anda yang sedih berlebihan, berat badan meningkat atau turun drastis, membicarakan hal-hal aneh seperti bunuh diri, kesepian, atau topik-topik restropektif padahal biasanya nggak begitu, performance di kantor menurun, sarankan mereka untuk ke psikolog. Jangan dipaksa. Tapi tunjukkan bahwa kalian percaya pada kesedihan mereka, dan buat mereka mengerti bahwa psikolog mungkin bisa membantu. Jika mereka nggak mau ke psikolog, biarkan, hormati hak mereka.

Please, don’t be a selfish judgmental asshole. Stop stigmatizing people who live with depressions. You have no idea the battles we need to face everyday.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s