Nightmares

Saat saya sedang dalam fase depresi 2 tahun lalu, selain insomnia, saya juga mengalami mimpi buruk setiap saat saya (bisa) tidur.

Sekarang, saya jarang mimpi buruk. Saya hanya mimpi buruk ketika mengalami anxiety atau sedang overthinking tentang masalah atau obyek tertentu.

Misalnya ketika saya membatalkan janji untuk berlibur ke Anyer yang sudah direncanakan berbulan-bulan hanya karena tiba-tiba saya anxious dan tidak ingin pergi. Saya membatalkan janji saya di malam sebelum kami akan berangkat, teman saya tidak menanggapi. Saya batal pergi benar-benar hanya karena serangan anxiety. Tiba-tiba saya takut pergi, saya takut akan susah berinteraksi dengan orang lain. Saya takut membayangkan harus menginap bersama 14 orang. Saya takut harus pakai baju berenang karena saya akan terlihat gendut. Saya takut saat tidur saya akan mendengkur dan mengganggu teman-teman saya. Saya membatalkan janji mendadak hanya karena hal-hal sepele seperti itu. Padahal saya sudah packing, membeli cemilan, dan menyiapkan uang untuk membayar patungan vila serta mobil minibus yang kami sewa.

Saya susah tidur karena teman saya tidak membalas pesan saya (tentu saja, karena saya baru mengabari pukul 12 malam). Ketika akhirnya bisa tidur, saya malah bermimpi teman saya marah-marah sama saya. Saya terbangun sejam kemudian, pukul 5.30 pagi. Kemudian saya curhat melalui chatting kepada teman saya yang lainnya. Saya butuh seseorang untuk diajak bicara dan menenangkan pikiran saya.

Teman saya, tentu saja, tidak bisa mengerti kepanikan dan cerita saya yang tidak masuk akal. Saya paham, nggak akan ada orang yang mengerti saat ada orang lain curhat pagi buta tentang membatalkan janji dan kepikiran sampai nggak bisa tidur. Orang pasti mikirnya, “Apaan, sih. Lebay.”

Akhirnya, dengan perasaan lebih buruk dari sebelumnya, saya mencoba tidur lagi.

Dan saya mimpi buruk lagi, mimpi yang sama.

Saya tidak bisa tidur dan hanya rebahan di kasur sambil melihat langit-langit. Membiarkan pikiran saya menyalah-nyalahkan diri saya yang tidak bisa memegang janji. Membayangkan teman saya marah dan tidak mau bicara dengan saya. Padahal dia akan pulang ke Prancis for good dalam 3 hari. Saya akan berpisah dengan teman saya dalam keadaan seperti ini.

Saya mengirim chat lagi, meminta maaf berkali-kali kepada teman Prancis saya ini.

Akhirnya ia membalas dan mengatakan ia tidak marah. Ia meminta saya datang ke rumahnya hari Senin, untuk farewell party kecil-kecilan.

Saya menangis karena lega setelah membaca pesannya. Kemudian saya bisa tidur. Tanpa bermimpi.

Hal-hal seperti itu kadang terjadi pada saya, dan saya belajar untuk tidak curhat sama siapapun jika sedang dalam keadaan itu. Karena saya tahu, reaksi orang-orang akan sama persis. Dan itu membuat saya merasa lebih buruk.

Akhir-akhir ini saya mengalami mimpi buruk lagi.

Saya belajar untuk merepresi overthinking saya dan mencoba mengalihkan pikiran saya ke hal lain. Saya kira saya berhasil melakukannya. Namun sudah 3 hari saya bermimpi buruk. Setiap terbangun, saya merasa pahit. Saya sadar mimpi buruk saya adalah perwujudan dari pikiran-pikiran buruk yang saya represi. Saya ingin berbagi tentang apa yang saya pikirkan kepada orang-orang terdekat saya, namun saya tidak menemukan kalimat yang tepat untuk menjelaskan hal-hal tidak masuk akal yang ada di kepala saya.

Dan saya takut saya akan dinilai berlebihan, kemudian tidak dihiraukan.

Hari ini saja saya tidur bangun tidur bangun, dan setiap tidur, yang hanya tidur ayam itu, saya selalu bermimpi buruk. Bagian otak saya yang waras mengingatkan saya bahwa mimpi saya tidak masuk akal dan hanya merupakan ketakutan-ketakutan saya sendiri. Seandainyapun ketakutan saya tersebut terjadi, seharusnya tidak usah saya pikirkan, karena itu adalah hal yang wajar terjadi dalam hidup seseorang.

Saya mencoba tidak memikirkannya. Karena menurut saya hal ini nggak penting untuk dipikirkan. Melelahkan memang ketika kamu kehilangan kontrol atas pikiranmu sendiri. Sementara ketika kamu mencoba mengontrolnya, ia datang di dalam mimpi-mimpimu saat kamu tidur.

Kadang, saya bertanya-tanya. Apakah semua orang mengalami apa yang saya alami? Dan bagaimana cara mereka melawan pikiran-pikiran buruk dan mimpi buruk mereka?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s