Untuk Seorang yang Depresi, Kamu Tidak Terlihat Depresi

“Tapi kok, elo nggak keliatan kayak orang depresi, Le?”

Ini kalimat yang diucapkan oleh seorang teman yang sudah 6 bulan nggak ketemu ketika saya menceritakan sebenarnya saat saya masih sering ketemu dia, saya mengikuti terapi di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta untuk mengatasi depresi saya. Teman saya ini melihat kondisi saya setiap hari saat sedang dalam fase depresi mayor; menangis setiap hari, tidak makan, minum kopi dan merokok secara berlebihan, lupa menghadiri meeting, lupa deadline, mengurus dengan drastis. Saat itu seperti saya, dia juga bingung dengan keadaan saya.

Saya nggak tersinggung mendapat pertanyaan seperti ini. Saya mengerti banget bahwa kebanyakan orang punya persepsi yang salah tentang depresi. Karena, sebelum saya ke psikolog, saya juga salah kaprah soal depresi.

Depresi itu nggak seperti di film-film hollywood. Terlihat seperti anak emo, penuh sayatan di tangan, mengurung diri di kamar, tidak mau ngobrol dengan siapapun. Oke. Memang hal-hal tersebut bisa terjadi. Saya kadang berada di fase mengurung diri di kamar dengan lampu dimatikan, hanya tiduran sambil melamun menatap langit-langit kamar. Ada juga orang lain yang menyayat-nyayat tangan. Intinya, behaviour depresi tidak sama pada semua orang. Dan ketika kamu hidup cukup lama dengan depresi, kamu jadi terbiasa dengan keadaan itu, sehingga kamu bisa tertawa, ceria, aktif, walau kamu mengidap depresi.

Tentang depresi, keadaan ini nggak sama dengan stress atau sedih. Stress dan tertekan sangat wajar dialami manusia. Beberapa hari drop, susah makan, susah tidur, dan murung saat ada masalah, merupakan emosi yang wajar.

Kamu baru bisa bilang dirimu depresi ketika keadaan seperti itu berlangsung hingga hitungan bulan, setiap hari. Iya setiap hari. Bukan hanya saat ada masalah. Dan keadaan itu membuatmu begitu putus asa sampai kamu percaya, kamu nggak punya solusi, dan bunuh diri adalah satu-satunya jalan keluar.

Kalau kalian googling soal depresi, kalian akan menemukan istilah bad days, good days, dan relaps. Itu bener banget.

Saya nggak terlalu mengerti definisi tepatnya ketiga istilah itu. Tapi saya mengkategorikan sendiri berdasarkan gejala saya.

Good days adalah hari di mana saya tidur dengan baik, konsumsi rokok dan kopi saya tidak banyak, kerjaan bisa saya selesaikan dengan cepat dan tetap teliti, makan dengan teratur dan bisa menikmati makanan saya, serta semangat olah raga.

Bad days adalah hari di mana saya susah tidur, tidak nafsu makan, merokok lebih sering, kopi lebih sering, susah konsentrasi di kantor, merasa kesepian dan murung tanpa alasan. Namun, pada fase ini, saya masih bisa nongkrong dan main dengan happy karena bertemu dengan teman-teman saya menjadi semacam obat. Perlu diketahui, bad days datang tanpa alasan. Saya tidak perlu memiliki alasan untuk murung. Semua itu datang begitu saja. Dan saya harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk bangun, mandi, ganti baju, bekerja, bahkan sekedar nongkrong di kafe bersama teman-teman saya.

Relaps adalah ketika saya mulai ngaco. Nggak mau ketemu siapapun, sensitif, menangis tanpa alasan, insomnia, ingin bunuh diri, mimpi buruk, overthinking, teringat hal-hal menyedihkan, merasakan ketakutan-ketakutan berlebihan, tidak ingin melakukan apapun selain tidur dan melamun. Dan biasanya ini terjadi menjelang PMS karena pengaruh hormon, atau  ada trigger yang tidak saya sadari dan tidak saya cegah waktu masih dalam fase bad days.

Dalam fase ini kadang saya ingin bertemu terapis saya kembali. Tapi saya menahan diri dan mencoba mencari solusi sendiri karena ingin menghemat uang. Mengingat biaya ke psikolog cukup mahal untuk saya. Biasanya, fase ini akan hilang begitu saja. Terutama setelah saya dibantu kembali ke jalur yang benar oleh sahabat-sahabat saya.

Karena saya pernah berada dalam fase depresi mayor, saya jadi memiliki indikator kapan depresi saya sudah berbahaya. Jika saya menuju fase tersebut, tanpa pikir panjang tentu saja saya akan kembali ke psikolog. Untuk itu, saya belajar mengatur kartu kredit dan menyisihkan gaji untuk tabungan. Kalau-kalau suatu saat saya harus terapi dalam hitungan bulan lagi.

Namun, in general, saya memang terlihat baik-baik saja.

Karena memang seperti itu lah penderita depresi.

Jika kamu sudah memiliki depresi dalam jangka waktu yang lama, kamu akan belajar menyembunyikan kegelisahan, ketakutan, dan kesedihanmu di depan umum. Bukan belajar juga, sih. Semuanya kamu lakukan sekedar karena terbiasa. Seiring waktu, kamu semakin selektif untuk curhat karena kamu sudah tahu mana orang yang mengerti kondisimu, mana yang nggak. Karena ketika kamu curhat lalu lawan bicaramu menanggapi dengan negatif atau skeptis dengan keadaanmu, yang ada kamu malah semakin sedih, merasa bersalah, dan membenci dirimu sendiri.

Mungkin kalau kamu ketemu orang yang sedang mengalami depresi mayor, baru terlihat. Ketika berat badan menurun atau meningkat drastis, ngomongnya mulai ngelantur, atau malah menyembunyikan diri dan tidak mau ketemu siapapun, bahkan sampai tidak mau berangkat kerja. Percayalah. Itu bukan pemandangan yang indah. Buat orang yang nggak paham tentang depresi, malah terlihat alay dan drama.

Dan ada juga yang seperti saya. Dengan kecenderungan depresi sejak usia remaja, tetap terlihat rame, berisik, tidak punya masalah dengan bersosialisasi. Bahkan saya bisa curhat masalah berat saya sambil ketawa. Karena hanya sedikit yang saya beritahu pikiran-pikiran gelap saya. Hanya sedikit yang mendengar saya menangis sambil meracau tentang hal-hal yang cuma ada di pikiran saya.

Depresi tidak seperti apa yang ditunjukkan dalam film atau novel. Dan depresi tidak cukup diatasi dengan berdoa, bersyukur, yoga, olah raga, curhat, travelling, atau menulis buku harian. Nasehat untuk melakukan itu nggak ada gunanya. Karena, percaya lah, kami mencoba melakukan hal-hal yang menurut kami bisa dilakukan untuk melawan depresi. Namun tiap orang memiliki pelarian yang berbeda, dan apa yang berhasil hari ini belum tentu berhasil minggu depan. Kadang, untuk melakukan hal simpel seperti menggambar dan menulis (untuk saya), menjadi terasa sangat sulit dilakukan walau 2 hal tersebut adalah katarsis yang paling saya sukai.

Setiap penderita depresi memiliki perilaku serta “pelarian” yang berbeda. Saya hanya kenal 1 orang yang didiagnosa depresi seperti saya. Tapi kami jelas memiliki sikap dan penenang yang berbeda. Satu yang pasti, kami sama-sama suka tertawa. Kamu nggak bisa memiliki standar general tentang bagaimana seorang depresi harus terlihat, because there’s no such thing.

Maka, lain kali, jika seseorang bilang padamu bahwa ia sedang depresi, jangan memberi penilaian sendiri. Kamu bukan psikolog. Lebih baik dengarkan jika ia ingin curhat. Anjurkan ia untuk mencari bantuan professional, tapi jangan dipaksa.

Mungkin orang itu bukan depresi. Mungkin cuma galau atau stress, dan hanya berlangsung dalam waktu singkat. Walaupun itu hal yang normal dirasakan oleh siapapun yang sedang dalam masalah atau banyak pikiran, tapi nggak ada salahnya untuk menjadi pendengar yang baik tanpa menghakimi🙂

8 responses to “Untuk Seorang yang Depresi, Kamu Tidak Terlihat Depresi

    • Iya, depresi itu katanya penyakit mental yang terjadi karena ada ketidakseimbangan hormon.

      Tapi buat org depresi, “Semoga cepat sembuh.” terdengar kayak tuntutan. Jadi malah bikin tambah down karena merasa bersalah dan ada perasaan kalau kita ini “cacat”. Juga ada perasaan bahwa lawan bicaranya mungkin mengucapkan kalimat tersebut karena mentertawakan/menyindir atau malah sebagai upaya menghindari dari percakapan dengan si penderita depresi.

      Kalau ada penderita depresi yang tiba-tiba datang dan mengakui dirinya depresi, kayaknya paling tepat adalah menunjukkan kesediaan untuk mendengarkan keluhannya walau keluhannya lebay dan nggak masuk akal.

      • Actually, aku sendiri cumen butuh didenger. Udah gitu doang. Habis itu aku juga bakal ketawa lagi.

        Bener kata kk, kadang dan sekarang malah lebih sering, aku bisa ceritain masalahku atau beberapa masa lalu kelam dg tertawa. Such as soal bokap, orang mungkin ngeliat aku kasian gitu, tapi aku malah tertawa saja. Sedih sih tapi aku nggak suka terlihat sedih di depan orang. Beda dg dulu dimana emosiku bisa meledak gitu aja.

      • Masa lalu yang buruk kan kayak luka. Makin lama makin kering terus gak sesakit dulu lagi. Mestinya sih, seiring bertambah dewasa, kita juga secara alami lebih bisa mengendalikan emosi. Entar baru emosian lagi pas udah tua renta. Hahahaha….

  1. saya nutupinnya dengan ketawa dan sepedaan sampe capek…
    saya ngerti tiap orang punya caranya masing2 utk mengatasinya, dan saya yakin kalo sungguh2 bisa ngatasinnya ya dia pasti bisa

    semangat le!

    • Dari dokter, aku jadi tahu kalau aku akan terus begini. Yang dilakuin cuma deal with it dan minimalisir kambuhnya. Soalnya kalo masalah hidup mah pasti dateng, tapi gimana caranya aku bisa menghadapi tanpa relaps. Atau justru saat relaps tanpa ada pemicu, gimana caranya bisa tetap menjalani hari-hari kayak biasa.

      Jadi, ngatasinnya ya, seumur hidup :))

  2. Pingback: 4 Salah Paham tentang Depresi | Macangadungan·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s