Egois Harusnya Ada Batasnya…

Semua orang bilang, bahagia itu pilihan, bahagia itu kita yang bikin. Bahkan saya sendiri ngomong gitu.

Seandainya memang semudah itu.

Ada yang bilang, kesedihan bisa pergi dengan mensyukuri hidup, berolah raga, ikut komunitas, jadi relawan, traveling, belanja, lakukan hobi kamu, sampai dengan hal kecil kayak coba aroma therapy.

Saya sampai lelah menjawab, semuanya sudah saya lakukan. Even pakai aroma therapy, setolol apapun hal itu terdengar.

Apa yang nggak saya coba lakukan untuk tidak fokus pada kesedihan? Nggak ada.

Sebelum kamu bilang ke saya untuk coba melakukan A, B, dan C, saya sudah mencoba semuanya bertahun-tahun lalu. Saya bukan orang yang suka whining tanpa melakukan apa-apa.

Ada tipe orang yang senang terjebak dalam kesedihan, dan bahagia memposisikan dirinya sebagai korban terus-terusan. Saya bukan orang seperti itu. Kesedihan membuat saya tidak konsentrasi bekerja, membuat saya menangis menjerit-jerit sendirian di kamar tanpa bisa sharing sama siapapun karena saya tidak tahu apa yang harus saya ceritakan, membuat saya berpikir tentang bunuh diri. Saya tidak ingin hidup dalam keadaan seperti ini terus menerus.

Tapi memposisikan diri sebagai korban memang candu. Seberapapun kita nggak ingin melakukan itu.

Kadang saya masih merasa nggak adil melihat orang yang membuat saya seperti ini hidup dengan bahagia. Memamerkan kebahagiaannya di social media, dengan pencitraannya yang maha suci dan maha baik. Rasanya ingin berteriak bahwa ia menghancurkan saya untuk mendapatkan kebahagiaannya. Dia membuat saya depresi, depresi klinis. Dia membuat saya merasa ketakutan setiap memiliki hubungan dengan laki-laki. Dia meninggalkan kerusakan permanen pada saya.

Bagaimana bisa seseorang hidup begitu bahagia setelah menghancurkan orang lain yang telah menemaninya dalam senang dan susah selama bertahun-tahun?

Seandainya sedih adalah pilihan, saya ingin memilih bahagia, saya ingin mengatakan bahwa saya turut bahagia. Saya ingin merasa bahwa saya bersyukur pernah ditemani olehnya. Saya ingin menghargai semua yang telah kami berdua jalani.

Tapi ketakutan-ketakutan saya tidak pernah pergi. Walaupun saya sudah menjalani sesi-sesi terapi dengan psikolog. Ketakutan dan luka saya tidak pernah pergi.

Apakah saya harus menyalahkan diri saya sendiri karena terlalu lemah? Apakah saya harus menyalahkan diri saya sendiri karena pernah percaya? Apakah saya harus menyalahkan diri saya sendiri karena tidak bisa menyingkirkan ketakutan dan kesedihan saya?

Mungkin itu sebabnya memposisikan diri sebagai korban adalah candu. Karena menyalahkan diri sendiri padahal saya nggak mau ada di dalam kesedihan ini, membuat saya semakin sedih dan merasa bersalah pada diri saya sendiri.

Tolong. Jangan pernah selingkuh. Jika kalian tidak bahagia dengan hubungan kalian, pergilah dengan baik-baik. Kalian nggak tahu, sedalam apa luka yang akan kalian tinggalkan. Kalian mungkin bisa dengan mudah move on, dan berbahagia dengan kehidupan yang baru. Tapi orang yang kalian lukai, mungkin harus struggling bertahun-tahun dalam kesedihan dan ketakutan.

Egois harusnya ada batasnya…

One response to “Egois Harusnya Ada Batasnya…

  1. Pingback: It’s Not Me, It’s My Depression | Macangadungan·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s